
*Ainaya Andara Rian Wijaya, Putri dari pasangan Rian Wijaya dengan Mita Lukman Wiradana.
Anak cantik imut, ceria dan giat dia akan menjadi penghibur buat kakaknya dan juga musuh kakaknya, karena kejahilannya.
Aina adalah gadis kecil yang cerdas di umurnya belia dia sudah bisa meraih penghargaan bergambar Tk terbaik di antara TK Kalimantan tengah.
Dia kesayangan keluarga nya.
"Bun, udah ketemu adeknya? tanya Kanaya.
"Udah, ni," kata Mita.
"Ade kemana aja sic, kenapa gak bilang kakak mau jalan," kata Anaya.
"Gi ana Ade au ilang, kak,babang dan mbak lepot ," kata Aina.
"Tapi setidaknya bilang de," kata Anaya.
"Ade emang kebiasan dari dulu itu mah, hobi bangat bikin Bunda jantungan," kata Ali.
"Iya, Ade tu gak pernah mau kita antar atau mau bersama kita jalan, dia mau sendiri terus tapi gak tau di culik baru tau rasa," kata Aira.
"Mbak nyumpahin adek?" tanya Ali.
" Gak kok, sekarang ini jaman banyak penculikan Bang," kata Aira.
"Benar juga ya mbak," kata Ali.
"Ade dengar cakap kakak, kalau jalan jangan sendiri bisa bahaya," kata Anaya .
"Iya ka," kata Aina.
Setelah semua berkumpul, Bunda Mita dan Ayah Rian membawa mereka semua pulang kerumah.
2 jam telah berlalu sekarang mereka pun sampai di rumah.
"Mbak tolong cuci kaki dan ganti baju Ade ya, bunda mau bikin minum dulu," kata Bunda Mita.
"Oke bunda," kata Aira.
"Ka, ganti baju dan turun bantu mamah buat makan siang ," kata Bunda.
"Iya Bun," kata Anaya.
__ADS_1
"Bun, Ali mau kerumah Tante Risa dulu ya ada yang di tanya ," kata Ali.
"Silakan bang," kata Mita.
Ali pun berlalu dan pergi kerumah tantenya. sesampai di rumah dia pun mengetuk pintu.
"Tokkk, Tante," kata Ali.
"Ceklek, eh Den muda, ada apa de?" tanya Bi Mirah.
"Tante ada Bu?" tanya Ali.
"Ada Den, di halaman belakang bersama non Aurel dan Non Lia," kata Bi Mirah.
"Ya udah bi, aku kesana dulu," kata Ali.
"Silakan De," kata Bibi.
"Tante," kata Ali.
"Eh Ali ada apa ?" tanya Tante Rallisa.
"Tan, aku mau nanya ni seputar kedokteran tentang pelajaran biologi di sekolah," kata Ali.
"Oh gitu," kata Talisa.
"Lulen, aik babang," kata Lisa meniru suara bayi.
"Lia apa kabar?" tanya ?" tanya Ali.
"Aik, uga ka?" kata Lia.
Ali pun menanya semua pelajaran Seputra biologi ketantenya,1 jam telah berlalu dia pun pamit untuk pulang.
"Tan, Ali pulang dulu ya," kata Ali.
"Iya Al," kata Tantenya.
"Abang pulang dulu ya cantik dan Lia," kata Ali.
Di dalam rumah kekacauwan terjadi Pupur bertaburan di mana ulah siapa lagi kalau bukan si kecil Aina yang bandelnya minta ampun.
"Mah, baju mbak kotor semua, Ade nakal sekali," kata Aira.
__ADS_1
"Ade, astaga kenapa Pupur bertaburan semua di lantai?" tanya Mita lembut.
"cupaya antainya utih aya ulit atau," kata Aina.
"Aina sayang ini lantai udah warnanya merah hati," kata Bunda Mita.
"Atu kan mau dia utih, unda," kata Aina bersikeras.
"Aina sayang warna tak akan berubah sayang, Kulit Aina kan putih, mana mungkin jadi merah kan begitu juga lantai ," kata Mita menjelas ke anaknya dengan lemah lembut.
"Api, apa ambak dak ilang ke Ina, Unda?" tanya Aina.
"Mbak mu kan lupa, yaudah kita makan yu," kata Bunda Mita.
"Ayo," kata Aina.
Ada perasan hangat di hati Mita setelah dia bisa membujuk anaknya buat berhenti bermain, meski si bungsu terkenal nakal dan cerewet tapi dia tetap tahluk di tangan bundanya.
"Apa liat-liat?" Aira.
"Bak, angan malah ya, Ina ita aaf ya Nak," kata Aina.
"Tak semudah itu, liat baju mbak 2 kali ganti," kata Aira.
"Apa lah Mbak ni, kena Pupur aja marah," kata Anaya.
"Kamu gak tau apa baju aku yang kena Pupur itu hadiah dari bunda aku ulang tahun ke 14tahun tau gak ," kata Aira.
"Tapi gak robek atau hilang juga kan mbak," kata Anaya.
"Memang gak hilang atau robek, tapi mbak mau memakainya," kata Aira.
"Tapi kan mbak bisa besok lagi," kata Anaya .
"Sudah kenapa ribut-ribut," kata Mita.
"Kakak dulu Bun," kata Aira.
"Mana ada Mbak yang dulu ngomel," kata Anaya.
"Sudah-sudah, Anaya Minta maaf ke mbak mu, dan Aira lekas beri contoh yang baik buat ade-Ade Muh, Bunda pernah mengajar kalian buat bertengkar gak adakan ," kata Mita.
"Maaf bunda," kata Mereka serempak.
__ADS_1
"Kalian ada lah sama tak ada yang bunda bedaain, dan Aina gak boleh nakal kepada Mbak dan kakak mu, harus nurut bukan membakang," kata Mita.
"Iya Bun," kata Aina*.