
"Hei, little princess. What are you doing?"
"Humm, hai, Mom. I do not do anything."
"Really?"
"Hemm, yes."
"Kenapa, hem? Cerita sama Bunda." Cahya duduk di samping Dena yang saat itu berada di sisi kasur. Tangannya mengelus lembut kepala gadis itu.
Ditatapnya wajah Cahya lekat. "I'm okay. Tak ada yang perlu diceritakan." tutur Dena.
Mata Cahya menyipit menatap wajah putri sambungnya. "Bunda kira kamu sudah menerima kehadiran Bunda di sini. Apakah Bunda harus menunggu untuk waktu yang lama agar kamu bisa terbuka?"
Dengan cepat Dena menggelengkan kepalanya dan langsung memeluk tubuh Cahya tanpa aba. Membuat wanita berusia kepala dua itu tersentak kaget.
"No! I'm sorry, Mom. Dena rasa itu tak perlu diceritakan. Itu memalukan." cicit gadis itu tampak menggelengkan kepala berulang kali di dalam pelukan ibu sambungnya.
"Apa yang memalukan? Kamu tidak kentut di depan umum kan?" sontak Dena melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak cemberut dengan bibir mengerucut ke depan.
Cahya tersenyum melihatnya. Ia mengelus lagi rambut putrinya lembut. "Kamu percaya dengan Bunda?"
Dena menganggukkan kepalanya dengan bibir yang terkatup rapat.
"Lanjutkan!" pinta Cahya membuat Dena langsung menggigit bibir bawahnya.
"S-semalam..." gadis itu tampak terbata. Bahkan ia enggan untuk memberitahu apa yang mengganjal di hatinya.
"Hu'umm." Cahya menumpukkan tangan mereka. Menggenggam tangan gadis itu.
"S-semalam... D-ena..."
"Huwaaaaa Dena udah enggak suci lagi!!" gadis itu tiba-tiba menangis dengan lelehan air matanya mengalir di pipinya.
Cahya terkejut. Dengan cepat ia memegang kedua bahu Dena.
"Coba ulang."
"Huwaaa, s-semalam... A- arel u- dah ci-um Dena..."
Bahu Cahya seketika melemas mendengarnya. Ia kira maksud dari perkataan Dena tadi menyatakan bahwa tubuh gadis itu tidak suci lagi. Namun, sepertinya ia salah tangkap arti dan maksud dari perkataan Dena.
Cahya menggaruk belakang kepalanya tidak gatal. Ia bingung. Sangat bingung.
"Cuma itu? Bunda kira masalah besar." helaan nafas Cahya terdengar.
"M-maksud Bunda ini bukan masalah besar? Itu ciuman pertama Dena tau. Dan Arel udah mencurinya gitu aja. Dena gak terima!" wajah galak ia perlihatkan dengan sorot mata protes menatap Cahya.
Ekspresi Dena malah membuat Cahya ingin tertawa. Baginya, kekesalan Dena kali ini tidak bereaksi sama sekalipun karena wajahnya masih sama. Sama-sama imut dan menggemaskan.
Cahya menaruh tangannya di mulutnya untuk meredam tawa dan senyumannya.
"Bunda ngetawain apa!? Dena serius loh ya!"
Sekuat tenaga Cahya mengubah ekspresinya "Oke, oke. Lalu, apa masalahnya sekarang? Kamu, jauhin Arel. Enggak bukain pintu, kamu cuekin dia. Gitu?"
Dena menganggukkan kepalanya cepat.
"Emang semalam yang salah itu siapa? Kamu atau Arel?" tanya Cahya membuat Dena terdiam.
"Arel ada bilang sesuatu?"
Pikiran Dena melayang di percakapan mereka tadi malam.
__ADS_1
"Gue cuma gak suka liat lo akrab dengan cowok lain."
"Eummm... kalo gak salah Arel bilang kalo dia gak suka liat Dena akrab dengan cowok lain. Masalahnya, itu semua kan mantan-mantan Dena. Mereka juga baik."
