Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 93


__ADS_3

"Ya Allah, kamu di mana, Sayang?" lirih Wira menutupi mulutnya menahan isak tangisnya lantaran memikirkan sang putri. Saat mereka kembali ke rumah tadi, tidak ada tanda-tanda Dena menunjukkan dirinya pergi. Bahkan semua orang di rumahnya juga tidak tau ke mana perginya Dena. Wira sudah menghubungi semua orang yang dekat dengan putrinya itu, namun, mereka semua menjawab tidak tau. Ponsel Dena juga tidak aktif makanya pria itu susah menghubungi.


Cahya yang berada di sebelahnya hanya mendes@h panjang. Ia juga khawatir karena dari kabar yang ia dapat dari sang papa, sekarang sang mama juga menghilang. Cahya tidak tau itu karena sudah dua hari ini ia tidak pulang ke rumah.


"Tenang dulu, Pak. Kalau gak tenang yang ada malah kacau." ucap Cahya menenangkan. Namun, ia tersentak saat Wira menaikkan sedikit nada suaranya. Namun, bukannya takut, Cahya malah gemas melihatnya.


"Kamu juga! Bisa gak sih jangan manggil bapak bapak bapak. Aku itu bukan bapak kamu." tekan Wira membuat Cahya malah melipat bibirnya ke dalam.


"Iya, iya, maaf. Takutnya nanti malah kebiasaan." jelas Cahya mencoba menenangkan Wira dengan cara mengelus lengan pria itu yang tengah fokus menyetir.


"Justru bagus. Aku enggak mau dipanggil bapak terus-terusan. Kesannya kayak tua banget." curhat pria itu mulai sedikit tenang.


Merasa kalau pria di sampingnya itu berada dalam kondisi sendiri, jadi lah Cahya berinisiatif untuk menenangkannya.


"Iya, Sayang. Maaf, enggak lagi." bujuk Cahya membuat Wira langsung menginjak pedal remnya sehingga membuat Cahya hampir saja terbentur dashboard mobil.


"Kamu bilang apa?" tanya Wira memastikan.


"Iya, Sayang."


Pria satu anak itu langsung berdehem singkat guna menetralisirkan rasa gugup sekaligus senangnya. Bagaimana tidak senang karena untuk pertama kalinya Cahya memanggilnya sayang.


Sedangkan Cahya yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Tring


Tiba-tiba ponsel Wira berbunyi menandakan ada pesan masuk. Pria itu langsung mengambil ponselnya dan menghidupkannya.


Refleks ia menggeram marah. Mengetatkan gigi-giginya. Tangannya meremas ponselnya membuat jari-jari kukunya memutih.


"Ada apa?" tanya Cahya panik melihat reaksi Wira yang tiba-tiba.


"Pegangan." ucap pria itu lalu menginjak pedal gasnya secara tiba-tiba. Membuat Cahya sekali lagi hampir membentur dashboard.


"Kenapa?" tanya Cahya panik karena pria itu mengendarai mobilnya sangat cepat. Cahya bahkan mual dan ingin sekali muntah. Tangannya langsung menutupi mulutnya.


Sekitar setengah jam mereka berkendara, akhirnya mereka sampai di depan sebuah gedung hotel. Cahya sempat meliriknya penasaran, kenapa Wira membawanya ke sebuah hotel?


"Turun." titah Wira langsung membuka seatbeltnya disusul pintu mobil terbuka.


Sekuat tenaga Cahya beranjak dari duduknya karena tiba-tiba kepalanya pusing dan gejolak di perutnya seakan mendesak keluar.


"Ayo." pria itu langsung menarik tangannya masuk ke dalam area gedung hotel itu.


Sesampainya di bagian resepsionis, Wira langsung menodong banyak pertanyaan kepada resepsionis itu. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya ia diberikan kunci cadangan oleh petugas hotel. Petugas tersebut juga langsung mengantarkan ke kamar tujuan.


