
Di kediaman Dena tampak lebih ramai dan berisik dari biasanya sejak kedatangan Kakek Hari. Kakeknya Dena itu sudah memutuskan untuk menetap di kota Jakarta dan meninggalkan kampung halamannya. Bukan kemauannya, melainkan paksaan dan rengekan dari sang cucu.
Sejak malam acara ulang tahun sang papa, Dena tampak sudah mengakhiri pranknya. Dan satu yang membuat Dena bahagia yaitu mendengar kabar bahwa papanya akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu satu bulan ke depan. Dena sudah sangat senang karena hari-harinya tidak sendirian lagi. Setiap kali ia pulang sekolah, ada Kakeknya yang menyambut kedatangannya. Setiap hari gadis itu selalu mengoceh bercerita panjang lebar mengenai hari-harinya.
Berbeda dengan itu, Fairel tampak frustasi saat Dena mengabaikannya bahkan mendiamkannya dalam waktu yang lama. Jika boleh jujur, ini adalah pertengkaran pertama kali mereka.
Hari ini tepatnya hari minggu, di kediaman Dena mengadakan acara kumpul-kumpulan dua keluarga yang tampak berunding tentang acara pernikahan.
Sedari pagi tadi Dena sudah disibukkan berada di dapur ditemani oleh sang kakek.
"Tau kan yang mana wortel dan lobak?" tanya kakek Hari seakan menyindir secara halus.
Dena hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya tidak gatal. "Hehe, sekarang udah tau kok, Kek. Mumpung Kakek udah pindah ke sini, boleh tuh ajarin Dena masak." celetuk gadis itu tanpa beban.
"Boleh. Nanti kakek ajarkan cara memasak baru akik." sontak Dena mengerucutkan bibirnya.
"Kayaknya Dena harus ngajarin kakek cara memasak kayu deh." balas Dena tidak mau kalah.
"Hahahahaa..." gelak tawa Kakek Hari langsung keluar. Membuat pelayan di sekitar mereka tersenyum dibuatnya. Tidak pernah mereka merasakan kediaman majikan mereka seramai dan seasik ini. Apalagi sejak kedatangan kakek Hari.
"Kek, Kek." panggil Dena setengah berbisik.
"Kenapa?" tanya kakek Hari langsung menghentikan tawanya.
Dena malah mengkode ke belakang kakeknya dengan lirikan mata. "Ada Bik Marsih." bisik Dena.
Sontak Kakek Hari yang merasa gemas langsung menabok pantat cucunya. "Dasar cucu nakal. Sana lanjutin masak."
"Bik Marsih." bukannya menuruti perkataan sang kakek, Dena malah memanggil Bik Marsih yang kebetulan baru datang dari depan.
"Iya, Non?" Bik Marsih tampak berjalan cepat mendekati anak majikannya.
"Temenin Kakek ngobrol, Bik. Ajak tuh ke kolam. Kalo bisa ajak sekalian berenang." saat itu juga Dena langsung berlari sambil tertawa.
"Cucuku masih nakal rupanya." gumam Kakek Hari dibuat geleng-geleng kepala.
"Mari, Tuan. Saya antar ke kolam." seru Bik Marsih.
Kakek Hari langsung mengangkat telapak tangannya lalu digoyangkan ke sisi kiri dan kanan sebagai penolakan. "Ah nggak usah. Saya di sini saja liat yang lain memasak."
"Baiklah kalau begitu." Bik Marsih langsung meninggalkan Kakek Hari karena beliau harus mengerjakan pekerjaannya seperti biasa.
Setelah dirasa cukup, Dena langsung menyudahi pekerjaannya membantu para pelayan memasak. Gadis itu langsung berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri baru setelahnya kembali turun ke bawah menemui para tamu.
Saat sudah selesai, Dena sempat berjalan menuju kamar Dewi yang ternyata tertutup. Sahabatnya itu juga baru selesai membantu.
"Wi, masuk ya?" izin Dena sembari mengetuk pelan pintu kamar Dewi. Setelah mendengar sahutan Dewi dari dalam sana, Dena langsung masuk.
"Lah, lah. Udah rapi aja? Mau kemana?" tanya Dena cukup bingung dibuatnya melihat penampilan Dewi.
__ADS_1
"Sorry ya, Na. Aku gak mau ganggu acara keluarga kalian. Kebetulan juga aku ada janji."
"Yahh... aku pikir tadi nggak kemana-mana. Emangnya mau janjian sama siapa sih? Cewek atau cowok?" todong Dena dengan pertanyaannya.
"Bukan siapa-siapa, Na. Temen kampus kok, sekalian mau ngerjain tugas bareng." kalau sudah begini, Dena pun tidak berani memaksa karena bagaimana pun juga Dewi memiliki hak tersendiri untuk memutuskan waktunya.
"Mau pergi sekarang?" tanya Dena dibalas anggukan oleh Dewi.
"Gak apa-apa kan?"
"No problem. Hati-hati ya. Nanti kalo ada apa-apa tinggal telfon aja. Kalo bisa pulangnya dijemput Pak Haryo."
"Cerewet banget sih." Dewi langsung mencubit kedua pipi Dena yang tampak lebih berisi dari biasanya.
"Ihhh! Geli, Wi." protes Dena menyingkirkan tangan Dewi dari wajahnya.
"Haha, oke oke. Anterin ke luar yuk!"
"Ayok." keduanya berjalan bergandengan menuruni anak tangga. Sesampainya di ruang tamu, atensi semua orang langsung terpusat pada keduanya.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Wira yang sebelumnya bercengkrama dengan keluarganya.
"Nggak kemana-mana, Pa. Cuma nganterin Dewi sampai depan aja."
"Loh, emangnya Dewi mau kemana?"
