
Tringggg
Dua jam berlalu, semua siswa-siswi mengumpulkan kertas lembar jawabannya begitu juga dengan lembar soal. Sebagian dari mereka menebak alias silang cantik karena tidak bisa menjawab soal tersebut.
Alhasil saat pengawas keluar, semuanya mengobrak-abrik isi tas mereka dan membuka buku catatannya tadi.
"Ah, gila! Gue salah nomor dua puluh dua, ***!" ujar salah satu dari mereka sangat menyayangkan.
"Coba aja gue jawab itu tadi. Gara-gara lo sih pake ngasih jawaban yang salah." ucapnya saling menyalahkan.
"Eh! Kok gua? Salah siapa nyontek? Kan gue cuman ngasih tau bukan nyuruh elo ngejawab itu."
"Udah, udah. Kalian tuh gak usah saling salah menyalah, yang lalu biarlah berlalu. Makanya belajar!"
Dena yang menyimak hanya menggelengkan kepalanya.
"Si Dena pelit banget. Orang kursinya udah gue goyangin eh malah gak noleh ke belakang." seru teman cowok Dena yang duduk di bangku belakangnya.
Dena menjulurkan lidahnya mengejek. "Wlek, jawab sendiri isi sendiri. Makanya belajar woy, jangan pacaran mulu. Gitu kan akibatnya?"
"Tau ah! Pelit banget Dena."
"Biarin!" jawab Dena sembari menatap mengejek.
"Dena, mau ikut ke kantin gak?"
"Sorry, kalian duluan aja. Eh, boleh nitip gak?"
"Nitip apa?" tanya mereka.
"Golda coffee satu." jawab Dena.
"Itu aja? Duit duit, ongkirnya ada loh yah?" rayu temannya sembari mengerling.
Dena yang paham langsung mengeluarkan uang lembaran sepuluh ribuan. "Sisanya cukup kan?"
"Sip, tunggu ya." ujarnya girang lalu berlari keluar kelas.
"Ck! Dasar." cibik Dena menahan tawa.
Selanjutnya ia melanjutkan membaca ulang materi mata pelajaran selanjutnya. Tidak sampai sepuluh menit, minuman pesanan Dena tadi sampai berserta suara cempreng temennya.
__ADS_1
"Dena, yuhuuuu. Kopi pesanan lo sampe nih!" ujar Lena memberikan sebotol minuman Golda coffe.
"Thank's ya."
"Makasih juga. Kalau gitu gue keluar lagi, bye."
Sekali lagi gadis itu dibuat menggeleng.
Sisa waktu istirahat masih banyak sekitar 25 menitan. Dena larut dalam kesibukannya sendiri, mengabaikan suara berisik di ruangan itu.
Bugh
"Akhh... sakit! Lo gila ya?"
Atensi Dena teralihkan, ia menatap ke depan.
"Sorry, gak sengaja bro. Lagian lo sih jahil banget. Mana buku catatan gue tadi?"
"Mwehehehe, sorry bro. Tadi udah gue kasih makan ikan di kolam renang."
"Gila!" umpatnya yang langsung menyergap temnanya itu dengan cara kepalanya ia apit menggunakan ketiaknya.
"Buku catatan gue mana dulu? Kalo enggak lo kasih gak bakalan gue lepasin." ancamnya.
"Iya, iya, lepasin dulu lah. Beneran nanti gue kasihin kalo lo ngelepasin gue sekarang."
"Awas boong!" Arya melepaskan apitan kepala temannya.
Dena menyimak dari bangkunya. Melihat perdebatan dua orang di ambang pintu kelas.
"Anjayyyy, aku bohong. Hahahaaaa..." tawa Deri meledak, ia bersiap-siap menghindar amukan temannya itu.
"Pulang sekolah awas lo!" Arya mengeluarkan aura dinginnya yang seketika membuat Deri memegang tengkuknya merinding.
"Hehehe, becanda bro. Buku catatan lo ada tuh di tas."
Arya menatap ragu akan ucapan temannya.
"Beneran. Coba cek aja."
Dengan ragu Arya melangkah menuju tempat duduknya.
__ADS_1
"Misi, Kak. Mau ambil tas." ujarnya membuat Dena berdiri lalu keluar dari bangkunya.
"Gak ada woy. Lo boong! Cari mati ya!" ujar Arya ketus sembari mengobrak-abrik isi tasnya dan tidak menemukan buku catatannya.
"Bentar, bentar. Tadi perasaan gue taroh di dalam tas lo deh... aha! Hehe, itu..." ucap Deri memberi tahu dengan kode menunjuk tas di samping Arya dengan dagunya.
"Parah! Lo ambil gak?!"
"Eh! Anu... gue kebelet, Ar. Gue tinggal bentar ke toilet ya?" Deri langsung keluar tanpa persetujuan dari Arya. Ia menghindar amukan temannya yang sudah dipastikan nantinya akan berbuntut panjang.
Arya menekan sabar, padahal ia mau belajar mengulang materi. Dengan terpaksa ia meminta kakak kelasnya itu untuk mengambilkan buku catatannya.
"Bisa minta tolong?" tanya Arya.
Dena celingukan, karena mendapati hanya dirinya yang berdekatan dengan adik kelasnya.
"Haa? Gue?"
"Iya."
"Minta tolong apa?" tanya Dena sopan.
"Tolong ambilin buku cacatan gue di dalam tas."
"Haa? Buku catatan? Di dalam tas? Tas gue maksdunya?" beo Dena menunjuk dirinya.
Sekali lagi Arya hanya mengangguk.
"Kok bisa sih di dalam tas gue? Perasaan gue gak masukin apa-apa deh." gumamnya mendumel tapi tetap mencari buku yang dimaksud Arya di dalam tasnya.
"Ini bukan?" Dena mengunjukkan sebuah buku tulis.
"Iya, itu."
"Owh."
Sebenarnya gadis itu masih dalam posisi kebingungan. Bagaimana bisa buku catatan adik kelasnya sampai masuk ke dalam tas miliknya? Apa ia kurang sadar, ah entahlah. Memikirkannya sudah membuat kepala Dena pusing seketika.
Dalam satu hari ada dua mata pelajaran. Jadi, membutuhkan waktu sekitar satu minggu lebih untuk menyelesaikan ujian akhir semester.
Sepulang sekolah ia dijemput oleh supir biasanya yaitu Pak Haryo, lalu langsung pulang ke rumah tanpa mampir ke mana pun.
__ADS_1