
"Seru gak?" tanya Fairel saat mereka sudah memutuskan untuk menyudahi menaiki wahana permainan. Entah sudah berapa banyak yang mereka mainkan dan naiki. Intinya Dena merasakan malam ini benar-benar bahagia.
"Banget. Oh ya, kita langsung pulang nih?" tanya Dena balik.
"Iya dong. Emangnya lo mau tidur di sini? Atau mau tidur di rumah hantu tadi." ledek Fairel mengingat Dena sangat ketakutan saat ia membawanya masuk ke rumah hantu.
"Ish, lo mah!" Dena langsung melayangkan satu pukulan di lengan Fairel. Bukannya merasakam sakit, Fairel malah tertawa dibuatnya.
"Telfon Pak Haryo sekarang." titah Dena kepada Fairel karena tadi ia sempat lupa untuk membawa ponselnya.
Fairel pun menurut. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Namun, saat akan memencet tombol panggilan, tiba-tiba ponselnya mati daya.
"Yahhh, yahhh. Batrenya abis, Na. Gimana dong?" gumam Fairel lemah. Ia pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Gimana pulangnya, Rel? Gue juga lupa bawa ponsel. Mana udah malam lagi." balas Dena mulai khawatir.
"Gak pa-pa. Jangan khawatir gitu. Mending kita jalan sekarang, nanti kalau ada taksi atau ojek baru kita naik." saran Fairel. Dengan ragu Dena pun menyetujui saran dari Fairel.
Keduanya pun berjalan keluar dari area pasar malam. Langkah demi langkah akhirnya tempat itu pun mereka lalui hingga jauh.
"Capek, Na? Maaf ya, gara-gara gue kita harus jalan kaki gini." sesal Fairel karena merasa membawa Dena ke dalam kesengsaraan.
"No problem. Gue harusnya terima kasih ke elo, Rel. Kalo aja lo gak ajakin gue, gak mungkin gue bisa seneng trus ketawa lepas. So, berhenti ngomong kalo ini semua salah lo." ujar Dena membuang semua pikiran yang ada di kepala Fairel.
"Istirahat dulu ya? Itu kebetulan ada warung di depan." Dena menganggukkan kepalanya.
Keduanya pun berjalan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah warung kecil dekat jalanan.
"Permisi." ucap Fairel.
"Ah ya, kenapa, Dek?" tanya ibu pemilik warung itu.
"Minuman 2 ya, Bu?"
"Oke, dek."
"Ini, dek. Oh ya, malam-malam gini kenapa masih keluyuran di jalanan?" tanya wanita paruh baya itu.
"Hehe, biasa, Bu. Tadi abis ke pasar malam dekat alun-alun. Kebetulan ngajak temen, Bu." balas Fairel.
"Na." Fairel menyodorkan minuman kepada Dena.
"Oalah gitu toh. Mau pulang ya? Kenapa jalan kaki?"
"Ponsel saya abis batre, Bu, pas mau telfon sopir tadi. Temen saya juga gak bawa ponsel."
"Hati-hati ya, dek. Malam-malam gini banyak yang jahat. Jagain juga temennya." nasehat si ibu perhatian.
"Makasih ya, Bu. Saya pasti akan jagain temen saya. Oh ya, semuanya berapa, Bu?" tanya Fairel lalu merogoh koceknya.
"Lima ribu aja, dek. Spesial malam ini, kebetulan ibuk juga udah mau tutup. Udah larut."
"Makasih ya, Bu. Kebetulan saya juga mau pamit. Semoga warungnya sukses ya, Bu."
"Iya, Dek. Hati-hati ya, semoga adeknya dan temennya ini sukses. Dan semoga berjodoh. Aamiin."
Fairel langsung tersenyum kaki dibuatnya. Semoga saja?
"Mari, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Ayo, Na!"
"Seru banget, ngobrolin apa?" tanya Dena saat mereka sudah menjauh dari warung itu.
"Rahasia." balas Fairel sedikit berbisik.
"Udah pandai ya rahasia-rahasiaan." cibik Dena kesal.
Fairel langsung tertawa mendengarnya. Namun, hatinya menjadi sedikit khawatir dengan pesan si ibu tadi. Semoga saja mereka tetap selamat sampai rumah.
