Kau Akan Menyesal

Kau Akan Menyesal
Ketemu Pelakor.


__ADS_3

POV Mita 2


Aku, Ali dan Aira berangkat pakai mobil yang di kendaraan Ali.


"Mah, itukan mobil Ayah,"kata Aira.


"Benar itu mobil mas Rian, Aku bingung, bayangan masa lalu terlintas lagi di ingat ku, di mana mas Ariya membawa Istri muda nya kerumah dan berujung perceraian lagi, apakah ini akan terjadi lagi Tuhan, apa akan ada lagi airmata dan perpisahan.


"Bun, Bunda," kata Aira.


"Iya," jawab ku. Aku tak boleh menangis di hadapan anak-anak ku, harus kuat dan akan aku rebut kembali apa yang aku miliki demi mereka.


"Permisi pak?" tanya ku ke pak satpam.


"Iya Bu," Kata Satpam itu.


"Pemilik rumah ini siapa ya?" tanya Ku lagi.


"Oh ini rumahnya Non Dahlia ," kata Pak satpam.


"Oh non Dahlia, masih sekolah atau kuliah pak?" tanya Ku.


"Dia sudah bertunangan Bu, dan tunangan nya ada di dalam," kata Satpam.


"Oh," jawab ku.


Aira sudah mengambil Foto mobil Ayahnya, aku pun mengajak anak-anak ku untuk pulang.


Fi dalam perjalan, aku mencoba menelpon mas Rian.


"Halo kenapa Bun," kata Mas Rian, mustahil suami aku yang lemah lembut, romantis dan penyayang kepada keluarga telah mendua.


Tapi kenyataannya itulah yang terjadi.


"Bun, Bunda masih disana, suara mas Rian membuat ku terkejut.


" Iya yah, Ayah di mana sekarang?" tanya Ku.


"Ayah masih tempat kerjaan Bun, mungkin Lusa pulang ," kata Mas Rian.


"Iya yah," kata Ku.


"Bun, Sudah dulu ya Ayah repot mengerjakan Email," kata Mas Rian.


"Iya Yah," kata Ku.

__ADS_1


Kenapa kau harus berbohong mas, kenapa kau tak jujur lagi seperti dulu, apa karean aku sudah tua dan tak sen cantik dulu makanya kamu berubah batin ku.


"Bun, kenapa sic harus pulang, kenapa kita tak labrak aja tu Ayah ," kata Aira.


" Nak Dengar bunda, tak baik kita berkelahi di depan umum, lebih baik kita menyaksikan masalah di rumah secara berkeluarga," kata Ku.


Sesampai di rumah kami, Aku menyuruh mereka berdua masuk rumah, dan aku pun menyimpang kerumah sahabat ku, karena dia saat ini tempat ku mengadu.


Tokkk pintu di ketuk.


"Iya sebentar, suara campereng dari dalam.


Ceklek pintu di buka.


"Mita, jadi kamu ," kata Sobat ku.


"Iya Hes, aku mau curhatan," kata Ku.


"Curhat apa ni emak-emak, tumben," kata Hesti.


Kami berdua pun masuk dan duduk di sofa.


"Tenang kan hati mu dulu, baru cerita," kata Hesti.


"Kamu kenapa tiba-tiba ngomong gitu," kata Hesti.


"Mas Rian selingkuh dan parahnya selingkuh nya seperti anaknya Aira," kata Ku.


"Astaga benar itu Mit?" tanya Hesti.


"Benar Hes, tadi kami dari rumah selingkuhan nya," kata Ku.


"Apa udah di labrak," kata Hesti.


"Tak ada, karena aku tak mau berkelahi di depan kedua anak ku yang akan merusakkan mental mereka," kata ku.


"Kalau gitu, Ayu kita dia kesana," kata Hesti.


"Aku tau jiwa sahabat ku, dia akan terluka melihat aku terluka, jika aku antara dia kesana maka akan ada keributan.


"Antar aku atau aku tanya Aira dan Ali alamatnya," ancamannya.


"Kalau dia sendiri kesana lebih berbahaya, terpaksa aku ikut.


30 menit dalam perjalanan, tak di sangka 4 anak ku sudah di sana, memarahi seorang gadis muda yang usianya paling berpaut 1 tahun dari putri pertama ku.

__ADS_1


"Kembali kan Ayah kami wanita tak tau diri," kata Aira lantang.


"Enak aja, hidup kami sekarang terjamin siap suruh ibu mu tak mengurus diri," kata Wanita yang lebih tua.


"Anak jadi pelakor ku bangga," kata Hesti.


"Hesti," kata Wanita itu.


"Eh Dania, Pantas bangga Ibu dan Anak suka merebut milik orang lain," kata Hesti.


"Jaga mulut mu Hesti," kata Wanita itu.


"Aku akan menjaga kalau kalian bisa menjaga," kata Hesti.


"Tiba-tiba mobil mas Rian datang.


"Ada apa ini ribut," kata Mas Rian.


"Ini lu mas, mereka ngaku anak mu," kata Wanita itu.


"Aira, Ali, Anaya dan Aina, kenapa kalian disini bukan belajar malah keluyuran," kata mas Rian membentak.


Aku pun marah mendengar mas Rian membentak anak-anak ku, karena aku tak pernah membentak mereka.


"Mas, aku tak pernah membentak ank aku, kenapa kau beri membentak nya," kata Tersulut emosi.


"Ini juga bukannya mengajar anak di rumah malah mengajak anak keluyuran," akta Mas Rian.


"Bun gak pernah mengajar kami keluyuran, apalagi merebut milik orang lain," kata Aira Marah.


"Pakk, jaga mulut mu," kata Mas Rian marah.


Bibir Aira berdarah, aku benar-benar tersulut emosi, aku pun menampar pipi mas Rian.


Pakk, pakk dua kali pukulan di pipinya.


"Aku tak pernah memukul mereka," kata Ku.


"Dan Ingat baik-baik kau Pak Rian yang terhormat mulai detik ini, kau bukan lagi Ayah ku dan ingat jangan pernah menginjak rumah kami lagi," kata Ali marah.


"Aku tak menyangka, Ayah yang dulu menyayangi kami sepenuh hati, tak pernah meninggikan suaranya walau pun marah, tapi hari ini karena menutup kesalahan tega menampar anaknya," kata Aira.


"Ina, enci Ayah," teriak putri yang bungsu.


Aku lihat ada luka di mata mereka, Tuhan kenapa ini terjadi lagi Anaya aku lihat masih teruma, apa bayang masalalu menghampiri nya.

__ADS_1


__ADS_2