Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 101


__ADS_3

Malam sunyi nan indah, langit dipenuhi oleh ribuan bintang yang bertaburan. Menghiasi langit-langit malam dan bulan yang tampak kesepian. Besok adalah hari senin. Hari dimana semua orang mengatakan bahwa hari senin adalah hari yang paling siall.


Malam itu, Dena tampak tertidur dengan pulas di tempat tidurnya sendiri. Setelah berjuang melewati ujian kelulusan di sekolah, akhirnya gadis itu bisa tertidur dengan pulas tanpa adanya rasa beban yang menganggu.


Besok adalah hari kebebasannya sekaligus menempuh hidup yang sesungguhnya. Sampai saat ini Dena belum juga mendapatkan tempat yang bagus untuk melanjutkan pendidikannya. Ia hanya sibuk dengan ujiannya, terutama kesehatan sang kakek yang akhir-akhir ini menurun. Setiap hari setelah pulang ujian, gadis itu selalu menyempatkan dirinya untuk merawat sang kakek yang saat ini masih terbaring di rumah sakit. Kesehatannya masih sama, tidak ada perubahan baik, membuat seluruh keluarga dilanda duka dan kesedihan.


Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Dena tidak diberi waktu sedikitpun untuk menikmati indahnya tidur tanpa beban pikiran.


Suasana di rumahnya seketika riuh. Pelayan-pelayan semuanya bangun. Kediaman yang awalnya gelap itu berubah terang benderang kala pelayan menghidupkan semua lampu di semua sudut ruangan. Padahal hari sudah larut, waktunya untuk mengistirahatkan badan dan juga pikiran.


Tok... tok... tok...


Pintu kamarnya diketuk. Namun, gadis itu belum juga berniat untuk membuka mata. Kedua matanya terasa sangat berat.


Tok... tok... tok...


Sekali lagi pintu kamarnya diketuk. Karena tidak mendapat respon dari dalam, seorang pelayan terpaksa masuk ke dalam kamarnya yang tidak terkunci sama sekali.


"Non." Mbok Jum menggoyangkan pelan lengannya berharap anak majikannya segera bangun.


"Non." panggilan keduanya, Dena hanya meracau.


"Non Dena."


"Hemmmm..."


"Bangun, Non."


"Apaa?" suara Dena tampak serak.


"Bangun, Non. Ini penting." mendengar itu membuat Dena mau tidak mau harus bangun. Tau kan rasanya saat mengantuk dan dibangunkan secara paksa?


"Kenapa, Mbok?" Dena menyipitkan kedua matanya karena kamarnya dalam keadaan terang benderang. Posisinya masih terbaring di atas kasur dengan selimut di tubuhnya.


"Tuan dan Nyonya meminta Bibik untuk membangunkan Non Dena."


"Kenapa Papa dan Bunda?" tanya gadis itu bingung. Kesadarannya belum sempurna, yang membuatnya berbicara tidak jelas.


"Kakek drop lagi-"


Deg


Matanya melotot seketika. Jantungnya berdenyut.


"Nyonya sedang menunggu Non di depan. Beliau berpesan agar Non segera bersiap."


Dena tidak bereaksi sama sekali. Bahkan wajahnya saja tampak mematung. Seakan tersadar, Dena langsung berlari turun dari kasurnya dan berlari keluar kamar tanpa menghiraukan keberadaan Mbok Jum.


"Non, jangan lari-larian di tangga. Bahaya!"


Dena bahkan tidak memperdulikan teriakan Mbok Jum dari lantai atas. Ia terus berlari menuruni anak tangga kamarnya menuju pintu depan.


Sesampainya di sana, Dena melihat ibu sambungnya yang tampak berdiri gelisah di depan mobil. Di dekatnya juga ada Pak Haryo yang tampak sudah siap.

__ADS_1


"Bunda..." Dena berlari menubruk tubuh Cahya dan memeluknya erat. Isak tangisnya mulai terdengar. Membuatnya jelas tampak rapuh tanpa menutupi luka di hatinya. Isakannya terdengar memilukan.


Cahya langsung menarik nafasnya dalam dan menghembuskan perlahan. Tangannya mengusap punggung belakang Dena pelan.


"Iya, Sayang. Ayo, kita harus cepat. Papa sudah menunggu di sana."


Dena menganggukkan kepalanya meskipun dirinya masih memeluk Cahya. Keduanya segera masuk ke dalam mobil dengan Pak Haryo yang mengemudikan.


Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara isak tangis Dena yang semakin menjadi. Bahkan Cahya sampai tidak sadar ikut meneteskan air matanya. Wanita itu memeluk erat tubuh putrinya.


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang ICU dimana di depan ruangan tersebut sudah tampak jelas keberadaan Wira. Pria itu duduk di kursi dengan kepala tertunduk ke bawah.


"Papa." Dena melepaskan pelukannya dari tubuh Cahya dan beralih memeluk sang papa. Sementara Cahya langsung duduk di samping suaminya.


Wira tampak menyeka air matanya dengan cepat kemudian menampilkan sebuah senyuman.


"Udah datang, hm? Papa kira masih kebo." terdengar kekehan kecil yang keluar dari bibir Wira.


Dena melepaskan pelukannya. Tampak wajahnya sudah sembab dipenuhi jejak air mata yang mengalir deras.