Kondisi jalanan sudah semakin sepi. Kendaraan juga jarang lewat. Saat melewati jembatan, keduanya tidak sengaja melintasi segerombolan pemuda yang tengah asik nongkrong di jembatan tersebut.
__ADS_1
Dena merapatkan tubuhnya ke arah Fairel Bahkan sekarang ia memegang erat lengan pemuda itu. Fairel yang mengerti pun langsung merangkul bahu Dena dan langsung memakaikan penutup sweater Dena ke kepada gadis itu.
Beruntunglah mereka melewatinya dengan selamat. Dena juga sudah semakin tenang. Seakan tersadar, Dena langsung melepaskan pegangannya dan menjauhkan sedikit tubuhnya dari Fairel.
Dan Fairel juga langsung melepaskan rangkulannya dari bahu Dena.
Greerrrrr
Dena langsung memandang Fairel yang tampaknya biasa-biasa saja. Sekali lagi ia mendengar suara itu membuat Dena sedikit takut.
"Rel." panggil Dena.
Fairel yang berjalan datar langsung melihat Dena. "Kenapa?"
"Lo denger suara gak?" tanya Dena.
"Suara? Suara apa?" heran Fairel.
"Itu loh, kayak suara geraman hewan."
"Masa sih?" tanya Fairel tidak percaya.
"Iya ih, Rel. Coba deh lo pasang kuping lo baik-baik." pinta Dena merasa gemas dengan respon Fairel.
"Kuping gue udah di tempat yang pas kali, Na. Lo pengen kuping gue pindah di jidat?"
"Ihhhhh, Arellll!!!" rengek Dena.
"Hahaha, becanda, Na. Emangnya lo denger apa?" kali ini Fairel berubah serius.
"Lo diem ya. Denger sama-sama."
"Oke."
Grerrrrrrr
"Nah!" pekik Dena saat suara itu kembali terdengar.
"Lo denger?" tanya Dena.
Guk guk guk
"Lari, Na!" pekik Fairel langsung menarik tangan Dena untuk ikut berlari bersamanya.
Guk guk guk
"Huwaaaaa, Arelll. Itu anjingggg!!!" rengek Dena hampir menangis dibuatnya.
"Cepet, Nana!!!"
"Huwaaaaa gamauuuuu, Arelll... g-gue takut digigitttt. Papaaaaa tolongin Denaaaa..." teriak Dena histeris.
Bukannya ikut iba saat mendengar Dena merengek, Fairel malah tertawa ngakak disela-sela berlari.
"Kok lo ketawa sihh?" kesal Dena dengan respon Fairel.
"Lucu." balas Fairel masih tertawa.
"Arell, ihhh!!!"
Dena berhenti berlari. Membuat Fairel melepaskan genggaman tangannya. "Kenapa?"
"Lo, rese!"
"Hahhaa, maaf maaf. NA, ITU ANJINGGNYAA KE SINI WEHH!" pekik Fairel saat melihat sosok anjingg tadi masih mengejar mereka. Sontak hal itu membuat Dena langsung berlari cepat meninggalkan Fairel yang tertawa terbahak-bahak.
"NA, TUNGGUIN GUE. GUE JUGA GAK MAU DIGIGIT WEH."
"BODOOO!!! LO NGETAWAIN GUE. BIARIN AJA LO DIGIGIT AMA ITU ANJINGGG. DASAR ANJINGGG GILAAA!!!"
Fairel langsung mengeluarkan jurus lari cepatnya hingga kini ia bisa mengimbangi laju Dena.
"Sialll!! Anjingg siapa sih ngikutin mulu!!"
__ADS_1
Batin Fairel mengumpat saat ia menoleh ke belakang dan melihat anjingg itu masih mengejar mereka.
Saat masih fokus berlari, Fairel tidak sengaja melihat sebuah pohon mangga dengan batangnya yang berukuran besar. Pohon mangga itu juga lumayan lah untuk bisa mereka naiki. Dan beruntungnya lagi, cabang pohong mangga itu memanjang dan Fairel fikir itu cukup kuat dan aman.
Fairel langsung menarik tangan Dena untuk berhenti saat mereka sudah mendekati pohon mangga itu. Dena yang bingung mencoba untuk melepas cekalan tangan Fairel yang begitu erat.
"Lo sintingg ya, Rel? Itu anjinggnya masih ngejar kita. Lo mau mati digigit?" serbu Dena dengan pertanyaannya.
