Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 42


__ADS_3

Buat readers tercinta yg minta satu lagi🥰tapi ingat jangan lupa like dan komen. Jgn keasikan baca sampe lupa mencet jempol🤣


.


.


.


"Pa, Kak Cahya gak jemput Dena juga? Katanya mau jemput Dena pas acara penerimaan rapor. Sekarang kok gak ada?" tanya Dena mengingat obrolan mereka minggu lalu.


"Papa gak tau, Sayang. Mungkin lagi sibuk di kantor. Kan kerja, kamu lupa ya?"


Dena hanya mengangguk-angguk. Berusaha menyembunyikan rasa kecewanya dan berpikir positif. Mungkin benar apa yang dikatakan Papanya barusan bahwa Cahya sekarang sedang sibuk di kantor.


"Loh... kok ini jalannya beda, Pa?" Dena terlihat kebingungan saat Papanya malah membelokkan mobilnya ke jalan yang berbeda.


"Ke kantor dulu ya? Bentaran kok, Papa cuman mau ambil berkas tadi yang ketinggalan." jelas Wira sembari menoleh sebentar.


"Okedeh." jawab Dena memberi izin.


Selang beberapa menit, mobil mewah itu memasuki area perkantoran. Wira langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung pencakar langit miliknya. Keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk putrinya. Barang-barang Dena ia tinggalkan di jok belakang agar nanti tidak kerepotan terkecuali ponsel.


Sepi, itulah yang Dena lihat saat memasuki bagian resepsionis. Tumben-tumbenan tidak seperti biasanya. Biasanya banyak karyawan yang berlalu lalang di sana, tapi? Kenapa sekarang sepi dan sunyi?


"Pa, ini ke mana Kakak-kakak di sini?" tanya Dena melirik Papanya.


"Ada." jawab Wira singkat.


"Ih!" Dena berdecih. Kembali membuka ponselnya dan menscrollnya. Berjalan pelan seiring dengan langkah Wira yang kian kini perlahan-lahan lambat.


"Sayang!" tegur Wira tidak suka saat melihat putrinya tengah asik memainkan ponselnya. Sibuk dengan dunianya sendiri.


"Iya, Papa, maaf." balas Dena lalu mematikan ponselnya kemudian memberikannya pada Papanya.


"Jangan ulangi!" ujar Wira menasehati.


"Iya, Papa." jawab Dena menurut.


Kini keduanya sudah memasuki lift. Wira segera menekan beberapa tombol angka yang dapat dilihat Dena itu berapa.


"Kok ke atas?" tanya Dena sekali lagi. Papanya menekan tombol angka lantai paling teratas yaitu rooftop.

__ADS_1


"Gak pa-pa, Sayang. Papa cuman mau nyari udara seger aja, kali aja di atas ada." jawab Wira seadanya.


"Owh." Dena hanya mengangguk tanpa banyak bertanya lagi. Rasa-rasanya kalau ia bertanya pasti akan dijawab "gak pa-pa"


Ting


Pintu lift terbuka, wajah yang semulanya itu biasa-biasa aja kini sangat terkejut dan sedikit terharu.


"KEJUTANNNNN!!!" teriak semuanya. Karyawan di resepsionis dan beberapa lainnya kini berkumpul. Meskipun tidak semuanya, tapi Dena sangat hafal wajah-wajah mereka. Wajah-wajah yang selalu ia sapa dan mereka sedikit akrab terutama pada seorang wanita yang memegang kue dan berdiri di tengah-tengah kerumunan.


Balon-balok berterbangan dan trompet berbunyi saling bersahutan.


"Papa... ini---" Dena sungguh tidak bisa berkata-kata lagi.


"Kejutan, Sayang." ujar Wira tersenyum sembari merentang kedua tangannya.


Sontak Dena langsung masuk ke dalam pelukan laki-laki itu. Ia sedikit terisak lantaran terharu. Dikelilingi oleh banyak orang yang sangat sayang kepadanya sungguh membuat gadis itu bersyukur.


