Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 57


__ADS_3

"Lo kenal sama mereka?"


"Baru kenal tadi." jawab Dena sambil mengikuti langkah kaki Dewi yang berjalan di depannya.


Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya Dena bertemu dengan Dewi. Temannya itu langsung menodongnya dengan banyak pertanyaan. Mulai dari siapa, kenal di mana, dan masih banyak lagi. Dena hanya mampu menjawabnya semampunya karena ya alasannya memang hanya satu. Baru kenal!


"Besok besok jangan lagi ya? Untung aja tadi gak lo kasih nomor WhatsApp. Bisa berabe mah." ujar Dewi seketika membalikkan badannya. Keduanya sudah sampai di rumah.


"Kenapa?" tanya Dena.


"Gue saranin lo jangan deket-deket sama mereka. Mereka itu cowok, sedangkan lo itu cewek, jelas berbeda. Nanti kalau lo kenapa-kenapa gimana? Trus kalau mereka jahatin lo gimana?"


Dena yang mendengarnya hanya tersenyum. Membuat Dewi merasa gemas dan ingin sekali menabok kepalanya.


"Hehe, lagian itu cuma pertama kali. Semoga aja gak ketemu lagi. Oh ya, tadi kenapa gue gak liat Arel? Kan satu jurusan sama lo."


"Gak tau gue itu anak di mana. Paling ke perpus, heran deh gue. Kenapa cewek-cewek selalu ngejar dia. Malahan ya, jadi incaran kakak tingkat cewek tuh."


Dena langsung terdiam sejenak. "Jadi... dia populer dong?" tanya Dena hati-hati.


Dewi hanya membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak tau pasti, dia hanya melihat apa yang terjadi di sekelilingnya.


"Ah, gak asik lo, Wi. Mending bantuin gue ngerjain tugas deh." sahut Dena.


"Oke, di kamar lo kan?" Dena menganggukkan kepalanya. Keduanya pun menaiki anak tangga secara bersamaan. Karena kebetulan Dewi sudah dipindahkan ke kamar atas yang bertepatan berdampingan dengan kamar Dena. Di lantai atas kamar Dena terdapat tiga ruangan yang semuanya kamar. Kamar tengah yang dihuni oleh Dena, sebelah kiri dan kanan yang awalnya dijadikan gudang kini beralih semula menjadi kamar. Hanya kamar di sebelah kirinya saja yang dirubah menjadi kamar lagi, sementara kamar di sebelah kanannya dibiarkan. Biarpun gudang, tetapi, isi ruangannya bersih karena selalu dibersihkan seminggu sekali oleh pelayan di rumahnya.


Sesampainya di kamarnya, Dena langsung menghempaskan bobot tubuhnya ke atas kasur empuk milik yang berukuran super king. Sengaja supaya Dena nyaman dan leluasa. Kata sang papa.


"Belum apa-apa lo udah populer aja, Rel."


"Huftt!!" Dena menghembuskan nafasnya panjang.

__ADS_1


"Tok... tok... tok..."


"Masuk!"


"Gue, Na. Lo minta dibantuin tugas apa? Jangan bilang bahasa Inggris ya, soalnya gue gak tau." sela Dewi dengan kekehannya.


Dena langsung tergelak mendengarnya. Bahasa Inggris? Dirinya memang tau, tapi, entah kenapa Dena sangat membenci pelajaran itu.


"Enggak lah, Wi. Kalo bahasa Inggris mah gue tau." Dena bangkit dari baringnya lalu menarik tasnya yang semulanya di atas kasur sedikit jauh dari jangkauannya sehingga tas itu berada tepat di hadapannya.


Tanpa banyak drama Dena langsung mengeluarkan buku latihannya matematikanya kemudian menyodorkan bukunya itu ke hadapan Dewi.


Dewi ikut duduk di sampingnya dan mengambil buku itu. Sebenarnya dirinya memang sedikit ahli dalam maya pelajaran matematika. Hal itulah yang membuat Dena ingin belajar bersama Dewi karena selama semenjak Dewi tinggal di rumahnya, ia jadi tidak kesepian lagi. Keduanya berbagi cerita, menceritakan hal yang ada di dalam diri masing-masing. Karena semenjak awal kenalan, mereka tidak pernah sedekat ini. Maklum, tinggal di kampung membuat semuanya lupa.


