
*Setelah semua pekerjaan selesai.
"Hes, mampir kerumah ku yok, aku masih kangen sama kamu," kata Mita.
"Oke yuk aku juga masih kangen sama kamu," kata Hesti.
"Hes, tak terasa ya persahabatan kita berdua dari kecil sampai kita menikah," kata Mita.
"Iya Mit, sayang Mila telah pergi meninggalkan kita duluan," kata Hesti.
"Iya," kata Mita.
"Sebenarnya aku belum rela kehilangan dia Mit, dia ku anggap saudara juga seperti dirimu," kata Hesti.
"Iya, aku juga Hes tapi apa daya takdir lah yang merenggut nya," kata Mita.
"Mit, anak nya sudah besar sekarang dan mirip dengan mendiang ibunya," kata Hesti.
"Kok bisa," kata Mita.
"Tak ada yang bisa membedakan mereka berdua sayang, anaknya kecil aja perbedaanya," kata Hesti.
"Iya aku juga mau melihatnya kalau ada waktu senggang," kata Mita.
30 menit perjalanan akhirnya mereka pun sampai rumah Mita. Ali, Kanaya dan Aira menyambut Mamahnya.
"Kok kenapa wajah kakak jadi cemberut seperti ini?" tanya Mita kepada putri pertamanya.
"Kakak marah sama Tante mah," kata Ali.
"Luo kenapa bisa marah sama tante?"Tanya Mita lagi.
"Gimana gak marah tante, buang es kelapa kok buat lempar musuh bebuyutan nya mah," kata Aira.
"Kok bisa emang kalian jalan tadi ?" tanya Mita.
"Gak mah, tadi om lewat sini dan mengoda tante yang PMS katanya marah sama om dan parahnya marah sama om tapi Aira yang di cubit, ni liat tanggan Aira gara-gara Tante," kata Aira.
"Kasian putri mah, Tante keterlaluan bangat," kata Mita.
"Emang siapa musuh buyutan Ade ipar mu?" tanya Hesti.
"Kamu akan tau nanti," kata Mita.
" Oh," kata Hesti.
"Bang suruh Tante bikin minuman buat calon iparnya," kata Mita.
" Iya mah," kata Ali.
__ADS_1
15 menit kemudian Lisa membawa minum dingin dengan kue buatannya tadi.
"Siapa yang bikin, apa nenek mu Ai?" tanya Mita.
" Gak Tante, karena terbawa emosi," kata Aira.
"Kok bisa karena emosi ujung-ujungnya malah emosi," kata Hesti.
" Tante tu memang aneh, tan Hes kalau marah jadi seperti itu," kata Aira.
35 menit kemudian tiba-tiba Herman datang.
"Mbak apa yang sakit, kepala atau apa?" tanya Herman kepada Hesti.
"Siapa yang sakit," kata Hesti.
"Lah kata mbak Mita, Mbak sakit," kata Herman.
"Luo, Mit diam nanti kamu melihat ada pertunjukan ," kata Mita.
Hesti pun terdiam, Tiba-tiba Risa keluar lagi dari rumah membawa hp nya yang ketinggalan di kamar.
"Kamu lagi, apa kamu kangen sama aku tiap.saat terus datang kesini ?" tanya Rallisa.
"Enak aja, aku datang kesini mau datangin mbak kok, bukan datangin kamu Lampir," kata Herman.
"*Enak benar mulut luo, katain gue seenak jidat mu," kata Herman.
"Eh bontot kuda kambing hitam jangan datangin rumah orang kalau gak ada keperluan ," kata Rallisa*.
"***Aku kesini datangin mbak kok," kata Herman.
"Jadi musuh buyutan Ipar mu, Herman?" tanya Hesti.
"Iya, mereka kalau ketemu tak pernah akur," kata Mita.
"Kita dua jodohin aja mereka berdua," Hesti.
"Boleh tu ide bagus ," kata Mita.
"Tante, om apa gak ada cape apa ribut Mulu," kata Aira.
"Diam anak kecil," kata Mereka berdua serempak.
"Meding aku anak kecil dari pada kalian udah dewasa tapi masih bikin keributan," kata Aira.
Mereka berdua pun terdiam, mendegar perkataan Aira.
"Udah pertengkaran nya Man, gak malu apa sama orang ," kata Hesti.
__ADS_1
"Gak kok ka dia yang bikin masalah buat kami," kata Herman.
" Sama kok kamu juga, gitu juga sama Rallisa gak bisa gitu cinta beda tipis benci," kata Mita.
"Kalau begini terus lama-lama kalian dua ku jodoh nanti," kata Hesti.
"Ogah Mbak dapat istri kaya dia," kata Herman.
"Eh Bambang siapa juga yang mau jadi istrimu," kata Rallisa.
"Lama-lama kalian dua bisa aku nikah benaran kalau ribut terus," kata Hesti.
"Kan Mbak tau tipe cewek yang aku suka ?" tanya Herman.
"Kalau jodoh Muh sama Rallisa gimana," kata Hesti.
"Ogah aku berdua kepada Tuhan aku ingin cewek yang cantik dan penurut," kata Herman.
"Eh Bambang aku tu suka cowok yang Kalam dan romantis kau kamu gak ada tipenya," kata Rallisa.
"Makan ***kalian dua gak dapat-dapat karena pemilih," kata Hesti.
"Biar lah dari pada dapat modelnya kaya Mak Lampir," kata Herman.
"Enak benar hidup luo bilang gue Mak Lampir, situ siapa geradong," kata Rallisa sengit.
"Siapa yang mau jadi budak mu," kata Herman.
"Yang dekat kamu juga siapa," kata Rallisa.
"Aduh Tuhan cape," kata Mita.
"Mit, aku udah gak kuat sama mereka dua ni, mau ku cebur aja ke laut," kata Hesti geram.
"Kalian dua bisa diam gak kalau gak bisa aku tampar muka kalian dua," kata Hesti.
"Asli mereka berdua pun diam mendegar perkataan Hesti.
"Ngoceh terus kalah dari Kanaya yang bayi," kata Hesti.
"Udah pulang Her, malu-maluin aja," kata Hesti.
"Tante juga maluin datang dari kota kaya datang dari hutan ," kata Aira marah.
Mita dan Hesti tertawa mendegar ocehan Aira.
"Eh bocil gak usah ikut campur luo," kata Rallisa sengit.
"Mending bocil tapi gak malu-maluin ," kata Aira***.
__ADS_1