
"Oh ya. Katanya Kakak mau cerita?"
"Kakak sampe lupa nih." balas Cahya sambil tertawa.
"Jadi gini. Tujuan awal Kakak datang ke sini itu mau jenguk pacar Kakak yang katanya sakit. Kebetulan dia lagi ada proyek di Kalimantan. Jadi, yaudah deh Kakak susul aja dia ke sana."
Dena diam menyimak tanpa memotong perkataan, karena itu adalah hal yang tidak sopan.
"Kakak datang ke sini tanpa sepengetahuannya." Cahya menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
"Kalo gak sanggup juga gak pa-pa kok, Kak. Jangan dipaksain nanti malah bikin Kakak sakit." ujar Dena.
"Gak kok, Dek. InsyaAllah Kakak sanggup. Kan udah janji sama kamu?" keduanya sama-sama tersenyum. Entah mengapa begitu melihat senyuman Cahya membuat Dena nyaman.
Cahya kembali melanjutkan ceritanya. Dari mulai dirinya yang datang ke pulau Kalimantan hanya untuk menjenguk sang kekasih yang katanya sakit lalu berujung sebuah tragedi yang membuat hati wanita itu retak, hancur.
Sedikit cerita tentang Cahya. Begitu wanita itu mendatangi kost-an kekasihnya, ia sudah melihat adegan yang tidak senonoh. Kekasihnya tengah memadu kasih bersama seorang wanita yang seumuran dengannya. Bukankah pria itu, kekasih Cahya mengaku tengah sakit?
Wanita itu sampai datang jauh dari Jakarta menuju pulau Kalimantan. Dan disambut dengan pemandangan yang wow. Sangat eksotis di mata Cahya.
"Apa ini obatmu sebagai penyembuhan?" tanya Cahya sembari menyilangkan kedua lengannya. Menatap sepasang sejoli yang tengah beradu di ranjang berukuran sedang.
__ADS_1
"B-bu-kan be-begitu. K-kamu pasti salah p-paham, S-sa-yang." ujar seorang pria terbata, dengan cepat ia mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan di lantai. Sementara wanita yang digadang-gadang sebagai selingkuhannya masih membalut tubuh polosnya dengan selimut tipis.
"Stop! Aku gak mau dengar apapun menjelasanmu, Vin. Intinya, mulai sekarang... kita... sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Kamu pasti paham kan dengan kalimat ku barusan? Jangan berlagak bodohh dan polos di depanku. Kamu itu breng*sek." ujar Cahya dengan emosi yang meluap-luap.
"M-maaf. Ini tidak seperti yang kamu lihat. Kami... tidak memiliki hubungan apapun." kilah pria yang dipanggil Kevin itu.
"Bohong!" teriak wanita yang berbalut selimut tipis masih terenggok di ranjang. "Sudahlah, Vin. Kamu akui saja hubungan kita. Bukankah ini yang kamu mau dari dulu? Kamu tidak mendapatkan kepuasan batin dengan pacarmu itu?"
"Ck!" Cahya hanya berdecak sambil tersenyum memutar bola matanya jengah.
"Jangan dengarkan perkataannya. Itu semua bohong." tunjuk Kevin ke arah wanitanya.
"Ya ya ya, baiklah, aku tidak akan mendengarkan perkataanny." kalimat itu membuat seulas senyum Kevin terbit.
"Ya, aku percaya denganmu. Puas?"
"Makasih, Sayang. Makasih. Sekarang kita baikan kan? Aku tidak mau kita bertengkar dengan segala kesalahpahaman ini."
"Siapa bilang kita akan baikan? Aku hanya tidak ingin mendengarkan perkataan kalian, bukan hanya dia, bukan mempercayaimu. Keputusanku tetap bulat. Kita putus! Anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain. Terima kasih untuk waktunya yang berharga selama ini. Maaf kalau aku tidak bisa memberikanmu kepuasan batin seperti yang kamu lakukan ini."
"Tapi--"
__ADS_1
"Hubungan kita berakhir sampai di sini. Aku pamit. Semoga hubungan kalian berdua berjalan dengan lancar dan juga semoga kalian berbahagia. Haha.. rasanya ingin mimpi. Hmm.. sebaiknya aku pulang saja. Waktuku sampai terbuang sia-sia di sini, di tempat ini." ujar Cahya sembari melangkahkan kakinya menjauh dari tempat terkutuk itu. "Mending besok aja lah gue pulang. Menikmati keindahan pulau ini bukankah asik? Ah, baiklah, mari kita bersenang-senang." Cahya pergi, mencari penginapan barang semalam lalu besok ia akan berniat untuk pulang ke Jakarta.
"Udah, Dek. Itu aja cerita dari Kakak. Huhuhuu... maaf, kalau Kakak kelihatan mewek begini." ujar Cahya yang mensudahi ceritanya wanita itu menyeka air mata yang menetes di sudut matanya.
Dena terdiam barang sesaat. Berusaha mencerna, sungguh! Gadis itu dibuat kagum akan sosok Cahya Nabila yang sepertinya akan menjadi sebuah motivator untuknya. Janganlah bersedih hanya karena sebuah hubungan yang berakhir.
Berakhirnya suatu hubungan tidak akan membuat stok pria di dunia akan habis. Hanya saja, lebih berhati-hatilah dalam menjalin sebuah hubungan. Jangan sampai tertipu akan rayuan dan gombalan.
"Maaf, Dek. Kamu pasti kurang ngerti ya dengan cerita Kakak tadi?" tanya Cahya yang kini sudah memasang wajah tersenyum.
Dena seakan tersadar, gadis itu ikut membalas senyum. "Nggak kok, Kak. Aku paham kok. Urusan orang dewasa itu emang ribet ya, hehe."
"Ya begitulah, Dek. Anggap ini sebagai pelajaran untuk kedepannya. Kamu juga, pasti masih sekolah kan? Nah, tuntut lah ilmu, untuk urusan jodoh ataupun itu urusan belakangan. Kamu paham kan, Dek, tanpa harus Kakak jelaskan?"
"Paham kok, Kak. Makasih udah mau cerita sama aku. Aku akan ingat perkataan Kakak barusan."
"Pinter." tangan Cahya terulur mengusap pucuk kepala Dena, membuat gadis itu melamun seketika.
"Eh! Maaf, Dek. Kakak kelepasan." seru Cahya tidak enak hati karena sudah menganggap dirinya lancang.
"Gak pa-pa, Kak. Jujur aku cuman nyaman aja." balas gadis itu tersenyum.
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu nyaman sama Kakak."
Sesaat keduanya terdiam. Menikmati perjalanan mereka dengan tujuan yang sama. Dena sudah tidak sabar ingin pulang dan memeluk sang Papa yang sudah dua minggu ini ia tinggalkan. Ngomong-ngomong Papanya tidak akan lumutan kan karna menunggu. Hehe