Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 64


__ADS_3

"Rel, ini..." Dena sampai menggantungkan kalimatnya saat merasa terpana dengan apa yang ia lihat sekarang. Suasana hiruk piruk dengan banyaknya wahana permainan.


Fairel memutar tubuhnya hingga menghadap Dena. Pemuda itu tersenyum saat melihat gadis itu merasa bahagia. Hanya hal yang sederhana dan itu membuat Fairel terkesima.


"Suka?" tanya Fairel. Tidak pernah terbayangkan oleh Dena kalau Fairel membawanya pergi ke pasar malam. Ia kira Fairel membawanya kemana.


Dena yang terpana dengan pemandangan telah tersebut langsung tersadar. Ia juga memutar sedikit tubuhnya hingga kini keduanya saling berhadapan. "Gue kira lo mau bawa gue kemana." balas Dena.


"Kalau gitu, ayok masuk!" ajak Fairel.


"Tunggu!"


"Kenapa?" tanya Fairel bingung karena Dena mencegatnya masuk ke dalam.


"G-gue takut dimarahin papa, Rel. Papa itu orangnya disiplin. Gue pasti dimarahin kalo keluar malam-malam. Apalagi--"


"Apa?"


"Apalagi gue p-perginya sama cowok." lanjut Dena menundukkan kepalanya. Tanpa sepengetahuan Dena, Fairel tersenyum.


"Gak usah dipikirin. Om Wira gak bakalan marah sama lo. Tadi gue udah ijin. Jadi, ayo nikmati malam ini."


Dena mengangkat wajahnya dan mendongak. Melihat wajah Fairel yang berada jauh darinya. Bayangkan saya, tinggi Fairel yaitu 180 cm sedangkan Dena berada jauh darinya.


Gadis itu tersenyum sumringah, seakan-akan baru saja mendapatkan ikan asin. Eh itu kucing ya.


"Ayo!" seru Fairel. Kali ini ia mengulurkan tangannya ke arah Dena yang membuat gadis itu langsung salah tingkah. Tangannya dengan ragu menyambut uluran tangan Fairel. Kali ini untuk pertama kalinya tangan mereka bertaut. Dena merasakan kuat debaran jantungnya. Tangannya langsung mendingin padahal suhu tubuhnya normal karena ia memakai sweeter tebal.


"Tangan lo dingin." ujar Fairel berjalan mengiringi Dena dengan tangan mereka terus bertaut.


"I-iyakah?" jawab Dena gugup.


Fairel hanya berdehem singkat. "Huumm... lo kedinginan?"


Dena menggelengkan kepalanya cepat.


Dan untungnya kali ini Fairel percaya akan perkataannya. Padahal Dena sudah was-was kalau Fairel kembali bertingkah yang akan membuatnya panas dingin seperti ini.


"Mau naik apa?" tanya Fairel setelah mereka berada di tengah-tengah kumpulan wahana.


Dena langsung mengedarkan pandangannya untuk melihat wahana yang dapat menarik perhatiannya. Seketika raut wajah Dena berubah menjadi sumringah saat melihat wahana yang menyerupai kapal pembajak. Ya, nama wahananya adalah wahana kora-kora. Sistem kerjanya yang mengayun dengan gerakan ke depan-belakang, membuat semua pengunjung akan merasakan adrenalinnya berpacu cepat.


"Itu." tunjuk Dena antusias.


"Oke, tunggu bentar di sini. Biar gue beli tiketnya."


"Iya." jawab Dena semangat empat lima. Kapan lagi ya kan dirinya menaiki banyak wahana dan dengan siapa lagi ia akan menaikinya.

__ADS_1


Saking fokusnya melihat-lihat, Dena sampai tidak sadar kalau Fairel sudah kembali.


"Yuk!" ajak Fairel sembari menunjukkan dua tiket kepada Dena.


"Oke." jawab Dena berjalan cepat mendekati wahana tersebut. Fairel yang melihatnya hanya mampu geleng-geleng kepala.


Sekarang keduanya sudah duduk berdampingan. Mereka sengaja memilih tempat di tengah-tengah agar tidak terlalu merasakan kuatnya efek dari ayunannya.


