Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 19


__ADS_3

Semuanya tampak berkumpul di bandara sembari menunggu jam penerbangan. Dena dikelilingi oleh para sabahatnya dan juga sang Kakek yang terus di sampingnya sedari tadi.


Di sampingnya, terdapat koper miliknya dan dua tas berukuran besar. Jika ditanya isinya apa? Tentu saja itu isinya oleh-oleh untuk dibawa ke kotanya.


Gadis itu bahkan sempat menolak oleh-oleh yang banyak, tapi, yasudahlah. Oleh-oleh mulai dari Dewi, Risty, Anna, Fairel, Dicky, dan juga Rafael juga turut ikut memberi. Entah itu barang ataupun makanan ringan. Belum lagi oleh-oleh pemberian sang Kakek.


"Udah punya nomor handphone gue kan? Jadi, kalo kangen tinggal telfon aja. Jangan manyun-manyun gitu napa dah. Jelek, ntar gak ada yang mau sama kalian." celetuk Dena menghibur suasana.


"Lo mahh..." balas Anna dengan nada merengek.


"Tau nih, Dena. Merusak suasana aja." sambung Risty ikut serta.


Sang empu hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menghibur salah, menambah juga salah. Apa yang betul di sini? Batin Dena meraung.


"Kakek beneran gak mau ikut Dena ke Jakarta?" bujuk gadis itu sekali lagi.


Kakek hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ah, cucunya itu sungguh pemaksa.


"Kalian gak ada yang mau ikut gue ke Jakarta?" tanya Dena kepada teman-temannya.


"Lo kalo ngajak sesuai kondisi dong, Na. Kita kan juga mau sekolah." sahut Dicky yang diangguki oleh Rafael.


"Hehe, sorry, sorry. Ntar deh kalo liburan gue ke sini lagi. Sekali-kali kalian juga ikut gue. Tenang aja nanti tiketnya gue yang bayar, tinggal gue bilang ke Papa kan clear."


"Iya mah, yang anak Papa iya, iya." balas Risty memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Emangnya lo anak siapa? Anak dari gedebog pisang gitu?" ledek Dena seraya mengerlingkan matanya.


Sontak Risty membalas tatapan Dena melotot. "Lo aja, gue mah anak lahir dari Mama. Emangnya lo punya Mama?"


Meredup. Seketika tatapan mata indah itu meredup. Satu kalimat yang membuatnya langsung merasakan sedih. Hal itu diketahui oleh semuanya karena sedari tadi Dena menjadi pusat mereka.


Dewi menyenggol lengan kiri Risty. Berharap temannya itu langsung peka.


"Eh, Na. Sorry, gue gak bermaksud--"


"Gak pa-pa kok, Ri. Gue ngerti kok." potong Dena sambil berusaha tersenyum. Dibalik senyumannya itu terdapat satu titik kelemahannya yang tidak diketahui orang banyak.


"Maafin gue, Na. Sumpah, gue beneran nyesel udah ngomong gitu. Maaf, Na. Jangan marah ya?" Risty meminta maaf, teman Dena itu terlihat menundukkan kepalanya. Merasa sangat bersalah. Bukan merasa, lebih tepatnya memang salah.


"Gak apa-apa, Ri. Beneran kok, gue gak bakalan marah. Kan kenyataannya memang gitu. So, jadi jangan merasa bersalah gitu."


"Ri, udah. Lupain aja oke? Gue udah mau balik loh ini. Emangnya lo gak mau peluk gue sebagai salam perpisahan?"


"Mau banget, Na." lirih Risty segera meraih tubuh Dena dan langsung memeluknya erat.


"Maafin gue sekali lagi, Na." bisik gadis itu masih dengan kata maaf.


"Gue maafin. Sekarang lupain ya? Gue gak marah ke lo kok. Tenang aja, kita kan sahabat?" balas Dena ikut berbisik. Tangannya menepuk-nepuk belakang tubuh Risty yang memeluknya.


Keduanya segera mengurai pelukan. Berakhir dengan terkekeh pelan karena melihat Risty yang sampai meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Gak pa-pa, Na?" tanya Dewi khawatir.


"No problem." balas gadis itu tersenyum tulus.


Keempat orang yang baru menjalin hubungan persahabatan itu memeluk erat seperti teletubies. Mereka tertawa ria. Kini giliran Dena yang menyapa para pemuda di belakangnya. Gadis itu membalikkan badan menghadap mereka bertiga.


"Maaf kalo ada salah, Ki, Raf." Dena mengulurkan tangannya lalu langsung disambut oleh Dicky dan Rafael. Keduanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya masing-masing.


"Tolong juga jagain sahabat gue, Dewi, Risty, Anna. Jangan sampe lecet ya? Kalo sampe lecet, awas aja! Tunggu pembalasan gue saat gue dateng ke sini lagi." ancamnya dengan nada terkekeh.


"Pasti, Na. Kami akan menjaga mereka. Jangan khawatir. Kalo ada salah satu diantara mereka yang lecet, lo bisa kasih hukuman apa pun itu saat lo dateng ke sini lagi."


"Kalian sahabat gue. The best emang." Dena mengunjukkan dua jari jempolnya. Kini gadis itu bergerak mendekat, berhadapan dengan Fairel yang tengah asik berdiri bersandar di tembok.


"Lo juga, Rel. Sahabat gue ter the best." sahabat? Rasanya jantung Dena sedikit bergetar kala mengucapkan kalimat itu.


"Tolong jagain yang lain. Tolong juga jagain Kakek gue. Bisa kan? Bantuin Kakek kalo ke kebun, ke sawah. Lo mah kan? Hehe..."


Yang diajak bicara hanya diam membisu membuat Dena salah tingkah. Percuma saja ia bicara panjang lebar kali tinggi, tapi yang diajak bicara malah diam, menatapnya dalam diam. Ingin sekali gadis itu mencongkel kedua bola mata yang tidak berkedip sama sekali itu. Hehehe.


.


.


.

__ADS_1


holla ges👋maap yah kalo up nya lama🤣do'ain semoga kedepannya aku bisa up tiap hari🤣🥰


mon maap kalo alurnya berantakan 🤭kalian boleh koreksi kok dan kritik, tpi kritikan yg buat aku semangatt yah 🤭jangan kritik yang buat aku down. nanti aku bakal mewek semeweknya🤭🤭nangis kejer kalo perlu 🤣🤣becanda,👀👀👀


__ADS_2