Semua yang melihat itu juga ikut terharu. Mereka adalah saksi bagaimana perjuangan boss mereka yang membesarkan anak gadisnya seorang diri. Perusahaan yang dulunya kecil kini berkembang pesat. Cabangnya ada di mana-mana. Mungkin sebagian ada karyawan baru, dan mereka juga mengetahuinya lewat cerita dari senior mereka yang sudah bekerja belasan tahun di perusahaan itu.


"Hey, hey. Kenapa anak Papa kok nangis? Jangan nangis dong nanti keliatan jelek loh?" goda Wira masih sempat-sempatnya.


"Sapa dulu dong. Tuh! Mereka bikin kejutan buat kamu. Ayo, Sayang, semangat!" bisik Wira memberi semangat.


"Jangan nangis lagi." lanjutnya lalu menyeka air mata di pipi Dena. Dena hanya mengangguk.


Kini gadis itu berhadapan dengan semua orang, ralat mungkin sebagian.


"Makasih buat kejutannya semuanya. Dena jadi terharu. Pokoknya Dena ucapin makasih banyak." ujar Dena.


"Sama-sama, Dek." jawab mereka. Satu per satu memberikan kado dan langsung diterima oleh Dena dengan begitu bersemangat.


"Om, Om gak mau ngasih Dena kado?" tanya Dena yang kini berhadapan dengan Steve.


"Ada kok. Ini!" balas Steve kemudian mengeluarkan sebuah kalung indah dari dalam saku jasnya.


"Wahh! Cantik banget, Om. Hehe, tapi Dena udah pake kalung loh. Masa mau dipake lagi, kesannya jadi pamer gitu ya? Dena simpen aja ya, Om, buat kenang-kenangan." ujar Dena lalu berterima kasih.


"Gak pa-pa, Non. Senyamannya aja."


"Om, kan udah Dena bilang jangan panggil Non. Udah berapa kali loh Dena bilang, jangan--"

__ADS_1


"Iya, Adek Dena. Om denger ini." potong Steve dengan cepat sebelum menerima ceramahan panjang.


"Nah tuh, kan enak Dena dengernya. Udah ya, Om? Dena mau ke yang lainnya dulu." gadis itu langsung bertolak ke yang lain.


Kini ia menghampiri wanita yang memegang kue. Berdiri di depannya dengan memberikan senyum manis.


"Makasih, Kak." ujar Dena. Hanya itu, hanya itu yang bisa ia katakan.


"Sama-sama, Dek. Kuenya? Mau gak?" tawar Cahya.


"Mau dong." jawab Dena. Cahya langsung bergerak menaruh kuenya di atas meja. Mengambil pisau lalu memotongnya.


Mengambil sepotong kue lalu ia taruh di atas piring kecil. "Aaaaa dulu dong."


Dena membuka mulutnya menerima suapan itu. "Enak banget, Kakak yang bikin?" tanya Dena begitu menikmati.


"Hehe, enggak. Kakak gak pandai buat kue." jawab Cahya menyengir.


"Maaf ya, Dek? Kakak gak jemput kamu." ucap Cahya.


"Nggak pa-pa, Kak. Kan sekarang Kakak udah di depan Dena, mana ngasih kejutan lagi. Kan jadi terharu Dena tuh." balas gadis itu, matanya kian mengembun.


"Jangan nangis, nanti jelek." seru Cahya membuat keduanya tertawa.


"Kak, peluk ya?"


"Boleh, sini!"


Satu pelukan ia dapatkan. Begitu menghangatkan dan memenangkan jiwa. Aroma tubuh yang familiar di indra penciumannya. Ia tenang, damai.


Dena tersenyum sesekali di dalam pelukan itu. Bahagianya semakin bertambah berkali-kali lipat.


"Ekhemmm..." sontak pelukan mereka terlepas.


"Eh, Bapak!" celetuk Cahya refleks.


"Papa kok di sini?" tanya Dena seakan-akan kode mengusir.


"Kamu gak mau Papa ada di sini? Oh, bagus ya. Udah ada yang baru sekarang Papa jadi diabaikan. Bagus banget ya?" Wira pura-pura merajuk.


"Papa, Dena geli liatnya. Papa jadi aneh." ujar Dena meringis. Membuat Cahya menahan tawa. Kini ia tidak secanggung dulu saat berhadapan dengan bosnya. Baginya tidak semenyeramkan dulu.

__ADS_1


__ADS_2