Semua penumpang langsung mengangkat kedua tangannya saat pengaman akan dipasangkan. Detik itu juga mereka merasakan wahananya bergerak. Dari yang awalnya pelan kini menjadi cepat hingga ayunannya mencapai kemiringan 90 derajat. Jika dilihat dari kejauhan, wahana ini seperti akan melempar kapal laut ke atas sehingga terlihat akan lepas namun saat berada di kora-kora akan terasa sensasi seru dan ketagihan. Berbeda jika untuk penumpang yang pertama kali menaiki wahana tersebut. Mungkin contohnya Dena. Gadis itu baru pertama kalinya merasakan menaiki wahana tersebut karena sebelumnya ia tidak sempat untuk menaikinya.


Sepanjang ayunan kapalnya, Fairel tidak terlalu menikmati. Berbeda dengan Dena yang sangat menikmati wahananya. Bahkan ia tidak segan untuk berteriak lepas. Fairel bukannya tidak menikmati, namun, ia terlalu menikmati pemandangan di depannya ini. Tampak seorang gadis tertawa puas dan sesekali berteriak.


Tanpa disadari Fairel menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Tidak sia-sia ia keluar dengan menaiki ojek hingga sampailah ia di tempat ini.


"Wooooooo hahahhaaa. Re, Rel, liat tuh ada yang nangis. Hahahaa..." Dena tertawa lepas saat melihat ada gadis seumurannya menangis saat wahana masih berlangsung.


"Gak boleh diketawain, Na." tegur Fairel lembut.


"Hehe, maaf." ucap Dena langsung berhenti menertawakan gadis tersebut. Namun, itu tidak membuat tawa bahagianya surut.


Beberapa menit kemudian akhirnya mereka menyudahi menaiki wahana kora-kora. Keduanya memilih untuk beristirahat sebentar sebelum menaiki wahana lainnya yang pastinya akan lebih seru. Mungkin.


"Rel, lo kok biasa-biasa aja. Gak seneng ya?" tanya Dena setelah menerima es krim yang baru saja Fairel berikan kepadanya.


"Enggak kok. Gue udah biasa naik gituan pas di kampung." jawab Fairel.


Dena pun mengangguk-angguk. "Yang belum pernah lo naikin yang mana, Rel? Mungkin kita biasa naikinnya bareng."


"Roller coaster." ucap Fairel.


"Kayaknya gue juga belum pernah deh. Soalnya selalu dilarang sama papa." balas Dena langsung tidak semangat.


"Ya udah, abis ini kita naik itu. Nanti jangan kasih tau Om Wira kalau lo naik wahana itu."


Dena langsung merubah ekspresinya. "Janji?"serunya sambil mengunjukkan jari kelingkingnya.


"Janji." Fairel langsung menautkan jari kelingking mereka. Keduanya pun tertawa bersamaan. Ya, mungkin ini disebut sebagai pelanggaran.


Seketika Dena tersenyum bahagia. Senyumnya benar-benar mengalihkan dunia Fairel hingga membuat pemuda itu merasa pasokan oksigen di sekitarnya habis. Untuk mengalihkan itu, Fairel tersenyum kaku lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Rel, es krim lo meleleh." pekik Dena memberitahu Fairel. Sontak Fairel menjauhkan es krim di tangannya. Namun, sudah terlanjur. Lelehan es krimnya mengenai baju Fairel.


"Yahhh..." gumam Fairel lesu. Sebelah tangannya yang kosong langsung tergerak untuk menyeka noda es krim di bajunya. Namun, suara Dena yang memintanya untuk tidak menyentuh noda es krim itu langsung membuatnya menjauhkan kembali tangannya.


"Tunggu bentar." kata Dena lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia juga bahkan menitipkan es krimnya kepada Fairel.


Fairel bingung melihat Dena bangkit dari duduknya dan entah pergi kemana. Tangannya juga penuh karena memegang es krimnya dan es krim milik Dena.

__ADS_1


Tidak lama Dena datang sambil membawa sebotol minuman aqua dan bungkusan tisu kecil. Tanpa sadar Fairel tersenyum tipis. Tangannya reflek mengarahkan es krimnya ke mulutnya dan memakannya.


Dena yang sudah kembali ke tempatnya langsung terkejut saat melihat es krimnya hanya tersisa setengah. Sedangkan es krim milik Fairel masih utuh karena Fairel hanya memakannya sedikit tadi.


"Rel, itu es krimnya..." tunjuk Dena gugup ke arah es krim miliknya.


