
Hari senin, ujian pertama dimulai. Dena bangun subuh, seperti biasa sholat berjama'ah bersama Papanya lalu lanjut belajar sebelum hari mulai pagi. Seperti yang sudah ia jadwalkan, Dena selesai belajar pukul 06.00 lalu mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah.
Saat ini Dena sedang asik duduk di kursi meja makan sembari menunggu Papanya turun. Ponsel yang biasa ia gunakan sepanjang hari itu kini hanya sesekali saja ia gunakan. Mematikan ponsel agar notif-notif pesan atau apalah itu tidak membuat konsentrasinya terganggu.
Tidak lama Papanya turun sambil menenteng tas kerja. Keduanya sudah rapi dengan tujuan yang sama dan tempat yang berbeda.
"Maaf lama, Sayang."
"Gak pa-pa, Pa. Masih ada waktu kok."
"Yaudah, sarapan sekarang yuk! Nanti telat."
"Oke, Papa."
Sarapan mereka nikmati dengan khidmat. Lalu setelahnya langsung meninggalkan rumah.
"Bismilah aja ya, Sayang? Ngerjainnya jangan terburu-buru. Kerjain dulu yang mudah, yang sulit nanti diakhir aja." nasehat Wira di dalam perjalanan.
Dena yang saat itu membaca buku catatannya tersenyum sembari mengalihkan pandangannya, melihat Wira. "Iya, Pa. Do'ain Dena ya supaya bisa ngerjainnya dengan lancar. Dena deg-degan, takut hasil nilai ujiannya rendah."
"Jangan pesimis gitu dong. Anak Papa kan pinter, hebat, pasti bisa."
"Aamiin."
Mobilnya terhenti tepat di depan gerbang sekolah. Sebelumnya Dena pamit terlebih dahulu pada Papanya.
Dena langsung menuju kelasnya yang akan menjadi tempat ia mengerjakan ujian. Sebelumnya kelas sudah dibagi menjadi beberapa ruangan. Dan jum'at kemarin juga sudah dibagikan kartu ulangan.
Dena duduk dengan adik kelasnya yaitu kelas 10 IPS 1. Ia langsung mengambil duduk di samping bangku kosong, mungkin penghuninya belum datang ke sekolah.
Masih ada waktu, Dena menyempatkan waktu tersebut untuk membaca buku, mengulangi materi yang sudah ia pelajari.
"Woy, Na." seru teman sekelasnya yang satu ruangan.
__ADS_1
"Haaa???"
"Bagi contekan ya?" ujarnya mengerling.
"Ogah! Belajar sono ih. Ngapain pake contek menyontek."
"Yaelah. Dikit doang kok, beneran dah gak banyak paling nanti 20 soal, hehe." nego pemuda itu sembari cengengesan.
"Eh buset, itu mah bukan nyontek lagi, namanya tuh nyalin. Jangan, Na, jangan!" sahut teman cowoknya yang satu lagi.
Selanjutnya gadis itu tidak memperdulikan teman-temannya yang adu mulut.
"Permisi, Kak?"
"Eh!" sontak ia mengadah.
"Oh ya, silahkan." jawab Dena kikuk saat menyadari bahwa orang itu adalah teman sebangkunya. Dena melihat name tag adik kelasnya dan sesaat kemudian mengangguk dalam hati karena sebelumnya ia kurang memperhatikan.
Tringgggg
Tepat saat itu bunyi bel masuk berbunyi. Dena segera memasukkan buku catatannya ke dalam tas dan mengeluarkan kartu ujian, dan beberapa perlengkapannya.
"Assalamu'alaikum. Pagi anak-anak." sapa guru laki-laki yang baru masuk ke dalam kelas.
"Wa'alaikumussalam. Pagi, Pak."
"Baiklah. Sebelumnya berdo'a terlebih dahulu. Ketua kelas di sini ada? Silahkan pimpin do'anya."
Karena ketua kelas di kelas Dena tidak ada, lebih tepatnya menempati ruangan sebelah. Jadi, digantikan dengan ketua kelas dari kelas 10.
"Saya, Pak. Baik!"
Dena menoleh ke sampingnya. Dalam hati ia ber'oh, adik kelasnya itu adalah ketua kelas di kelasnya. Pantas terlihat sedikit tertib.
__ADS_1
"Iya, silahkan."
"Sebelum mengerjakan ujian. Marilah kita bersama-sama membaca do'a menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Berdo'a dimulai!"
Semuanya menunduk sambil tangan mengadah di atas meja.
"Berdo'a selesai."
"Baiklah. Tolong kartu ujiannya disimpan di atas meja dan tasnya simpan di depan."
"Baik, Pak."
"Oh ya. Ini kelas berapa dengan kelas berapa?" tanya guru tersebut yang menjadi pengawas di ruangan Dena.
"11 IPA 2 dan 10 IPS 1, Pak." jawab teman sekelas Dena.
Kini semuanya duduk dengan tertib sembari menunggu pengawas memberikan lembar jawaban dan juga lembar soal. Sebelumnya lembar tanda tangan siswa sudah dibagikan dan dijalankan dengan teratur secara bergilir.
"Baik anak-anak. Selamat mengerjakan ujian. Semoga lancar dan ya, untuk yang ketahuan mencontek akan Bapak sobek lembar jawabannya."
Memang pengawas yang satu itu sedikit killer, semua penjagaannya ketat. Buktinya pengawas itu selalu berkeliling memantau siswanya membuat sebagian siswa kurang luwes untuk mencontek.
Beda hal dengan Dena dan teman sebangkunya, seakan-akan tidak mempermasalahkan hal itu. Mengerjakan dengan tenang, santai.
.
.
.
maaf kalau upnya gak teratur ya🤗 aku udh kehilangan semangat menulis🤣 do'akan biar semoga semangat ny balik lagi. dan kalo upnya bolong-bolong itu nyesuain ya🤭bentrokan juga dengan jadwal sekolah. paham ya? paham lah masa engga🤣
lopyu gesss reader setiaku🥰semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan juga lancar rezekinya. Aamiin.
__ADS_1