Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 87


__ADS_3

Fairel spontan menutup kedua mata Dena menggunakan kedua tangannya. Saat ini mereka bersembunyi di semak-semak. Motor Fairel ia simpan tidak jauh dari mereka.


"Arel!" tegur Dena dengan suara pelan karena takut persembunyian mereka diketahui. Dena berusaha melepaskan tangan Fairel yang bertandang di matanya.


"Syuttt..." bisik Fairel meminta Dena agar diam.


"Lo masih belum cukup umur." ujar Fairel membuat bibir Dena langsung mengerucut sebal.


"Gue udah 17 tahun kali, Rel. Lagian lo juga belum cukup umur. Matanya juga ditutup." tidak ingin kalah, Dena langsung menutup kedua mata Fairel. Sontak keduanya saling menutupi mata.


"Ish! Lepasin, Na. Gue tuh cowok, jadi wajar aja kalo liat begituan." Fairel memberontak kecil berharap Dena melepaskan tangannya.


"Lahhh, apa bedanya sama gue yang cewek? Cowok cewek sama aja kali." kilah Dena.


"Beda." balas Fairel tetap kekeuh.


"Sama."


"Beda."


"Ish! Udah lah, ntar malah kecolongan lagi. Niatnya kan pengen jadi mata-mata." Dena yang kesal langsung melepaskan kedua tangannya yang sebelumnya bertengger manis di kedua mata Fairel. Fairel juga langsung menarik tangannya dari mata Dena.


Dan benar saja, keduanya kecolongan saat melihat Wira dan Cahya yang sudah memasuki sebuah rumah. "Tuh kan! Gara-gara lo sih, Rel." Dena memberengut kesal.


"Udah, gak usah salah-salahan. Kita pulang aja, lagian ngapain malam-malam udah kayak maling."


"Lo tuh yang maling." ketus Dena.


"Lah, ngambek, Neng?" goda Fairel semakin membuat Dena kesal saja.


Berbeda dengan Dena dan Fairel, kini Wira tampak gugup saat berada di ruang tamu di kediaman Cahya. Pria itu duduk di sofa sambil menunggu Cahya memanggilnya ibunya.


Saat sedang gugup-gugupnya, tiba-tiba Wira disadarkan saat kedua orang wanita berbeda usia sedang berjalan ke arahnya. Salah satu dari dua wanita itu adalah Cahya, dan Wira pastikan wanita paruh baya itu adalah ibunya. Seketika Wira bangkit dari duduknya dan menundukkan kepalanya sopan.


Kedua wanita itu langsung duduk si sofa yang berbeda, Cahya lebih memilih duduk di samping Wira dibandingkan satu sofa bersama ibunya. Saat melihat ibunya Cahya duduk, Wira juga mengambil duduk di samping Cahya.


Pria itu berdehem singkat untuk mengusir rasa gugupnya. "Malam, Bu." sapa Wira.


"Malam. Ini siapa? Cahya." panggil wanita itu.

__ADS_1


Cahya yang sama gugupnya justru melirik Wira di sampingnya. Entah kenapa, rasanya seperti mau berperang saja.


"Perkenalkan, saya Wira, Bu. Salam kenal." ujar Wira mulai merasakan kecanggungan di antara mereka.


Wanita paruh baya itu hanya memandang Wira dengan heran. Dirinya hanya mengangguk saja saat Wira memperkenalkan dirinya sendiri.


"Tujuan kamu datang ke sini untuk apa?" tanyanya to the point. Membuat tangan Wira langsung mendingin. Ia menghembuskan nafasnya berat sebelum akhirnya berkata.


"Ma!" tegur Cahya yang tidak suka akan respon mamanya.


"Kamu diam!" seketika Cahya langsung bungkam. Ia tampak menundukkan kepalanya. Dalam hatinya ia berharap kalau tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Wira yang melihat itu langsung peka. Dalam pandangannya, hubungan antara ibu dan anak itu memang tidak baik-baik saja.


"Maaf, Bu. Kedatangan saya ke sini hanya ingin meminta restu. Saya ingin menikahi Cahya dalam waktu dekat ini." ucap Wira memberanikan diri. Setelah mengatakan itu, hatinya langsung lega. Biarlah apa nanti respon ibunya Cahya. Yang terpenting ia sudah mengatakan niat dan maksud tujuannya datang ke sini.


Cahya mendongakkan kepalanya begitu pria itu berkata. Cahya bisa merasakan ketulusan dan kesungguhan hati dari kalimat Wira. Apalagi ekspresinya. Namun, itu semua belum mampu membuat hati Cahya tenang. Seakan ada yang menjanggal di hatinya.


"Menikah?" wanita paruh baya itu merubah posisi duduknya. "Memangnya kamu belum tau, kalau sebentar lagi anak saya akan bertunangan dengan pria lain?"


"Saya sudah tau, Bu. Kedatangan saya ke sini juga untuk meminta Ibu agar memikirkannya ulang."


"Saya tidak keberatan kalau Cahya bertunangan dengan pria lain." pria itu menjeda ucapannya. Cahya langsung melirik sekilas dengan tatapan tidak suka. Refleks Wira memegang tangan Cahya dan menggenggamnya seolah berkata semuanya akan baik-baik saja.


