Kau Akan Menyesal

Kau Akan Menyesal
Aku bersalah.


__ADS_3

" *Ternyata kau cuma mau uang ku saja, setelah aku jatuh miskin kau tinggalkan aku, dasar wanita tak tau diri kau," kata Rian.


" Mana ada wanita mau hidup dengan kesusahan mas, apalagi aku," kata Dahlia.


"Mita dulu selalu bersama ku, dan perusahaan ku tak sebesar ini dulu, da'i tak pernah mengeluh apalagi ini meninggal kan aku," kata Rian.


"Itu karena dia gadis bodoh, yang mau nemanin orang susah," kata Dahlia.


"Menyesal aku telah mendua kan Mita hanya demi kau," kata Rian.


"Kembali lah kepada wanita bodoh itu,' kata Dahlia.


" Tak semudah itu, karena aku sudah mematahkan hatinya," kata Rian.


"Kamu itu mas, bukan cari jalan buat rampas harta mu lagi malah, memikirkan istri mu yang tak berguna," kata Dahlia.


"Ehmmm apa masakan nya sudah selesai?" tanya Aira.


"Sebentar lagi," kata Dahlia.


" Apa kamu memasak atau tidur," kata Aira.


" Ya memasak lah, apa kamu gak lihat apa," kata Dahlia sengit.


"Eh delman kamu tu lelet amat ya memasaknya, ini sudah dua jam belum kelar juga masakan mu, coba kamu liat aku memasaknya ," akta Aira.


"Sudah bisa masak malah nyuruh orang lain," kata Dahlia.


"Karena status mu disini pembantu bukan nyonya," kata Aira.


"Cekatan juga kau memasak," kata Dahlia.


"Iyalah, karena bunda mengajar ku memasak dan membersihkan rumah, bukan mengajar kan menjadi pelakor," kata Aira pedas.


"Aira maaf kan Ayah bersalah kepada kalian dan bunda," batin Rian.


"Buat apa susah belajar memasak yang banyak orang jual ," kata Dahlia.


"Memasak sendiri adalah, makanya hegies dan sehat, mana bisa hemat bukan boros," kata Aira .


"Kalau suami mampu ya, boleh-boleh saja," kata Dahlia.


"Kamu ini delman, apakah yang dapat ambil Ayah ku dari mu?" tanya Aira.


"Cantik, enerjik yang bisa memuaskan Ayah mu di ranjang," kata Dahlia.


"Sungguh menjijikkan," kata Aira.


Makanan pun siap di atas meja dan Aira pun memanggil Tante, Ali dan Oma nya.


Setelah semua berkumpul di meja makan bersedia sudah Dahlia dan Ibunya menyedok nasi ke piring nya.


"Siapa menyuruh makan di meja makan ," kata Aira.


"Kami lah, karena lapar," kata Denia.


"Maaf kami tak mau satu meja dengan pelakor, kalian makan di dapur saja," kata Lisa santai.


"Apa di dapur," kata Dahlia.


" iya ," kata Lisa.


" Gak mau," kata Dahlia.


"Apa mau ku panggil Samsul," kata Aira.

__ADS_1


"Gak," kata Dahlia dan Denia bersamaan.


Mereka berdua pun beranjak dari meja makan dan ingin menuju dapur.


"Tunggu dulu," kata Aira.


"Apa lagi," kata Dahlia.


"Tinggalkan piring kalian di sini, kalian boleh makan setelah kami," kata Aira .


"Tapi kami udah lapar," kata Dahlia.


"Tak perduli," kata Aira.


Mereka berdua pun meletakkan piring nya di meja dan berlalu ke dapur.


"Kamu, ini makan buat kamu, kata Aira kepada Rian.


"Sekarang jangan menyebut aku Ayah sekali pun mereka enggan ," batin Rian.


30 menit berlalu, mereka semua pun selesai makan.


"Panggil kan pak Samsul dan teman-teman nya," kata Aira kepada Ayahnya.


"Iya," kata Rian.


" Ada apa non?" tanya Samsul.


"Kau makan lah, dan habis lah semua sisakan nasinya saja," kata Aira .


"Baik non," kata Samsul.


"Ingat sisakan nasinya saja ," kata Aira.


