
"*Udah Jagan marah -marah terus nanti darah tinggi," canda Lisa.
"Gimana gak marah punya perawat ke gajenan," kata Herman.
"Ya sudah ini makan dulu, nanti keburu dingin," kata Lisa.
Lisa bukan tak bisa melawan tapi dia tak ingin mengangu kenyamanan pasien.
"kamu masak banyak bangat sayang," kata Herman.
"Sengaja sepesial bangat bagi kamu," kata Lisa.
"Sekarang kamu banyak kalem dari bar-bar nya," kata Herman.
"Aku kan udah punya pacar masa aku masih bar-bar ," kata Lisa.
"Sayang kamu cantik bangat seperti ini, tapi aku rindu kamu yang dulu," kata Herman.
"Apa kamu mau kita terus bertengkar ," kata Lisa.
"Gak lah, kalau aku bertengkar dengan mu aku jadi uring-uringan ," kata Herman.
"Makanya kita berdua yang sekarang lebih aman dan tentram," kata Lisa.
"Yang ini yang masak kamu semua?" tanya Herman.
"Iya, siapa lagi, Mbak Mita gak kuat masak lihat bumbu dapur aja muntah," kata Lisa.
"Apa Mbak Mita hamil sayang," kata Herman.
"Iya yang 2 bulan ," kata Lisa.
"Punya kita dua kapan yang," kata Herman.
"Tunggu bulan dua di langit," kata Lisa
"Bisa mati aku menunggu nya ," kata Herman.
"Yang Ka Hesti gak pernah hamil ya?" tanya Lisa.
"Pernah dulu, 8 bulan kandungan nya anak meninggal dalam perut terpaksa aja di operasi," kata Herman.
"Oh begitu," kata Lisa.
"Sampai sekarang mbak Hesti gak bisa hamil lagi," Kata Herman.
" Mungkin jarang makan makanan kurang bergizi dan mengkumsi buah-buahan," kata Risa.
" Yang aku mau lamar kamu malam Minggu," kata Herman.
"Apa kamu melamar aku depan keluarga aku," kata Lisa.
"Iya sayang," kata Herman.
"Aku bahagia sekali, sayang," kata Lisa.
Di lain tempat.
" Mah Tante kemana lama sekali?" tanya Ali.
"Tante ngantar makanan buat om Herman," kata Mita.
"Ante ganda malah tagi ama om Eman,mah?" tanya Kanaya.
"Gak sayang mereka sekarang jadi teman ," kata Mita.
"Mah apa Tante benar berubah aku takut dia cuma mempermainkan perasaan om Herman aja?'" tanya Aira.
"Hanya Tuhan dan Tante mu yang tau isi hatinya, kita doain yang terbaik aja buat Tante mu," kata Mita.
"Di lain tempat di kamar kafe, Hesti muntah terus seluruh tubuh nya lemas.
"Hesti pun mengambil Gawai nya dan menelpon Mita. tutut panggil tersambung angkat Mit," batin Hesti.
__ADS_1
"Halo Hes," kata Mita.
"Mit, tolong aku," kata Hesti.
"Kamu kenapa ?" tanya Mita.
"Aku gak tau badan aku lemas semua dan muntah terus," kata Hesti.
"kamu di mana?" tanya Mita.
"Di Kafe, suruh Siska antar kamu kerumah sakit dulu, anak -anak gak ada yang nemanin Lisa keluar ," kata Mita.
"Iya, kamu telpon Siska suruh ke atas," kata Hesti.
"Iya," kata Mita.
Panggil pun terputus, Mita pun cepat mencari no kontak Siska. Tutuu panggilan tersambung.
"Halo ada apa Bu?" tanya Siska.
"Sis, tolong antar Hesti ke rumah sakit," kata Mita.
"Ibu Hesti kenapa Bu?" tanya Siska.
"Aku gak tau juga tapi kamu antar dia ya pliss," kata Mita.
"Iya Bu ," kata Siska.
Siska pun keatas, melihat tubuh Hesti udah ambruk, dia pun memanggil teman laki-laki nya buat mengakat tubuh Hesti ke mobil.
Setelah tubuh Hesti di mobil dia meminta teman laki-laki nya buat jadi sopir mobil .
