
Plakk
"Aww, sakit, Wi. Kok lo mukul gue sih?" keluh Fairel saat saat Dewi memukulnya.
"Lo gila. Mana ada gajah terbang."
"Lo yang gila. Udah tau gajah gak bisa terbang tapi kenapa lo masih percaya?" balas Fairel tidak mau kalah. Keduanya saling menatap sengit dengan gobaran mata yang memancarkan aura permusuhan.
"Stop stop stop." lerai Risty sambil memisahkan keduanya.
"Ckckck! Berantem aja terus, berantem aja kalian. Gue pulang aja." sahut Dena sembari bergerak menjauh.
"Mau ke mana sih?" tanya Fairel yang langsung menarik tangan Dena.
Yang dipegang malah terlihat salting. Jantungnya dag dig dug tidak karuan. Dena menatap lama tangannya yang digenggaman.
Aih. Kok gue jadi deg degan gini ya? Batin gadis itu berusaha menormalkan detak jantungnya.
"Sorry! Lo udah mau pulang? Di sini aja dulu." ujar Fairel lalu melepaskan tangannya.
"Kalian berantem mulu. Gue dicuekin."
"Eh! Maaf kalo gitu, beb. Ayok lah kita main lagi." seru Anna mendekati Dena.
"Naik yuk! Gue kedinginan nih." adu Risty yang sudah menggigil kedinginan.
"Iya sih. Lagian kita juga udah lama di sini. Yaudah, yuk naik!" lanjut Rafael.
Karena sudah lama berendam dan juga tidak tega melihat Risty kedinginan, akhirnya mereka memutuskan untuk naik.
"Ri, lo kedinginan ya?" tanya Dicky.
"Emangnya lo gak liat gue udah ngigil gini. Sok-sokan mau tanya lagi." balas Risty sensi.
"Lah... kok ngegas sih? Kan gue cuman mau tanya sekalian nawarin."
"Nawarin apaan dah?" tanya Risty sedikit penasaran.
"Lo kan kedinginan. Kali aja butuh kehangatan. Mau dipeluk gak?"
__ADS_1
Plakk
"Adohhh!!! Sakit kali, Ri. Lo mah gitu." Dicky mengusap-usap lengannya yang terlihat memerah karena ulah Risty.
"Salah sendiri. Dah ah. Pulang aja dari pada kedinginan gini."
"Na, pulang ke rumah gue dulu aja. Kalo mau ke rumah Kakek kelamaan. Keburu lo jadi mayat." kata Dewi yang kebetulan rumahnya lebih dekat dari sungai.
"Yang cowok pulang ke rumah masing-masing aja. Kalo mau main lagi abis itu temuin kita di rumah Dewi." seru Anna memberi saran.
"Huumm.. iya deh. Pulang ke rumah masing-masing aja dulu. Abis itu baru ke rumah Dewi."
Fairel menunduk untuk mengambil bajunya yang ia simpan di bebatuan kering. Pemuda itu hanya bertelanjang da da. Ia berjalan sedikit mendekati Dena.
"Pinjem gak?" tanya pemuda itu seraya menyodorkan bajunya.
"Nggak deh, Rel. Lagian tanggung juga."
"Jangan kebanyakan ngobrol. Nanti kelamaan keburu jadi mayat kalian." tegur Risty yang sudah berjalan duluan.
"Eh! Lo... Ri. Jangan cepet-cepet napa jalannya. Tungguin!" ucap Anna lalu menarik tangan Dena dan Dewi.
"Sabar, An. Pelan-pelan, nanti kita ngunsep di sungai lagi."
Mereka meninggalkan para cowok yang masih berdiri mematung di tempatnya. Membuat para cowok hanya menggelengkan kepalanya.
.
.
.
Sementara Dena meminjam pakaian Dewi lalu Risty dan Anna kembali ke rumahnya masing-masing karena rumah mereka terletak tidak jauh dari rumah Dewi.
Dena dan Dewi berjalan berdua menuju rumah Anna. Berniat untuk menjemputnya temannya itu. Setelah menjemput Anna, baru mereka ke rumah Risty.
"Eh! Kalian. Masuk masuk." ujar Risty mempersilahkan.
"Makasih, Ri. " balas Dena.
__ADS_1
Dewi dan Anna sudah masuk terlebih dahulu, baru disusul Dena paling akhir. Baru saja ia menginjakkan kakinya masuk ke dalam eh tiba-tiba Rafael datang dengan grasak-grusuk berlarian. Nafasnya ngos-ngosan.
"Kenapa, Raf?" tanya Dena bingung.
"Huhhhh... hhhhhh... ituuhhh.."
"Bicara yang bener napa sih." sentak Dena.
"Dewi, Risty, sama Anna mana??"
"Ada di dalam. Kenapa sih emangnya?"
"Mending kalian ikut gue dah." ujar Rafael yang sudah menormalkan deru nafasnya.
Mendengar suara ribut-ribut di luar membuat Dewi dan yang lainnya keluar dengan wajah penuh tanya. Mereka menatap heran wajah Rafael yang penuh dengan keringat.
"Napa, Raf?" tanya Dewi.
"Fairel sama Dicky."
"Kenapa dengan mereka?" pekik Anna membuat semuanya terkaget.
"Hehe. Sorry, sorry. Gak sengaja." ucap Anna hanya menyengir saat ditatap oleh teman-temannya.
"Mereka beramtem sama anak kampung sebelah di lapangan bola."
"Serius??"
"Iya. Gue serius, Na. Makanya gue dateng ke sini. Capek tau. Gue kira lo pada di rumah Dewi. Jadi bolak-balik gue."
"Tadi abis di rumah Dewi kita langsung ke rumah Anna."
"Pantesan. Eh! Cepetan. Nanti mereka tambah parah berantemnya. Mana main tonjok-tonjokan." cerita Rafael.
"Udah tau tonjok-tonjokan, trus kenapa gak lo lerai aja sih. Eh, malah ke sini nyuruh kita-kita ke sana."
"Gue kan takut kalo udah liat yang begituan. Tau kan gue gak terlalu suka sama yang namanya kekerasan. Lama! Cepetan ikut gue!" titah Rafael lalu langsung berlari meninggalkan mereka.
Para cewek hanya terbengong, termasuk Dena. Tidak ingin membuat pertengkaran semakin parah mereka langsung mengejar Rafael.
__ADS_1
"Di mana, Wi?" tanya Dena di sela-sela berlari.
"Lapangan bola. Ikutin aja." balas Dewi menuntun Dena. Sementara Anna dan Risty hanya mengikuti karena mereka sudah tau tempatnya.