Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 102


__ADS_3

Jika takdir bisa dirubah, mungkin semua makhluk di dunia ini lebih memilih takdir mereka sendiri. Termasuk takdir dalam ketentuan ajal. Ajal sudah ditentukan kapan dan dimana dia akan berlabuh.


Sinar matahari siang begitu terik menyinari bumi dan seluruh isinya, namun, belum ada tanda-tanda beranjaknya seorang gadis yang berada di samping makam dengan tanah yang masih basah dan juga bunga segar bertaburan di atasnya.


Tidak jauh dari sana, sepasang suami-istri dan juga beberapa orang tengah memandangnya dengan sedih. Sudah lebih dari dari satu jam gadis itu terdiam dengan tatapan kosongnya. Tangannya berulang kali mengusap-usap papan nisan dan tanah kuburan yang masih basah.


"Rel, tolong kamu bujuk Dena. Om dan Tante sudah berulang kali membujuknya, tapi, gadis itu tidak mau beranjak." seru Wira melirik Fairel yang berdiri di sebelahnya.


"Bawa ini juga." Wira menyodorkan sebuah payung kepada Fairel.


"Baik, Om." balas Fairel menganggukkan kepalanya lalu menerima payung tersebut. Kakinya melangkah menuju kumpulan makam yang tampak ditumbuhi rumput-rumput hijau di atasnya. Hanya ada satu makam yang masih tampak basah, dan itu adalah makam Kakek Hari.


Fairel menghentikan langkahnya begitu sampai di belakang tubuh Dena. Pemuda itu langsung membuka payungnya dan mengarahkannya tepat di atas kepalanya.


Walaupun Dena menyadari bahwa ada orang yang datang, tapi, ia masih belum mau beranjak dari sana.


"Mau sampai kapan lo di sini?" tanya Fairel.


Dena tetap bergeming. Kedua matanya sudah sembab karena menangis. Mungkin sekarang air matanya sudah tidak ada lagi karena sejak semalam dirinya menangis.


Fairel menghela nafasnya panjang. Pemuda itu langsung berjongkok di samping Dena.


"Kalaupun lo nangis, semuanya gak bakalan balik ke semula. Ini udah takdir, gak ada yang bisa merubahnya."


Dena masih diam. Dirinya bahkan tidak menoleh ke arah Fairel. Tatapannya hanya tertuju pada papan nisan yang masih tampak baru.


"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan lo nangis? Lo gak sedih liat kakek di sana. Dia pasti merasa berat melewati proses di sana."


"Na... pulang sekarang. Lo bisa nangis sepuasnya di rumah. Gak ada yang bakal ngelarang lo nangis, asal jangan nangis di sini. Tapi, lo harus janji. Setelah nangis, lo harus tersenyum. Gak baik menangisi orang yang udah pergi."


"Bukannya lo udah janji sama kakek bakalan tersenyum? Kakek pasti kecewa karena lo udah ngelanggar janji."


"Kakek juga udah ngelanggar janjinya, Rel. Dia janji gak bakal ninggalin gue." sahut Dena lirih.


"Kakek gak punya pilihan lain lagi selain pergi. Lo mau kakek ngerasain sakit di sepanjang hidupnya?"


Dena menggelengkan kepalanya pelan.


"Pulang. Udah cukup lo nangis di sini."


Fairel menyentuh bahu Dena dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya ia gunakan untuk memegang payung.


"Gue masih mau di sini." tolak Dena langsung melepaskan tangan Fairel.


"Nggak! Pulang sekarang!" titah Fairel tanpa bantahan.


"Gue gak mau! Gue masih mau di sini!"


"PULANG!!" bentak Fairel seketika membuat mata Dena mengembun.

__ADS_1


Seakan tersadar, Fairel langsung meraup wajahnya kasar. Ia langsung meraih tubuh Dena untuk dipeluknya meskipun gadis itu memberontak.


"PERGI!!!" Dena memberontak. Kini air matanya kembali mengalir.


"Maaf, Na."


"ENGGAK! LO PERGI SEKARANG!!!" teriak Dena diiringi dengan isakan tangisnya.


"Gue gak bakalan pergi. Maaf karena udah ngebentak lo."


"Hiksss... g- gue benci lo, Rel. Lo jahat, lo jahat. Gue benci." tubuh Dena melemah. Dirinya hanya pasrah saat Fairel memeluk tubuhnya.


Dada Fairel seakan terhantam baru yang besar. Sesak dan perih menyatu dalam satu. Dirinya menyesali karena sudah membentak gadis itu. Ya, saat ini Fairel telah dikuasai emosi.


"Maaf." berulang kali Fairel mengungkapkan kata maaf. Dena hanya menangis. Dua luka sekaligus yang ia rasakan. Kepergian kakeknya dan Fairel yang membentaknya.