"Tuh!" Fairel tidak marah saat Dena mengatainya sinting. Ia hanya mengkode Dena untuk melihat ke arah samping di pinggir jalan di mana ada pohon mangga besar di sana.
"Lo gilaaa!! Lo mau kita naik ke atas?" tanya Dena yang tidak habis pikir dengan pola pikir Fairel.
"Gak ada waktu buat ngomel, Na. Lo mau kita digigit? Itu anjinggnya udah deket. Kalo lo gak mau, biar gue aja yang naik. Lo di bawah aja biar dicabik-cabik sama anjingg gilaaa itu."
Fairel sudah mengambil ancang-ancang untuk memanjat pohon mangga tersebut. Namun, tangan Dena langsung memegang lengannya. "Iya, gue mau. Tapi, bantuinnn!!"
"Tenang. Lo gak tau siapa gue. Naik ke punggung gue!" titah Fairel.
"Tapi, gue berat, Rel." cicit Dena pelan.
"Udah, gue kuat kok. Naik cepetan."
Dengan ragu Dena menginjakkan kakinya menaiki punggung Fairel dengan berpegang kepada pohon mangga agar dirinya tidak jatuh.
Guk guk guk
"Anjinggg sialannnn!!!" pekik Dena kesal. Dengan langkah gesit ia mencoba untuk cepat naik ke cabang pohong mangga itu. Dan berhasil. Kini saatnya Fairel lah yang naik.
Saat sudah setengah jalan, tiba-tiba anjinggg itu mendekat. Dena sudah berteriak histeris karena takut kalau Fairel digigit.
"Rel, naik, Rel. Cepet. Itu anjingnya udah dibawah. Gue gak mau ya lo digigit trus lo berubah jadi zombie."
"Hahhhhh hahhhhh haaahhhhhh..." nafas Fairel ngos-ngosan saat ia sudah berada di cabang pohon mangga yang sama dengan Dena.
Dan Dena pun bernafas lega saat Fairel berhasil naik ke atas cabang pohon tersebut. Namun, mereka dibuat jantungan saat tiba-tiba anjingg yang mengejar mereka menggonggong tepat di bawah kakinya.
Dena melirik Fairel waspada. "Tenang. Dia gak bisa manjat. Kaki lo jangan dijuntaiin gitu nanti digigit."
Spontan Dena mengangkat kakinya. Namun, saat ia bergerak, tubuhnya hampir limbung ke bawah. Untung saja Fairel dengan cepat menarik pinggang Dena. Jantung Dena kembali dibuat berpacu cepat karenanya. Sudah hampir jatuh, eh malah pinggangnya ditarik dan didekap erat.
Penampilan mereka kini sudah seperti gelandangan. Keringat yang bercucuran deras dan rambut acak-acakan. Serta nafas mereka yang ngos-ngosan.
Guk guk guk
Klontang klantong klontang klantong
Suara itulah yang terdengar di telinga mereka. Dan perlahan anjingg yang mengejar mereka langsung melarikan diri lalu tidak lama disusul beberapa warga yang berada di bawah mereka.
"Kalian gak apa-apa?" tanya salah satu bapak-bapak prihatin.
"Hahh?? I-iya, Pak. Kami gak papa kok." jawab Dena tergagap.
"Alhamdulillah. Anjingg itu memang suka berkeliaran di sekitar sini dan kerap mengganggu kenyamanan warga. Namun, saat akan ditangkap, dia selalu kabur dan bersembunyi." sahut bapak-bapak satunya lagi.
"I-iya, Pak." ujar Dena masih tergagap.
"Ayo, kami bantu kalian turun."
Dena dan Fairel pun mengangguk. Yang pertama turun adalah Fairel. Dan Fairel dengan mudahnya langsung terjun ke bawah. Sedangkan Dena masih berada di atas menatap ke arah bawahnya dengan takut.
"Ayo, pelan-pelan, dek."
"S-saya takut, P-pak."
"Gak apa-apa. Kami ada di bawah." sahut bapak satunya lagi.
"T-tapi..."
"Na, rileks okay? Anggap aja lo lagi main trampolin. Jangan liat seberapa tingginya. Tapi, bayangkan aja ini kasur." bujuk Fairel merentangkan kedua tangannya.
.
.
__ADS_1
.
ampun bengek 🤣🤣🤣