Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 67


__ADS_3

Dena tidak menduga kalau hari ini jam sekolah pulang lebih awal dari biasanya karena guru mengadakan rapat bulanan yang dilaksanakan setiap satu bulan satu kali. Seperti saat ini, Dena tengah menunggu Pak Haryo menjemputnya. Gadis itu asik mengotak-atik ponselnya di sisi bagian tepi gerbang yang terbuka. Sebagian murid sudah pulang dan sebagiannya masih asik nongkrong di sekolah. Katanya malas pulang lebih awal karena saat berada di rumah, mereka selalu diomeli oleh ibunya karena malas-malasan. Mendengarkan itu membuat Dena membayangkan bagaimana kalau ia mempunyai seorang ibu. Apakah ia akan mendapatkan omelan yang sama ketika ia malas-malasan di rumah?


Brumm brumm


Tiba-tiba ada sebuah motor sport berhenti tepat di sampingnya. Kemudian pengendara tersebut langsung membuka kaca helm fullnya.


Menyadari ada yang datang ke arahnya, Dena segera mematikan ponselnya dan menyimpannya di saku baju seragam putihnya.


"Mau pulang?"


Dena menganggukkan kepalanya. "Kenapa berhenti, Ar? Ada yang ketinggalan?" tanya Dena kepada sosok pemuda tersebut yang ternyata Arya, adik kelasnya.


"Enggak. Cuma mau ngajakin nyantai di cafe depan. Sebagai bentuk rasa terima kasih karena udah bantuin gue tadi." saat jam pelajaran tadi, Dena pergi ke toilet dan tidak sengaja melihat Arya yang kerepotan membawa tumpukan buku. Dena pun berinisiatif untuk membantu Arya.


Sekarang Dena jadi tidak enak kalau menolak ajakan Arya. Bukankah dia bilang ini sebagai bentuk terima kasih. Jadi, tidak ada salahnya bukan kalau Dena menerimanya? Hanya bentuk rasa terima kasih!


"Boleh aja sih. Cafe depan kan?" ulang Dena. Sesaat Dena telah diam dan menyadari bahwa cafe yang akan mereka datangi adalah tempat di mana Fairel bekerja paruh waktu. Membayangkannya membuat Dena sedikit kepikiran takut Fairel akan salah faham dengan kedekatan mereka.


"Iya. Ayo, naik!" tutur Arya sambil memberikan kode kepada Dena dengan menolehkan kepalanya ke jok belakang.


Sebelum itu Dena lekas mengirim pesan kepada Pak Haryo agar tidak menjemputnya. Setelahnya dengan ragu Dena naik ke atas motor Arya. Gadis itu berpegangan dengan tas Arya.


Motor yang dikendarai Arya pun berjalan perlahan. Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka sudah sampai ke tempat tujuan.


Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam cafe tersebut. Dena melambatkan langkahnya hingga ia berjalan tepat di belakang Arya. Arya berjalan menuju meja nomor tiga yang kebetulan berada tepat di depan.


Keduanya duduk berhadapan dengan posisi Dena membelakangi meja mesin espresso. Arya pun mengangkat tangannya sebelah, lalu tidak lama pelayan laki-laki datang ke arah mereka.


"Coffee latte ya, Mas."


"Lo apa?" tanya Arya kepada Dena.


"Samain aja." jawab Dena.


"2 ya, Mas."


"Oke, Mas. Tunggu sebentar." balas pelayan tersebut lalu pergi setelah mencatat pesanan mereka.


Sudah 5 menit mereka menunggu. Kepala Dena sedari tadi celingukan membuat Arya penasaran. "Cari siapa?" tanya Arya membuat Dena tersentak kaget. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Gue ke toilet bentar ya?" ujar Dena.

__ADS_1


"Owh, oke." balas Arya hanya mengangguk.


Dena pun bangkit dari duduknya dan melangkah menuju toilet. Saat melewati mesin espresso, Dena tidak Fairel yang ternyata sibuk meracik kopi. Gadis itu langsung melenggang pergi begitu saja karena dirinya harus pergi ke toilet.


Pintu toilet pun terbuka menampakkan raut wajah Dena yang lebih lega dari sebelumnya. Ia menepuk-nepuk pelan rok abunya. Karena tidak ingin membuat Arya menunggu dirinya lama, akhirnya Dena memutuskan untuk kembali ke kursinya.


Namun, saat sudah berada di ambang pintu masuk dan keluar, tiba-tiba tangannya ditarik. Hampir saja Dena berteriak kalau tidak ada yang membungkam mulutnya.


"Rel!" sentak Dena setelah tangan itu terbebas dari mulutnya. Ia merasa kaget dengan kehadiran Fairel secara tiba-tiba. Dena menoleh ke arah kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain selain mereka berdua.


