
"Bapak pulang aja. Nanti biar Dena pulang sama Papa." ujar Dena memberitahu Pak Haryo lewat kaca jendela mobil yang dibuka oleh Pak Haryo di kursi kemudi.
"Baik, Non. Kalau gitu bapak pulang dulu ya? Nanti kalau ada apa-apa tinggal telfon aja."
"Oke, Pak. Hati-hati di jalan."
"Iya, Non."
Mobil yang dikendarai Pak Haryo mulai berjalan perlahan meninggalkan kawasan kantor. Dena yang sudah memastikan kalau sang sopir pergi pun langsung beranjak dari sana.
Saat baru tiba di pintu masuk, banyak pasang mata yang melihatnya dan mereka langsung menundukkan kepala sopan.
"Papa ada, Mbak?" tanya Dena menemui karyawan di bagian resepsionis. Pertanyaan yang sama ketika ia berkunjung ke kantor papanya. Dan itu semuanya sudah menjadi tabiat dari seorang Dena.
"Sekarang bapak ada di ruang meeting. Nona bisa langsung ke ruangannya sambil menunggu." jawab resepsionis itu.
"Oke, Mbak. Makasih."
"Sama-sama, Nona."
Dena langsung melenggang menuju lift umum sambil menenteng paper bag di tangannya. Di depan lift, terdapat beberapa karyawan yang ternyata ingin menaiki lift juga. Dena langsung berdiri di samping karyawan perempuan yang tampak tegang saat ia mendekatinya. Ya, bagaimana tidak tegang. Lha wong Dena adalah anak dari bosnya. Tapi, itu semua tidak berlaku bagi Dena. Karena baginya semua orang sama saja. Sama-sama manusia, beda lagi kalau itu harimau. Mungkin Dena langsung kocar-kacir.
Ting
Pintu liftnya pun terbuka. Dena melirik kanan dan kirinya, tampak semua karyawan itu hanya berdiam saja.
"Kenapa gak masuk kakak kakak?" tanya Dena.
"Emm itu... Nona bisa duluan saja." sahut salah satu dari keenam karyawan tersebut yang langsung mendapat anggukan kepala oleh rekannya yang lain.
Dena meendesah panjang. Ia langsung menarik karyawan yang sebelumnya berdiri di sampingnya. "Ayo semuanya, masuk! Nanti keburu listrik padam." gurau Dena mencoba memecahkan suasana.
"Haaa? B-baik, Nona." mereka semua yang berada di luar lift langsung berjalan cepat masuk ke dalam. Sekali lagi Dena hanya menggelengkan kepala saat mereka semua memilih berdiri di belakangnya, sedangkan dirinya berdiri sendirian di depan.
Ting
"Kami permisi, Nona. Sampai jumpa."
"Oke, Kak." jawab Dena dengan mengunjukkan jari tangannya yang membentuk huruf O.
Dena langsung keluar begitu liftnya sudah sampai di lantai atas. Gadis itu segera memasuki ruangan papanya kemudian meletakkan paparr bag itu di atas meja lalu dirinya langsung selonjoran di sofa panjang sembari menunggu kedatangan sang papa.
Sekitar sepuluh menit Dena menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Namun, Dena tidak berani bangkit saat mendengar percakapan papanya bersama dengan Steve, sekretaris sang papa.
"Bagaimana bisa mereka membatalkan kontraknya!"
"Maaf, Tuan. Ini sungguh di luar dugaan saya. Ini terlalu mendadak."
Tak
Bunyi suara berkas dilemparkan di atas meja. Dena menggigit bibir bawahnya takut, apakah kedatangannya tidak tepat dengan kondisi yang sekarang?
"Saya pikir, Tuan Williams hanya ingin memanas-manasi anda, Tuan." tebak Steve mencoba menenangkan hati bosnya.
"Ya, dia ingin bermain-main denganku rupanya. Persiapkan segalanya, Steve. Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Kita akan merebut kembali apa yang seharusnya kita miliki."
"Baik, Tuan."
Tring
__ADS_1
Wira yang tengah mencoba mengontrol emosinya langsung merogoh saku jasnya di bagian dalam saat sebuah pesan terkirim di ponselnya.
"Dena ada di sini?" lirih Wira yang wajahnya langsung berubah seketika.
"Ada apa, Tuan?" tanya Steve penasaran.
"Kata resepsionis, sekitar 15 menit yang lalu Dena datang ke sini?"
"Ini gawat, Tuan." lirih Steve masih terdengar.
"Ya. Sebaiknya kau langsung pergi."
"Saya akan pergi sekarang, Tuan."
"Ya."
Suara derap langkah kaki Steve terdengar di telinga Dena sampai suara itu benar-benar hilang lalu disusul dengan suara derap langkah khas papanya.
Dena segera membuka ponselnya dan membuka aplikasi sosial medianya saat suara langkah kaki papanya makin mendekatinya.
"Sayang..." suara itu begitu lembut, mendayu di kedua telinga Dena. Gadis itu langsung mengubah ekspresinya berpura-pura kaget.
Dena langsung mengubah posisinya menjadi duduk. "Papa udah selesai meetingnya?" tanya Dena mengambil tangan papanya dan mencium punggung tangan Wira.
"Iya. Kapan sampainya?" tanya Wira ikut duduk di samping Dena lalu mengelus kepala gadis itu lembut. Pria itu berharap kalau pembicaraannya jangan sampai terdengar ke putrinya. Ini adalah kali pertamanya ia benar-benar emosi.
"Udah dari tadi. Papa udah makan?" Dena mencoba untuk memenangkan hati papanya yang mungkin kini masih ada gejolak amarah.
"Belum. Eh! Kamu, kok udah pulang?" sentak Wira baru tersadar.
