
"Sekarang aku menyadari *bahwa aku benar -benar kena karmanya, andai aku bisa memilih aku ingin meminta maaf kepada Mita, tapi itu tak mungkin karena semua sudah menjadi penyesalan.
waktu itu aku masak tumis kangkung dan ikan asin kesukaan ku dan Ariya, tak lupa sambal tomat.
Setelah semua makan masak dan siap di hidangkan aku pun mendatangi Ariya dan Vanya buat makan malam.
"Ar, makan malam dulu semua sudah siap," kata Bu Siska.
"Baik Bu," kata Ariya.
Vanya dan Ariya pun beriringan ke ruang makan buat makan malam.
"Wah masakan makan kesenangan aku," kata Ariya.
"Maaf mas ini makan tak ada gizinya," kata Vanya melempar ikan asin itu ke lantai dan dia pun ingin menumpahkan tumis kangkung itu,
"Apa-apaan kamu Vanya itu makan kesukaan aku," kata Ariya.
"Terserah aku tak mau, aku mau pesan aja makan mas harus bayar," kata Vanya.
"Mas gak punya uang Vanya," kata Ariya.
"Gak bisa mas aku mau makan enak bukan makan seperti ini," kata Vanya.
Bu Siska menangis dulu Mita tak pernah menuntut, dia makan apa yang ada dan tak pernah membuangnya, Tuhan ini kah balasan buat orang seperti aku yang durjana dan hina," batin Bu Siska.
"Bu ada uang, kalau ada pijam dulu," kata Ariya.
"Tapi yang Ibu buat makan besok aja Ar," kata Ibu.
"Nanti aku ganti kalau udah gajihan Bu ," kata Ariya .
"Iya ini 50 ribu ," kata Bu Siska.
"Sini mas uang nya, ini cukup buat nasi goreng aja," kata Vanya.
" Vanya yang aku kira anak orang kaya dulu ternyata anak dari sopir rumah mewah itu.
"Sungguh miris hidup ku tersiksanya dan di bohongi.
"Bu, besok Zia tinggal sama Ibu, aku ada tugas besok ke balik papan survei," kata Vanya waktu itu.
"Iya Vanya," jawab ku.
"Bu emang uang belanja sekarang udah habis sekarang kita cuma makan ini aja," kata Ariya.
"Sebenarnya," kata Ibu terpotong.
"Kamu kan tau ibu mas suka ngumpul sama Genk sosialita nya ," kata Vanya.
"Aku liat ibu jarang keluar sekarang," kata Ariya.
"Iya jarang kalau kamu ada di rumah, kalau gak ada dia akan kesana kemari, semua urusan rumah aku yang urus," kata Vanya.
"Tuhan begini kah rasanya di fitnah," batin Bu Siska.
"Bu kenapa terus boros, kamu tau kan kita harus nabung ," kata Ariya.
"Aku cuma terdiam, ternyata begini anak marah kepada kita.
__ADS_1
"Aku pun masuk ke kamar dan menumpahkan segalanya di bantal, airmata aku mengalir deras andai dulu aku tak egois dan ikut campur sama urusan anak ku maka tak akan seperti ini.
"Andai dulu aku mencegah Ariya berbuat melampau batas, maka tak seperti ini jadi kehidupan ku.
Aku kecewa, marah dan sedih tapi buat apa ini semua kesalahan aku sendiri.
Fabecak off
Aku terkejut mendengar tangis Zia, dia pasti lapar karena dari tadi belum makan, Ibunya entah pergi kemana dari pagi tadi sampai sekarang belum pulang-pulang, kalau Ariya jangan di tanya setelah di pecat dia lari ke judi dan minuman.
"Sungguh sial nasib aku, tapi apa daya ini jalan takdir.
"Zia sayang cucu nenek lapar ya?" tanya aku.
"Apan ene," kata Zia yang belum terlalu jelas bicaranya.
"Udah sini nenek suapin ya," kata Bu Siska.
"Ya, ene" kata Zia.