" Iya non," kata Samsul.


"Sudah non," kata Samsul.


"Good Sekarang kalian ke depan ," kata Aira.


"Baik non," kata Samsul.


"Dahlia, Dan Bibi Denia beresin tempat makan," kata Aira.


"Dahlia dan Denia pun cepat pergi ke meja makan buat ngambil makanan.


Tapi bukan makan yang di ambil tapi piring kosong, yang tersisa hanya nasi itu pun sedikit.


" Mamah aku gak mau seperti ini," kata Dahlia.


" Sabar lah, demi rumah dan perhiasan kita," kata Denia.


"Mas, kenapa tadi gak sisa buat kami," kata Dahlia.


"Mas juga di kasih sedikit" kata Rian berbohong.


" Itulah lah mas ajaran istri mu," kata Dahlia.


"Jangan terus merangut dan marah- marah cepat bersihkan meja makan," kata Aira.


"Kami semua pulang dan ingat aku kembali besok bila rumah tak bersih siap -siap angkat kaki," kata Aira.


Aira dan keluarga nya pun menuju mobil, Lisa, Oma dan Aira satu mobil.


"Ali sendiri membawakan mobil Dahlia.

__ADS_1


" Aku ingin beristirahat mas, kamu aja yang kerja ini semua," kata Dahlia.


"Tapi mas belum mengerjakan kolam renang de," kata Rian.


"Biarin besok ," kata Dahlia dan berlalu beranjak pergi.


"Mas," teriak Dahlia.


"Ada apa lagi de?" tanya Rian.


"Kenapa kamar kita, kamar Ibu dan kamar tamu di kunci semua," kata Dahlia.


" Mana aku tau," kata Rian.


"Maaf Non Aira berpesan kalian tidur di kamar pembantu," kata Samsul.


"Apa, kamu juga ngapain masih disini?" tanya Dahlia.


"Aku mengawasi rumah ini," kata Pak Samsul.


"Benar-benar anak mu mas," kata Dahlia.


30 menit menempuh perjalanan akhirnya mereka pun sampai di rumah mereka yang itu istana mereka di mana ada ratu yang bertahta di dalamnya.


"Bunda Aira dan Al pulang ada kejutan," kata Aira.


" Ada apa Ai, kamu tu anak gadis," kata Mita dari dalam dapur.


"Bunda liat siapa yang datang," kata Aira.


"Mamah," kata Mita.


"Iya sayang, apa kabar mu?" tanya Oma Meli.


" Baik kok mamah," kata Mita.


"Mamah tau kamu dalam keadaan tak baik," kata Oma Meli.


"Aku harus gimana mamah," kata Mita.


"Kuat dan tabah lah ingatan banyak orang yang sayang kamu di sekeliling mu," kata Oma.


"Andai mas Rian jujur dari awal tak akan sesakit ini hati ku mah," kata Mita.


" tapi semua sudah terjadi sayang," kata Oma.


" Bunda besok harus ikut kerumah baru kita dan memberikan seorang pelajar ," kata Aira.


" Rumah baru, kenapa kalian tak bilang ke bunda beli rumah," kata Mita.


"Kalau di bilang pasti bunda melarang, jadi kami gak ngomong ke bunda," kata Al.


"Bun, di depan mobil siapa?" tanya Anaya yang baru datang dari rumah sahabatnya.


"Itu mobil Ali," kata Aira.


"Kamu beli mobil juga tak bilang bunda?" tanya Mita.


"Bukan gitu bunda," kata Ali.


"Apa kalian tak menghargai bunda lagi, apa kalian ingin meninggalkan kan bunda seperti Ayah kalian," kata Mita menetes kan Air mata.


" Bukan begitu bunda, Rumah itu rumah pelakor itu yang di belikan Ayah ke padanya, ternyata itu credit makanya kami lunasi dan kami ambil surat nya, begitu juga mobil nya," kata Aira.


"Bunda tak pernah mengajar kalian seperti itu," kata Mita sengit.

__ADS_1


"Benar Bunda, kami tak ingin orang lain menikmati harta kita, kalau anak yatim kami ikhlas, tapi jika yang menerima nya adalah orang yang membuat rumah tangga kita hancur kami tak rela," kata Aira*.


__ADS_2