
"Bun, pah, mah, Ai pergi dulu ya, mau ngantar Septi sama berangkat ke kampus," kata Aira.
"Kenapa gak sama Vano aja?" tanya Bu Salma.
"Tak usah mamah takut lama ," kata Aira.
"Iya, hati-hati di jalan," kata Bunda Mita.
Aira pun berangkat bersama Septi.
"Nak Vano harus bersabar menghadapi Aira, dia memang ada bar-bar tapi sebenarnya dia penurut kok," kata Bunda Mita.
"Iya Tan," kata Vano.
"Jangan panggil Tante panggil saja bunda," kata Bunda Mita.
*****
Jauh di pinggir desa, gadis kecil yang berumur 1 tahun lebih mennagis karena minta jajan.
" Sudah aku katakan tak ada uang, masih aja menangis mencari uang," kata ibu anak itu marah.
Tapi anak itu tetap menangis.
"Sudah lah Dahlia," kata Bu Denia.
"Gimana gak cape Bu, di sini kita cuma bersembunyi 2 tahun sudah kita tak pernah keluar dari desa terpencil ini," kata Dahlia.
"Iya lah sudah 2 tahun kita berada disini, gimana kalau besok kita pergi ke luar dari persembunyian kita," kata Bu Denia.
"Ide bagus mamah, di sini pikiran ku buntu," kata Dahlia.
****"
Di kampus ternama di Palangkaraya , dua gadis sedang berbincang seru tanpa melihat arah jalan yang berlawanan.
"Aku tak menyangka akhirnya kau berjodoh juga dengan Dosen kiler yang kau benci ," kata Septi.
" Gak tau juga," kata Aira.
"Ya sudah yo masuk udah, mau telat dan di hukum ?" tanya Septi.
"Ugah, seandainya bisa aku mau bolos aja hari ini," kata Aira.
"Ko kamu jadi pemalas Ai," kata Septi.
"Kamu mau gak ikut aku ke cafe Bunda," kata Aira.
"Boleh tu, kalau di ajak makan Septi berambisi karena itu dia mudah tergoda kalau Aira ini itu, karena keadaan yang membuat nya tak bisa menikmati makan yang mewah, andai tak ada Aira dia tak akan pernah merasakan makan restoran , Kafe dan sebagainya, bahkan baju nya di kasih Aira dan Anaya saja, tapi masih layak pakai dan bagus.
Mereka berdua pun membelok dan menuju parkiran, sesampai di parkiran mereka berdua pun berangkat ke kafe bunda Aira.
"***Malas aja ketemu wajah ketus tu," batin Aira.
******
__ADS_1
Di dalam ruang seorang dosen masuk ke ruang dengan wajah dingin dan kaku, dia pun melihat satu persatu anak didik nya, mata melihat 2 bangku kosong di depannya, bangku Aira dan teman nya.
"Kemana kedua gadis itu, apa mereka berdua terlambat, awas saja aku tak segan-segan menghukum mereka berdua," batin Devano.
30 menit berlalu tak ada tanda dua gadis itu masuk dalam kelas, dan satu jam telah berlalu kedua gadis itu benar tak masuk jam menteri nya.
"Awas kau akan aku hukum nanti," batin Devano.
@@@@@
Di kafe yang mewah kedua gadis sedang Santai di ruang milik bunda nya, karena Aira tau bunda nya tak akan kesini kalau gak ada keperluan, paling Tante Hesti itu pun hari Senin, Rabu saja berkunjung kesini.
Telpon genggam nya berbunyi tanda ada telpon masuk. tertera no bundanya, kenapa bunda menelpon ," batin Aira.
"halo Bun," kata Aira.
"Kamu di mana Ai, Vano bilang kamu gak ada di kampus?" tanya Bunda.
"Ai di Kelinik Bu gak enak badan," kata Aira berbohong.
"Apa nanti bunda suruh Vano ke situ," kata Bunda kewatir.
"Gak usah bunda," kata Aira. maafkan Aira berbohong bunda ," batin Aira.
"Yasudah bunda mau nelpon Vano dulu," kata Bunda.