"Ohh ini. Ini tinggal lo salin ulang soalnya trus dipindahin itu angka-angkanya. Kayak gini nih, ini kan n sama dengan 1 ya. Nah yang n di soalnya itu tinggal lo ubah jadi satu. Misal kan 5n ya, nah jadi 5(1). Udah, gitu doang, tinggal jumlahin aja hasilnya berapa. Dilanjut lagi dengan rumus ke-dua."


"Oohh, gitu ya." Dena mengangguk-angguk karena merasa sudah paham. Ia langsung mengerjakannya dengan teliti sesekali dibantu oleh Dewi saat dirinya tidak paham.


"Selesai." Dena merentangkan kedua tangan ke atas udara. Menulis di kasur membuat tubuhnya kaki karena belum terbiasa. Ia langsung menyimpan kembali bukunya ke dalam tas, dan tasnya ia simpan di atas meja belajar.


"Mudah kan? Tinggal pahami aja gimana rumusnya. Sama satu lagi, kalau guru lagi jelasin tuh didengerin, bukannya malah ngobrol sama temen sebangku." ujar Dewi terkesan menyindir.


"Hehe, kok lo tau sih, Wi? Ngintip ya?" tuduh Dena yang langsung mendapatkan timpukan bantal empuk di wajahnya. Alhasil, karena merasa tidak terima, Dena langsung membalas perbuatan Dewi barusan. Ia mengambil bantalnya lalu langsung memukul tubuh Dewi. Keduanya malah asik berperang bantal, suara tertawaannya sampai terdengar di lantai bawah. Membuat para pelayan di rumahnya tersenyum karena ikut merasakan kebahagiaan sang anak majikan.


Bunyi bel pertanda istirahat membuat suasana yang awalnya sunyi kini hingar bingar. Suara teriakan bersamaam dengan gelak tawa langsung memenuhi telinga Dena. Gadis itu dengan malas beranjak dari duduknya setelah mengemaskan bukunya dan memasukkan ke dalam tas.


"Na, woyy! Tungguin." teriak Reza dari arah belakang. Masih ingat dengan Reza? Ada di bab 32 ya kalau lupa. Cuma buat pemanis aja kok :v


"Apa?" balas Dena ketus sembari membalikkan badannya.


"Buset dah, jadi cewek galak amat. Ntar gak laku loh?" goda Reza yang kini sudah berada di hadapannya.

__ADS_1


"Gue gak jualan. Ngapain pake gak laku segala. Emangnya elo, udah kayak permen dibuka bungkusnya." sindir Dena sangat pedas hingga membuat teman cowoknya meringis.


"Canda kali, Na. Lo sensi, lagi dapet?" tebak Reza.


"Lo mau?" sekali lagi Reza meringis.


"Udah, kita ke kantin. Mumpung gue lagi baik, gue traktir."


"Lo kan emang baik ya."


"Hooh. Kok lo tau sih, Na?" balas Reza sumringah.


"Mumpung lo baik kan. Mending sekalian traktir temen sekelas. Kan lo baik, Za. Tajir pula, jadi, duit segitu gak berarti kan buat elo?"


"Anjirrr, lo meres gue, Na? Nyesel gue nawarin. Tapi, kalo gue tarik lagi, gue takut buruk siku. Ah! Lo mah gitu, Na. Nyusahin dompet gue, kasian ntar dia ngocar ngacir minta sumbangan." cerocoh Reza panjang lebar.


"Bodoo! Mau gak lo? Kalo gak mau sih, jangan harap makan satu meja sama gue."


"Eh! Eh! Ntar dulu, Na. Yang bilang enggak mau siapa? Elo kan? Gue mah mau-mau aja." Reza menghirup nafasnya dalam dan menghembuskannya berat. "Ekhemm... oke semuanya, karena hari ini gue lagi baik. Lo semua gue traktir makan di kantin. Tapi, jangan banyak-banyak ya! Soalnya dompet gue tipis!"


"Wahh! Beneran, Za? Wihhh asikk..."


"Hooh tuh. Ayoklah kita ke kantin. Mumpung abang Reza traktirin. Yeayy."


"Gassss!!"


Reza tertawa hambar sembari melirik Dena dengan tatapan memelas.


"No komen itu sih derita lo. Masa bodoo gak mau tau." balas Dena sembari bernyanyi.


"DOMPETTT GUEEEEE, MAKKKKK!!!" teriak Reza lantang. Mengeluarkan semua uneg-unegnya. Menyesal telah mengajak Dena ke kantin dan berkata bahwa dirinya baik hati.

__ADS_1


kangen sama temen sekelas Dena🤭jadi gak papa kan kita mampir ke sekolah dulu🤭🤣


__ADS_2