"Lo ngapain? Bukannya kerja?" tanya Dena.


Pemuda itu sadar bahwa ia masih memegang tangan Dena. Ia langsung melepaskannya. Fairel malah menaruh jari telunjuknya di bibirnya sendiri. "Syuttt... barusan udah selesai. Lo bolos?" Dena langsung membelalakkan kedua bola matanya sempurna kala Fairel mengatakan kalimat itu.


"Bisa mati gue dicekek papa." kesal Dena akan tuduhan Fairel.


Dengan santainya Fairel memasukkan kedua tangannya di saku apron yang terpasang rapi di depan tubuhnya. "Ya kali aja lo bolos. Berdua." sahut Fairel seakan menyindir.


"Enggak. Hari ini guru ada rapat, jadi, bisa pulang lebih awal."


"Owh. Terus, kenapa gak langsung pulang? Malah keluyuran, seragam juga belum diganti. Kalau mau jalan tuh ganti dulu seragamnya, baru terserah deh mau ke mana aja bareng cowok."


"Malah senyum nih anak." Fairel menggelengkan kepalanya heran.


Dena langsung tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Tangannya ia simpan di belakang dalam keadaan menggenggam. "Enggak. Itu cuman adek kelas."


"Gue gak nanya itu siapa." potong Fairel langsung membuat ekspresi Dena berubah 360 derajat. Tidak ada lagi senyumnya yang malu-malu. Berganti dengan bibir yang mengerucut sebal.


"Ya udah." balas Dena yang kesal langsung mengambil aba-aba untuk melenggang pergi. Namun, sebelum itu tangannya langsung dicekal oleh Fairel.


"Apa lagi? Gue udah ditungguin lama. Gue sama Arya mau jalan-jalan lagi." ketus Dena menoleh ke belakang, tepatnya melihat pergelangan tangannya yang dipegang lembut oleh Fairel. Bahkan dengan sengaja Dena berkata seperti itu. Niat ingin memanasi hati Fairel yang entahlah ia sendiri tau berhasil atau tidak.


Fairel mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Lalu langsung ber'oh saja. "Oohh... namanya Arya. Adik kelas?"


"Iya." balas Dena ketus. Lihatlah sekarang, malah Dena yang terpancing emosi, bukannya Fairel.


"Gue mau ke depan. Lepasin!" titah Dena menggerakkan tangannya.


"Oke." dengan santainya Fairel melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Dena.


Tiba-tiba Fairel memajukan wajahnya, membuat Dena merasa was-was. Dena merasakan nafas hangat milik Fairel berhembus tepat di telinganya. "Gue suka liat lo marah."

__ADS_1


Dena langsung mematung sempurna. Dan saat itulah menjadi kesempatan Fairel untuk melenggang pergi.


"M-maksudnya apa?" lirih Dena dengan tatapan kosongnya.


...๐Ÿผ...


"Makasih traktirannya, Ar."


"Oke. Gue juga makasih. Gue langsung pulang sekarang ya?"


"Hati-hati."


Dena melambaikan tangannya singkat sembari menyaksikan Arya yang melesat pergi mengendarai motornya. Dena sempat mematung sesaat karena mengingat peristiwa tadi saat berada di cafe.


Tidak ingin membuatnya kehilangan konsentrasi, Dena segera masuk ke dalam rumahnya. Gadis itu langsung masuk ke kamarnya, tiba-tiba ide di pikirannya terlintas. Bukankah ini masih terlalu pagi? Ya, tepatnya menjelang siang karena jam masih menunjukkan pukul sepuluh.


"Apa ke kantor papa aja ya? Lagian udah lama gak ketemu kak Cahya." monolognya kemudian langsung berjalan menuju lemari untuk mencari pakaian yang cocok untuk ia kenakan.


Saat ia berada di depan cermin tengah merapikan pakaiannya, Dena langsung menghentikan gerakan tangannya yang menyisiri poninya. "Kalo diperhatiin, kenapa muka Fairel sama Arya mirip ya? Ah, perasaan gue aja kali ya." batin Dena baru tersadar.


Gadis itu langsung menyudahi aktivitasnya.


"Bibikkkk! Bik Marsihhhh..." teriak Dena dari atas kamarnya dengan suara yang menggelegar.


Tidak lama Bik Marsih datang dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa, Non?" tanyanya.


"Dena mau ke kantor papa." ucap Dena memberitahu.


"Baik. Apa sekaligus mau disiapin makan siang, Non?"


Dena terdiam sambil berpikir. "Oke deh, Bik. Aku tunggu di depan ya?"


"Baik, Non."


.


.


.


maaf typo belepotan ges, kalian bisa komen kasih tau aku klo ada typo๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2