Kau Akan Menyesal

Kau Akan Menyesal
Aku Rindu Ayah.


__ADS_3

" Penyesalan Rian berkepanjangan sekarang Rian mengidap penyakit jantung dan paru-paru yang mematikan, tapi dia malu mengakui dan mendatangi anak istrinya.


"Dia malu datang di saat ini yang mau meninggalkan dunia, tapi dia juga rindu anak-anak dan istri.


Aku hanyalah bisa memandang mereka dari jauh tapi tak bisa menggapai, aku bagai kan pungguk merindukan bulan, aku bagai kan bumi dan matahari, indah tapi aku bisa melihat tapi tak bisa mengambilnya.


Andai dulu aku tak pernah bermain api maka tak akan seperti ini kehidupan ku, andai dulu aku selalu menurut ajaran Agama tak mudah tergoda dengan nafsu duniawi tak seperti ini hidup ku, tapi aku manusia tak luput dari dosa.


Di tempat yang jauh, Aina termenung dia merindukan seorang Ayah.


"Ayah Aku rindu, kapan kamu pulang," batin Aina.


"Aina kamu kenapa de?" tanya Anaya.


"Ade, gak kenapa-napa ka," kata Aina.


"Tapi Ade diam terus dari tadi ?" tanya Anaya.


"Ka, Ade boleh tanya ,"kata Aina.


"Boleh de," kata Aina.


"Kenapa Ayah tak pulang-pulang ka?" tanya Aina.


Anaya terkejut di hatinya berdegup, dia tau adik nya merindu sang Ayah, tapi apa daya sudah 1 tahun lebih mereka mencari nya dan hasilnya nihil.


" Ayah kerja jauh de, mungkin waktu dekat ni dia pulang," kata Anaya.


Tanpa mereka dua sadari ada seorang yang menangis mendengar percakapan mereka berdua.


"Apakah kau terlalu bahagia mas, sampai anak mu tak pernah kau jenguk," batin Mita.


Walau sebenci apa pun kita kepada orang lain tapi bila cinta yang bertahta di hati mampu menghapus kebencian itu.


"Andai kamu tau mas, aku masih mencintaimu dan mengharapkan kau kembali dan mengulang kehidupan dengan lambaran kehidupan baru," batin Mita.


"Apa Aina benaran Rindu Ayah?" tanya Mita setelah menghapus air mata.


"Bunda, sejak kapan di situ?" tanya Anaya.


" Sejak tadi," kata Mita.


"Bunda kapan Ayah pulang dari pekerjaan nya?" tanya Gadis kecilnya.


"Tunggu Ayah selesai pekerjaan nya," kata Mita.


"Tapi bunda Aina sebentar lagi kan ulang tahun, aku tak mau Ayah tak datang," kata Aina.


"Iya doain Ayah sayang supaya bisa bertemu," kata Mita.

__ADS_1


"Aku tak setuju, kalian bertemu dia, kata Suara tegas datang dari luar.


"Tapi kenapa bang?" tanya Aina.


"Karena dia bukan Ayah kita, karena Ayah kita sudah lama mati," kata Ali.


Sebenarnya Ali sudah bertemu Ayahnya tapi dia tak aku mengakui nya dan memberi tahu keluarga nya, karena rasa bencinya yang dalam kepada sayang Ayah.


"Tapi Al, dia Ayah mu nak," kata Bunda.


Mana ada Ayah yang tega meninggalkan anak dan Istri demi wanita lain dan mencemaskan anak di kandung wanita itu padahal dia tau bahwa itu bukan anaknya, dan menutup mata dan telingga atas perkataan orang lain bahwa istri kedua nya yang membunuh ibunya," kata Ali.


"Sabar Al ingat dosa ," kata Mita.


"Lebih berdosa mana yang meninggal kan kita," kata Ali.


"Al, mamah tak pernah mengajar kalian dendam," kata Mita.


" tak pernah tapi aku ada perasaan," kata Ali.


"Cukup Bun, Bang ada Aina di sini," kata Anaya.


"Jadi ingat perkataan ku, jangan sekali-kali kalian menemui Ayah, apalagi sampai membawa kerumah ini, aku tak Sudi," kata Ali tegas.


