Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 58


__ADS_3

"Kata gue juga apa. Mending lo ngalah aja deh. Kalo masih mau maju, ya tanggung akibatnya."


"Mimpi! Gue, Taufik Ardiansyah, ketua OSIS yang paling tampan sejagat raya, gak bakalan nyerah. Mimpi aja gue nyerah. Sekalipun dia masuk ke lubang tikus, bakalan gue dapetin."


"Yang ada lo dapet taik tikus. Bukan dapet yang dicari. Hahahaa..."


"Sial! Gembel lo pada."


"Oh ya, sama satu lagi. Lo harus ingat, Fik. Masa jabatan lo tinggal lima bulan lagi. Lima bulan." ujar Kelvin sambil memperlihatkan empat jarinya.


"Bangkee! Itu empat, bukan lima, Yantoo! Lo kalo gak tau ngitung mending ngulang lagi deh dari esde. Nyesel gue punya temen goblokk kayak elo."


"Ihihihii... gue Kelvin, akan selalu ada di samping Taufik."


"Anjirrr! Gelay."


"Syutttt! Diam lo pada. Tuh, tengok! Pujaan hati gue udah sampai. Eh! Ngapain dia sama di cunguk itu? Bikin kesel aja." sambar Taufik sembari menunjuk Dena menggunakan dagunya.


"Dari pada lo ngoceh gak jelas. Mending samperin gih!" sahut Rehan yang menyarankan agar Taufik menyerah saja.


Taufik pun bangkit dan berjalan cepat menghampiri Dena yang kebetulan baru sampai bersama Reza. Di belakang mereka ada beberapa temannya yang katanya lagi membuktikan perkataan Reza tentang traktiran.


Dengan gaya coolnya, Taufik berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri Dena. "Ekhemm... Hai, Dena. Apa kabar?" tanya pemuda itu membuat langkah Dena dan Reza terhenti bersamaan.


"Oh, hai, Fik. Kabar baik alhamdulillah. Lo gimana? Sehat?" balas Dena ikut bertanya. Ya, sekedar basa-basi saja. Mungkin.


"Gue selalu sehat, Na. Apalagi liat lo di sini. Makin tambah sehat. Full charger." senyuman Taufik langsung melebar. Senyum-senyum terus kepada Dena.


Dena yang melihatnya hanya mampu mengangkat satu alisnya ke atas. Tingkah Taufik barusan membuatnya merasa aneh karena tidak pernah sekalipun Taufik bersikap genit. Itu terjadi semenjak hati pertama masuk setelah libur kenaikan kelas.


Karena senyum-senyum sendiri, membuat Taufik kehilangan Dena yang ternyata sudah melangkah menjauhinya. Pemuda itu hanya menghembuskan nafas panjang. Terpaksa dirinya kembali ke habitat asalnya.


"Hahhaa, napa tuh muka?" sambar Rehan sembari menatap Taufik dengan tatapan meledek.


"Basi lo pada. Tau lah, cabut!"


"Eh! Eh! Fik, makanan gue belum kelar." potong Kelvin cepat.


"Kalo lo mau makan silahkan. Gue sama Rehan cabut duluan. Bye..."


"Ah, sial!" umpat Kelvin kesal. Dia pun harus terpaksa mengakhiri makannya demi mengekori Taufik.


"Lo gak cocok jadi ketua OSIS, Fik. Lo suka toxic, untung lo anak teladan." ujar Kelvin jujur sambil berlari menuju Taufik yang sialnya langsung mendapatkan pukulan keras di perutnya.


•••

__ADS_1


"Na, pulang nanti bareng gue ya?" ujar Reza sambil menyantap makanannya.


"Lo naik mobil? Kalo naik motor, gue enggak mau." tolak Dena yang langsung membuat Reza tersedak makanannya. Tenggorokannya terasa perih lantaran kuah baksonya terlalu pedas.


"Uhukkkk... si uhukkk al! Ekhem, gue naik motor. Motornya beda kali, Na. Dijamin lo bakal nyaman duduk di jok belakang."balas Reza berusaha tenang setelah meminum air putih.


Tangan Dena berhenti mengaduk-aduk minumannya menggunakan pipet. " Gue lagi males kena angin, Za." terang Dena.


"Huh! Ya udah deh, biar kapan-kapan aja ya? Kalo lo udah bisa kena angin, tinggal lo bilang aja."


"Hmmm..."


Tidak terasa bel pulang sudah berbunyi. Kali ini rupanya Dena sangat amat menyesali keputusannya menolak tawaran Reza tadi yang akan mengantarkannya. Rupanya Pak Haryo, sopir di rumahnya tidak bisa menjemputnya lantaran pak Haryo harus terpaksa cuti kerja karena orang tuanya yang berada di kampung tengah sakit. Hal itu diberitahukan secara mendadak, dan Dena baru mengetahuinya saat mendapat pesan dari sang papa.


