Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 61


__ADS_3

"Fairel, buatin kopi 7. Nanti kopi yang satunya lo anter sendiri. Ini permintaan dari pelanggan. Harus spesial dan berbeda."


Fairel yang saat itu tengah menganggur pun segera beranjak. "Oh, iya, Bang. Tapi, harus saya yang antar ya?" tanya Fairel sedikit bingung. Kenapa tidak sekalian saja pesanan kopi itu diantarkan langsung.


"Udah, jangan banyak tanya. Buatin segera."


"Oke, siap, Bang." balas Fairel hanya pasrah saat seniornya bertitah. Sebenarnya hanya senior yang bekerja sebagai pelayan cafe atau waitress. Sedangkan barista di situ hanya dirinya sendiri karena barista sebelumnya sudah mengundurkan diri.


Pemuda itu mulai fokus pada pekerjaannya, meracik kopi secara manual. Selang beberapa waktu kemudian akhirnya enam kopi itu sudah tersaji di gelas dengan berbagai motif pola. Entah itu dedaunan, boneka salju dan semacamnya. Tinggallah Fairel menyajikan satu cangkir kopi yang katanya harus spesial. Fairel mengerjakannya dengan penuh kehati-hatian dan teliti agar nanti rasanya pecah di mulut pelanggan. Entah kenapa hati Fairel langsung tergerak membuat motif pola seperti love besar. Padahal ia tidak tau apakah pelanggannya perempuan atau laki-laki. Kalau dipikir secara logika pasti pelanggan itu perempuan karena perempuan itu sangat suka yang spesial. Apakah iya begitu?


"Cantik."


Batin Fairel memandang penuh kepuasan saat melihat hasil karyanya sebagai barista.


Karena cangkir yang satu ini akan ia antarkan sendiri, jadilah Fairel beranjak dari depan mesin-mesin espresso. Kebetulan diwaktu yang berbeda tipis, seniornya sudah mengantarkan kopi-kopi tadi kepada pelanggan.


Fairel berjalan pelan sambil memegang nampan. Matanya melihat kumpulan anak-anak muda yang duduk kompak di meja nomor lima. Namun, langkah kakinya semakin melambat saat ia melihat sosok gadis yang tidak asing di matanya. Karena gadis itu duduk membelakanginya, alhasil Fairel tidak mengetahui itu siapa. Yang ia lihat hanya beberapa laki-laki yang ia ketahui satu kampus dengannya karena Fairel melihat almamater itu.


"Eh! Mas, Mas. Pesanan si cantik mana?" tanya seorang pemuda kepada seniornya yang baru saja selesai mengantarkan pesanan.


"Si cantik?" tanya seniornya.


"Maksudnya cewek yang duduk di samping saya, Mas."


"Owh, itu. Masih diracik, Mas. Tadi saya bilang itu pesanan spesial dari kakak ini yang juga akan diantar langsung oleh barista baru."


"Baiklah. Kalau begitu saya pamit dulu, kakak dan abang. Selamat menikmati layanan di cafe ini."


"Siap, Mas." jawab mereka serentak.


Seniornya berjalan menjauhi meja nomor lima itu. Saat mereka berselisih, seniornya yang berjenis kelamin laki-laki itu menepuk pundaknya dia kali sambil berbisik. "Semangat."

__ADS_1


Fairel hanya mampu membalasnya dengan sebuah senyuman tipis. Terasa sangat kaku.


Langkah kakinya dengan pasti melangkah mendekati meja nomor lima itu. Semakin dekat, semakin Fairel yakin kalau dua orang gadis itu adalah orang yang ia pikirkan sebelumnya. Dari belakang, Fairel melihat seorang gadis menoleh ke belakang lalu tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya. Ia kenal gadis itu. Dewi, sepupunya.


Fairel hanya mengangguk singkat. Semakik dekat, semakin jelas ia mendengar obrolan anak-anak muda yang nongkrong di meja nomor lima itu. Awalnya hanya terdengar biasa saja dan normal-normal saja. Namun, setelah itu ia dibuat terkejut setengah mati dengan pengakuan pemuda yang belum ia kenali. Yang ia tau pemuda tersebut adalah mahasiswa di kampus yang sama dengannya karena Fairel merasa tidak asing dengan wajah itu.


"Kenapa pengen banget kalo pesanannya diantar oleh barista itu, Na?"