"Aaa, ini di makan ," kata Bu Siska.
"Ene, aman, ana?" tanya Zia.
"Mamah mu tadi berangkat bekerja," kata Bu Siska.
"Oh," kata Zia.
"Zia bobo ya, habis makan ," kata Bu Siska.
"Iya Ne," kata Zia.
"Andai Zia terlahir di rahim Mita maka dia akan terawat," batin Bu Siska.
"Ibu, udah masak belum malam ini?" tanya Vanya.
" Udah ini," kata Bu Siska menujuk Ikan goreng 3 ekor, sayur bening, sambal tomat dan tempe goreng.
Vanya pun makan dengan lahap tanpa perduli Bu Siska dan Ariya belum makan.
Setelah selesai makan Vanya pun pergi ke kamar Ikan goreng sisa kepala dan dirinya aja, tempe Sisa 5 potong.
"Biar aku makan dengan kepala ikan aja , tempenya buat Ariya nanti," batin Bu Siska.
Dia makan berlauk kan Kepala ikan goreng, sayur bening dan sambal tomat terasi.
" Sungguh nikmat Tuhan, tak ada yang di dustakan, meski hati aku perih," batin Bu Siska.
"Bu, besok bangun nya pagi-pagi buat satrika baju dan lap sepatu ku besok aku bekerja," kata Vanya.
"Iya Vanya," kata Bu Siska.
Di lain tempat, Ariya kalah lagi judinya, uang nya sudah habis mobil udah tersanda kan.
"Gimana jika aku mencuri uang dan perhiasan Vanya," batin Ariya.
Dia pun pulang dengan sempoyongan.
39 menit berjalan kaki, akhirnya Ariya pun sampai.
__ADS_1
"Bu, buka pintunya," kata Ariya mengedit pintu.
Pintu pun di buka dari dalam, keluar lah Bu Siska dari dalam.
"Astaga Ariya kenapa kau seperti ini ?" tanya Bu Siska.
" Ini gara-gara ibu dan Vanya," kata Ariya.
"Kami kenapa ?" tanya Ibu.
"Kalian yang membuat kami dua Mita berpisah, hingga aku hancur seperti ini," kata Ariya sengit.
"Tabah nak, jangan seperti ini, kuat dan ingat ada Zia yang membutuhkan kamu," kata Bu Siska.
"Zia bukan anak ku tapi anak haram," kata Ariya.
"Ariya, jangan seperti itu, sebenci nya kamu kepada anak mu jangan kau anggap dia anak haram," kata Bu Siska.
"Dia bukan anak aku anak orang lain," kata Rian.
Bu Siska cuma diam.dia tak mau terus berdebat dengan anaknya yang mabuk.
Ariya pun masuk kamar nya dan tertidur.
@@@@
Pagi hari yang menyapa, Mita bangun pagi dengan keadaan kepala pusing dia pun mandi dan ingin kekamar Lisa buat Minta obat.
"Lisa, ada obat pusing?" tanya Mita.
"Mbak kenapa pucat," kata Lisa.
" Mbak pusing de," kata Mita.
"Gini aja Mbak periksa tekan darahnya dulu," kata Lisa.
"Iya De," kata Mita.
"Darah Mbak rendah sekali ini aku resep obat dan kakak di infus vitamin ya," kata Lisa.
"Terserah aja ," kata Mita.
Lisa pun memasang infus dan menyuntik Vitamin.
" De, apa janin nya bagus ?" tanya Mita.
"Bagus kok Mbak detak jantung nya," kata Lisa.
" Amin de, aku gak sabar ingin liat dia lahir kedunia," kata Mita.
"Aku juga Mbak,' kata Lisa.
"Bunda kenapa, Tan? tanya Aira.
Sekarang mereka memangil Rian dan Mita, Ayah dan Bunda itu permintaan Mita.
"Gak kenapa mah cuma kelelahan," kata Mita.
"Oh aku kira sakit," kata Aira* .
__ADS_1