
Tiga rakaat sholat jamaah mereka tunaikan di surau itu. Selesai bersalam-salaman dengan para warga, Dena langsung keluar, gadis itu menunggu Kakeknya di luar.
"Eh! Dena?" sontak gadis itu terkejut, ia membalikkan badannya sempurna, melihat tiga orang gadis yang tadi menyapanya. Dena hanya tersenyum lalu mengangguk ke arah mereka bertiga.
"Kalian juga di sini?" tanya Dena.
"Hehe, iya. Lo gak liat ya?"
"Kayaknya sih. Soalnya kan gue di shat terdepan. Gak noleh-noleh ke belakang jadinya gak tau." jawab gadis itu.
"Hih! Pantesan. Oh, ya.. Lo nungguin siapa? Kakek lo?" tanya Anna.
"Iya, tadi gue bareng Kakek. Noh orangnya lagi ngobrol dengan warga."
Saat mereka mengobrol, tiba-tiba datang beberapa pemuda ke arah mereka, kopiahnya masih melekat di masing-masing kepala.
"Fairel tuh!" tunjuk Risty ke arah Fairel yang datang bersama kedua sahabatnya.
"Hai, para gadis!" sapa Dicky dengan genitnya.
"Huek! Omongan lo, Ky, bikin gue eneg." Risty mengeluarkan ekspresi geli, seolah-olah ingin muntah.
"Apa sih lo, Ris? Sewot amad, cemburu ya??" goda Dicky.
"Haa??? Apa.. cemburu? Idih! Nggak banget lah."
"Kali aja gitu, Ris. Si Iky kan cakep." sambung Dewi seraya mengejek.
"Kalian tuh ya!"
Disaat mereka bertengkar, beda lagi dengan Dena dan juga Fairel. Mereka berdua saling bertatapan.
"Cakep lo, Rel, kalo pakai kopiah gitu." puji Dena tanpa rasa malu.
Fairel yang dipuji seketika malu, pemuda itu membenarkan letak kopiahnya.
"Lo juga cantik pake mukena gitu. Jadi adem liatnya." puji Fairel balik.
"Gue kan emang selalu cantik." Fairel memutar kedua bola matanya jengah. Baru juga disenggol dikit sudah oleng aja.
"Eh kalian kok diem aja!" sontak keduanya terkejut melihat Dewi yang langsung muncul di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Nggak, gak. Kita gak dieman kok, nih ngobrol. Ya kan, Rel?"
Pemuda itu hanya mengangguk.
"Eh! Gue pulang duluan ya? Tuh Kakek udah manggil." ujar Dena tersadar.
"Gih pulang." seru Risty dan Anna.
"Sampai ketemu besok. Daahhhh..." gadis itu berlalu sambil melambaikan tangannya berdadah. Lalu menemui sang Kakek, mengajaknya pulang.
.
.
.
Brummm brummm brummm
Terlihat kepulan asap tebal yang berasal dari kenalpot motor. Suara riuh terdengar di jalanan sepi nan sunyi itu.
"Woiii!" tepukan mendarat tepat di punggung Fairel yang saat itu tengah menonton balapan yang akan segera dimulai.
"Napa?" tanya pria itu malah asik menghisap rokok di selipan jarinya.
"Nggak ah. Lagi males gue, lawannya gak asik." jawab pemuda itu.
"Yee, justru itu. Kalo lo ikutan pasti menang."
"Taruhan berapa?" pemuda itu bernego.
"Biasa." Rafael menaik turunkan kedua alisnya. Tangannya menunjukkan nominal angka yang akan menjadi taruhan.
"Dikit banget. Gak mau gue."
"Ihh! Masih untung, Rel, segitu. Dari pada kemarin malam tuh malahan dikit banget. Ini tuh melawan anak desa sebelah yang sok-sokan itu loh."
"Anak kayak gitu perlu dimusnahin, bikin orang kesel aja."
"Makanya, ayok. Lo kalahin dia."
"Bilangin, taruhannya terlalu dikit, gue gak mau."
__ADS_1
"Lo tuh! Haish... oke lah, gue bilang. Bentar." Rafael menjauh, terlihat dari tempat Fairel duduk, dia tengah bernego dengan panitia. Tidak lama kemudian Rafael kembali membawa kabar yang lumayan mengenakkan bagi Fairel.
"Udah tuh. Mereka mau katanya, untung gue paksa plus ancaman dikit. Mau gak lo?" bujuk pemuda itu lagi.
Fairel membuang rokoknya yang sisa setengah itu, lalu bangkit mengibaskan celana bagian belakangnya yang sedikit kotor.
"Gue mau."
Mereka berdua tersenyum. Ngomong-ngomong soal Dicky, pemuda itu tidak bisa ikut ngumpul karena sekarang dia tidak berada di rumah.
Fairel sudah berada di arena, dia mengenakan helm full dengan kaca dibuka. Menatap sengit ke arah lawannya di sisi kanan dan kiri, ada beberapa juga dibelakang.
Ready?
Semua peserta menganggukkan kepalanya begitu juga dengan Fairel.
Three
Baru hitungan pertama, tapi kepulan asap motor itu sudah terlihat mengelilingi arena.
Two
One
...
Go!
Brummm
Dalam sekali tancap motor Fairel langsung melesat. Ditengah perjalanan ia memelankan laju motornya guna mensejajarkan dengan motor lawan.
Pemuda itu terlihat santai. Beberapa menit kemudian ia memacu motornya kembali, mengejar ketertinggalan yang disengaja.
Dua kali putaran dilakukan akhirnya selesai. Pemenang diumumkan yaitu Fairel. Siapa yang mau melawan pemuda itu?
"Gimana? Masih mau sok-sokan lo pada?" tanya Fairel sinis.
"Cuih! Gitu aja bangga. Lo liat aja nanti, gue pasti akan ngalahin lo itu." balas Tino dengan sombong. Anak desa sebelah yang terkenal dengan kesombongannya. Sampai-sampai berita itu terdengar di telinga Fairel dkk.
"Silahkan. Gue tunggu itu. Hmmmm... harumnya." Fairel mengipaskan uang taruhan yang ia dapatkan. Pemuda itu tersenyun sinis menatap penuh kebencian.
__ADS_1
Tidak ingin melihat Tino lama, Fairel segera menjauh. Dia mendekati Rafael yang saat itu penuh dengan senyuman kebanggaan.
"Wuih! Apa gue bilang. Lo pasti menang, Rel. Yaudah, yuk cabut! Udah mau subuh juga waktunya istirahat." tegur Rafael yang dibalas anggukan oleh Fairel.