
"Yaudah sana, kita makan dulu, Abang mu mana Naya?" tanya Mita.
"Belum datang dari rumah Tante," kata Anaya.
"Coba datangi Abang dulu, biar kita bisa makan bersama," kata Mita.
"Gak Usah Bun, Abang udah di sini ," kata Ali.
"Oh anak Bun yang ganteng udah sini, ayo makan sayang," kata Mita.
" Iya Bun," kata Ali.
Mereka semua pun makan dengan diam tak ada kata atau apa pun yang keluar dari mulut mereka. selesai makan Aira mencuci piring, Anaya melap meja dan menyimpan makan ke kulkas, pekerjaan semua ada bagianya, Mita mendidik mereka dengan telatih di dapur dan pekerjaan rumah, tak kecuali Ali dia pun ikut andil dalam mengerjakan rumah.
Dia tak mau membedakan anak-anak nya, Aina pun ikut membersihkan rumah dia mengurus main dan tempat tidurnya.
"Bun, Aira mau nanya?" tanya Aira.
"Tanya apa Ai," kata Mita.
"Andainya, Ai dan Al udah menikah dan berkeluarga apa kah Bun masih seperti ini tetap sayang kepada kami dan mau menerima suami, istri serta anak-anak kami kelak," kata Aira.
"Bunda tak akan pernah berubah karena kalian anak-anak bunda," kata Mita.
"Terimakasih Bun," kata Aira beruraikan airmata.
__ADS_1
"Nak apa kau pernah mendengar kasih Ibu lebih besar dari apa pun, dia rela mati dari pada anak-anak nya mati, dia rela menderita dari pada anak-anak nya menderita, dia akan menangis bila melihat anak-anak nya menangis, tapi dia akan tersenyum dan tertawa melihat anak-anak nya bahagia," kata Mita.
"Apa seorang ayah juga cinta nya besar?" tanya Aira.
"Cinta seorang Ayah tak bersyarat, meski dia jarang bersama kita, dan dia tak pernah menunjukkan bahwa dia sayang ,tapi dengan caranya kita tau bahwa dia sayang, Bekerja banting tulang, dia ingin orang di rumah selalu nyaman dan perut kenyang, dia tak perduli panas dan dingin yang di lalui nya dia tetap rela, dia tak perduli dia lapar asal anak istrinya tak kekurangan makan dan apa pun.
"Api Ayah, da ditu kan Bun, dia di lumah ada kejanya?" tanya Aina.
"Ayah kerja di kantor De," kata Aira.
"Oh ditu, api Ake kelja di laman akang Bak," kata Aina.
"Kakek berkebun de," kata Aira.
"Oh ditu," kata Aina.
"Kan mereka dokter de," kata Aira.
"Oh iya de upa mbak," kata Aina.
"Sudah semuanya sekarang kalian tidur siang ya," kata Mita.
"Iya Bun," kata Mereka .
"Jangan lupa nanti sore dengan tugas masing-masing ," kata Mita.
__ADS_1
"Iya Bun," kata Mereka.
Semua penghuni rumah pun tidur siang.
Mita bukan tak mampu menyewa pembantu, tapi dia takut karena pembantu banyak goda majikanya, terutama dia gak ada kegiatan dan dia ingin memberikan anak-anak pelajaran agar mereka tak mengharapkan orang lain nanti, karena berkarir sang istri tetap di dapur tempat nya.
2 jam berlalu, sekarang jam menuju angka jam 3 sore, Anaya bersedia dengan alat sapu dan pelnya dia bagian bawah, Aira bagian atas Ali membersihkan halaman dan kolam renang, kalau, kalau si kecil membersihkan mainan dan tempat tidurnya, kalau si Ibu melihat pekerjaan mereka.
1 jam berlalu pekerja rumah bersih semua, Aira memasak, Anaya Menyetrika pakaian, Ali mengurus tanaman.
"Ai, Bunda ke tempat Tante Hesti dulu ya," kata Mita.
"Iya Bun," kata Aira.
"Semua masakan pun selesai, Ka kita bikin kue yu Bulo kukus coklatos," kata Aira.
"Boleh tu mbak, resep nya lihat di Google aja ," kata Anaya.
"Iya Ka," kata Aira.
Mereka berdua pun membuat kue buat cemilan.
"Ka, sebentar lagi kamu lulus SD ya," kata Aira.
"Iya mbak," kata Anaya.
__ADS_1
"sekarang kamu udah remaja ya de, jaga diri dengan baik-baik karena tak akan ada yang namanya penyesalan," kata Aira.
"Iya Mbak," kata Anaya.