
"Mit" kamu *kenapa?" tanya Hesti.
"Aku gak kenapa Hes, aku cuma ingat perkataan pak Cokro kalau kami bisa berhasil menjadi kan rumah jadi bagus dan kaya,dia rela menjadi tukang kebun,anak dan istrinya jadi pembantu ," kata Hesti.
"Iya aku ingat itu, di waktu pak Cokro menampar bapa dan memukulnya seperti binatang karena tak berhasil menemui Abang Marvin dan anak nya, dia sampai menghina keluarga kita," kata Maya .
"Sampai bang Marvin bertahun-tahun tak pulang, mereka akan merasakan apa yang kita rasakan ," kata Mita.
"Tak baik dendam nak," kata Ibu.
"Kalau kita terlalu baik sama orang maka kita di memfaat terus ," kata Mita.
"Tali kalau kita menurut hawa ***** maka kita akan binasa ingat Ajaran Firman Tuhan,"kata bapak.
"Aku ingin membuka mulut mereka pak aku cuma menyuruh mereka bekerja bukan menyiksa mereka ," kata Mita.
"Iya terserah kamu aja neng," kata Bapak.
"Iya pak," kata Ku .
"Kami pun pergi kepasar, Aku , Risa, dan Hesti kepasar mencari bahan buat di olah, dan mencari buah-buahan dan segala daging bumbu sayur dan segalanya, kalau beras dan sembako lain bisa di ambil dalam toko.
"Lis, kita kerumah pak Cokro nanti," kata Mita.
"Kamu yakin kesana ?" tanya Hesti.
__ADS_1
"Yakin buat apa takut, kan pak Cokro tak sekaya dulu," kata Mita.
"Iya juga sic, tapi putrinya si Caca sekarang sakit-sakitan ," kata Hesti.
"Apa penyakit nya?" tanya Mita.
"Penyakitnya langka yang terus muntah tapi keluar belatung, kalau gak bulu dari mulutnya, sangat aneh, tapi bisa di mamfaatin pak Cokro bekerja di rumah aku dan anaknya yang Chika jadi pembantu," kata Mita .
"Mit, kamu yakin aku takut nanti pak Cokro nyakitin keluarga mu," kata Hesti.
"Dia tak akan berani, rumah akan aku pasang CCTV di rumah aku," kata Mita.
Sesampai mereka ketempat yang di tuju yaitu tempat pak Cokro, Mita pun segra memakai kacamata hitam nya, sungguh miris kehidupan yang kaya raya penuh dengan kelimpangan harta sekarang tak ada lagi, dulu pernah tinggal di rumah mewah sekarang di gubuk reot.
Selamat pagi Pak Cokro," kata Hesti.
"Pagi," kata Pak Cokro lembut, mana Pak Cokro yang dulu setiap orang memangilnya dia benyahut dengan kasar dan berteriak dengan orang kalau bicara.
"Eh Hesti sama siapa kau datang kemari?" tanya Pak Cokro.
"Sama teman pak, mereka mau menawar pekerjaan buat bapa dan anak bapa," kata Hesti.
"Boleh kerja apa ," kata Pak Cokro.
"Jadi tukang kebun dan pembantu pak," kata Pak Cokro.
__ADS_1
"Iya boleh, Chika juga cari pekerjaan tak dapat 2 karena dia tak lulus SMA," kata Pak Cokro berwajah sendu.
"Aku pun Membuka kacamata aku.
"Mit.....a , ka..mu kah itu?" tanya Pak Cokro.
"Iya aku pak orang yang keluarganya pak Cokro hina," kata Mita.
" Maaf kan aku Mita, dulu aku kejam dan sombong," kata Pak Cokro.
"Iya, kalau bapa mau mulai besok bapak boleh kerja ke tempat saya,' kata Aku.
"Boleh Nak Mita, nanti aku sampai kan ke anak aku dia pasti bahagia," kata Pak Cokro.
"Iya aku tunggu ya pak ," kata Aku.
"Bu Cokro pun keluar, orang yang dulu memakai emas kaya toko berjalan itu kini polos tak ada, yang dulu memakai pakaian yang trend kini pakai bekas aja.
"Sungguh miris kehidupan mereka sekarang.
Ketika kita di beri kemewahan dan kekayaan maka berbuat baik lah jangan mengunakan kekayaan untuk menyakiti orang lain.
"Aku melihat rumah pak Cokro,aku rindu masa kecil yang bahagia, meski rumah gubuk tapi kami tenang di dalamnya.
"Aku, bang Marvin dan Maya hidup di gubuk kecil dan di limpah kasih sayang*
__ADS_1