
"Sayang, bangun dong. Udah siang loh ini." Wira membuka lebar-lebar gorden di kamar putrinya. Cahay matahari yang mulai memanas langsung menembus kamar Dena. Gadis yang masih tertidur pulas itu langsung menggeliat kecil. Namun, tidak membuat dirinya terbangun.
Wira yang melihat itu pun tidak kehabisan akalnya. Ia berjalan menuju kasur yang ditempati putrinya lalu langsung menarik selimut yang membungkus tubuh Dena. Tidak hanya itu, Wira juga menggelitiki pinggang Dena hingga membuat gadis itu terperanjat kaget karena merasakan geli.
"PAPA IHHH!!" protes Dena dengan wajah bantalnya.
"Come on, Sayang. Ini weekend, Arel juga udah nungguin kamu dari tadi." mendengar nama Fairel membuat kelopak mata Dena langsung terbuka lebar. Ia menggosok kedua matanya menggunakan punggung tangannya.
"Ck! Denger nama Arel aja langsung semangat." cibir Wira.
Melihat sang papa yang sudah mulai cerewet membuat gadis itu langsung bangkit. Dengan cepat ia mendorong tubuh sang papa agar keluar dari kamarnya.
"Loh, loh. Papa kok diusir?"
"Dena mau mandi. Sana keluar!" usir gadis itu tega sekali. Sedangkan Wira hanya menggelengkan kepalanya. Lebih baik ia segera turun untuk menemui Fairel yang berada di ruang tamu.
"Maaf ya, Rel. Dena baru aja bangun, biasa gadis itu suka molor kalau hari libur." Wira mendudukkan bokongnya di kursi berhadapan dengan Fairel.
"Gak apa-apa, Om. Santai aja." jawab Fairel yang memang tidak keberatan.
"Gimana? Kamu udah siap belajar nyetir?" tanya Wira.
"Siap, Om." jawab Fairel mantap. Ya, kedatangannya ke rumah Dena adalah permintaan Wira seminggu yang lalu.
"Bagus. Kalau gitu kamu tunggu di sini bentar ya? Om mau ke kamar, ada urusan." Wira bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Fairel. Ia menepuk-nepuk bahu pemuda itu sebelum akhirnya menjauh dari sana.
"Oke, Om."
Lima belas menit sudah Fairel duduk terbengong di ruang tamu, sampai saat ini juga tidak ada yang menemuinya. Baik Dena maupun Wira.
Saat berpikir seperti itu, tiba-tiba suara Wira mampir di telinganya. "Rel. Sini!" pinta Wira sambil melambaikan tangannya.
"Iya, Om?" tanya Fairel bingung. Namun, ia tetap mendekat ke arah Wira.
Pria itu langsung merangkul bahu Fairel dan membawanya ke belakang. "Kita sarapan dulu. Dena masih lama kayaknya. Biasa, kayak gak tau aja sama anak gadis."
"Iya, Om." balas Fairel mengangguk.
"Duduk dulu, Rel." Wira mempersilahkannya duduk di kursi meja makan. Di meja makan, sudah tertata beberapa makanan untuk mereka menyantap sarapan pagi.
"Dena masih lama, Om?" tanya Fairek tidak sabaran. Karena ia sudah menunggu lebih dari 30 menit.
"Bentar lagi mungkin. Nah tuh dia." Wira menunjuk ke arah anak tangga di mana Dena berada. Gadis itu tampak lebih fresh setelah membersihkan dirinya.
__ADS_1
"Morning." sapa Dena lalu menuruni anak tangga terakhir. Senyumannya tercetak jelas. Fairel yang melihatnya langsung terpana. Dena begitu cantik pagi ini. Pikirnya.
"Too, Sayang. Ayo, sarapan dulu. Arel udah nunggu lama, cacing di perutnya udah teriak-teriak." Wira tertawa saat berkata demikian. Dena langsung tersenyum malu, ia langsung mendudukkan dirinya di hadapan Fairel.
Sesaat suasana menjadi sunyi. Hanya bunyi dentingan sendok dan garpu saja yang saling bersahutan. Setelah sarapan, mereka langsung pergi menuju ruang tamu.
"Nunggu apa lagi, Pa? Ayo ke lapangan." seru Dena.
"Tunggu aja." balas Wira malah duduk santai sambil menyilangkan kakinya.
Tidak lama suara bel rumah langsung berbunyi. Wira yang mendengarnya dengan cepat bangkit dari duduknya.
"Siapa, Pa?" pertanyaan yang keluar dari bibir Dena malah tidak mendapat jawaban dari papanya. Ia mendengus kesal. Tingkah Dena tersebut malah memancing perhatian Fairel. Dena yang merasa kalau dirinya sedang diperhatikan pun langsung menoleh ke arah di mana Fairel duduk.
"Apa?" tanya Dena salah tingkah.
"Lo manis." puji Fairel dengan berani. Perkataan Fairel barusan mengundang sebuah semburat merah di kedua pipi Dena.
"Gombal!" Dena memalingkan wajahnya cepat berharap Fairel tidak melihat wajahnya yang merona. Sayangnya, tingkahnya itu membuat Fairel merasa gemas. Padahal jelas-jelas ia melihat wajahnya Dena yang memerah.
"Lo cantik pagi ini, Na." ujar Fairel lagi sambil mengulum senyumnya.