"Kamu itu polos atau pura-pura polos sih, Sayang?"
Ingin sekali Cahya berkata seperti itu. Namun, hanya bisa ia utarakan di dalam hatinya.
"Nggak usah dipikirin. Yang penting sekarang temuin Arel dulu. Kasian dia udah nunggu lama. Nanti keburu pulang."
"Hummm, oke." final Dena memutuskan untuk menemui Fairel.
•••
"Arel ada di depan. Udah nunggu lama dia. Samperin gih!"
Sesampainya di lantai bawah, Dena sudah mendapat sedikit siraman rohani dari sang papa.
Dengan langkah malas Dena berjalan keluar meninggalkan anggota keluarganya yang berkumpul di ruang keluarga.
Langkah Dena dari pelan semakin pelan. Ia ragu untuk menemui Fairel. Tampak pemuda itu duduk di atas motornya dengan tatapan mata kosong ke arah depan.
Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Dena menghampiri Fairel. Kedatangan gadis itu bahkan sampai tidak disadari oleh pemuda itu. Dena hanya terdiam di samping Fairel tanpa mau menatapnya.
Sampai akhirnya menit ke-dua, Fairel tersadar. Ia terkejut melihat keberadaan Dena yang berdiri tepat di sampingnya.
"Na." panggil Fairel.
"Lo masih marah?"
Dena hanya diam. Jujur, ia hanya merasa malu dan canggung. Bayang-bayang kejadian semalam malah melintas di otaknya. Seakan tersadar, Dena langsung menggelengkan kepalanya pelan.
"Gue punya sesuatu buat lo."
"Ikut aja." Fairel menyodorkan helm cadangan kepada Dena. Meski bingung, gadis itu tetap menuruti.
"Masang talinya bukan begini. Ini kebalik." Fairel mendekat. Mengambil alih tangan Dena yang tampak memasang tapi helm tersebut.
Karena jarak keduanya sangat dekat, Dena bahkan sampai bisa mencium aroma tubuh Fairel. Detak jantungnya berdetak tidak beraturan.
Setelah berhasil memasang tapi helmnya dengan benar, Fairel tidak langsung beranjak atau melepaskan tangannya dari tali helm tersenyum. Tatapan matanya tertuju pada bola mata indah milik Dena. Fairel sangat suka memandangi mata indah itu yang selalu membuat hatinya tenang.
"R- rel!" tegur Dena merasakan gugup.
"Eh iya! Ayo!" Fairel tersadar langsung menghidupkan motornya.
Setelah memastikan Dena duduk dengan aman, Fairel langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Dena hanya diam tidak berani untuk bertanya atau mengeluarkan suara sedikit pun. Ia hanya terlalu takut, malu, dan canggung yang bercampur aduk membuat jantungnya berdetak cepat.
Setelah berkendara sekitar kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai. Fairel membawanya ke taman yang terletak di pusat kota.
Suasana cukup ramai dengan pengunjung. Kebanyakan anak-anak yang tampak berlari kesana kemari sambil membawa balon di tangannya.
"Ngapain ajak gue ke sini?" tanya Dena bingung.
"Itu." Fairel menunjukkan berbagai pemandangan indah di sana.
"Gue udah sering ke sini."
"Gak masalah. Kan perginya beda orang pasti juga beda suasana."
"Maksud lo ngomong kayak gitu apa, Rel?"
__ADS_1
"Udah, yuk! Kita ke sana. Hilangin badmoodnya dulu." tangan Dena tertarik seiring dengan Fairel yang membawanya.
"Ke sana, mau?" tawar Fairel menunjukkan kebun binatang.
Dena hanya mengangguk.
Lagi lagi Fairel menarik tangannya. Membawanya ke sebuah area kebun binatang dengan populasi burung-burung.
"Boleh pegang katanya. Tapi, jangan buat rusuh."
