
Seharian Dena habiskan waktunya berada di kantor papanya. Sesuai pesan Cahya tadi, Dena berusaha untuk membuka hatinya. Merubah pandangannya terhadap wanita yang dekat dengan papanya. Seharian pula itu, Jihan lah yang menemaninya. Ya walaupun Dena tidak secerewet biasanya, namun, kali ini ada kemajuan. Menurut pandangannya, Jihan adalah wanita yang berasal dari kalangan orang baik-baik. Buktinya saat pertama mereka berinteraksi, Jihan selalu sabar menghadapi sifat dinginnya. Tapi, bukankah seharusnya Dena lebih waspada akan hal itu?
"Ayo pulang!" seru Wira sembari meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena sudah berjam-jam ia berkutat dengan tumpukan berkasnya. Sementara itu, Dena tampak duduk di sofa ditemani oleh Jihan.
"Udah selesai, Mas?" tanya Jihan kala Wira mendekat ke arah mereka.
"Iya." jawab Wira sambil mengelus kepala putrinya. "Ayo pulang. Waktunya istirahat." ucapnya kepada Dena.
Dena hanya mengangguk mendengar perkataan sang papa. Mereka pun bangkit untuk segera pulang.
Gosip-gosip pun mulai tersebar yang mengatakan bahwa pemilik perusahaan tempat mereka bekerja membawa wanita selain mendiang istrinya dulu ke kantornya. Dan juga bisik-bisik itu mulai terdengar di telinga Dena. Ada yang mengatakan bahwa wanita yang berjalan di sampingnya itu adalah calon mama sambung untuknya.
"Jangan didengerin." tegur Wira sembari menutup telinga putrinya menggunakan kedua tangannya.
"Papa ih!" sentak Dena segera melepaskan tangan papanya dari kedua telinganya.
"Hahahahaa..." gelak tawa Wira langsung keluar. Semua staff kantor yang mendengarnya langsung mematung saat bos mereka tertawa. Yang mereka kenal bahwa bosnya adalah pria dingin yang jarang tertawa. Memang ini bukan kali pertamanya mereka melihat Wira tertawa, namun, pria itu tertawa hanya bersama putrinya. Dan mereka berpikir itu adalah hal yang wajar bagi seorang ayah.
"Kita antar Tante Jihan pulang dulu ya, Sayang?" ucap Wira kala mereka sudah berada di luar.
"Iya." jawab Dena sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalian tunggu di sini. Papa mau ambil mobil dulu." Wira mengusap pelan rambut putrinya sebelum beranjak pergi dari sana.
Selepas kepergian sang papa, Dena memutar tubuhnya 90 derajat. Hingga kini ia menghadap Jihan. "Tante." panggil Dena.
Sontak Jihan menatap Dena bingung. "Iya, Sayang. Kenapa?" tanya wanita itu.
"Dena mau tanya boleh?" ujar Dena.
"Boleh kok. Mau tanya apa?" perlakuan Jihan terhadap Dena tidak kalah samanya dengan perlakuan Cahya kepada Dena. Hal itu membuatnya sedikit merasakan nyaman. Apakah hatinya sudah tidak menentang lagi?
"Umur Tante berapa?" tanya Dena.
"26."
"Emmm... Tante udah pernah nikah, atau pacaran?" tebak Dena.
"Kalau nikah belum pernah. Tapi, kalau pacaran pernah. Kalau kamu gimana? Pasti banyak ya pacarnya?" Dena langsung menggaruk kepalanya tidak gatal.
"Kalo sekarang enggak sih. Tapi, Dena punya mantan kok." jawab Dena malu-malu mengakuinya.
"Wahh! Tante udah kalah duluan nih. Kalau sekarang, ada cowok yang ditaksir?" Dena langsung terdiam. Ingatannya berputar pada Fairel. Ah, tiba-tiba ia malu sendiri.
"Udah, gak usah dijawab. Tante udah tau." seru Jihan sampai senyum-senyum sendiri melihat pola tingkah anak zaman sekarang.
__ADS_1
Dena langsung mendongakkan kepalanya melihat tinggi badan Jihan yang berada sedikit di atasnya. "Tante kok bisa tau? Emang tadi Dena bilang apa?" selidik Dena merasa curiga. Apakah sang papa yang membocorkannya? Tapi, ia pikir akhir-akhir ini Dena tidak dekat dengan siapapun. Dan Dena juga tidak pernah lagi cerita tentang cowok yang ia sukai kepada papanya.
"Nah, itu kamu bilang. Tante cuma boong tadi, eh taunya ternyata beneran. Masih sekolah, jangan banyak pacaran ya? Banyakin belajar biar nanti banyak cowok yang deketin. Setuju?" Dena menganggukkan kepalanya antusias.
Saat keduanya mengobrol lepas, ada seorang wanita yang kini melihatnya dengan tatapan cemburunya. Tapi, akhirnya ia lega kalau Dena sudah mau menerima wanita pilihan papanya. Akhirnya wanita itu lebih memilih mengambil jarak saja dari pada nanti hatinya panas melihat Dena dekat dengan wanita calon ibu sambungnya.
Tin tin
"Ayo!" seru Wira membunyikan klakson mobilnya. Pria itu turun untuk menuntun Dena dan Jihan masuk ke dalam mobilnya.
"Tante tinggal sendiri?" tanya Dena sambil berjalan di samping Jihan.
"Iya. Tante tinggal di apartemen."