Senyap. Suasana seketika hening. Hanya terdengar isakan kecil yang keluar dari balik bibir Dena.


Fairel menundukkan kepalanya untuk melihat wajah gadis itu. Ternyata Dena tertidur di pelukannya. Fairel memandang lekat wajah lelap gadis itu.


Fairel langsung melepaskan payungnya, ia menancapkan payung tersebut di atas makam Kakek Hari yang masih basah. Perlahan ia bangkit, memposisikan dirinya untuk menggendong Dena.


Fairel menggendongnya menuju pos TPU dimana di sana ada Wira, Cahya, Dewi, serta beberapa warga lainnya.


Kakek Hari dimakamkan di kampung halamannya. Setelah dimandikan dan dikemaskan, mereka langsung membawa jasad Kakek Hari ke kampung halamannya. Itulah pesan dari Kakek Hari saat beliau sakit.


Banyak warga yang merasa kehilangan sekaligus tidak percaya kalau sosok pria tersohor di desa mereka itu telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Fairel menggendong Dena sampai di pos TPU. Wira dan Cahya sebenarnya cukup penasaran bagaimana Fairel membujuk Dena. Apalagi tadi mereka sempat mendengar teriakan Dena.


"Aman, Om." ucap Fairel.


"Ya sudah, ayo kita kembali. Gak enak dengan tamu-tamu di rumah."


"Iya, Om."


"Dena?"


"Biar Arel aja yang bawa."


"Makasih, Rel."


"Sama-sama, Om."


"Ayo, Wi." ajak Fairel kepada Dewi. Dewi hanya menganggukkan kepalanya.


•••


Dena terbangun saat samar-samar mendengar suara orang ramai di luar kamar.

__ADS_1


"Udah bangun, Na?" tanya Dewi begitu Dena membuka mata.


Gadis itu perlahan bangkit. Namun, seketika kepalanya terasa berdenyut. Dena meringis menyentuh kepalanya.


"Pelan-pelan." Dewi membantu Dena untuk duduk dan bersandar.


Dena terdiam. Namun, kemudian ia langsung tersadar bahwa pakaiannya berbeda dengan pakaian yang ia kenakan tadi siang. Seakan mengerti, Dewi langsung menjelaskan.


"Tadi Tante Cahya yang gantiin."


Dena langsung membulatkan mulutnya mengerti.


Dena kembali terdiam dengan tatapan kosongnya.


"Aku tau ini berat. Semuanya juga sedih sama kayak kamu. Tapi, mau sampai kapan direnungi? Mungkin sekarang Kakek udah tenang di alam sana. Tapi, Kakek masih ada di sini." Dewi mengarahkan tangannya ke arah dada Dena. "Kamu juga harus kembali semangat, Na. Perjalanan hidupmu masih panjang. Mungkin ujiannya lebih berat dari ini. Bangkit, waktunya kamu bangkit. Buktiin ke Kakek kalau kamu bisa sukses. Kamu boleh nangis, silahkan. Enggak ada yang larang. Tapi, kamu juga harus tau dan sadar kalau menangisi orang yang udah nggak ada itu gak baik buat mereka."


"Masih ada hari esok. Jangan terhanyut dalam kesedihan."


Dena tertunduk mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Dewi.


"Silahkan nangis kalau kamu mau. Aku, dan yang lainnya masih ada di sini. Banyak yang ngasih support." Dewi mengusap bahu Dena pelan.


Dena mengangkat wajahnya dan menarik nafas panjang. Ditatapnya Dewi dengan seulas senyum tipis meskipun matanya sembab. "Makasih, Wi. Makasih karena udah buat aku sadar."


Dewi juga membalas senyum Dena. "Sama-sama. Jangan ragu buat cerita kalau ada masalah. Banyak yang sayang sama kamu."


"Kalau kamu, sayang gak sama aku?" tanya Dena.


"Enggak." jawab Dewi membuat bibir Dena mengerucut sebal.


"Hahahaa, becanda, Na. Kan tadi udah aku bilang kalau semuanya sayang sama kamu. Berarti aku juga termasuk di dalamnya."


Dena langsung tersenyum mendengarnya.


"Nah, gitu dong. Senyum, jangan mewek mulu. Nanti malah tambah jelek."


"Ish! Apasih?"


"Hahahahaa...." Dewi langsung tertawa melihatnya. Saat itu juga pintu kamarnya terbuka.


"Wahh... ada cerita apa nih? Ketawanya sampai ke luar loh."


"Hehe, enggak, Bun." jawab Dena tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupaa tap tapp jempolnya kasih likeeeeee and komennn


__ADS_2