Berulang kali gadis itu menghembuskan nafasnya kasar. Berdiri di gerbang sekolah sembari menunggu abang ojol yang sepertinya tidak niat untuk mencari penumpang. Buktinya sudah sekitar dua puluh menit Dena menunggu, tapi, belum juga mendapatkan kepastian.


Mau menelfon papanya juga tidak mungkin. Mungkin saja sang papa sibuk, atau tengah meeting dengan klien penting. Sudah dua kali Dena menelfon, tapi yang terdengar hanya suara mbak mbak operator yang terdengar sangat menjengkelkan di gendang telinga Dena.


"Gue pulang naik apaan? Masa iya jalan kaki. Kalo dibegal gimana?"


Brummm brummm


"Mau nebeng?" ah, suara itu. Sedikit familiar di telinga Dena. Begitu ia membalikkan badan, ia sudah melihat seorang pemuda yang masih duduk di motor besarnya.


"E-emm. Kenapa ke sini?" tanya Dena ragu.


"Lo baru pulang?"


"Iya, tadi dipanggil sama guru kesiswaan."


"Owh." keduanya terdiam sejenak. Dena yang diam lantaran merasa canggung hanya mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.


"Mau pulang kan?"


"Iya." jawab Dena.


"Naik!"


"Haaa?"


"Naik! Lo mau pulang kan? Gue anterin sampai rumah."


Tampak Dena mempertimbangkan tawaran pemuda itu. Akhirnya setelah terdiam sesaat ia menganggukkan kepalanya ragu.


"Udah?"

__ADS_1


"Belum."


"Kenapa?"


"Emm, itu. Rok gue pendek, susah." cicit Dena pelan.


"Apa? Gak kedengeran."


"Rok gue pendek, Aryaaa. Masa iya gue sodaqoh paha." teriak Dena kesal.


Yup, pemuda yang menawarkan tumpangan kepada Dena adalah Arya. Adik kelasnya yang hanya berjarak satu tingkat dengannya.


Arya mengulum bibir bawahnya. Kemudian pemuda itu melepaskan jaket yang terpasang di tubuhnya dan menyampirkannya ke paha Dena.


"Udah kan?"


Dena mengangguk kecil. Wajahnya sudah bersemu merah. Antara malu, gugup, senang, semuanya bercampur aduk.


Motor yang dikendarai oleh Arya melaju perlahan dengan kecepatan di atas rata-rata. Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam. Tidak ada yang ingin membuka pembicaraan. Dena sudah terlanjur malu dan gugup. Apa kabar kalau papanya tau dirinya dibonceng oleh laki-laki asing. Ini adalah kali keduanya diantarkan oleh Arya.


Keduanya memang tidak ada kedekatan sedikitpun. Hanya sebatas kenal sebagai rekan duduk saat ulangan dulu. Keduanya juga tidak jarang berpapasan saat di sekolah.


Selang beberapa menit akhirnya mereka sampai di depan gerbang yang menjulang tinggi ke atas. Dena turun dan memberikan jaket Arya.


"Ummm... makasih ya. Mau mampir?"


"Gue ngomong apa barusan? Gila!"


Dena tersenyum kaku sambil mengumpat dalam hati.


"Oh, nggak usah. Lain kali aja. Gue pamit duluan. Salam buat bokap."


"Iya. Sekali lagi makasih ya?"


"No problem. Bye..."


"Dahhh..." Dena melambaikan tangannya seiring dengan kepergian Arya. Ia menghembuskan nafasnya kasar sebelum beranjak dari sana.


Saat gadis itu membalikkan badan, ia tidak sengaja melihat sosok pemuda yang berdiri di luar gerbang rumahnya. Seketika Dena langsung mematung. Kedua mata mereka bertemu dan saling bertaut. Seakan-akan ada pesan tersirat di dalamnya.


Kontak mata mereka langsung terputus kala pemuda itu beranjak pergi dari area rumahnya. Ingin sekali Dena berteriak memanggil sang pemilik nama. Namun, lidahnya seakan kelu untuk sebatas bersapa hai halo atau bertanya kabar. Apakah pemuda itu baik-baik saja selama berada di kota metropolitan. Apakah dia merasa nyaman dengan suasana barunya yang sangat amat berbeda saat berada di kampung. Dan apakah... dia merasakan hal yang sama dengan yang Dena rasakan saat ini? Anggap saja seperti itu.


.


.

__ADS_1


.


double up ya sayang🥰😍semoga suka di bab ini🤣🤣 yg bisa nebak itu siapa hayo 😀 cuma mau kasih tau. ini masih up sesuai mood ya🤣ada kalany nnt aku up sesuai kalian ya. klo ga like ga bakalan aku up🤣intinya di sini aku cuma mau kesadaran diri kalian aja bahwa meninggalkan jejak itu sangat² berarti buat author apalagi author amatir kyk aku jadi butuh bgt dukungan dr kalian. Yg udh ninggalin jejak, aku makasih banyak apalagi yg suka komen tiap bab😂jadi seneng liatnya 🤣🤣


__ADS_2