"Enggak papa, Bang. Pengen liat aja gimana layanan karyawan barunya." jawab gadis yang masih membelakanginya.


"Owh gitu. Kirain kenal. Kamu gak boleh kenal sama cowok lain selain aku, Na. Aku udah suka sama kamu pas pertama kali ketemu. Kamu mau gak jadi pacar aku, Na?"


Uhukkk


Fairel terkejut bukan main. Alhasil dirinya tersedak ludahnya sendiri. Untung saja nampan di tangannya tidak terlepas, kalau terlepas, mungkin cangkir di atas nampan itu sudah jatuh dan pecah.


"Sial!"


Umpat Fairel merasa dirinya menjadi pusat perhatian. Saat itu juga mata mereka tidak sengaja bertabrakan. Membuat degup jantungnya terasa lebih cepat.


"S-selamat menik-mati." Fairel menundukkan kepalanya sopan dan langsung beranjak cepat setelah berpamitan.


Bukan kembali ke mesin espresso, melainkan ia pergi ke toilet. Bahkan Fairel tidak sempat menyimpan nampan tadi, alhasil nampan tersebut ia bawa masuk ke dalam toilet. Suasana di toilet sangat sepi membuat nafas kasarnya terdengar di telinga siapapun yang masuk ke area toilet itu.


Fairel mengunci rapat pintu toilet. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang pintu. Dengan posisi memeluk nampan di tangannya, nafasnya terdengar kasar dengan dada naik turun. Perasaan apa ini? Fairel sudah berusaha menghindar, tapi, takdirlah yang begitu kejam. Mempertemukannya dengan gadis yang sedari awal ia kagumi.


Matanya terpejam erat. Tidak! Ini bukan mimpi! Fairel merasakan sakit saat ia dengan sengaja mencubit sebelah pipinya. Berharap kalimat terakhir tadi yang tidak sengaja ia dengar segera hilang di memori otaknya. Pemuda itu bahkan menjambak rambutnya saat malah merasakan kalimat itu terngiang-ngiang di telinganya.


"Kamu gak boleh kenal dengan cowok selain aku, Na."


Fairel menyugar rambutnya ke belakang.

__ADS_1


"Aku udah suka sama kamu pas pertama kali ketemu."


Harusnya Fairel lah yang berkata demikian. Harusnya dia lah yang mengungkapkan itu. Sejak pertama kali bertemu? Harusnya Fairel! Bukan laki-laki lain!


Kedua mata Fairel terpejam kuat saat merasakan dadanya sesak. Terasa sulit untuk menghirup oksigen di sekitarnya. Dan kalimat terakhir lah yang membuat kepalanya tertunduk lesu.


"Kamu mau gak jadi pacar aku, Na?"


Fairel mengepalkan kuat tangannya. Tidak boleh! Dia tidak boleh lemah hanya karena kalimat yang menganggu pikirannya!


Fairel menghirup nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar. Setelah merasa tenang, Fairel memutuskan untuk keluar.


"Ceklek..." suara pintu terdengar nyaring saat Fairel memutar handle pintu itu.


Deg


Jantungnya berdetak sekali dengan tiba-tiba saat melihat seorang gadis tengah bersandar pada tembok di depan toilet. Bukan itu yang membuatnya kaget. Tapi, siapa orang itu lah yang membuatnya kaget setengah mati.


"L-lo... ngapain ke sini?" tanya Fairel gugup saat gadis itu menatapnya lama.


Dena, gadis itu langsung berdiri tegak. Setelah kepergian Fairel tadi sempat membuatnya kepikiran. Dan setelah memberikan jawaban kepada Ridwan tadi, ia langsung bertolak ke toilet hanya demi menyusul Fairel. Ia ingin menjelaskan bahwa mereka tidak mempunyai hubungan yang spesial. Dan ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak memiliki perasaan lebih kepada Ridwan.


Tunggu! Tunggu! Kenapa Dena harus menjelaskan semuanya? Kenapa Dena harus merasa khawatir saat Fairel memutuskan untuk pergi setelah insiden tadi?


Dengan langkah pasti, Dena mendekati Fairel yang berdiri di samping pintu toilet yang sudah tertutup.


Saat Dena melangkah maju, saat itulah Fairel mundur ke belakang. Sampai pemuda itu tidak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah mentok ke tembok.


.


.

__ADS_1


.


panas nih Rel 🥵🤣🤣🤣aku mau ngasih ini: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2