
"Na, rileks okay? Anggap aja lo lagi main trampolin. Jangan liat seberapa tingginya. Tapi, bayangkan aja ini kasur." bujuk Fairel merentangkan kedua tangannya.
Dena menatap takut ke arah bawahnya di mana ada Fairel dan tiga orang bapak-bapak yang sudah menolong mereka dari kejaran anjingg.
"Ayo!" bujuk Fairel sekali lagi dengan tangan yang masih terentang.
"Bismillah."
Batin Dena sambil berdo'a dan dengan gerakan pasti ia segera melompat dari pohon mangga tersebut. Dan
Brukkk
Dena memejamkan matanya erat saat ia sudah mendarat. Bayangannya kini ia terjatuh tepat di atas permukaan tanah. Namun, yang kini Dena rasakan bukanlah sakit. Melainkan ia merasakan empuk di bawahnya. Perlahan kedua mata Dena terbuka.
"A-arel." lirih Dena berada tepat di atas tubuh Fairel karena sesaat Dena melompat tadi, Fairel langsung menangkapnya dari bawah dan untungnya ia menangkapnya tepat sasaran dan Dena tidak terluka.
Suasana hening. Saat ini Dena tengah dilanda gugup yang meraja lela. Kedua tangan Fairel kini memeluk pinggangnya erat sedangkan tangan Dena berada di dada bidang pemuda itu. Dena dapat merasakan debaran jantung Fairel yang begitu kuat hingga terasa di tangannya. Begitu juga dengan Fairel yang merasakan langsung debaran jantung Dena di dadanya.
"Ughhh..." Fairel melenguh pelan karena merasakan punggung sedikit ngilu karena mencium permukaan tanah. Untung mereka terjatuh di permukaan tanah, bukan di jalanan aspal.
"E-eh!" Dena tersentak kaget lalu dengan cepat ia bangkit dari atas tubuh Fairel.
"M-maaf, R-rel..." lirih Dena.
Fairel juga lekas bangkit, menepuk-nepuk pelan celana bagian belakangnya. "Gak pa-pa. Lo ada luka?" tanya Fairel.
Dena menggelengkan kepalanya pelan. Saat itu juga mereka baru sadar kalau ketiga bapak-bapak itu masih berada di dekat mereka.
"Emm... makasih ya, Pak, karena udah nolongin kami dari kejaran anjingg." sahut Fairel mencairkan suasana.
"Ah ya, gak pa-pa, dek. Kalian mau pulang?" tanya si bapak.
"Iya, Pak. Kebetulan ada sedikit insiden, jadi, kami memutuskan untuk jalan kaki."
"Oalah. Kalau begitu hati-hati ya pulangnya. Di depan juga udah lumayan aman. Beda kalau di sini."
"Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama."
"Duluan, Pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." ucap ketiga bapak itu serentak.
"Ayo, Na!" ajak Fairel kepada Dena yang sekarang masih terdiam canggung.
"I-iya."
Keduanya berjalan beriringan dengan canggung yang melanda. Andai kata kejadian barusan tidak terjadi, Dena pasti tidak akan merasakan malu yang teramat. Bisa-bisanya ia terjatuh tepat di atas tubuh Fairel. Dan itu sangat... memalukan!
"Lo... gak apa-apa kan, Na?" tanya Fairel merasa khawatir. Dena adalah cewek, kalau untuknya sendiri masih wajar karena Fairel cowok. Lari-larian di tengah malam dan memanjat pohon mangga guna menghindari kejaran anjingg itu sangatlah awam di kehidupan Dena. Dan Fairel rasa ini adalah kali pertamanya Dena mendapatkan insiden ini.
Dena menghentikan langkahnya dan menatap Fairel yang juga berhenti. "I'm fine. Cuma gemeteran aja dikit." jawab Dena jujur. Karena memang itulah yang ia rasakan. Tangannya terasa gemeteran begitu juga dengan tubuhnya. Bahkan Dena merasakan tubuhnya bagaikan jelly. Tenaganya sudah terkuras habis.
Fairel hanya diam. Keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka. Mungkin tidak akan jauh lagi untuk sampai ke kediaman Dena.
Dena berjalan sangat pelan karena ia merasa sudah tidak kuat lagi untuk melangkah. Fairel yang menyadari itu pun segera mengambil tindakan. Walau ia juga sama letihnya. Tapi, Fairel sungguh tidak rela melihat Dena sengsara karenanya.
