
Sedangkan Dena yang saat ini berada di dalam kamar tengah merasa kesal yang sudah berada di ubun-ubun. Dirinya berbaring telungkup dengan wajahnya dia benamkan di atas kasur. Entah kenapa rasanya saat berjauhan dengan Cahya membuatnya merasakan rindu yang teramat. Apalagi dia diperlakukan layaknya bak seorang anak. Dena jadinya merasa baper.
Tidak menangis dan tidak juga sedih-sedih amat. Dirinya hanya merasa kesal kepada orang-orang di sekitarnya. Terutama sang papa. Kakinya terangkat dan menendang udara yang tidak terasa apa-apa. Malahan kakinya yang merasakan pegal.
"Tok... tok... tok..." tiba-tiba suara ketukan pintu membuat dirinya buyar. Dena sangat tau itu siapa, karena tidak mungkin kan Dewi dan Fairel yang mendatanginya. Mereka saja baru tiba, belum mengenal sudut-sudut ruangan di rumah Dena.
"Sayang..." dan benar saja dugaannya bahwa yang mengetuk pintu kamarnya ialah sang papa.
"Papa masuk ya?" laki-laki itu membuka kamar Dena karena tidak mendengar sahutan dari dalam.
Begitu merasakan kalau Wira masuk ke kamarnya, Dena malah semakin membenamkan wajahnya di atas bantal. Ya, memang sedikit sesak sih karena dia tidak bisa bernafas bebas.
"Ngambek?" tanya Wira, lebih tepatnya menggoda. Laki-laki itu duduk tepat di sisi kasur Dena, di ujung kaki putrinya.
Dena diam seribu bahasa. Tidak menyaut ataupun bergerak. Dirinya membeku di tempat tanpa niat memandang sang papa. Rasa kesalnya semakin membuncah saat Wira masuk ke kamarnya dan menemuinya. Dena adalah tipe gadis yang kalau marah dan orang yang membuatnya marah itu menemuinya, maka dirinya akan semakin bertambah kesal. Seperti ada dongkolan besar di hatinya. Rahangnya mengeras serta tangan mengepal kuat. Begitulah kebiasaannya.
Tangan Wira tergerak menyentuh pundak putrinya, berusaha membujuk gadis itu yang tengah ngambek seperti anak kecil. Namun, gadis itu dengan cepat menghindar dengan cara menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari papanya.
"Udah gede kok masih ngambek-ngambekan. Gak malu sama anak SD?" goda Wira, Dena seakan-akan tuli. Dirinya memang mendengar, tapi, tidak merespon apapun.
"Papa lagi capek, kerjaan Papa banyak. Jangan buat Papa kepikiran sama kamu." bujuk Wira.
Dena mendengar itu.
"Sayang, kalau kamu gini terus, Papa jadi gak fokus kerja. Kerjaan Papa numpuk selama seminggu lebih. Kamu gak kasian sama Papa?" rayu Wira lagi.
"Kerja ya kerja. Ngapain mikirin Dena." ketus Dena akhirnya buka suara. Dia berusaha untuk tidak termakan rayuan sang papa yang seperti biasa selalu membuat hatinya luluh seketika entah kenapa.
Wira tersenyum tipis. Putrinya itu benar-benar manja. Kali ini pasti rayuannya akan berhasil.
"Bik! Bibik!" panggil Wira setengah berteriak. Lalu tidak lama datanglah pelayan di rumahnya, bukan Bik Marsih.
__ADS_1
"Iya, Tuan?" tanya wanita yang sudah berumur.
"Bik, tolong siapin obat buat saya ya? Terus jangan lupa buatin bubur, jangan terlalu hambar. Ya, Bik?"
"Baik, Tuan." jawab art itu. Meski terdapat segudang pertanyaan di benaknya. Apakah sang majikan tengah sakit?