"Gue tau." potong Dena.
Fairel hanya tersenyum sekilas melihat reaksi dan tanggapan dari Dena.
Keduanya segera menghampiri penjaga kebun binatang tersebut sekaligus Fairel yang meminta izin untuk memegang burung-burung di sana.
Petugas laki-laki itu tampak mengangkat sebelah tangannya 90 derajat ke atas. Lalu tidak lama kemudian ada seekor burung elang besar yang tampak mendarat dan bertengger di lengan petugas itu. Petugas itu juga tampak menjelaskan tentang si burung elang yang berada di lengannya.
"Mau coba pegang?" tanya Fairel menatap Dena yang tampak sedikit ragu.
Karena penasaran akhirnya Dena menganggukkan kepalanya meskipun di hatinya ada sedikit ketakutan saat melihat elang tersebut. Apalagi mata tajamnya yang seakan menghunus tubuhnya. Belum lagi cakar-cakarnya yang seolah siap untuk mencabik tubuh mangsanya.
"Jangan takut. Rileks."
"O- oke..."
Dena memejamkan matanya takut saat seorang petugas memasangkan sebuah pengaman di tangannya agar nantinya cakar si elang tidak mencengkram kuat lengan gadis itu.
"Buka matanya." ucap Fairel pelan. Dengan ragu dan perlahan, Dena membuka kedua matanya. Memandang pesona elang tersebut yang kini sudah bertengger manis di lengannya.
Dena tersenyum tipis. Namun, saat sedang menatap elang tersebut. Tiba-tiba hidungnya terasa gatal. Karena tidak tahan akhirnya Dena bersin dengan suara kecil. Meskipun pergerakan Dena tidak kuat, namun itu membuat burung tersebut merasa terganggu. Refleks ia terbang menjauh secara tiba-tiba membuat Dena terkejut. Kepakan sayapnya yang kuat membuat rambut Dena berantakan.
"Maaf." sesal gadis itu merasa sudah merusak suasana.
"It's okay. Gak apa-apa. Itu gak akan bikin elangnya merasa terancam kan, Mas?" tanya Fairel kepada petugas itu.
Pria itu tersenyum. "Tidak apa-apa, Mas. Kejadian itu sudah sering terjadi dalam batas normal. Kalau reaksi pengunjung terlalu rusuh, dia akan merasa terancam."
"Tuh kan, nggak apa-apa kata abangnya." tutur Fairel menatap Dena.
Dena menganggukkan kepalanya tipis. "Hachiiiiii!!!" sekali lagi Dena bersin. Gadis itu tampak menggosok hidungnya gatal.
Raut wajah Fairel berubah khawatir. Pemuda itu refleks mendekat.
"Kenapa?" guratan kekhawatiran jelas tampak dari raut wajah Fairel.
"Gue lupa kalo alergi burung."
"Nggak parah kan? Apa harus minum obat?"
Dena menggeleng. "Enggak. Cuma bersin-bersin aja kalo deket burung." jelas gadis itu.
"Syukurlah." Fairel menghembuskan nafasnya lega.
"Bentar." Dena awalnya bingung. Namun, dua detik kemudian Fairel mengangkat tangannya untuk membenahi rambut Dena yang berantakan.
Perlakuan Fairel membuat jantung Dena berdebar kencang. Ia mendongakkan kepalanya melihat wajah Fairel yang berada di atasnya. Ekspresi pemuda itu tampak serius saat membenahi rambut Dena.
"Tadi lupa bawa jaket. Di sini panas." setelah merapikan rambut Dena, Fairel menepuk-nepuk lengan baju Dena.
"Kita istirahat dulu ya?"
Dena tidak menjawab, hanya mengangguk tipis saja. Melihatnya, Fairel langsung menarik tangan Dena. Membawa tangan gadis itu masuk ke dalam genggaman tangannya. Fairel memegangnya erat seolah takut gadis itu akan pergi dari sisinya.
__ADS_1