
"Buat apa aku harus malu, aku yang aku katakan benar," kata Rian.
"Dasar kamu mas, ya udah aku ke kamar aja mau mandi," kata Mita.
"Ya udah," kata Rian.
"Dasar lelaki gak tau apa yang di katakan nya gak baik buat anak-anak," batin Mita.
Mita pun masuk ke kamar dan ambil baju ganti dan kekamar mandi.
30 menit kemudian dia pun selesai mandi, keluar dengan baju piyama tidurnya.
"Mas kapan masuk?" tanya Mita.
"Baru aja," kata Rian.
"Mas mandi dulu sana," kata Mita.
"Nanti dulu de, nanngung ada email masuk dari Fahmi," kata Rian.
"Iya apa kabar kah Hesti sekarang ya?" tanya Mita.
"Mana mas tau," kata Rian.
"Ya udah aku mau telpon dia dulu.
Tutttt telepon tersambung, tak lama kemudian telepon pun di angkat.
"Halo, baru inggaat kau dengan diri aku," kata Hesti.
"Maaf lama gak memberi kabar," kata Mita.
"Kamu kebangatan tau gak aku bingung kamu gak ada kabar sama sekali," kata Hesti.
"Maaf, ya beb ," kata Mita.
"Ya udah aku maaf pin," kata Hesti.
"Gimana keponakan yang aku mau udah ada," kata Hesti lagi.
"Kamu ni ada-ada aja, gimana Cafe lancar," kata Mita.
"Siip lancar," kata Hesti.
"Syukur lah," kata Mita.
"Kamu kesini kapan?" tanya Hesti.
"Gak tau juga Mas Rian," kata Mita.
"Oh Gitu, sekarang ada Mas di tanya dulu kalau mau kemana coba dulu gak," kata Hesti.
"Apa kamu gak setuju aku nikah, dulu kamu yang ndorong aku, sekarang aku mau malah kamu marah," kata Mita.
"Bukan begitu Beb," kata Hesti.
"Iya juga sic beb," kata Mita.
"Beb, kamu belum degar kabar bahagia ya," kata Hesti.
"Belum, kabar bahagia apa?" tanya Mita.
"Maya Hamil," kata Hesti.
"Berapa bulan kehamilanya ?" tanya Mita.
"3 bulan ," kata Hesti.
__ADS_1
"Kok bisa dia gak tau ya?" tanya Mita.
"Gak tau juga beb, itu aja karena dia pingsan aja baru tau," kata Hesti.
"Oh gitu yaudah selamat deh," kata Mita.
"Iya udah dulu ya," kata Hesti.
"Oke deh, aku tunggu kabar bahagia dari mu," kata Mita.
"Iya ," kata Hesti.
"Mas," kata Mita.
"Apa sic sayang," kata Rian.
"Maya Hamil mas," kata Mita.
"Kok bisa?" tanya Rian.
"Ya bisa lah ada suaminya," kata Mita.
"Maksud aku berapa bulan de," kata Rian.
"3 bulan mas," kata Mita.
" Selamat deh buat mereka," kata Rian.
"Besok kita beli hadiah buat mereka ya ," kata Rian.
"Ya mas," kata Mita.
"Apa ya hadiah nya yang bagus mas," kata Mita.
"Baju hamil De," kata Rian.
Tokkk pintu di ketok dari luar terdegar suara Aira.
"Mamah, Papah kita makan malam, kami semua menunggu di ruang makan," kata Aira.
"Ya Kami akan turun," kata Rian.
Tak ada lagi suara Aira di depan.
"Mas, ayo kita turun," kata Mita.
"Yok," kata Rian.
Mereka berdua pun turun dan sampai di ruang makan semua orang menunggu mereka berdua.
"Ya baru penganten baru, masih lengket jadi lupa sama kita," kata Risa.
"Mana ada tadi tu, aku mencek email dari Fahmi," kata Rian.
"Email apa email ka," kata Hesti.
"Email lah, dan Mita menelpon Hesti," kata Rian.
"Oh begitu ya," kata Rallisa.
"Sudah kita makan Jagan ribut terus ," kata Alma.
"Mereka pun makan dengan diam, setelah selesai makan mereka semua pindah keruang keluarga. di dapur cuma ada Mita dan Rallisa yang mengurus meja makan dan Mencuci piring.
Di ruang keluarga Rian dan Ibunya berbicara serius.
"Rian, kalian mau tinggal di mana?" tanya Bu Alma.
__ADS_1
"Belum tau juga Mah, belum tanya Mita," kata Rian.
"Cepat tanya kan, kalian harus tau tempat kalian, di kota atau desa, mamah udah tua megurus anak -anak mu," kata Bu Alma.
"Iya mah," kata Rian.
Perkataan mereka berhenti karena datang Mita.
"Anak--anak udah malam ayo tidur," kata Mita.
"Iya mamah," kata mereka serempak.
"Rian ke kamar Ali, dia mengantar Ali kekamar mandi buat cuci kaki dan tangan, sudah selesai semua mereka berdua pun naik tempat tidur, berdoa dan bercerita.
Begitu juga dengan Mita dia masuk kekamar dua putrinya, mencuci Kaki dan tangan dan naik ke kasur dan bercerita juga.
30 menit kemudian 2 putrinya sudah tidur. Mita pun keluar kamar dan menuju kamar putranya.
"Apa sudah tidur Alinya Mas?" tanya Mita.
"Sudah sayang," kata Rian.
"Oh," kata Mita.
"Kita ke kamar buat tidur juga sayang," kata Rian.
"Nanti dulu mas, aku belum perbaik selimut anak mu," kata Mita.
Mita pun kekasir dan perbaiki selimut Ali dan mengecup kan kening putranya, selamat tidur putra aku," kata Mita.
Dia pun menuju pintu keluar kamar dan menutup pintu dengan perlahan setelah itu menuju kamarnya.
"Mas, Aku rasa kita tak usah menambah anak lagi," goda Mita.
"Gak bisa sayang, karena aku ingin anak yang ada adalah anak sah dengan mu," kata Rian.
"Jadi mas anggap mereka bukan anak sah mu mas," kata Mita.
"Bukan gitu, Aira dan Ali anak aku dengan matan istri ku, dan Kanaya anak mu dengan mantan suami mu," kata Rian.
"Jadi kenapa kalau mereka bukan anak kadung aku dan Kanaya bukan anak kandung mu," kata Mita tersulut emosi.
"Kalau anak lahir dari kamu itu mengikat kita berdua sayang," kata Rian.
"jadi mereka bukan mengikat kita gitu mas," kata Mita tersulut emosi.
"Terserah kamu cape," kata Rian kesofa dan mencek email yang masuk.
"Kenapa aku jadi tersulut emosi, padahal aku yang mengoda dia dulu," batin Mita.
"Aneh jadi wanita keras kepala," batin Rian.
Mereka berdua diam saja dan merenungi nasib mereka berdua.
"Tuhan jika kau berkehendak dan terjadi, maka itu lah yang terjadi," Batin Mita.
" Aku menyadari biar aneh seperti itu dia adalah kebahagian aku," batin Rian.
"Mas, De," kata Rian dan Mita bersama.
"Maaf kan aku mas," kata Mita.
," Aku juga de, maaf kan aku juga," kata Rian.
"Iya sudah aku maaf pin," kata Mita.
"De, Kehadiran mu Adah kebahagiaan aku," kata Rian.
__ADS_1