Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 55


__ADS_3

"Masuk sana!"


"Bapak duluan." tolak Cahya saat bosnya memberi perintah.


"Ya kamu duluan. Kamu itu perempuan." balas Wira tak mau kalah.


Saat ini keduanya sudah sampai di kediaman rumah Wira. Mereka berdiri tepat di depan pintu utama. Dan sempat-sempatnya mereka berdebat persoalan siaap yang masuk ke dalam duluan. Wira yang sebagai tuan rumah juga tidak mau kalah. Padahal kan tuan rumah seharusnya masuk terlebih dahulu agar leluasa menyambut tamu. Aneh kan kalau tamu yang masuk duluan dan menyambut tuan rumah?


Cahya hanya mampu memutar bola matanya malas. Kalau sudah berdebat begini, pasti dirinya yang banyak mengalah! Karena bosnya itu sangat keras kepala!


"Di dalam kamus tuh mana ada perempuan yang duluan. Yang ada tuh laki-laki yang duluan. Kalau perempuan duluan tuh berarti laki-lakinya cemen, gak ada jiwa pemimpin. Masa mau sembunyi di belakang tubuh perempuan. Lemah!" cibir Cahya yang langsung dibalas pelototan tajam oleh Wira.


"Okeeee..." jawab Wira langsung masuk ke dalam rumahnya. Membuka pintu lebar itu dengan satu tangan derakan yang sangat mudah karena tangannya yang satunya memegang kresek berisi es krim. Padahal pintunya itu lumayan besar, kalau diperumpamakan ya bisa dibilang dua kali lipat kekuatan cewek untuk membuka pintunya.


Sedangkan Cahya yang berada di belakang langsung menyibir. "Nyenyenye." gumamnya nyaris tak terdengar.


Masuk ke kediaman rumah bosnya? Ini adalah kali ke-dua dirinya menginjakkan kakinya di situ. Lantai keramik yang bersih kinclong dan udara yang dingin karena udara AC di setiap sudut ruangan. Rumah yang didominasi warna biru abu membuat suasananya terkesan luas. Dan di dinding paling bawah terdapat garis berkurang sedang berwarna hijau. Seolah-olah itu rumput. Dan di ruang tengah terdapat lukisan pohon besar dilengkapi dengan motif dedaunan hijau.


"Sepi."


"Dena lagi di kamar. Lagi ngambek." balas Wira tanpa melihat lawan bicaranya.


"Sama bapak?" tanya Cahya.


Wira langsung menghentikan langkah kakinya, lalu menggeleng perlahan. "Bukan, tapi, sama kamu." sebenarnya itu hanya alibi Wira saja. Yang sesungguhnya itu Dena ngambek dengannya.

__ADS_1


"Kok saya?!"


Dughhh


"Aduhh! Sakit, Bapak! Kalau mau berhenti tuh bilang, gak usah dadakan!" protes Cahya saat keningnya terantuk ke belakang tubuh kekar Wira.


"Kamu nanya? Pikir aja sendiri. Gak usah manja."


"Apa!?" ujar Cahya setengah berteriak. Sesaat dirinya langsung terdiam begitu suaranya langsung mengaung di seluruh ruangan. "Manja? Di bagian mananya saya manja? Nih liat! Saya aja jalan kaki sendiri, tadi juga buka pintu mobil sendiri. Kapan manja? Kalau manja tuh kayak gini nih, contoh. Bapakkk... eh, salah, harusnya tuh gini gini... Masss Wiraaa, gendong dong. Masss Wiraaa, tolong pasangin sabuk pengamannya, Massss Wiraaa jangan galak-galakk nanti tambah ganteng. Gitu? Itu namanya manja. Huekkkk, ogah!!"


Wira yang mendengarnya langsung bergidik ngeri membayangkannya. "Saya juga ogah. Ngebayanginnya aja amit-amit." tambah Wira sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Cieee, ngebayangin? Kalau udah ngebayangin tuh berharap. Kalau gak mau ya harusnya jangan ngebayangin, seolah-olah tuh bapak pengen banget gitu." goda Cahya semakin berani melawan bosnya.


"Hah! Pengen?" Wira membalikkan badannya, lalu menyisir rambutnya bagian sampingnya ke belakang. "Mimpi aja kamu!"


