Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 47


__ADS_3

Kedatangan Dena benar-benar membuat Kakeknya terkejut, pasalnya Dena tidak memberitahu kalau dirinya akan datang menjenguk Kakeknya. Itu adalah hal yang mendadak. Dena sangat tidak sabar untuk menemui teman-temannya. Apa kabar mereka semua? Dewi, Risty, Anna, Fairel, Rafael, dan Dicky?


Dena sangat menanti bagaimana respon teman-temannya nanti.


Dena terbangun bersamaan dengan Cahya, keduanya tidur satu kamar. Karena di kediaman Kakeknya hanya terdapat 2 kamar, jadilah mereka berbagi. Dena dan Cahya sementara Wira dan Kakek Hari. Rumah sederhana yang menjadi saksi awal kesuksesan Papanya.


Pagi-pagi sekali Dena sudah berkutat dengan peralatan dapur sederhana. Bukan berkutat sih, tapi, lebih tepatnya Dena hanya melihat. Melihat Cahya yang begitu cekatan memasak makanan untuk sarapan mereka. Jika ditanya apa menunya, pasti ya sayur. Kalau diingat-ingat saat dulu pertama kali Dena berlibur, gadis itu malah menamai lobak sebagai wortel. Mengingat itu sudah membuat bibir Dena berkedut menahan senyum.


"Dek, mending kamu mandi dari pada liatin Kakak di sini. Ini juga bentar lagi selesai." ujar Cahya membuyarkan pikiran Dena.


"Iya, Kak. Kalau gitu Dena mandi dulu."


Cahya hanya mengangguk dan melanjutkan kembali aktivitasnya. Tiba-tiba datang Kakek Hari dan Wira. Mereka duduk di meja makan, beruntung kursinya ada 4 , jadilah tidak kekurangan kursi saat formasi mereka lengkap nantinya.


"Maaf ya ngerepotin, harusnya kamu sebagai tamu gak perlu repot-repot gini." ujar Kakek.


Cahya membalikkan badannya dan hanya tentang tersenyum.


"Nggak apa-apa, Kek. Justru saya sebagai tamu harus sadar diri."


"Wes, jangan terlalu formal, santai aja. Kakek gak makan orang kok." sambung Kakek membuat Cahya terkekeh. Kondisi ini benar-benar canggung baginya.


"Hehe, iya, Kek." ujar Cahya menyengir.


"Nanti kamu ikut Dena keliling ya, kalau pagi-pagi gini cuacanya adem, udaranya juga segar, beda sama di kota."

__ADS_1


"Iya, Kek. Kakek ikut juga?" tanya Cahya.


"Enggak. Kakek ada acara di kampung sebelah. Nanti kamu pergi bareng Dena sama Wira aja. Ya kan, Wir?" tanya Kakek kepada Wira.


"Eh! Iya, Pa. Papa mau diantar?" tawar Wira mendapat gelengan kepala oleh Kakek.


"Kakek udah biasa naik sepeda, biar sehat." seru Kakek sambil memamerkan tubuhnya yang masih sehat dan bugar.


Wira hanya memutar bola matanya sempurna saat melihat sang Papa yang seperti lupa akan umurnya yang sudah mencapai kepala enam. Sementara itu Cahya hanya terkekeh. Keluarga kecil ini begitu bahagia hanya dengan cara yang sederhana. Pikir Cahya.


"Ngomongin apa nih? Kayaknya seru, Dena kok gak diajak." celetuk Dena datang tiba-tiba. Tubuhnya sudah segar karena sudah mandi, walau airnya begitu dingin, namun, bukankah Dena sudah merasakan dulu?


"Nanti kamu ajak Cahya keliling ya? Bareng Papa juga. Kakek gak ikutan karna Kakek ada acara di kampung sebelah." ucap Kakek.


"Siap, Kek. Nanti Dena mau ketemu temen-temen, mereka gak pindah rumah kan, Kek?" tanya Dena ngawur.


"Arel siapa, Pa?" tanya Wira ikut penasaran.


"Itu anak desa sini, dia sering bantu Papa. Biasa setiap sore selalu lewat pakai sepeda ontel. Hehe, anak itu." Kakek terkekeh saat menceritakan tentang Fairel.


Wira hanya mengangguk saja. Walau hatinya sungguh penasaran. Nama Arel bukanlah hal yang asing lagi di telinganya. Saat di rumah dulu, Dena tidak jarang berkabar dengan teman-temannya di desa ini. Dan Wira pun kadang tidak sengaja mendengar putrinya menyebutkan nama itu.


"Papa udah mandi kan?" tanya Dena tiba-tiba.


"Udah kok, emangnya kenapa?"

__ADS_1


"Enggak kok, Dena tanya aja. Nanti kan mau keliling, yakali mau keliling tapi Papa belum mandi, kan bau." celetuk Dena.


"Enak aja! Papa itu tetep wangi biarpun gak mandi seminggu."


"Ih! Jorok. Punya Papa jorok banget. Mana mau cewek deketin Papa kalo Papa jorok." ucap gadis itu tanpa sadar.


"Eh! Jangan salah. Banyak kok yang deketin Papa. Kamunya aja yang gak mau. Ngomong gitu, emangnya mau Papa cariin?" goda Wira membuat Dena reflek menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Syutt! Udah, udah. Jangan berantem. Tuh makanan udah siap." lerai Kakek Hari hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak dan cucunya yang kadang-kadang. Kadang akur, kadang berantem. Ya kalau berantem palingan biasa-biasa, tidak serius atau hanya sekedar bercanda.


"Cahya bersih-bersih dulu ya, Kek? Ini sarapannya udah siap." ujar Cahya selesai menata sarapan di atas meja makan.


"Iya, sana." balas Kakek.


Saat Cahya selesai bersih-bersih dan kembali ke dapur, rupanya Dena dan Papanya belum menyantap sarapannya. Sementara Kakek Hari sudah duluan dan bahkan sudah berangkat ke desa sebelah yang katanya menghadiri acara.


"Kenapa belum dimakan?" tanya Cahya mengambil duduk di samping Dena.


"Nungguin Kakak." jawab Dena.


.


.


.

__ADS_1


Hai, maap telat up. Biasa aku sok sibuk🤣🤣


__ADS_2