"Kenapa, Rel? Lo minta dipijitin?" tebak Dena yang langsung mengundang gelak tawa Fairel.
"Kok ketawa sih?" ujar Dena merasa sebal.
"Hahaha. Ngapain gue minta dipijitin. Sini naik!" pinta Fairel sambil menepuk-nepuk bahunya.
"Ngapain?" beo Dena yang masih tidak paham.
"Ck! Naik ke punggung gue. Mau digendong gak?" decak Fairel pelan.
Dena masih menatap ragu Fairel yang berjongkok di hadapannya. "G-gak usah, Rel. Lo juga capek, lagian gue berat tau."
"Naik!" tekan Fairel seketika langsung membuat Dena bungkam. Dengan ragu dan pasti ia langsung naik ke punggung Fairel. Melingkarkan kedua tangannya di leher Fairel. Saat itu juga Dena merasakan badannya melayang, terasa sangat ringan saat Fairel mulai bangkit menggendong Dena.
"Rel, gue berat." lirih Dena pelan sepanjang perjalanan mereka.
"Bawel." balas Fairel yang merasa jengkel karena mendengar kalimat itu sedari awal ia menggendong Dena.
__ADS_1
"Iya, iya." pasrah Dena. Karena merasa nyaman serta letih dan mengantuk yang menyerang Dena. Tanpa sadar ia memejamkan matanya.
Fairel yang merasa Dena terdiam pun penasaran. Ia menoleh ke samping di mana wajah Dena tepat berada di ceruk lehernya. Fairel pun tersenyum karena menyadari gadis itu sudah tertidur dengan lelap. Fairel mengeratkan pegangan di lipatan paha dena dan mengeratkan di pinggangnya agar Dena tidak terjatuh.
Hanya sunyi yang Fairel rasakan saat Dena tertidur. Fairel sangat menikmati suasana itu, di mana Dena tertidur lelap dari pada ketika gadis itu bangun yang selalu membuatnya ketar-ketir.
"Gue suka kalau lo tidur nyenyak gini, dari pada bangun. Lo selalu bikin gue ketar-ketir, Na." ujar Fairel pelan.
Tanpa ia sadari ternyata Dena tidak benar-benar tertidur sedari tadi. Ia hanya memejamkan matanya sambil menikmati kenyamanan yang ia rasakan. Dena mengeratkan pelukannya di leher Fairel dan semakin menyeruakkan wajahnya di leher Fairel.
Fairel menahan nafasnya tercekat. Ia menelan ludahnya kasar saat nafas hangat milik Dena menyerbu lehernya.
"Saat tidur pun masih aja lo bikin gue ketar-ketir." keluh Fairel melenguh pelan.
Setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai di kediaman Dena. Dan saat itu juga kebetulan sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di gerbang kediaman Dena yang masih tertutup. Lalu tidak lama seorang pria keluar dari dalam mobil tersebut. Tampilannya masih sama dengan pagi hari tadi, masih mengenakan stelan kantornya.
"Om." ujar Fairel pelan.
Wira berjalan cepat mengitari mobilnya untuk mendekati Fairel. "Kalian baru pulang?" tanya Wira lalu melihat sang putri tertidur lelap di dalam gendongan Fairel. Tanpa sadar Wira menarik kedua ujung bibirnya ke atas.
"Iya, Om. Maaf, Arel kebablasan bawa Dena keluar." ucap Fairel meminta maaf. Biar bagaimana pun juga ini semua adalah tanggung jawab Fairel yang awalnya memang meminta izin kepada Wira.
"Ini kok tidur? Di mana Pak Haryo."
Seketika Fairel terdiam dan menundukkan kepala sebentar. "Maaf, Om. Ponsel Arel kehabisan batre dan Dena juga gak bawa ponsel. Maaf ya, Om." sesal Fairel merasa sangat bersalah.
Wira hanya menghembus nafasnya berat. "Ya sudah. Ayo, masuk! Bawa Dena ke kamarnya. Dan sebaiknya kamu nginap di sini. Temui Om saat kamu sudah mengantarkan Dena ke kamarnya."
Jantung Fairel terasa berdetak cepat. Ada apa Wira memintanya untuk menemuinya? Apakah Wira akan memarahinya ataukah melarangnya untuk menemui Dena lagi? Fairel langsung menggelengkan kepalanya untuk membuang semua pikiran buruk yang bersarang di kepalanya.
.
.
.
hayo loh, Rel. Kamu kena sidang sama papa Wira🤪
__ADS_1