
Tuttt tuttt
Satu panggilan diabaikan. Dena tidak patah semangat. Sekali lagi ia memanggil nomor itu. Panggilan keempat akhirnya dijawab.
"Halo."
"Kakak."
"..."
"Ini Dena."
"Astaghfirullah. Kakak kira tadi siapa makanya gak Kakak angkat."
"Hehe, gak pa-pa, Kak. Oh ya, Kakak udah pulang?"
"Belum, Dek. Kenapa nanya gitu?"
"Nanti pulang dari kantor Kakak bisa mampir ke sini gak?"
"Ke rumah kamu? Kenapa emangnya, Dek?"
"Kakak... bisa beliin aku martabak gak?"
"Sayang, suruh nanti Pak Harto aja beli martabak." ujar Wira.
"Syutttt." Dena menjauhkan ponselnya lalu menyuruh Papanya untuk diam.
"Mmmmm gimana ya, Dek..."
"Ayolah, Kak. Dena pengen nih. Sekalian ya boba yang di depan kantor itu trus buah apel ya?" rengek Dena
"Oke--deh. Kamu kirim aja alamatnya nanti Kakak ke situ."
"Kakak nanti ke sini naik apa?"
"Kakak naik motor, Dek?"
"Owh, aku tutup ya, Kak? Assalamu'alaikum, semoga Kakak selamat sampai tujuan."
"Wa'alaikumussalam, iya, Dek."
"Sayang..."
"Syuttt... iya tau, Pa."
"Jangan ngerepotin orang, Sayang. Siapa tau orang itu sibuk."
"Sekali-kali bikin orang repot, Pa." balas Dena yang masih mengotak-atik ponsel Papanya.
Tring
Satu pesan masuk berhasil mencuri perhatiannya. Dena langsung melihat pesan yang masuk melalui aplikasi berwarna hijau itu.
"Astaghfirullah, Tante. Demen amad."
Dengan tangannya yang cekatan Dena membalas pesan itu dengan jawaban yang cukup menohok.
[Tante kurang belaian ya? Nih, aku kasih belalai.]
Satu pesan sekaligus stiker gambar belalai gajah membuat gadis ingin serasa mengekek. Ia menutup mulutnya dengan satu tangannya.
__ADS_1
"Apa ada yang geli, Sayang?"
"Nothing, Pa. Ada Tante-tante kurang belalai gajah." ujarnya random.
"Are you seriously?"
"Yes."
"Okay."
Kembali Dena mengecek suhu tubuh Papanya yang ternyata panasnya tidak turun, malah sedikit naik dari pada tadi.
"Papa tidur ya?"
"Papa gak ngantuk, Sayang. Kan baru aja bangun tadi."
"Trus Papa mau ngapain?"
"Bisa ambilin laptop Papa gak di tas kerja?"
"No kerja!"
"Ayolah, Sayang. Papa cuman mau ngecek file aja."
"No, Papa!" tolak Dena memasang wajah garang.
"Bentar aja kok. Please..."
"Five minutes?"
"Okelah."
Dena bangkit, mengambil tas kerja Papanya yang tergeletak di atas sofa lalu mengeluarkan laptop.
Dena menurut lalu memberikan laptop dan berkas yang tadi diminta Papanya.
"5 menit ya!"
"Iya, Sayang, iya."
"Awas boong."
Benar saja, 5 menit kemudian Dena langsung mengambil laptop itu. Membuat Wira merengut sedikit kesal namun tidak bisa melakukan apa-apa.
"Lagi sakit juga malah maksain kerja. Lagian uang Papa tuh udah banyak tau gak."
"Kan biar makin banyak, Sayangnya Papa. Biar nanti kamu bisa foya-foya."
"Aku tuh gak butuh uangnya Papa. Yang aku butuh cuman Papa."
"Uluhuluh. Makin tambah sayang Papa sama kamu. Sini peluk Papa." Wira merentangkan kedua tangannya agar Dena masuk ke dalam pelukannya.
Dena segera meringsek ke dalam pelukan hangat itu. Sangat nyaman rasanya, seolah-olah beban hilang seketika.
Kruyukkk
Suara yang mengganggu keharmonisan anak dan Papa itu saat perut Dena berbunyi meronta-ronta ingin diberi asupan nutrisi.
Wira melepaskan pelukannya lalu menatap Dena penuh selidik. "Kamu belum makan siang?"
Dena menyengir menampakkan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
"Haish! Yaudah sana! Makan siang dulu minta ke Bibik di dapur."
"Nanti aja, Pa. Nungguin pesanan Dena tadi."
"Jangan berharap, Sayangggg. Siapa tau dia gak sempat. Makan dulu gih... nanti selesai makan baru boleh ke sini lagi."
"Iya, ish! Paap ribet."
Dena memasang muka manyun, dengan terpaksa ia turun ke bawah untuk makan siang. Cukup lama ia berada di dapur karena pelayan harus memasakkan Dena makanan.
"Tok... tok... tok..."
"Masuk, Bik!" titah Wira.
"Permisi, Tuan. Ada tamu di depan katanya orang suruhan Non Dena."
"Oh ya? Hmmm... Dena masih di dapur, Bik?"
"Iya, Tuan. Baru saja makan karna makanannya baru matang."
"Yasudah, biar saya saja, Bik, yang nyambutnya."
"Jangan, Tuan. Biar Bibik aja. Tuan masih sakit harus banyak istirahat."
"Gak pa-pa, Bik. Itung-itung olahraga biar cepet sehat."
"Yasudah kalau itu mau Tuan. Kalau begitu saya kembali ke belakang mau bikin minum."
"Silahkan, Bik."
Dengan langkah pelan Wira keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan hati-hati. Saat berada di ujung anak tangga ia melihat putrinya masih makan siang. Laki-laki itu tidak mau mengganggu. Akhirnya ia sendiri yang menyambut tamu tersebut.
"Eh? P-pak W-wi-ra..."
"Hmmm..."
"I-ni pesanan anak b-bapak ta-di, P-ak..."
"Ya. Simpan di atas meja saja."
"Baik, Pak."
"Kalau begitu saya pamit, Pak. Hari sudah mau malam."
"Tidak mau menemui Dena?"
"Lain kali saja, Pak. Takutnya nanti kemalaman."
"Tunggu sebentar."
Wira merogoh saku celananya. Perasaan tadi ada ia menyimpan beberapa lembar uang.
"Oh ya. Ini! Terima saja itung-itung buat bayar itu."
"Mmmm tidak usah, Pak."
"Jangan membantah ucapan bos kamu."
"Tapi, Pak... ini kan di rumah, otomatis Bapak bukan bos saya lagi kecuali di kantor eh..." Cahya merutuki mulut embernya yang dengan mudah ia mengatakan itu.
"Dan kalau saya bukan bos kamu di rumah. Lalu... kenapa kamu memanggil saya dengan sebutan Bapak?" Wira balik menyerang.
__ADS_1
"Itu, Pak. Anu..."