"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Cahya cukup dibuat pusing karena pertanyaannya selalu diabaikan.


Wira menghembuskan nafasnya berat. Ia mengambil ponselnya lalu menyodorkannya kepada Cahya. Sontak wanita itu membulatkan kedua bola matanya lalu memandang Wira dengan tatapan tidak percaya.


"Dena anak baik-baik. Mana mungkin dia berlaku aneh-aneh." ucap Cahya masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.


"Aku nggak tau." Wira memijit pelipisnya.


"Kita lihat sekarang. Aku yakin kalau itu nggak benar."

__ADS_1


"Hummm, iya." balas Wira lirih. Keduanya berjalan mengikuti petugas hotel.


Saat di dalam lift, Cahya memegang kepala dan perutnya. Kepalanya pusing dan perutnya seperti diaduk. Mungkin itu adalah efek dari kebut-kebutan tadi. Apalagi terkena angin malam.


"Kenapa?" tanya Wira baru menyadari.


Cahya menggelengkan kepalanya. "Enggak apa-apa. Mungkin masuk angin dikit." jawab wanita itu.


Sontak Wira melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Cahya. Pria itu juga merangkul erat bahu wanita itu. "Maaf." lirih Wira.


"Maaf?"


"Iya, maaf karena udah bikin kamu ikut-ikutan ke sini. Padahal sekarang waktunya jam istirahat." sesal pria itu.


Cahya menatap Wira, tangannya terulur menyentuh rahang pria itu. "I'm okay. Semuanya baik-baik aja." Wira menganggukkan kepalanya pelan. Saat itu juga pintu lift sudah terbuka. Keduanya mengikuti langkah kaki petugas hotel tersebut. Saat melewati beberapa kamar yang tertutup rapat, akhirnya mereka berhenti di sebuah pintu yang bertuliskan nomor 111 di atasnya.


"Makasih, Mas. Ini sedikit upah." Wira langsung memberikan uang ke tangan petugas hotel tersebut.


"Terimakasih kembali, Pak. Kalau begitu saja pamit."


Wira menganggukkan kepalanya. Seusai kepergian petugas itu, Wira dan Cahya berdiri di pintu kamar hotel yang tertutup rapat. Tangannya bergetar memegang kunci cadangan kamar hotel itu.


Wira menoleh ke samping saat merasakan usapan lembut di lengannya, dan itu adalah usapan dari Cahya. Mereka saling membalas senyum sebelum akhirnya Wira menarik nafasnya dalam dan membuka pintu kamar hotel itu.


Setelah terbuka, mereka tidak melihat satu pun cahaya yang menerangi. Semuanya gelap sebelum akhirnya lampunya tiba-tiba menyala.


"SURPRISE!!!!"


Deg


Tidak sadar air matanya menetes. Wira lupa kalau besok adalah hari ulang tahunnya dan sang putri memberikan kejutan hampir jam 12 malam.


Wira mengedarkan pandangannya lagi, melihat ternyata ada banyak orang di sekelilingnya. Ada Dena, Fairel, Dewi, Steve, serta kedua orang tua Cahya. Dan satu orang yang membuat Wira tersenyum haru, di sana ada sang ayah yang berdiri tersenyum dengan wajah yang sudah keriput.


Kapan? Kapan semuanya direncanakan? Apakah sifat abai putrinya selama seminggu ini adalah bagian dari rencananya? Kalau iya, Wira benar-benar tidak terpikirkan sama sekali.


Dena berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum yang mengembang. Di atas kuenya terdapat lilin yang sudah menyala.


"Happy birthday, My Dad. Semoga sehat selalu. Dan, maaf untuk semuanya." ucap Dena menyodorkan kue itu ke hadapan sang papa.


Wira langsung mencubit ujung hidung putrinya gemas. "Anak nakal. Siapa yang ngajarin, hm? Bikin Papa cemas aja." sahut Wira tersenyum dengan kedua pipi yang sudah terdapat bekas lelehan air mata.


