
"Bang, rumah nya masih jarang?" tanya *Lisa.
"Iya de, tapi ka mau kamu bangun rumah di samping rumah ka nantinya," kata Rian.
" Tanahnya milik siapa Bang?" tanya Lisa.
" Milik kita lah," kata Rian.
"Apa kamu beli mas?" tanya Mita.
"Iya, dari ujung sana Sampai sana tanah kita, mas sengaja beli tanah nya luas biar bisa bangun rumah dekat -dekat gak berjauhan," kata Rian.
"maaf mas Rian, apa aku bisa beli sedikit buat aku bangun rumah juga?" tanya Hesti.
"Bisa Hes, kamu kan termasuk keluarga juga," kata Rian.
"Terimakasih mas," kata Hesti.
"Maya kamu mau bangun rumah juga di sini?" tanya Rian.
"Maunya gitu tapi gimana dengan rumah aku yang sekarang," kata Maya.
"Kamu bisa jual atau di kontrakan," kata Rian.
"Ide bagus tu de, kan dapat penghasilan," kata Mita, jiwa bisnisnya muncul.
"Kamu ni kalau uang matanya hijau," kata Ibu.
"Kan enak kalau punya penghasilan sendiri bBu, gak takut suami gak kasih duit," kata Mita.
"Benar kata Mita, Tan kaya kami sekarang tak butuh duit dari suami, usaha kafe kami maju pesat rencana nya kami mau buka restoran, tapi belum nemu tempatnya ," kata Hesti.
"Gimana kalau di sana Hes, kan di belakang nya bagus pemandangan nya," kata Maya.
"Benar tu He, kan pemandangan nya kan Hutan belakangnya, jadi di atas kita bikin penginapan, bawah restoran, kaya Vila gitu, kan daerah ini kan jauh dari polusi masih, jauh dari jalan lintas atau jalan raya ," kata Mita.
"Setuju, kita cari tukang bangunan besok ," kata Hesti.
"Gak usah, nanti aku yang telpon," kata Rian.
"Iya ide bagus tu bang," kata Lisa.
"Kaya Berasa gak berguna aku jadi suami," gumaan Rian.
"Di lahan nya kita bikin Tempat permainan anak, dan penitipan anak," kata Maya.
"Benar tu, kita bikin rumah kecil," kata Mita.
"Tapi Pengasuh nya?" tanya Hesti.
"Tenang soal pengasuh jangan repot aku yang cari ," kata lisa.
__ADS_1
"jangan yang asalan de," kata Mita.
"Gak lah ka, ini perawat langsung ," kata Lisa.
"Boleh tu de, dari pada pengasuh abal-abal kan," kata Maya.
"Iya ka," kata Lisa.
Mereka pun menelpon tukang pemotongan rumput buat memababat tanah yang banyak rumput yang rimbun.
"Mbak nanti kita akan tinggal di sini kan?" tanya Lisa.
"Iya de," kata Mita.
"Acara syukuran nya kapan nak?" tanya ibu, gak baik di biar lama rumahnya kosong," kata Ibu lagi.
" Aku terserah mamah Aira aja Bu," kata Rian.
"Aku rasa hari Rabu depan Bu, kan hari ini senin pulang dari sini kita belanja dan membawa segala perangkat kita buat masak," kata Mita.
"Apa gak ketring aja mah?" tanya Rian.
"Gak pah, banyak uang keluar, apa gunanya kita beli blender, piring, gelas panci besar dan peralatan banyak kalau gak di pakai, paling kita menyewa tenda aja," kata Mita.
"Iya deh terserah kamu, jadi malam ini kita tidur di sini?" tanya Rian.
"Iya, kamu dan Herman buat angkut barang dari rumah ibu, Aku, Hesti dan Lisa yang kepasar belanja buat memesan daging dan Ayam," kata Mita.
" Tukang sapu sama lap," kata Rian bercanda.
"Enak aja ," kata Maya.