"Tau lah. Katanya ada janji dengan pacarnya."
"Jangan boong kamu. Kamu pasti mau keluar dengan Ridwan kan? Hayo, ngaku aja!" tuduh Dena membuat wajah Dewi bersemu merah.
Sahabatnya itu tidak menanggapi, namun, berjalan menuju orang-orang yang duduk berkumpul di sofa.
"Semuanya, maaf ya gak bisa ikutan. Dewi ada janji sama temen soalnya." ucap gadis itu menyalami para orang tua.
"Iya, nggak apa-apa. Lain kali nanti harus ikut ya." balas Wira.
"In Sya Allah, Om. Kalau gitu Dewi pamit sekarang ya?"
"Iya, hati-hati."
Selepas kepergian Dewi, Dena tampak ikut bergabung di antara para orang dewasa. Bayangkan saja, hanya dirinya saja seorang gadis. Sedangkan yang lainnya ada Papanya, sang Kakek, Cahya, ibunya Cahya yaitu Alina, serta ayah sambungnya.
"Nakal ya. Bilangnya Dewi punya pacar, kalau kamu gimana hayo?" seru Alina kepada Dena yang duduk nyempil diantara Cahya dan Alina.
"Enggak ada kok, Oma. Dena udah jomblo kok." sahut gadis itu mendapat gelak tawa dari yang lainnya.
"Loh, Fairel emangnya bukan pacar kamu?" goda Cahya ikut-ikutan.
"Bukan." jawab Dena cepat.
__ADS_1
"Udah, udah. Jangan berdebat. Sekarang kita diskusikan nih kapan tanggal baiknya." lerai Kakek Haro menengahi obrolan mereka.
Disaat semua orang tampak berdiskusi, beda lagi dengan Dena yang tampak melamun. Sesaat ia langsung tersadar.
"Dena punya ide." sahut gadis itu.
Semua orang langsung menatapnya penuh tanda tanya.
"Kalo bulan depan gimana? Kan udah mau libur semester.
"Kelamaan, Sayang." sahut Wira tidak setuju. Perkataannya barusan malah membuat Cahya menundukkan kepalanya malu. Ada-ada saja duda anak satu itu.
"Kalo lama tuh tahun depan. Papa tuh gak sabaran banget deh. Cuma satu bulan doang, bukannya sampe 5 tahun." balas Dena mulai mengomel.
"Benar apa yang dibilang Dena. Kita juga harus banyak melakukan persiapan. Belum lagi resepsinya. Malahan satu bulan sepertinya kurang, bagaimana kalau dua bulan? Kita juga harus menyiapkan ini itu dan gedung serta undangannya." saran Kakek Hari membuat Wira mendengus lemas.
"Cukup sederhana aja, Kek, Ma, Pa. Cahya gak mau besar-besaran. Cukup orang-orang terdekat aja yang tau." ucap Cahya buka suara.
"Kamu yakin?" tanya Wira kepada wanita pujaan hatinya. Sudah seperti abg saja.
Cahya menganggukkan kepalanya tanpa ragu.
"Bukan malu karena menikah dengan aku kan?" lanjut Wira membuat Cahya menatapnya aneh.
"Kenapa aku harus malu? Toh kamu juga manusia, bukan jelmaan serigala. Persoalan kamu duda? Aku terima kok, nggak ada problem sama sekali. Atau, malah kamu yang malu karena aku hanya wanita biasa? Bukan wanita dari kalangan berada?"
"Bukan gitu--"
"Bukannya kamu dari awal yang kekeuh banget buat menikah. Kenapa jadi ragu gini? Kalau emang belum siap gak apa-apa kok. Aku gak ada masalah sama sekali." potong Cahya yang sedari tadi sudah tersinggung dengan perkataan pria itu.
Seketika para orang tua langsung saling pandang. Mereka bingung kenapa tiba-tiba pasangan yang akan segera melaksanakan pernikahan itu tampak berselisih. Memang benar adanya kalau pasangan yang akan menikah itu banyak diterpa masalah. Malahan ada yang bahkan membatalkan pernikahan mereka hanya karena gara-gara masalah sepele.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Alina saat melihat Cahya membereskan tasnya lalu bangkit dari duduknya.
"Mau pulang, Ma." balas wanita itu lalu beranjak pergi tanpa berpamitan sama sekali.
"Loh, loh. Ini belum selesai loh. Sayang..." panggil Alina, namun, wanita itu sudah berjalan keluar.
Dena yang mengamati sedari tadi langsung bangkit dari duduknya dan hendak menyusul Cahya. Tapi, tangannya langsung ditahan oleh Alina.
"Biarkan, Sayang. Kamu gak usah khawatir, orang kalau mau menikah ya begitu. Ada aja masalah yang datang. Tergantung kitanya aja menyikapinya bagaimana. Apakah akan tetap dengan keegoisan atau berdamai dengan keadaan. Dulu Oma juga begitu, Oma menikah dengan Opa juga banyak didatangi masalah. Salah satunya dengan Cahya yang tidak setuju dengan hubungan kami. Alasannya cukup simpel karena dia belum bisa melupakan mendiang Papanya dulu. Maklumi ya?"
Dena menganggukkan kepalanya pelan. Ia kembali duduk di tempatnya tadi. Gadis itu memandang sang papa yang tampak frustasi. Ternyata menjadi orang dewasa itu sungguh berat. Apalagi yang akan menjalin hubungan rumah tangga.
.
.
.
__ADS_1
hola Hai🤣lama tidak bertemu di lapak ini yah. Pada sehat semua kan? Sehat dong ya alhamdulillah.
Nanti setelah papa Dena nikah, kita langsung cus ya kisah Dena dan Fairel 😊nanti aku bikin lapak baru khusus kisah mereka