"Bun, Bang Ali mungkin masih marah ," kata Anaya.


"Pelan-pelan lah bunda," kata Anaya.


"Bunda Aira pulang," suara teriak dari gadis yang berusia 20 tahun ini.


"Ai, jangan teriak-teriak ini rumah bukan hutan, kamu juga kan mau menikah ," kata Bunda.


"Iya Bun," kata Aira.


"Mbak Ai, apa menyenangkan dapat suami pintar dan kaya raya lagi?" tanya Anaya polos.


"Gak, malah menjengkelkan ," kata Aira.


"Kok bisa Mbak," kata Anaya.


"Karena kemana-mana terus di tanya," kata Aira.


" Kan bagus Ai, itu tandanya Vano cinta," kata Bundanya.


" Cinta apanya, kalau menjengkelkan memang iya," kata Aira.


"Nanti kamu terbiasa bila suatu saat nanti kamu akan satu rumah, satu kamar dengan ya tak akan ada kata menjengkelkan dan kata Canggung," kata Bunda.


"Mana mungkin satu kamar, malah Ainjadi pembantu nanti," batin Ai.

__ADS_1


Dia pun ingat perkataan Devano tak mau menyewa pembantu, karena dia tak betah dengan orang baru, sama aja Vano menyidir nya.


"Ai ada apa kenapa kau melamun nak?" tanya Bunda.


"Bun, kalau Ai boleh memilih Ai ingin tak mau menikah, karena luka dan sakit hati kepada Ayah belum kering, aku takut memperlakukan Vano dengan buruk," kata Aira.


"Berdamai lah dengan masa lalu nak," kata Mita.


" semakin aku melupakan semakin kuat bayang itu muncul," kata Aira.


" Ai, kalau kamu menikah apa kah kau menempati rumah mu?" tanya Mita.


"Mamah ngusir?" tanya Ai.


" bukan gitu, mamah takut Vano mau berduaan dengan mu," kata Bunda.


"Gak mah, rumah itu biar lah pak Iman dan Istrinya yang mengurus nya, aku tak mau tinggal di sana atau menjual nya, karena banyak kenangan bersama Oma," kata Aira.


"Itu keputusan mu nak," kata Mita.


"Bun, Aku takut," kata Aira.


"Kau takut apa nak?" tanya Mita.


"Aku takut Devano mendua dan meninggalkan aku," kata Aira.


" Mencoba lah dulu, Jangan menyerah sebelum perang," kata Mita.


Yang Aira takut adalah kemana arah tujuan pernikahan mereka nanti, Aira benar-benar membenci Devano, karena dia galak dan ketus omongan tak ada filternya, kaya sambal cabe rawit aja, itulah membuat nya membenci Devano Karena sering memarahi nya dan menyiksa nya dengan hukuman.


Sebaliknya Devano tak menyukai Aira, karena ada teruma masa lalu dia mengambil Aira untuk istrinya agar ada mengurus keperluan dan ada pembantu gratis tak usah di bayar, kan sayang uangnya buat gajih pembantu.


" kemana lah takdir membawa nasib ku," batin Ai.


" Ai, mamah yakin kamu pasti kuat, jadi jangan cepat menyerah," kata Mita.


"Iya mah.


"Kehidupan kita seperti angin nak, dimana angin membawa kita terbang dan di tiup maka di situ kita singgah, tapi belum tentu untuk selamanya, karena angin bisa saja membuat mu ke arah lain," kata Mita.


"Artinya Bun?" tanya Anaya.


"Kehidupan kita banyak cobanya, Diaman takdir membawa kita ke hati seorang yang kita anggap layak, tapi belum tentu hati itu adalah pemilik kunci sebenarnya, meski kau sudah menikah belum tentu dia milik mu seutuhnya, jangan itu adalah jembatan menuju jodoh mu yang sejati," kata Mita.


"Tapi Bun jodoh sekali dalam hidup begitu juga pernikahan," kata Anaya.


"Gak semestinya nak, kalau jodoh gak sampai maka akan berpisah banyak aja rintangan nya," kata Mita.


Jangan lupa like dan komentar ya, Author merasa berterima kasih atas dukungan nya.

__ADS_1


__ADS_2