
"Tolongin ih, Rel. Masa yang lo tolongin cuman sepeda." ujar Dena mengulurkan kedua tangannya.
"Iya, ntar. Gue nyimpan sepeda dulu." ujar Fairel lalu setelah itu ia menghampiri Dena.
"Lo, berat." lanjutnya sambil menarik tangan Dena agar gadis itu bangkit dan keluar dari parit.
"Beratan juga lo kali. Gue mah ringan." balas gadis itu tidak terima.
"Lagian ngapain sih lo kebut-kebutan di jalan, mana pake sepeda lagi. Bahaya tau, untung cuma nyunsep di parit, lha kalo lo kejungkal trus nyangkut di pohon mangga gimana?" ucap gadis itu asal.
"Lebay banget sampe nyangkut ke pohon mangga. Ada untungnya sih biar ntar gue maling mangga lagi." sahut pemuda itu.
"Lo tuh suka banget maling. Untung yang lo malingin itu buah mangga, lha kalo dalaman tetangga kan bahaya, bisa kena mental lo." ledek gadis itu tertawa.
"Ngapain maling daleman tetangga. Mending maling daleman lo mah.." gadis itu langsung melotot ke arah pemuda itu.
"Awas aja!"
"Lo sih yang mulai. Gue mah ngikutin alurnya aja."
"Lo mau ke mana nih?" tanya pemuda itu.
"Mau balik. Kenapa? Lo mau anterin gue. Boleh, boleh, lagian gue tuh capek jalan kaki. Itung-itung lo tanggung jawab karna abis nabrak gue."
"Tanggung jawab, udah kayak ngehamilin anak orang aja." seloroh Fairel.
"Hust! Omongan lo dijaga." tegur gadis itu.
"Iya, iya." jawab Fairel pasrah.
"Yaudah, yuk gue anterin lo sampe ke rumah. Mau gak lo?" tawar pemuda itu.
"Memangnya lo tau ngebonceng? Gue takut ntar jatoh lagi, lo kan kebut-kebutan."
"Percaya sama gue, gue ngayuhnya pelan-pelan kalo kebablasan lo cubit aja pinggang gue." ujar Fairel.
"Awas aja ya kebut-kebutan!" peringat Dena, lalu naik ke kursi belakang, berpegangan erat pada ujung baju Fairel saat pemuda itu mulai mengayuh sepeda ontelnya.
"Rel, lo masih sekolah ya?" tanya Dena di perjalanan.
__ADS_1
"Iya, kenapa?" jawab Fairel bertanya.
"Kelas berapa?"
"12. Kalo lo?" ujar Fairel bertanya balik.
"Jadi adek kelas lo nih gue." jawab Dena tertawa. "Kelas 11 gue."
"Owh..." Fairel bergumam.
Dena teringat ucapan pak somat tadi yang menyuruhnya mengambil mangga.
"Rel, tadi pak somat bilang kalau mau ambil mangganya ambil aja, boleh kok, asal jangan semuanya." ujar gadis itu.
"Males gue kalo dikasih. Enakan maling. Berasa kayak di film-film gitu." balas Fairel.
"Lahh, lo keasikan maling jadi otak lo tuh geser." Dena yang kesal dengan jawaban Fairel.
"Becanda doang elah. Nih langsung mau pulang? Gak mau jalan-jalan gitu?" tawar Fairel.
"Boleh deh. Lagian kalo di rumah pasti sendirian, bosen, Kakek belum pulang."
"Oke."
Saat berada di kebun teh, mereka bertemu dengan sekumpulan anak muda yang berkumpul di jembatan yang terdiri dari tiga cewek dan dua cowok lainnya.
Fairel memberhentikan sepedanya saat hampir dekat dengan kumpulan anak muda tersebut.
"Eh! Rel, bawa siapa lo?" celetuk salah satu cowok.
Fairel kembali membawa sepedanya mendekat ke arah mereka. Saat sudah sampai, Dena segera turun.
"Temen. Napa?" jawab Fairel.
"Nggak, hehe, bening cuy."
"Oh, ya. Kenalin ini temen-temen ngumpul gue. Setengahnya sih, yang lainnya belum pada ngumpul. Yang sebelah kiri itu namanya Rafael, trus yang di sebelahnya itu Dicky."
"Yang cewek bertiga itu juga temen gue. Yang tengah itu Risty, yang kanan Dewi, trus yang satunya Anna." Fairel memperkenalkan satu per satu teman-temannya.
__ADS_1
Dena tersenyum sambil menjabat tangan mereka satu per satu.
"Salam kenal, Dena." ucapnya sembari tersenyum.
"Salam kenal juga, Dena. Semoga betah ya berteman dengan kami."
"Hehe, iya. Semoga aja."
"Btw, kalian kok ngumpul di sini?" tanya Fairel.
"Ya gak pa-pa sih. Tadi ketemuan di jalan jadi sekalian deh ke sini, eh taunya ketemu elo juga." sahut Dicky.
"Warga baru ya? Kok gue baru liat dia di sini? Apa mata gue yang rabun ya, gak bisa liat cewek secakep dan sebening dia. Mana unyu-unyu lagi, mungil." ujar Rafael gemas sendiri.
"Bukan. Dia cucunya Kakek Hari, baru beberapa hari di sini, biasa lagi libur sekolah mungkin. Ya gak, Na?"
"Iya, lagi libur semester pertama." sambung Dena.
"Oalah, gitu. Trus sebenernya lo tinggal di mana?"
"Jakarta."
"Wuih! Orang kota. Pengen juga jadinya ke kota, apalah daya hanya orang desa." celetuk Dewi.
"Hahaa... biasa aja kok. Lagian Papa gue juga asli sini. Kapan-kapan deh gue ajak kalian ke kota." seru Dena.
"Wah! Asik tuh. Ditunggu ya ajakannya." canda Anna membuat mereka semua tertawa.
"Neng neng, akang akang, pada balik sana. Udah mau magrib, gak boleh keluyuran." teriak salah satu warga memperingatkan.
"Iya, Kang. Nih bentar lagi mau pulang." jawab Dicky juga ikut berteriak, karena orang tersebut sudah berlalu menggunakan motornya.
"Eh! Pulang yuk! Udah mau magrib." ucap Rafael.
"Rel, nanti malam jangan lupa ya? Jangan telat juga." sahut Dicky sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Siap! Tenang aja, gue mana pernah telat. Lo aja kali yang selalu telat di arena." balas Fairel.
"Mau ke mana emangnya, Rel?" tanya Dena kepo.
__ADS_1
"Gak ke mana-ma---"
"Biasa, balapan mereka. Malam-malam bukannya istirahat, kalem, adem ayem di rumah eh malah buat hingar bingar. Untung agak jauh dikit dari perumahan warga." potong Risty cepat sebelum Fairel menyelesaikan ucapannya.