" Mah aku juga memesan orang buat bantu kalian biar kalian gak terlalu cape," kata Rian.
"Terserah pah, cari 3 orang aja ," kata Mita.
"Nanti aku carinya ka, nanya di WhatsApp," kata Maya.
"Biar bersih rumah tugas Ibu dan Bapa," kata Ibu.
" Kok Bu apa masih kuat bersih," kata Rian.
"Jangan kau remeh kan mertua mu ini," kata Ibu.
"Bapa bagian Beres bawah, ibu atas ," kata Ibu.
"Enak ini lah, kan lantai bawah kan besar dari atas ," kata Bapa.
"Dapur biar kita dua kerja bersama Pak ," kata Ibu.
"Iya terserah Ibu lah," kata Bapa.
__ADS_1
" lalu tugas Maya apa?" tanya Maya .
"Masak," kata Mereka serempak.
"Oke," kata Maya.
"Aira akan bantu Nenek," kata Aira.
"Ali juga Kek," kata Ali gak mau kalah.
"Baik ayo kita berangkat kerja kan sekarang ," kata Ibu.
"Semua orang melakukan tugasnya masing-masing, Risa dan Maya Memasak buat makan siang, Hesti dan Mita mencuci piring dan gelas, Rian Mengibas karpet buat makan nanti karena di sini belum ada meja makan nya.
Setelah masakan jadi mereka pun menikmati dengan Hikmat.
"Pak tanah ini luas, kita bisa tanam jagung, singkong, bayam, sawi, kacang, dan sayuran, dan bisa berternak ayam, biar kita tidak beli sayur dari hasil panen kita aja," kata Ibu .
"Benar Bu, kalau rumah kita di bawah sempit tak ada perkarangan," kata Bapak antunasi, maklum bapa anak petani.
"Pak ingat jaman sekolah dulu, duduk di dangau kalau padi menguning, pulang sekolah kesawah, tak ada main kalau bermain paling kejar-kejaran sama burung dan adik," kata Ibu.
"Iya Bu, kalau musim jagung kita akan mengejar monyet," kata Ibu.
"Dulu di masa Ibu tak ada Yang jual beras seperti ini Jaya, mau beras di tumbuk atau di giling, mau ikan di pancing, di kalang, di kasih jala baru makan ikan, sayur di cari atau di tanam.
Kalau Sekarang serba ada asal rupiah ada.
Di jaman Ibu tak ada lampu PLN dan PMD atau sumur bor, ada nya kesungai Kapuas ambil air buat nyuci piring, air di tawas buat masak, minum kesungai yang bersih ambil air bekilo -kilo jaraknya.
"Dulu pacaran pakai surat kirim pesan atau janjian, kalau teman curang kita akan kena batunya, pakai sepeda injak kalau malam minggunya.
Sekarang ada gawai buat kirim pesan, ngomong dan janjinya, kalau jauh ada Vc .
Terimakasih Tuhan sekarang Ibu dan Bapa bisa menikmati masa tua mereka tanpa ada bekerja keras lagi, karena semua anak nya Sudah sukses Abang Marvin Jadi tentara, aku ada pengusaha sendiri di samping usaha suami, Maya ada usaha sendiri juga jual onlien dan suami bekerja kantoran.
" Ibu bangga sama-sama anak-anak Ibu sekarang semua sukses, meski di balik sukses ada cerita yang menyakit kan," kata Ibu.
"Tapi bapa masih sedikit cucunya," kata Bapa.
"Gimana mau banyak pak, bang Marvin aja gak mau nikah," kata Maya.
"Sampai kapan kakak mu itu betah sendiri," kata Ibu.
"Dia akan sadar nanti Bu, gak usah di pikir," kata Mita.
"Ibu udah tua Mit, ibu ingin juga melihat cucu ibu dari Abang mu," kata Ibu .
" Mita tau Bu, tapi Abang teruma yang mendalam karena di tolak karena kami anak petani dan orang miskin," kata Maya.
" Iya ", kata Ibu pasrah.
__ADS_1