"Jangan mikir yang enggak-enggak. Hari ini guru ada rapat di sekolah. Jadi, pulang lebih awal."
"Papa kenapa?" tanya Dena khawatir. Tangannya reflek memegang kening Wira untuk mengecek suhu tubuh papanya.
"Gak papa, papa cuma ngantuk aja." balas Wira.
"Pulang aja mau gak? Biar papa istirahat di rumah." saran Dena ikut merasakan keletihan sang papa.
"Oh iya, Dena ada bawa makanan buat papa. Mau gak?" tawar Dena.
Mendengar itu membuat Wira cepat bangkit dan duduk tegak. "Siapa yang masak?"
Dena langsung menyengir begitu saja. "Hehe, bibik. Dena gak sempet masak tadi. Males juga mau ke dapur." jawab Dena dengan jujur.
"Anak gadis kok males." cibir Wira mengejek sang putri.
"Gak papa. Nanti aja baru rajin-rajin." gadis itu langsung membuka paper bag nya dan mengeluarkan renteng makanan tersebut.
"Biar papa tambah semangat kerja. Aaaakkk dulu..." Dena menyodorkan satu suapan sendok ke arah papanya. Wira langsung membuka mulutnya dan melahap makanan tersebut.
"Sayang, papa punya kenalan wanita. Kamu mau ketemu gak? Kali aja nanti suka pas pertama kali ketemu." seru Wira yang langsung membuat Dena tersedak liurnya sendiri. Wira juga reflek mengelus bahu putrinya.
"Uhukk uhukk... papa ngomong apa?" tanya Dena benar-benar terkejut.
"Papa ngajak kamu ketemu sama seorang wanita kenalan papa. Mau gak?"
Sebenarnya Dena mendengar perkataan sang papa dari awal. Tapi, kenapa ada secercah hatinya yang merasakan tidak rela. Padahal ini kan yang ia inginkan? Waktu lalu, Dena pernah meminta kepada papanya untuk mencarikannya wanita sebagai calon mamanya. Tapi, setelah papanya berhasil menemukan wanita itu, kenapa Dena seakan tidak rela? Ini kan yang ia mau?
"Kapan?" tanya Dena berusaha menutupi kekecewaan hatinya.
__ADS_1
"Siang ini." jawab Wira membuat Dena tersentak kaget. Siang ini? Bukankah artinya sekarang? Tapi, kapan? Bukankah ini juga sudah masuk ke waktu siang?
Tepat saat itu juga terdengar pintu ruangan diketuk. Dena langsung memandang papanya dengan raut wajah seribu pertanyaan.
Masuklah Steve sendirian ke dalam ruangan Wira. "Tuan, sudah tiba."
Wira menganggukkan kepalanya. "Suruh masuk." pinta Wira. Dena hanya memandang sang papa dengan penasaran. Sungguh, ia benar-benar penasaran. Jantungnya berdetak cepat, entahlah, Dena tidak tau itu. Akankah ini sebuah perlawanan dari hatinya sehingga jantungnya berdetak cepat?
"Baik, Tuan." selepas kepergian Steve, tampaklah seorang wanita dewasa yang baru saja masuk setelah Steve menyuruhnya masuk.
Dena yang mendengar suara derap langkah heels pun langsung menoleh. Dilihatnya seorang wanita dewasa berpenampilan anggun, cantik, berkelas, tengah berjalan ke arahnya.
"Hai."
"Silahkan duduk." tutur Wira mempersilahkan wanita itu duduk di hadapannya.
"Ini anak kamu? Wahh! Sangat cantik. Persis seperti mamanya."
Mendengar itu membuat hati Dena memanas. Ia masih bungkam, melihat papanya dengan raut yang entahlah ia sendiri tidak yakin itu seperti apa.
"Sayang, kenalin ini Tante Jihan. Dan Jihan, ini kenalin putriku yang sudah aku ceritakan." seru Wira memecah keheningan.
"Salam kenal, Sayang. Kamu cantik."
Dena langsung tersenyum terpaksa. "Makasih." sungguh, Dena berada di lingkaran kecanggungan yang benar-benar dahsyat.
Jihan melirik Wira untuk meminta penjelasan akan ekspresi Dena yang sulit dijelaskan.
"Gak apa-apa. Wajar ini pertama kalinya." bisik Wira.
"Ah ya, kalian lagi makan siang? Maaf, menganggu."
"Gak papa, Jihan. Ini juga baru permulaan. Kamu bisa ikut gabung kalau mau."
"Wahh! Boleh banget. Sayang, Tante boleh ikut gabung?" tanya Jihan meminta persetujuan dari Dena.
"Pa." potong Dena cepat.
Wira langsung melihat putrinya dengan raut bingung. "Kenapa, hm?"
"Dena mau ke toilet."
"Silahkan."
Namun, langkah kaki Dena bukan berjalan ke arah toilet di ruangan papanya. Namun, malah berjalan ke arah pintu.
"Sayang, kenapa di sana? Di sini juga ad toilet."
"Dena mau cari angin, Pa." teriak Dena langsung berlari keluar sambil menahan dadanya yang bergemuruh hebat.
"Mas--" ucap Jihan terpotong.
"Mungkin Dena perlu waktu." balas Wira menatap kosong ke arah pintu. Apakah keputusannya sekarang sudah tepat? Bukankah ini permintaan putrinya? Tapi, kenapa Wira merasa biasa-biasa saja saat berdekatan dengan Jihan? Wanita yang pernah ia tolong saat akan dijambret waktu lalu.
.
.
.
__ADS_1
ah, Dena aja keknya ga yakin. Apalagi para readers ya🤣aku juga ga yakin sebenrnya. Kasian si dena🤧🤧