
Hiruk piruk bunyi irama lagu memenuhi telinga gadis yang kini duduk di balkon kamarnya. Rupanya tetangga rumah di kompleknya tengah mengadakan acara sehingga suara dentuman musik yang begitu nyaring terdengar sampai ke rumahnya. Ia hanya duduk melamun sambil melihat indahnya langit malam. Sekali lagi gadis itu merasakan kesepian karena sudah beberapa hari ini Dewi, temannya itu sangat sibuk. Pagi kerja sampai sore lalu dilanjut kuliah kelas malam. Dan lagi akhir-akhir ini sang papa sering lembur di kantor. Waktu yang biasa digunakan untuk quality time bersama keluarga kini malah terbuang sia-sia dengan hanya duduk melamun di balkon kamar.
Suara notifikasi dari ponselnya langsung membuat Dena tersadar akan lamunannya. Segera ia menghidupkan layar ponselnya dan melihat notifikasi pesan yang terpampang nyata di atas layarnya.
Pengirim pesan tersebut adalah dari papanya, Wira. Dena segera membalasnya, mengatakan kalau dirinya tidak apa-apa ditinggal di rumah. Setelahnya papanya langsung mengakhiri percakapan mereka di aplikasi berwarna hijau itu karena sang papa harus segera menyelesaikan pekerjaannya.
Untuk mengusir kesuntukan, Dena mencoba untuk membuka media sosialnya. 5 menit ia menscroll layarnya, tetapi, bosan tetap menghinggapi pikirannya. Saat baru akan keluar tiba-tiba sebuah postingan langsung menarik perhatiannya. Mata Dena langsung berbinar melihat postingan tersebut yang memperlihatkan sebuah pasar malam yang terletak di alun-alun kota. Dan yang lebih mengejutkannya adalah waktu pelaksanaannya yang ternyata dilaksanakan dua hari berturut-turut. Dena menghitung hari dari awal postingan itu dan ternyata malam ini adalah malam terakhir diadakan pasar malam.
Seketika senyumnya langsung surut ketika mengingat kalau dirinya tidak punya teman untuk diajak pergi ke pasar malam. Dan juga kalau keluar malam, Dena sangat dibatasi oleh sang papa. Dan kalaupun mau keluar malam, Dena harus pergi bersama papanya ataupun orang yang lebih dewasa dan terutama orang terdekatnya.
Jarinya langsung menscreenshot postingan tersebut. Tiba-tiba ide di kepalanya muncul. Dena kembali membuka aplikasi bernama WhatsApp dan membuka room chatnya denga Fairel. Gadis itu langsung mengirimkan postingan yang tadi ia screenshot kepada pemuda tersebut serta menambah caption di bawahnya.
^^^[Sayang banget ini malam terakhirnya.]^^^
^^^19.15^^^
Merasa tidak mendapat balasan dari Fairel, Dena langsung mematikan ponselnya. Bisa dilihat terakhir Fairel on-line pada pukul setengah tujuma malam. Kembali gadis itu menatap langit malam yang terasa lebih terang karena efek dari cahaya bulan yang bersinar.
Tringgg
Ponselnya kembali berbunyi yang ternyata itu adalah balasan dari Fairel. Dena dengan antusias langsung memencet notifikasi yang sebelumnya mengambang di atas layar ponselnya.
Arel
[Hmmm, iya... Lo pengen ke sana?]
... 19.18...
^^^[Mau! Tapi, kayaknya gak bakalan bisa. Lo lagi kuliah, papa lembur, Dewi juga kuliah. Kalo pun gue ke sana, mau pergi sama siapa? Masa iya pergi sendiri gak ada temennya.]^^^
^^^19.18^^^
Arel
[Ridwan?]
19.18
^^^[Jangan bawa-bawa nama cowok lain. Gue gak suka!]^^^
__ADS_1
^^^19.19^^^
Arel
[Oke, oke. Lo pengen banget ke sana?]
... 19.19...
^^^[Iya. Tapi gak bisa kayaknya. Mending gue tidur aja.]^^^
^^^19.19^^^
Arel
[15 menit tunggu gue.]
19.19
^^^[Haaa? Ngapain nungguin lo?]^^^
^^^19.20^^^
Arel
19.20
Kali ini Dena benar bingung dengan pesan Fairel terakhir kalinya yang menyuruhnya untuk menunggu selama 15 menit. Kenapa? Ada apa? Meskipun bingung, Dena tetap menunggu selama 15 menit itu.