"Kakek gimana, Pa? Kakek baik-baik aja kan? Kakek pasti sembuh kan?" cerocos gadis itu.


Wira menganggukkan kepalanya. "Kakek pasti sembuh. Kakek kan kuat. Iya kan?"


Dena menganggukkan kepalanya. Meskipun hatinya gelisah. Namun, ia berusaha untuk meyakinkan bahwa keadaan akan baik-baik saja.


"Udah dong, jangan nangis lagi. Katanya gak mau nangis di depan Kakek." Wira mengelap lelehan air mata di pipi putrinya menggunakan kedua tangannya. Lalu, pria itu mendekat, memberikan sebuah kecupan dalam di kening Dena. Diikuti dengan dirinya yang langsung menarik Dena dan Cahya masuk ke dalam pelukannya. Ya, tempat ternyaman mereka adalah ada di pelukan pria itu.


"Dengan keluarga pasien?" seorang dokter keluar dari ruangan tersebut dengan alat stetoskop di genggaman tangannya.


"Pasien ingin bertemu dengan keluarganya."


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Wira.


Dokter tersebut tampak terdiam tanpa mau menjawab. Melihat itu, Wira langsung menarik tangan istri dan putrinya masuk ke dalam ruang ICU.


Tampak seorang pria berumur yang berbaring di atas ranjang pasien dengan alat-alat kesehatan yang melekat di beberapa bagian tubuhnya. Di sampingnya juga ada layar monitor yang menampilkan garis-garis bergelombang turun naik diiringi dengan suara monitor.


Mereka langsung berkumpul di sekelilingnya. Dena dan sang papa tampak berdiri di sisi yang berbeda. Sementara Cahya tampak menemani putrinya.


"Kakek."


"Pa."


Dua buah suara saling bersahutan membuat pria yang berbaring lemah itu perlahan membuka matanya. Bibirnya tersenyum di balik nebulizer (alat bantu pernapasan).


Tangannya langsung melepaskan alat itu dengan pelan. Wira sempat menatapnya khawatir, namun, itu semua seakan terhenti saat menatap mata sang papa yang menyiratkan akan sebuah pesan.


"D- de- na..." ucapnya terbata.


Gadis itu langsung memegang tangan sang kakek dan mendekatnya tubuhnya.


"Iya. Ini Dena, Kek. Kakek harus sembuh ya. Ada Dena, Papa, dan Bunda di sini." mati-matian Dena menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya agar tidak terjatuh.

__ADS_1


"W- ira... Cah-cahya..."


"Cahya di sini, Pa."


"Ini Wira. Papa harus bertahan." bibir Wira bergetar menahan tangisnya. Pria itu mendekap tangan sang papa erat.


"P-papa minta ma-af k-alau punya s-alah."


"Papa gak perlu minta maaf. Justru Wira yang harus minta maaf. Maaf karena selama ini Wira banyak salah sama Papa."


"Cahya juga minta maaf kalau belum bisa menjadi menantu yang baik buat Papa."


Kakek Hari tersenyum.


"Dena."


"Iya, Kek?" jawab Dena cepat.


"Kakek minta maaf ya, Sayang. Maaf kalau belum bisa menempati janji Kakek waktu itu. Tapi, Kakek akan selalu ada di hati kamu."


"Jangan marah sama Kakek." lanjut Kakek Hari menggerakkan bola matanya menatap sang cucu.


"Dena gak pernah marah sama Kakek. Dena sayang sama kakek."


"Kakek tau itu." kekehan pelan terdengar dari Kakek Hari.


Kakek Hari menghela nafasnya panjang. Matanya memandang langit-langit ruangan. "Umur gak ada yang tau kapan akan berakhirnya. Pesan Kakek, kalian harus selalu saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Kakek gak mau mendengar kalian bertengkar."


Ditatapnya wajah Wira lekat. "Papa berpesan sama kamu. Jaga keluargamu dengan baik. Papa menitipkan cucu kesayangan papa. Jaga dan rawat dia hingga tumbuh menjadi wanita hebat. Jangan sakiti hatinya. Itu juga berlaku untuk istrimu."


Wira menganggukkan kepalanya.


Kakek Hari beralih menatap Cahya yang berdiri di ujung kakinya. "Cahya, jadilah ibu yang baik untuk anak-anak kalian. Sayangi mereka tanpa membeda-bedakan status."


Cahya juga bahkan tidak dapat bereaksi. Mereka hanya bisa menganggukkan kepala saja.


Lalu pandangan Kakek Hari terjatuh pada cucunya. Ditatapnya wajah gadis itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. "Kakek berharap, senyuman ini tidak pernah luntur. Jaga senyuman itu."


Dena yang awalnya terdiam kaku kini langsung tersenyum meskipun hatinya berdenyut.


"Kakek menyayangi kalian semua. Kakek akan menanti kalian di sana."


"Kami juga menyayangimu."


Mereka langsung berkumpul memeluk Kakek Hari dan menciumi wajahnya dengan hangat sebelum mereka merasakan hembusan nafas terakhir dari sosok laki-laki yang selalu menemani hari-hari mereka.


Pergi. Sang Kakek pergi membawa semua kenangan indah. Meninggalkan orang-orang yang menyanyanginya.


"Terima kasih karena sudah memberikan arti kehidupan yang sesungguhnya, Kek. Dena mencintai Kakek untuk selamanya."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2