"Tapi, saya perlu kejujuran dari dua orang itu. Apakah keduanya saling mencintai atau tidak?"


"Cinta itu bisa datang kapan saja. Sudahlah, kedatanganmu itu tidak akan bisa membuat keputusan saya bisa diganggu gugat. Intinya, anak saya akan tetap bertunangan."


Wira terdiam cukup lama. Jujur, ia bingung mau berkata apa. Karena berdasarkan pandangannya, ibu Cahya itu adalah wanita yang keras kepala dan tetap memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mau mendengarkan respon dari anaknya.


"Kenapa Ibu sangat memaksakan kehendak Ibu sendiri? Ibu tidak pernah mendengarkan respon dari anak Ibu sendiri. Di sini saya bukan melawan orang yang lebih tua dari saya, Bu. Di sini saya juga sebagai orang tua. Saya paham perasaan anak saya, kita tidak bisa memaksakan kehendak sendiri. Itu akan berdampak pada mental anak." belum sempat Wira menjelaskan, ibunya Cahya sudah memotong pembicaraannya.


"Ohhh, jadi, kamu sudah punya anak? Kamu mau menjadikan anak saya sebagai istri ke-dua? Begitu?" potong Ibunya Cahya.


Wira menarik nafasnya dalam sebelum ia melirik Cahya. "Di sini saya akan jujur. Saya memang memiliki satu anak perempuan. Saya tidak akan pernah menjadikan Cahya sebagai istri ke-dua saya karena itu tidak akan pernah terjadi. Dulu saya memiliki istri, dan mungkin saja Allah lebih menyayangi istri saya. Istri saya meninggal saat setahun setelah anak kami lahir."


"Saya tetap tidak setuju. Wanita juga memiliki pilihan pasangannya. Anak saya tidak memiliki kriteria laki-laki yang statusnya duda."


"Mama!" tegur Cahya yang merasa kalau ibunya sudah berlebihan.

__ADS_1


"Kamu. Masuk ke kamar. Jangan pernah lagi pergi dari rumah. Pertunanganmu akan mama percepat. Minggu ini kamu akan bertunangan. Mama tidak menerima penolakan dari kamu."


"AKU GAK MAU, MA. AKU UDAH DEWASA, AKU JUGA PUNYA PILIHANKU SENDIRI. MAMA ITU EGOIS! CUMA MIKIRIN EGO MAMA SENDIRI. DARI DULU MAMA SELALU MAKSA AKU INI ITU. DAN SEKARANG, AKU UDAH MUAKK! MAMA GAK USAH IKUT CAMPUR URUSANKU LAGI." teriak Cahya menumpahkan semua emosinya hingga kini ia mulai meneteskan air matanya. Inilah yang ia takutkan. Ibunya itu pasti tidak akan memberikannya pilihan.


"Mama bilang masuk kamar! Dan kamu, silahkan pergi dari rumah saya. Jangan pernah sekalipun kamu tunjukkan wajahmu itu di depan saya."


"MA!"


"MASUK KE KAMAR SEKARANG, CAHYA!"


Karena tidak Cahya sama sekali tidak beranjak, Ibunya langsung berdiri. Lalu menyeret Cahya agar masuk ke kamarnya.


"Bu--"


"Kamu diam!" teriak wanita itu kepada Wira.


Setelah memaksa Cahya masuk ke kamarnya, Ibunya kembali keluar untuk meminta Wira pergi dari rumahnya. Wira yang tau kalau wanita itu emosi pun segera beranjak. Karena yang ia tau, wanita akan hilang kendali saat emosi.


"Na, jangan nangis." Fairel tampak menenangkan Dena yang sudah dibanjiri air mata. Gadis itu menangis sesegukan. Sesudah Wira dan Cahya masuk tadi keduanya langsung mendekati jendela yang terletak di samping ruang tamu. Dan keduanya mendengarkan semua obrolan tiga orang dewasa yang tengah berdebat itu.


Karena melihat Dena yang menangis tidak kunjung berhenti, Fairel langsung menariknya ke dalam pelukannya. Ia juga takut kalau tangisan Dena sampai terdengar oleh orang terutama Wira yang tampak baru saja keluar dari rumah Cahya.


"Om Wira udah keluar, Na. Kita pulang ya?" bujuk Fairel mengusap punggung Dena lembut. Sebelah tangannya juga mengusap kepala Dena.


Dena menangis sesegukan di dada Fairel. Ia menggelengkan kepalanya saat Fairel meminta mereka pulang.


"Tau gitu mending kita gak usah ngintip tadi. Urusan orang dewasa itu emang ribet, Na."


"P-papa hikssss Rell..." Fairel merasakan seperti ada duri besar yang menancap di hatinya. Melihat Dena menangis, hatinya juga ikut tercubit.


"Cup cup cup... gue janji. Selesai ini kita bantuin Om Wira. Oke?" Dena hanya mampu menganggukkan kepalanya.


.


.


.


hola, maap ya weekend harusnya up lebih awal dan banyakan. Tapi, karna badan kurang fit jadinya telat deh. 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2