"Gak denger gak denger. Gue budeg." alih-alih berterima kasih, Dena malah menutup kedua kupingnya menggunakan kedua tangannya. Fairel langsung tertawa dibuatnya karena baginya tingkah Dena sangat menggemaskan.
"Gak!" potong Dena cepat.
"Na, liatin gue bentar aja." pinta Fairel sangat berharap. Dena langsung melepas tangannya yang menutupi kedua kupingnya. Dengan ragu ia menatap Fairel.
Melihat Dena sudah terpengaruh terhadapnya. Fairel langsung menunjukkan apa yang ingin ia perlihatkan.
"Arelll, anak kucinggg emanggg!" teriak Dena langsung. Sebenarnya dirinya kelewatan salting. Karena tingkah Fairel barusan yang menunjukkan ekspresinya yang sangat manis. Ya, saat itu Fairel tersenyum menatapnya. Bukan itu, bukan! Tapi, kedua tangan Fairel yang membentuk love.
Tawa Fairel langsung menggelegar. Ia senang kalau sudah membuat Dena salah tingkah karenanya.
Kini wajah Dena sudah merah. Ia menutupi wajahnya menggunakan bantal sofa. Ia tidak berani menatap Fairel lagi karena takut jantungnya menjadi tidak aman.
"Ekhemm..." suara deheman mampu membuat keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga Dena yang spontan meletakkan bantal sofa ke tempat semula.
"Woahhhhhhh!!!" Dena memekik senang saat melihat di depannya saat ini. Ia langsung berdiri dan melangkah cepat mendekati papanya.
Wira sudah berharap kalau Dena akan memeluknya. Tangannya sudah terentang, namun saat itu juga Wira merasakan kekosongan karena yang Dena peluk bukanlah dirinya melainkan wanita di sampingnya.
Fairel yang melihatnya hampir keceplosan tertawa. Pemuda itu langsung menutup mulutnya agar dirinya tidak bablas.
__ADS_1
"Kakakkkkk... kenapa bisa ke sini? Siapa yang nyuruh? Papa ya? Pa, papa yang minta kak Cahya datang ke sini?" cerca Dena begitu melepaskan pelukannya.
"Tanya aja sendiri." balas Wira pura-pura merajuk. Tingkahnya tersebut malah tidak mendapat empati dari putrinya.
"Papa yang minta kakak datang ke sini?" tanya Dena kepada wanita di hadapannya.
"Menurut kamu gimana?" tanya balik Cahya. Ya, yang datang adalah Cahya. Ia mendapat pesan dari Wira tadi agar datang ke rumahnya.
"Gak mungkin kalo papa yang minta. Soalnya papa kan gengsian." Dena meletakkan jari telunjuknya di dagunya.
Cahya langsung menahan tawa. Ia melirik ke arah pria yang kini melihatnya dengan tatapan sedih. Melihat itu malah membuat Cahya menatapnya nakal.
"Eh ya, sampai lupa mau ajak duduk. Duduk sini, Kak." Dena menarik tangan Cahya menuju sofa. Keduanya langsung duduk di sofa yang sama.
Wira yang melihat itu berjalan lemas menuju kursi yang Fairel duduki. "Geser, Rel." pinta Wira. Fairel pun menurut, ia sedikit kasihan melihat pria itu.
Cahya yang melirik pria itu yang menunjukkan ekspresinya lesunya langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Dena. "Papa kamu ngambek." bisik wanita itu.
Sontak Dena melirik papanya yang menatap interaksi mereka. "Pa, makasih udah bawa kak Cahya ke sini." ucap Dena berharap kalau papanya tidak merajuk. Sebenarnya ia juga bingung, kenapa sang papa akhir-akhir ini bertingkah seperti anak remaja.
Wira langsung membalasnya dengan sebuah senyuman. "Sama-sama, Sayang." balas pria itu.
"Kakak udah sarapan??" tanya Dena beralih kepada Cahya.
"Udah kok. Kamu?" Cahya mengelus rambutnya pelan. Dena langsung mengangguk.
"Kakak mau ikut ke lapangan liat Arel belajar nyetir mobil?" tawar Dena.
"Itu Arel, Kak. Yang duduk di samping papa. Oh ya, Rel. Ini kenalin kak Cahya." Dena memperkenalkan keduanya bergantian. Karena sebelumnya mereka tidak berkenalan secara dekat. Mungkin hanya sekedar kenal wajah saja saat dulu Dena dan Papanya beserta Cahya berlibur ke kampung kakeknya.
"Oohh ini. Salam kenal ya, Rel." sapa Cahya tersenyum ke arah Fairel. Fairel juga membalasnya.
"Salam kenal juga, Kak." balas Fairel. Sesaat ia merasakan sebuah cubitan kecil di lengannya. Ternyata Wira lah pelakunya. "Jangan tersenyum." titah Wira mulai posesif. Fairel yang awalnya tidak mengerti pun hanya mengangguk patuh.
.
.
.
kejutan bab sebelumnya gimana😀🤣ada yg suka gak? wkwk🤣
kali ini kita santai aja ya. Maaf kalo bab nya kebanyakan cerita papa Dena nantinya. Karna aku mau cepetin selesaiin ceritanya biar nnt bisa fokus ke cerita Dena dan Fairel. Soalnya klo ga cepet diselesain ntar takut gak fokus trus malah alurnya ngawur🤣🤣
__ADS_1