
Hati Devano dak diduk , apa kah ini apakah mamah dan papahnya merecana sesuatu.
Penetia pun menyampaikan rangkai acara.
"Karena acara pesta ulangtahun nya selesai maka kita akan melanjutkan dalam acara pertunangan," kata Penetia di depan.
"Sep, tolong aku minta kepada bunda untuk membatalkan semua itu," kata Aira mamelas.
"Maaf Ai , jangan kan aku sedang kan kau anaknya saja tak bunda hirau kau apa lagi aku yang cuma teman mu," kata Septi.
"Iya juga, gimana ya apa kah aku kabur aja," kata Aira.
"Jangan Ai, ingat bunda menyayangi kalian dengan tulus, jangan permalukan bunda, apakah bunda selama ini meminta dengan mu, gak pernah kan, jadi turuti lah kehendak bunda satu kali ini aja," kata Septi.
"Iya juga, aku harus gimana Sep, kamu kan tau aku tak mau menikah, karena aku takut semua laki- laki seperti Ayah," kata Aira.
"Tak semua Ai, percaya pada ku," kata Septi.
"Aku takut Sep, karena itu semua Ayah ku yang menancap luka di hati ku dan rela pergi meninggalkan kami demi Pelakor," kata Aira.
"Itu Ayah mu, yang menikah dengan mu suami mu," kata Septi.
"Siapa bilang suami kamu," kata Aira sewot.
"Maknanya jangan di sama-samain," kata Septi.
Tiba-tiba pembicara mereka berdua terpotong karena mendengar Penetia bicara.
" Malam puncak yang di tunggu pun mulai malam ini adalah malam pertunangan Anak nda kami Deviano putra erlanga dengan Aira permata dewi Wijaya," kata penetia itu.
"Apa," kata Devano, air yang di minumnya hampir aja keluar.
"Apakah kau dengar nama itu Sep?" tanya Aira.
"Iya dengar, kaya pernah dengar dimana ya," kata Septi.
"Nanti kita liat aja," kata Aira.
"Jangan-jangan itu pak dosen yang kiler di kampus kita ," kata Septi.
"Ah gak mungkin, dia kan galak, beku dan tak punya hati," kata Aira.
Aira membenci dosen itu karena kiler, pernah Aira di hukum gara-gara lambat sedikit aja.
"Mamah, papah apa-apaan ini?" tanya Devano.
"Mamah mohon Dev, satu kali ini aja, mamah tak pernah kan selama ini meminta sesuatu sama kamu," kata Salma.
"Devano tak tega melihat wajah mamahnya yang sedih .
"Baik lah mah, aku pasrah," kata Devano.
"Segala seserahan untuk melamar sudah di siap kan dari awal, setelah selesai mereka pun memangil kedua calon mempelai untuk maju kedepan buat tukar cincin.
"Sekarang acara serah terima seserahan sudah di terima maka kami akan memangil kedua mempelai," kata penetia.
"Sep, gimana ni nasib aku, jangan yang di jodoh sama aku cowok cacat kaya di novel ton," kata Aira.
"Eh kamu ini belum di lihat malah bilang gitu," kata Septi.
"Nak Devano maju dan perkenalkan dirimu kepada keluarga calon istri mu," kata penetia.
__ADS_1
Devano maju dengan langkah gontai.
" Sekarang calon mempelai pria ada di atas panggung sekarang kita panggil Nak Aira yang naik panggung buat perkenalkan diri buat kepada keluarga calon suami," kata penetia.
"Aira pun keluar dari kamar dan melihat di atas panggung.
"Habis lah aku Sep," kata Aira.
"Apa Dosen kita ," kata Septi.
"Apa aku bilang lagi Dosen kiler yang nyebalin," kata Aira.
"Sudah sabar lah," kata Septi.
Aira naik ke atas panggung dengan langkah gontai.
"Jadi dia calon istri ku, gadis yang tak tau disiplin dan cerewet itu, Jum menarik juga ," batin Devano.
"Habis lah aku, di jodoh dengan orang ini, andai aku bisa menghilang maka aku akan menghilang ," batin Aira.
"Sekarang acara pertukaran cincin," kata penetia.
