Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 44


__ADS_3

Liburan kali ini Dena sungguh merasa lengkap dengan kehadiran Papanya dan ditambah kehadiran Cahya. Mereka bagaikan keluarga kecil yang bahagia dengan senyum yang mengembang. Sepanjang perjalanan Dena tertidur di pundak Papanya.


Matanya mengerjap saat merasakan tepukan lembut di pipi mulusnya.


"Bangun, Sayang. Udah mau mendarat." pesan Wira membangunkan putrinya yang lelao tertidur.


"Hmmm..." gadis itu hanya berdehem sembari menutup mulutnya saat menguap. Melirik ke arah samping kanannya di mana Cahya berada.


"Kak." panggil Dena.


"Kak!"


"Ah, y-ya?" sentak Cahya sedikit kaget.


"Kakak mikirin apa?" tanya gadis itu dengan mata menyipit.


"Ah, enggak, Dek. Kakak gak mikirin apa, apa, cuma lagi mikirin kerjaan Kakak aja di kantor." jelas Cahya.


Dena menyenggol Papanya yang duduk di samping kirinya. Hingga membuat Wira menoleh dengan raut wajah bingung. Seakan mengerti dengan kode putrinya, Wira segera mengambil alih obrolan.


"Jangan terlalu dipikirkan. Soal kantor kamu tenang aja, semuanya aman. Lagi pula kamu tidak akan saya pecat." sahut Wira membuat Cahya menoleh ke arahnya. Selama beberapa menit mereka bertatapan lalu langsung mengalihkan pandangan.


"Baik, Pak." cicit Cahya pelan.


"Pa, ini rasanya kok deket ya? Beneran liburan ke Bali?" tanya Dena bingung.

__ADS_1


"Ke Balinya biar kapan-kapan aja. Nanti kamu bakalan tau kita akan ke mana." jawab Wira tanpa menoleh.


"Hmmmm, iya deh." gadis itu hanya manggut-manggut tanpa banyak bicara.


Setelah pesawat landing, Wira segera mengarahkan Dena dan Cahya menuju sebuah mobil yang terparkir indah di bahu jalan. Rupanya itu supir yang akan mengantarkan mereka menuju tujuan utama.


Selama beberapa jam mobil itu melaju dengan kecepatan sedang dan setelah melalui jalanan yang berlubang-lubang, becek, dan tentunya kecil, akhirnya mereka sampai juga.


Begitu keluar dari mobil, Dena menatap takjub di depannya. Rupanya Wira membawanya ke sebuah villa yang berada di puncak, pantas saja cuacanya begitu dingin dengan banyak pepohonan rindang.


Villa tersebut adalah milik dari rekan kerja Wira. Pemandangannya masih sama sewaktu mereka berlibur untuk pertama kalinya saat Dena berumur sekitar 8 tahun. Masih lekat di memorinya saat dirinya bermain sepeda bersama Papanya. Semua kenangan itu kini akan ia ulang kembali.


"Silahkan masuk, Tuan, Nona." sambut kepala pelayan laki-laki saat mereka baru saja menginjakkan kaki di pertengahan tangga. Beberapa diantaranya langsung mengambil alih barang-barang Dena, Wira, maupun Cahya dan membawanya langsung ke kamar.


Kini mereka duduk bersantai di gazebo yang berada di taman belakang dengan ditemani cemilan dan minuman yang telah disediakan pelayan.


"Gimana? Kamu suka nggak?" tanya Wira saat merasakan aura bahagia di sekitar putrinya.


"Suka banget, Pa. Suasananya masih sama kayak yang dulu, malahan tambah bagus."


"Syukurlah kalau kamu suka. Papa gak perlu bawa kamu liburan jauh-jauh."


"Eh ya, Kak Cahya gimana? Suka gak?" seru Dena sembari menatap wanita itu yang asik menikmati pemandangan yang tersedia di hamparan mata.


"Alhamdulillah, suka, Dek. Kakak malahan berterimakasih karna udah mengajak Kakak liburan ke sini." jawab Cahya tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Dena juga ikut berterimakasih karna Kakak udah mau ikut nemenin Dena liburan."


"Makasih juga, Pak, karna udah membolehkan saya ikut." ujar Cahya berterimakasih pada Wira.


"Ya, ini semua permintaan putri saya." balas Wira sedikit cuek membuat Cahya seketika ingin mengumpat dalam hati.


"Dena, istirahat ya, Sayang? Baru dateng kan harusnya istirahat biar nanti malam lanjut lagi ngobrol trus besok kita keluar cari hiburan."


"Papa juga. Ya udah, kalau gitu Dena ke kamar dulu mau istirahat. Kak Cahya mau ikut?" tawar Dena yang sudah bangkit dari duduknya.


"Boleh." jawab Cahya menerima tawarannya dan ikut bangkit.


"Pak, saya duluan."


"Hmmm." Wira hanya berdehem sambil menyeruput kopinya yang tersisa setengah.


Kini hanya tertinggal Wira seorang yang duduk di gazebo, sementara Dena dan Cahya langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Kebetulan saat pelayan membawa barang-barangnya, Dena sudah berpesan agar mereka satu kamar.


"Kak, Papa Dena ganteng gak?" tanya Dena secara tiba-tiba membuat suasana mereka sunyi dan hanya terdengar suara jangkrik dari luar.


.


.


.

__ADS_1


maaf kalau alurnya berantakan🤣🙂


__ADS_2