Dari atas balkon kamarnya, Dena melihat kendaraan roda dua yang berhenti tepat di depan rumahnya. Lalu, tidak lama pengendara motor itu langsung pergi, meninggalkan sosok penumpang yang dia bawa. Sekarang Dena tau, kalau pengendara itu adalah ojek dan yang menumpang adalah Fairel. Dena tau itu saat pemuda itu sudah masuk ke halaman rumahnya.
Sedangkan Fairel yang sebelumnya berada di luar langsung masuk setelah dibukakan pintu gerbang oleh penjaga di rumah Dena. Saat baru memasuki halaman rumah Dena, mata Fairel langsung tertuju ke arah balkon kamar. Di sana ia bisa melihat Dena berdiri dengan berpegangan pada pembatas balkon. Tidak ada acara sapa-sapaan lewat lambaian tangan. Hanya ada tatapan tersirat, meskipun jarak mereka sangat jauh. Dena berada di dalam dan Fairel di luar. Kemudian Fairel melihat sosok Dena menghilang dari balkon. Tidak lama pintu utama terbuka. Ternyata orang yang membukakan adalah Dena. Penampilannya masih sama, mengenakan pakaian piyama lengan pendek dan celana panjang.
"Jadi ini maksud lo nyuruh gue nungguin selama 15 menit?" tanya Dena membuka suara. Posisinya masih sama, berdiri di ambang pintu dengan tangan yang masih memegang handle pintu.
"Pak Haryo ada?" bukannya menjawab, Fairel malah bertanya balik.
Dengan ragu Dena menganggukkan kepalanya. "Kenapa?"
"Gak pa-pa. Bisa tolong panggilin bentar?"
"B-bisa. Bentar. Eh ya! Silahkan masuk."
__ADS_1
Fairel mengangguk. Masuk ke dalam rumah Dena, berjalan tepat di belakang gadis yang tampak kebingungan itu.
Dena langsung mempersilahkannya duduk di ruang tamu, sedangkan dirinya melangkah menuju belakang. Dena langsung memanggil salah satu pelayan di rumahnya lalu meminta untuk memanggilkan Pak Haryo yang tinggal di belakang rumahnya.
Tidak lama Pak Haryo datang dengan tergopoh-gopoh. Sedikit bingung memang karena sangat jarang Dena memanggilnya di malam hari.
"Maaf ganggu waktunya, Pak. Di depan ada Arel, lagi nyariin Bapak. Dena gak tau mau ngapain." ujar gadis itu yang sebelumnya masih menunggu kedatangan Pak Haryo di pintu belakang.
"Gak apa-apa, Non. Ada apa Den Fairel manggil bapak?"
Dena mengangkat kedua bahunya ke atas. "Langsung ke depan aja, Pak. Siapa tau penting." balas Dena lalu berjalan duluan dan langsung diikuti Pak Haryo di belakangnya.
Sesampainya di ruang tamu. Pak Haryo langsung saja menanyakan perihal Fairel yang mencarinya. Fairel tidak langsung menjawab, melainkan ia menatap Dena lebih dulu.
"Lo punya jaket, atau sweeter?" tanya Fairel sekali lagi membuat dahi Dena mengerut.
"A-ada. Kenapa emangnya?" balas Dena.
"Bawa ke sini." pinta Fairel.
"Oke." Dena langsung kembali ke kamarnya untuk mengambil barang permintaan Fairel.
"Maafin Arel ya, Pak, udah ngerepotin dan ganggu waktu bapak malam-malam ini." ujar Fairel begitu Dena tidak terlihat di sudut matanya.
"Gak masalah, Den. Oh ya, ada yang bisa bapak bantu?"
"Bapak bisa aja. Arel cuma mau minta tolong boleh?"
"Boleh, boleh."
"Sini, Pak. Arel bisikin biar para readers gak tau."
Pak Haryo langsung mendekatkan tubuhnya. Mendengar bisikan suara dari Fairel. Sesaat Pak Haryo langsung menganggukkan kepalanya.
"Bisa, Pak?"
"Bisa, Den. Kalau gitu bapak panasin mobil dulu bentar."
"Makasih ya, Pak."
"Sama-sama, Den. Kalau gitu, bapak permisi mau ke depan."
__ADS_1
"Silahkan, Pak."