"Nak Devano semat lah di jari manis nak Aira cincinnya," kata penetia.
Devano melakukan apa yang di suruh oleh penetia.
Begitu pun selanjutnya, dan acara ini pun berlanjut putar musik anak muda.
Semua orang tua sudah selesai pergi ke kamar masing-masing.
"Sep, aku harus gimana kalau aku selalu bersama nya bisa mati membeku," kata Aira.
"Gak dia sebongkah es berjalan," kata Aira.
"Kalau es kan bisa mencair," kata Septi.
"Mencair apa nya malah bertambah, liat aja tu, kaku gak ada senyum," kata Aira.
"Udah terima aja nasib mu neng," kata Septi.
"Iya apa daya," kata Aira.
Acara pun selesai semua orang pun pergi ke kamar nya masing-masing, Aira satu kamar dengan Septi.
"Sep, besok jam berapa kita masuk?" tanya Aira.
"Jam 10 Ai," kata Septi.
"Iya bisa aja kita tidur sampai jam 9," kata Aira.
"Tapi besok calon suami kau yang ngajar ,"kata Septi.
"Apa besok ada dia yang memberi meteri,?" tanya Aira.
"Iya ," kata Septi.
*******
Malam pun berganti siang, tapi kedua gadis itu masih terlena di dalam mimpi indahnya.
"Astaga anak gadis masih aja tidur, bangun udah siang," kata Bunda.
__ADS_1
"Apaan sic Bun, Ai masih cape," kata Aira.
"Udah bangun udah pagi, kamu ni mau nikah aja, kalau masih gini bangunya gimana mengurus suami," kata Bunda.
Terpaksa Ai dan Septi bangun mendengar ocehan bunda yang pajang seperti rel kereta api.
"Setelah selesai mandi kami tunggu bawah buat serapan," kata Bunda.
"Iya Bun," kata Anak gadis dua itu serempak.
"Setelah selesai mandi mereka berdua pun turun kebawah buat serapan.
Sesampai di meja makan.
"Eh anak mantu mamah udah bangun, ayo duduk sini dekat Dev," kata Mamah Salma.
Aira pun duduk dekat Dev, Septi duduk dekat Anaya.
"Sayang hari ini kamu mau kemana?" tanya bunda.
"Hari ini aku kekampus Bun jam 10, tapi jam 9 lewat 30 menit harus setanbay di kampus takut di hukum dosen kiler," kata Aira.
"Siapa yang mau menghukum mu di kampus kita nak," kata Pak Hendro.
"Ada pah, orang dosen nya kejam," kata Aira.
"Kamu mau ngadu," bisik Devano.
"Gak kok," kata Aira.
"Kalau gak kenapa ngomong itu tadi," kata Devano.
"Ehmmm kenapa bisik- bisik," kata pak Hendro.
"Gak ada pah,' kata Devano.
Aira permata Dewi Wijaya, gadis imut, cantik cerdas dan ramah tamah, tapi sayang sikapnya dingin terhadap lelaki makanya lelaki tak ada yang berani mendekat nya, Tunangan Devano putra erlanga.
Devano putra erlanga, pendiam, kaku, dingin, karena teruma di masa lalu dia tak mau dekat seorang wanita. Tunangan Aira.
Aliandan Wijaya, putra ramah tamah, suka gonta-ganti pacar, tapi dia handal dalam berbisnis di umurnya 18 tahun dia sudah dapat di andalkan memaju perusahan Ayah nya.
Kanaya Devi purnama Ariya putra, gadis Ayu, ramah dan murah senyum berbading balik dengan kakak yang tak bergaul malah dia di kelilingi banyak orang karena dia di usianya 16 tahun berbakat menjadi Deseiner.
Aina Andara Rian Wijaya, gadis kecil yang imut, bercita-cita jadi dokter, di usia nya yang muda banyak memiliki prestasi.
Septi Nanda Kristian, gadis imut sahabat dari Aira, jenius seperti Aira tapi gak anti cowok.
Bagi yang mau komentar atau like silakan, tapi maaf bila author banyak salah nulisnya, bagi yang pernah menanya siapa yang akan menyesal ikut terus kelanjutan kisahnya maka kalian akan tau.
__ADS_1