Kepala Cahya rasanya dibuat pening saat melihat ada tangga di depan matanya dan tangga satunya di ujung. Dia bingung. Yang di dekatnya itu tangga apa? Dan di ujung itu tangga apa? Karena merasa bingung, terpaksa Cahya kembali lagi menemui Wira untuk bertanya.


"Kamar Dena di mana, Pak?" tanya Cahya begitu sampai di hadapan Wira.


Laki-laki itu hanya memandangnya tanpa ekspresi. "Cari sendiri." balasnya singkat.


"Masalahnya tuh gini, bapak. Tadi tuh saya liat ada dua tangga. Banyak amat perasaan. Jadi, tangga yang mana, di depan apa di belakang?"


"Cari sendiri, Cahya!" yah, kalau sudah begini mau tidak mau dia harus mencari sendiri.

__ADS_1


"Gak mau, nanti saya nyasar. Iya kalau nyasarnya di kamar cewek, kalau cowok gimana?"tebak Cahya membuat Wira menggeram kesal.


" Kamu pikir ada laki-laki lain di rumah ini?" tanya Wira berusaha sabar.


Spontan Cahya menggeleng. "Siapa tau kan masih ada anak yang disembunyiin." lirih Cahya hampir terdengar kalau saja tidak ada sebuah suara yang teramat melengking hingga menembus gendang telinganya itu. Yup, itu suara Dena yang baru saja turun dari tangga. Gadis itu awalnya ingin menemui Dewi yang berada di kamar tamu. Eh, malah melihat peri semangatnya ada di rumahnya itu sedang berdebat dengan sang papa.


"Kakakkkkkkk... kapan sampainyaaa??!!!" Cahya otomatis melirik sinis ke arah Wira saat Dena berlari turun dari tangganya.


"Katanya ngambek sama saya, tapi, nyatanya?" ucap Cahya menggantung.


"Memang iya. Tapi, sudah saya bujuk." jelas Wira membuat Cahya memutar bola matanya malas. Tiba-tiba dirinya dikejutkan akan sebuah pelukan erat di tubuhnya itu. Siapa lagi kalau bukan ulah Dena yang langsung memeluk erat Cahya begitu dirinya tiba di hadapan wanita itu. Dan bahkan Dena sampai mengabaikan keberadaan sang papa.


"Ayo, Kak. Kita ke kamar." ajak Dena langsung menuntun Cahya menuju kamarnya. Namun, suara sang papa berhasil menghentikannya.


"Sayang, ini es krim sama coklatnya?" seru Wira sembari mengangkat kresek di tangannya dan menunjukkan itu kepada putrinya.


"Simpan di kulkas aja, Pa. Nanti malam Dena makan." jawab Dena cepat dan kembali membalikkan badannya. Namun, tidak lama gadis itu kembali berbalik setelah mendapat bisikan dari Cahya. Gadis itu bergerak mendekatk Wira.


Wira berpikir kalau putrinya akan memeluknya juga. Tapi, nyatanya Dena hanya mau mengambil kresek itu dan langsung membawanya pergi. Senyum Wira langsung luntur dan surut. Seperti para readers yang kalau dikasih kabar novel ini ga dilanjutin sampai tamat. Wkwk canda.


"Sayanggggg..." rengek Wira begitu sang putri menjauh dari dirinya. Dan yang dilakukan oleh dua perempuan itu adalah cekikikan sambil menertawakan laki-laki itu. Terutama Cahya yang tersenyum puas sembari memandang Wira dengan raut wajah menyebalkan.


.


.

__ADS_1


.


pengen curhat🤣sebenernya itu ya aku malu banget kalau hasil haluanku dibaca oleh org terdekat dan temen² rl ku🤣rasanya tuh kek nano-nano gt🤣klo dibaca para readers yg dr virtual kan rada biasa aja gt d otak 🤣 jadi maafkanlah kalau hasil haluanku ini kalau tak sesuai ekspektasi kalian 😁😁mungkin novel bakalan lama tamatnya soalnya tuh anu. ya tau lah ya kalau aku itu masih pelajar😁🤣 jd klo pulang sekolah tuu bawannya pgn rebahan terusss sambil scroll tiktok😭🤣jadi kalo nulis tuh sesuai mood, atauga emg terpaksa buat meres otak🤣🤣


__ADS_2