"Ai sama Septi mau pulang juga Bun," kata Aira.
"Iya hati-hati di jalan," kata Bunda.
"Huff, ternyata cape juga berbohong," kata Aira.
"Non Ai, ada orang mencari nona di luar ," kata Lisa orang kepercayaan bundanya Aira.
"Siapa Bi,?" tanya Ai.
"Bibi gak tau juga non, karena baru liat," kata Bi lisa.
"Iya bi, suruh tunggu sebentar," kata Aira.
"Iya non," kata Bibi Lisa.
" Sep, aku keluar dulu nemuin tamu yang mau ketemu sama aku," kata Aira .
"Iya silakan ," kata Septi.
"Dari jauh Aira tak dapat melihat wajah lelaki itu, tapi bentuk tubuhnya seperti Aira kenal.
Dia pun semakin dekat dan berjinjit melonjak karena di hadapan nya sekarang Devano.
"Bagus ya bilang ke orang tua ke klinik, taunya kesini," kata Devano pedas.
"Apa ada masalah aku kesini ini kan milik orang tua ku," kata Aira.
"Benar, tapi tidak dengan cara membohongi orang tua dan tak masuk di kampus," kata Devano.
__ADS_1
"Apa perduli mu," kata Aira.
"Pasti ada, aku tak mau calon istri ku membuat nama ku jelek di mata umum," kata Devano tegas.
"Kenapa gak di batalin aja," kata Aira.
"Apa kau bisa membatalkan pernikahan ini?" tanya Devano.
"Ndak karena aku ingin balas Budi karena ini permintaan bunda, meski aku tersakiti," kata Aira.
"Itu juga aku menerima ini semua balas Budi, tapi jangan harap aku mencintaimu, karena di hati ku tak ada cinta," kata Devano.
"Kamu kira aku mencintaimu tak akan, karena semua laki-laki sama saja di kala istrinya menua pasti dia akan berbagi cinta dengan orang lain," kata Aira pedas.
"Tak semua," kata Devano.
"Tapi bagi aku sama, kau tak ada pembicaraan, silakan anda pulang," kata Aira.
Devano merasa terusir andai saja dia tak ingat pesan Mamahnya untuk mengajak Aira melihat cincin pernikahan mereka maka dia tak akan mau***.
"Aku kesini karena di suruh mamah untuk mengajak mu melihat cincin," kata Devano tegas.
"Aku gak mau, kamu saja cari sendiri," kata Aira.
"Kalau gak mau aku akan mengatakan ke bunda kalau kau berbohong dan tak mau ikut dengan ku," kata Devano.
"Kamu picik," kata Aira.
"Cepat aku tak mau waktu berharga aku terbuang," kata Devano.
"Nanti dulu, aku mau pamit sama teman ku dulu," kata Aira.
"Silakan tapi jangan lama -lama," kata Devano.
Aira pun kelantai atas dan menuju kamar bundanya , menyambar tas dan mengatakan kepada Septi dia akan pergi dengan Devano kesuatu tempat, dia pun memberikan kunci motor nya kepada sahabatnya.
"Jemput aku besok," kata Aira.
" Oke kata Septi.
Aira pun kelantai bawah dan mendatangi Devano .
"Kenapa lama, sayang waktu," kata Devano.
"Dasar lelaki tak punya hati menyebalkan," gerutuk Aira.
"Apa yang kau katakan?" tanya Devano.
"Gak ada," kata Aira.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Aira dan Devano menuju ketoko emas lenganan bunda Aira.
Di parkiran, Rian melihat Aira, air matanya pun turun menderas, tapi tak berani mendekat karena dia tau Aira keras kepala seperti nya.
"Kamu sudah besar nak, sekarang kau ada kekasih di samping mu," batin Rian dan beranjak pergi, karena dia harus mencari botol bekas buat di jual demi kelangsungan hidupnya.
__ADS_1
Di bilang menyesal, iya Rian menyesal karena harus meninggalkan anak dan Istrinya demi seorang wanita yang tak mau menerima dalam keadaan susah.
Jangan lupa komentarnya dan Like nya supaya Author semangat nulisnya.