Di perjalan tak ada suara karena panik melihat Hesti yang pingsan. 30 menit kemudian akhirnya di rumah sakit.
"Sus tolong," kata Siska.
"Iya Bu ini berangkar nya," kata Suster.
"Hesti pun di bawa keruang UGD .
"Di mana ?" tanya Herman.
"Di ruang UGD ," kata Suster Ani.
"Ayo yang kita ke ruang UGD kamu tolong aku, karena dokter di sini cuma aku saja ," kata Herman.
"Oke aku akan menolong mu," kata Lisa.
Di ruang UGD.
"Mana pasien nya," kata Herman.
"Ini Dok," kata Suster.
"Apa Ka Hesti," kata Herman.
"Dia kenapa sus?" tanya Lisa.
"Dia Muntah dan pingsan," kata Suster.
"Oh, tenang aja dok, ka anda baik-baik saja, aku periksa detak jantung dan dia akan sadar sebentar lagi," kata Dokter Risa.
"Dok, kamu akan ada keponakan," kata Risa.
"Apa benar Dok," kata Herman.
"Iya kalau gak salah, nanti kita USG," kata Lisa.
15 menit kemudian Hesti sadar, dia binggung melihat ruang serba putih, tapi dia inggat tadi dia muntah-muntah dan pingsan.
"Siapa bawa aku ke sini," batin Hesti.
"Kakak udah bangun," kata Herman.
__ADS_1
"Iya de, aku kenapa de?" tanya Hesti.
"Dokter Risa yang menjelaskan ka," kata Herman.
"Menjelaskan apa penyakit aku berbahaya?" tanya Hesti.
"Ka lupa kan dokter Lisa sepesialis Kandungan," kata Herman.
"Apa aku kena penyakit membahayakan de, sampai dokter kandungan turun tangan," kata Hesti.
"Kakak bodoh atau bodoh amat," kata Herman geram.
"Kenapa kau bilang kakak bodoh de," kata Hesti sewot
"Udah ka duduk di kursi roda aku mengantar ke ruang USG ," kata Herman.
Tubuh Hesti panas dingin dia takut kena penyakit berbahaya.
"Di ruang USG.
"Dok, apa penyakit aku berbahaya sampai di USG segala?" tanya Hesti .
"Dok apa gak di jelas tadi?" tanya Lisa.
"Sudah tapi kak kok otak nya Lola," kata Herman.
"Nama ku Hesti bukan Lola," kata Hesti.
"Mak Herman memukul jidatnya. Lola itu lambat loading dan lemut berpikir ka," kata Herman geram.
"Oh gitu,"Kata Hesti cangesan.
"Udah di periksa aja dok, kalau bengini sampai besok gak ada habis ," kata Herman.
"Ka Hesti tiduran di berangkar ya," kata Lisa.
"Iya," kata Hesti
Lisa pun menuang gel ke perut Hesti dan meriksa detak jantung bayi.
"Kok bunyi dok perut aku apa aku lapar?" tanya Hesti.
"Kakak jangan malu -maluin aku," kata Herman.
"Bilang aja kamu malu pada pacar mu," kata Hesti.
""Kakak," kata Herman geram.
"Itu bukan suara perut lapar ka, tapi suara detak jantung ," kata Lisa.
"Belum selesai Lisa bicara udah di sela oleh Hesti.
"Kok detak jantung ka di perut de, kan jatung di dada," kata Hesti.
"Lisa pun menepuk jidatnya, apa ni orang gak pernah hamil," batin Lisa.
"Kakak ni terlalu bodoh," kata Herman emosional.
"Kamu bilang kakak bodoh terus,'" kata Hesti marah.
"Gini aja kita USG aja supaya jelas ," kata Lisa .
Akhirnya USG juga.
"Itu apa dok sebesar biji ?" tanya Hesti polos.
"Itu janin ka hamil 4 Minggu," kata Lisa.
"Apa hamil?" tanya Hesti.
"Iya hamil," kata Lisa.
"Dia yang ngidam aku yang kena batu," kata Herman.
__ADS_1
"Kamu gak iklas apa tolong ka," kata Hesti*.