Dena pun menganggukkan kepalanya. Sebelum memasuki mobil, ia melihat Cahya yang sedang mengobrol bersama seorang pria di depan sebuah mobil berwarna merah.
Saat akan melangkahkan kakinya, niat hati ingin menyapa Cahya. Namun, tiba-tiba merah bajunya ditarik oleh sang papa. Dena langsung meliriknya protes.
"Gak usah ditemuin lagi." tegur Wira.
Dena akhirnya sadar kalau sang papa juga melihat hal yang sama. Melihat Cahya mengobrol bersama seorang pria lalu tidak lama mereka masuk ke dalam mobil merah tersebut dengan sang pria yang membukakan pintu untuk Cahya.
"T-tapi..." jeda Dena.
"Sayang." tekan Wira lembut. Hal itu membuat Dena mengerti kalau sekarang papanya tidak ingin dibantah.
•••
Malam harinya Dena tampak berdiam diri di atas kasurnya sambil menonton drama cina di laptopnya. Suara ketukan pintu membuatnya menjeda drama tersebut dan langsung beranjak dari atas kasurnya.
Gadis itu berjalan menuju pintu kamarnya untuk membukakan pintu.
Ceklek
"Eh, Wi. Masuk, masuk." sambut Dena dengan kedatangan Dewi yang membawa beberapa bukunya.
"Lagi ngapain?" tanya Dewi setelah Dena mempersilahkannya masuk. Mereka pun duduk di atas kasur.
"Nonton doang. Kamu gak ambil jam kuliah?" tanya Dena dibalas gelengan kepala oleh Dewi.
"Dosennya gak masuk. Cuma dikasih tugas aja. Dari pada pergi jauh-jauh, mending di rumah aja kan ya."
"Iya juga sih. Eh ya, itu apaan?" tunjuk Dena pada tumpukan buku Dewi.
"Bahasa Inggris. Ajarin ya?" kekeh Dewi pelan.
__ADS_1
"Oke. Eh btw, laptop mu mana? Ini emang dikerjain di buku tulis?" tanya Dena bingung.
"Ada di kamar, lagi dicas. Nanti aja deh aku salin."
"Oke deh. Nanti ini selesai aku mau cerita. Boleh kan, Wi?" pinta Dena yang ingin sekali menceritakan peristiwa yang ia alami hari ini.
"Gak masalah. Lagian tugasnya gak banyak kok."
1 jam kemudian...
"Oke, kelar. Kamu mau cerita apa?" tanya Dewi sembari membereskan buku-bukunya.
"Sini, Wi. Deketan dikit." sontak Dewi langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Dena.
"Udah." balas Dewi merasa penasaran.
"Tadi siang tuh papa ngenalin cewek ke aku. Ya awalnya aku sempet gak terima. Tapi, aku coba buka hati trus akhirnya bisa juga nerima walau gak sepenuhnya. Ceweknya juga cantik, baik, kayaknya perhatian dan penyayang. Tapi, aku gak mau terlalu percaya. Menurutmu gimana, Wi?" jelas Dena pada inti-inti poin kejadiannya.
Dewi terdiam sambil berpikir. "Gak masalah sih, Na. Coba aja dulu, nanti lama-kelamaan juga bisa nerima kehadirannya. Ya, emang agak sulit sih buat nerima orang baru di kehidupan kita. Tapi, semuanya udah takdirnya kan? Kita juga gak bisa nyangkal itu. Intinya, coba kamu pahami isi hati kamu sesunguhnya."
"Ummm, oke deh. Nanti aku coba. Semoga orangnya bener-bener baik, gak cuma tampilannya aja."
"Pinter."
"Ngomong-ngomong soal pinter. Gimana nilai kamu di kampus? Keinget kampus aku jadi kepikiran nanti pas lulus."
"Kalau soal nilai alhamdulillah. Kepikiran kenapa?"
"Kepikiran aja, Wi. Aku bingung. Aku pengen lanjutin kuliah di luar negeri. Aku pengen nyoba mandiri tanpa bantuan papa. Tapi, di sisi lain juga berat buat aku mau ninggalin orang-orang terdekat. Contohnya kamu, Wi." terang Dena.
Dewi langsung tersenyum. Ia menyentuh tangan Dena dan mengusapnya pelan. "Itu gak masalah, Na. Intinya itu dari hati kamu sendiri. Gak apa-apa niatan gitu. Tapi, kamu juga perlu diskusiin biar nanti jalannya mudah."
Akhirnya Dena menganggukkan kepalanya menerima saran dari Dewi. Dari hati bukan? Sekarang Dena sudah menemukan jawabannya yang pas. Bukankah Cahya tadi juga berkata hal yang sama seperti Dewi?
"Tiba-tiba aku kepikiran tentang Ridwan, Wi. Apa kabar ya cowok yang udah aku tolak kemarin. Hehe dia juga gak berani lagi deketin aku semenjak aku nolak dia."
Wajah Dewi langsung berubah menjadi sebal. Apakah ada yang terjadi diantara Dewi dan Ridwan? Pikir Dena.
"Gak usah dibahas, Na. Aku kesel banget pokoknya sama itu cowok. Bikin darah tinggi tiap hari. Ngidam apa sih emaknya sampe kelakuan anaknya kayak gitu?" gumam Dewi membuat Dena langsung tertawa. Ternyata ada yang ehem-ehem antara Dewi dan Ridwan.
.
.
.
__ADS_1
menurut kalian, gimana tentang Jihan? Apakah emang aslinya baik atau pura-pura baik?
Aku orangnya sebenernya juga pura-pura baik kok🤣🤣