Mendengar nama obat dan bubur langsung membuat Dena terlonjak, dirinya langsung terduduk tegak sempurna. Wajahnya sangat kusut begitu juga dengan rambutnya yang berantakan.
"Papa sakit?" tanya Dena to the point. Meskipun dirinya masih gengsi, tapi, segera dia tepis.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir sang putri membuat Wira tersenyum puas. Lihatlah, rayuannya berhasil bukan?
Dengan senyum mengembang, Wira mengelus pelan pucuk kepala gadis itu. "Enggak kok. Papa baik-baik aja, cuman pusing sedikit. Masih marah sama Papa, hm?"
Dena menundukkan kepalanya, tangannya memainkan sudut ujung bantal.
"Jadi, ceritanya masih marah nih? Ya udah, sekarang gini. Kamu mau apa? Es krim? Permen? Coklat?" tawar Wira menyebutkan deretan cemilan kesukaan putrinya.
"Emangnya Dena bocil apa?" lirih gadis itu bergumam.
"Ihhhhh, Papaaa!!" rengek Dena manja.
Wira sontak tertawa pelan. Dirinya langsung merentangkan kedua tangannya di hadapan gadis itu. Dena langsung meringsuk ke pelukan papanya. Memukul dada bidang itu dengan tangan kecilnya. Meluapkan rasa kesalnya.
"Udah marahnya?" tanya Wira pengertian saat pukulan gadis itu sudah berhenti. Hanya tersisa pukulan kecil satu dua kali saja.
Tangan yang awalnya memukuli dada sang papa kini berpindah, memeluk erat pinggang bertubuh kekar itu. Seketika rasa kesalnya langsung meluap, menghilang begitu saja.
"Papa jahat. Dena mau kak Cahya." lirih Dena langsung terisak pelan. Wira merasakan kaos yang dia pakai kini basah.
Dengan setia tangannya mengusap rambut putrinya, menenangkan kemarahan putri kecilnya.
__ADS_1
"Syuttt... kenapa sih suka banget deket sama orang yang lebih tua? Mending temanan sama yang lain, kayak Dewi dan teman-temannya lainnya."
"Papa gak ngerti." Dena langsung melepaskan pelukannya dan langsung membelakangi Wira. Baru saja dirinya tenang, eh malah papanya membuatnya kesal lagi.
"Eh, eh. Iya lah iya lah. Kamu mau apa? Jangan ngambek lagi dong, Sayang. Beneran Papa cuman nanya aja tadi." Wira seketika gelagapan. Kalau sudah ngambek jilid dua pasti akan lama dan susah membujuknya.
"Dena mau kak Cahya." ujar Dena tanpa bantahan.
Wira langsung memijit pelipisnya pelan. "Ini udah mau malam, Sayang. Mungkin dia juga lagi sibuk dan mau istirahat." Wira berusaha memberi pengertian kepada putrinya.
"Ya udah, kalau nggak mau. Papa keluar aja dari kamar Dena."
Wira menggelengkan kepalanya pertanda menolak.
"Kalau Papa gak mau keluar, biar Dena aja." gadis itu sudah mengambil ancang-ancang untuk bangkit. Namun, tangannya langsung ditahan.
"Iya, iya. Ya Allah." laki-laki dibuat pusing dengan permintaan gadis itu.
Dena diam, menunggu kelanjutan perkataan papanya.
"Iya, iya. Papa jemput kakak kamu sekarang. Mending kamu mandi, bersih-bersih biar wangi."
Seketika senyum Dena langsung mengembang. Secepat kilat dirinya memberikan kecupan semangat di pipi kanan Wira.
"Thankyou, Papa. Hati-hati ya, jangan lupa nanti bawa makanan. Coklat, es krim."
"Ada maunya aja gitu." Wira yang gemas langsung mengacak-acak rambut Dena.
.
.
__ADS_1
.
eyo, masih sempet²nya ini ngetik pas jamkos🤣🤣sampe dibilang apa gak bosen nulis gitu ama temen🤣🤣