Dena malah menyengir. "Maaf, Papa. Gimana akting Dena? Keren nggak?" tanya gadis itu membuat Wira langsung mengacak rambutnya gemas.


"Keren banget sampai bikin Papa nangis gini." balas Wira.


"Hehe. Tiup lilinnya dulu dong. Eh salah, make a wish dulu." ralat gadis itu.


Wira menutup matanya dan mengucapkan keinginannya di dalam hatinya. Setelah selesai, ia kembali membuka matanya dan langsung meniup lilin tersebut hingga apinya padam.


"Potong kuenya." ucap Dena. Karena mereka masih berdiri, akhirnya Dena memindahkan kue tersebut ke atas meja supaya sang Papa lebih mudah memotongnya.


Setelah memotong kuenya, Wira berjalan mendekati sang putri bersiap untuk memberikan satu suapan pertama. "Untuk anak gadis Papa. Semoga kedepannya bisa jadi orang yang bermanfaat bagi semua orang. Dan terima kasih karena sudah menjadi semangat Papa selama ini."


Dena membuka mulutnya saat papanya menyodorkan satu suapan kue menggunakan sendok kecil. Gadis itu tersenyum.

__ADS_1


Setelah memberikan suapan pertamanya kepada sang putri, kini Wira berjalan menerobos kerumunan itu hingga kini ia sampai di depan pria tua yang sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang. "Untuk Papa. Terima kasih karena udah merawat Wira selama ini. Semoga Papa diberikan kesehatan dan umur yang panjang." ucap Wira menatap sang ayah penuh haru.


Kakek Hari tersenyum ke arah putra semata wayangnya. Akhirnya setelah sekian lama, putranya itu mendapatkan kebahagiaan setelah melewati tahun-tahun yang melelahkan.


Satu per satu orang di sekitarnya Wira berikan suapan dari tangannya. Terkecuali wanita yang kini entah hilang ke mana. Wira panik karena tidak melihat Cahya di dekatnya.


"Hayo loh Papa. Kak Cahya ngambek gara-gara gak dikasih suapan pertama." bukannya menenangkan, Dena malah mengompori sang papa dengan mengatakan bahwa Cahya itu marah kepadanya.


"Heh, cucu nakal." seru Kakek Hari gemas dengan tingkah cucunya itu.


"Hehe, maaf. Itu dari tadi Kak Cahya pergi ke toilet. Emangnya Papa gak sadar?" tanya Dena dibalas gelengan kepala oleh Wira. Pria itu seketika menyesali karena tidak terlalu memperhatikan Cahya.


Sesaat suasana langsung hening karena mereka mendengar suara orang muntah-muntah dari dalam toilet. Mereka langsung menatap Wira penuh intimidasi.


Tidak lama kemudian disusul dengan kedatangan Cahya yang tampak lemas sehabis mengeluarkan gejolak yang mendesak perutnya tadi.


Cahya yang ditatap oleh semua orang di sana langsung gugup. "Kenapa?" tanya wanita itu seakan aneh.


"Kamu enggak hamil kan, Sayang?"


"Hooh tuh." ucap Dena mengompori perkataan Alina, sang ibu dari Cahya.


Sontak Wira langsung terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri. Pria itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari semua orang yang ada di ruangan itu.


.


.


.


spesial nih visual Dena_Fairel & Wira_Cahya


Ini visual dr aku ya, klo kalian terserah mau ngebayangin kayak gmna ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


Ini Dena versi kucel main di sawah ๐Ÿ˜๐Ÿ‘‡



ini versi plus ๐Ÿ˜๐Ÿ‘‡




ini abang mase๐Ÿ‘‡




ini baru versi Papa wira dan Cahya๐Ÿ˜๐Ÿ˜maap klo ga sesuai



cocok ga๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2