"Apa?" tanya Fairel tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sesaat ia langsung menyadari kalau es krim yang ia makan itu bukan es krim miliknya. Pantas rasanya berbeda. Karena es krim miliknya itu rasa coklat dan es krim milik Dena rasa stroberi.


"Oh itu--" Fairel bahkan bingung mau berkata. Mau mengembalikan pun rasanya tidak mungkin karena es krim tersebut sisa setengah.


"Ini." dengan bodoohhnya Fairel malah menyodorkan es krimnya yang masih utuh kepada Dena.


"Eh--" Fairel tersentak karena merasa dirinya sangat bodoohh malah memberikan es krimnya kepada Dena. Fairel yang dalam mode bingung dan gugup pun langsung melahap habis keduanya. Sedangkan Dena hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dena berpikir apakah ini disebut sebagai ciuman tidak langsung dari Fairel? Hal itu sungguh membuat Dena salah tingkah sekaligus malu. Apakah ia harus senang ataukah marah? Ah tidak, tidak! Dena sangat bingung ini. Tolong berikan saran kepada Dena tentang itu semua.


Sesaat suasananya menjadi canggung. Fairel benar-benar dibuat mati kutu karena terlalu ceroboh sudah memakan es krim milik Dena. Dan yang lebih cerobohnya adalah Fairel malah mau memberikan es krimnya kepada Dena.


Es krim yang berada di tangan Fairel pun langsung ludes habis tidak tersisa. Hanya menyisakan noda es krim yang melekat di baju Fairel. Dena yang menyadari itu ingin cepat-cepat mencairkan suasana.


"Ini buat bersihin noda di baju lo, Rel." tutur Dena mengunjukkan botol aqua dan tisu di tangannya.


"Oh iya. Sini!" pinta Fairel lalu mengambil dua barang tersebut dari tangan Dena.


Fairel langsung membuka segel botol aqua tersebut dan akan menyiramkan sedikit ke bajunya. Namun, karena noda tersebut berada tepat di baju bagian depannya, Fairel menjadi kesusahan.


Dena yang menyadarinya langsung mengambil alih botol tersebut. "Sini!" pinta Dena dan Fairel langsung memberikan botol aquanya.


Dena juga memintanya untuk lebih mendekat kepadanya agar memudahkannya untuk membersihkan noda itu. "Nunduk." Fairel menurut. Ia menundukkan tubuhnya sedikit hingga jarak keduanya sangat dekat. Bahkan Dena juga bisa merasakan nafas hangat pemuda itu menerpa wajahnya.


Sesaat Dena terdiam karena merasa sangat gugup. Tidak ingin berlama-lama di posisi yang membuatnya panas dingin, Dena langsung membersihkannya. Ia menuangkan air aqua ke dalam tutup botol lalu ia menuangkannya sedikit demi sedikit ke dekat kerah baju Fairel di bagian dadanya. Setelah cukup, Dena langsung menguceknya pelan hingga noda tersebut hilang meskipun masih ada sedikit noda yang tertinggal. Setelah lumayan bersih, Dena langsung mengelapnya menggunakan tisu.


"Udah?" tanya Fairel yang langsung menjauhkan tubuhnya.


Namun, Dena kembali menarik kerah baju Fairel hingga membuat pemuda itu tertarik ke arahnya. Fairel menahan nafasnya saat tidak sengaja bola mata mereka bertemu. "Dikit lagi." ucap Dena kembali mengelap baju Fairel menggunakan tisu.


"Udah." Dena menepuk-nepuk pelan bagian baju Fairel yang terkena noda. Dengan rasa tidak bersalahnya, Dena kembali membereskan kekacauan itu. Ia menutup botol aqua itu dan memungut tisu bekasnya.


Sedangkan Fairel saat ini masih enggan membuka suara. Rasanya lehernya tercekik dengan nafas yang tercekat. Pasokan oksigen di sekitarnya terasa hilang. Fairel yang merasakan itu langsung merebut botol minuman dari tangan Dena dan langsung meneguknya kasar. Dena bahkan sempat mengernyitkan dahinya bingung.


.


.


.


maaf baru up🤣pokoknya ini spesial ya ala si dena🤣

__ADS_1


haha gimana tuh pendapat kalian tentang fairel yang makan es krim punyak Dena🤣apakah bisa disebut sebagai kiss tidak langsung dari Fairel🤔 btw hati Dena udh berbunga-bunga loh 🤭


oh ya, jangan lupa komen di bawah ya🤣


__ADS_2