
" *Tidak mungkin, rumah ini milik ku," kata Dahlia.
"Rumah ini sudah sah menjadi milik ku," kata Aira.
"Ayah, mana kunci mobil Ayah, karena Ayah tak berhak itu adalah milik kami semua, surat-surat mana semua," kata Ali.
"Itu mobil Ayah, All ," kata Rian.
"Dulu sebelum Ayah menjadi seorang penghianat," kata Ali.
"Ayah ke kantor pakai apa?" tanya Rian.
"Jangan pernah menginjak kaki mu di perusahaan atau rumah besar lagi Ayah, karena itu milik kami bukan milik Ayah," kata Aira.
"Anaya tak berhak juga atas rumah dan perusahan dan milik Ayah," kata Ayah.
"Jangan salah Anaya ada karena Bunda, rumah besar berdiri karena Ayah bersama bunda, dan ingat memang Anaya tak berhak atas Perusahan, tapi dia berhak atas kafe dan butik karena itu uang bunda, makanya bunda menyerah butik kepadanya karena dia berbakat di bagian Deseiner ," kata Aira pajang lebar.
"Dengar kan baik-baik Rian Wijaya , mulai sekarang Kusuma nama mu ujung dari almarum Papah mu di hapus dan nama mu di hapus dari keluarga," kata Oma Meli.
"Gak bisa gitu mah, perusahaan kan jatuh ke tangan ku, Lisa dulu memilih jadi dokter," kata Rian.
"Memang bukan untuk ku ka, tapi untuk keponakan ku," kata Lisa.
"Aira dan Ali di bawah umur mana mungkin mereka bisa memimpin perusahaan," kata Rian.
"Ada Oma yang bersama kami, dan Bunda ," kata Aira.
"Bukan kah kau mau jadi Polisi All dan Aira mau jadi guru, kejar lah cita-cita kalian setinggi langit", kata Rian manis.
"Mana Ayah yang dulu memaksa kehendak Ayah , yang bilang penghasilan Guru tak seberapa, lebih baik mengurus perusahan, mana omongan Ayah yang itu apa udah lupa," kata Aira.
"Itu dulu sekarang Ayah mau kalian melanjut cita-cita kalian ," kata Rian.
"Gak bisa, perusahaan Ali yang pegang, Kafe ada Tante Hesti karena di sana Ada saham nya, Butik ada bunda, Sekolah Aira yang urus ," kata Ali.
"Ayah mau kerja apa kalau kalian jadi begini?" tanya Rian.
"Terserah Ayah, mobil milik pelakor juga menjadi milik All sekarang Ayah," kata Ali.
"Gak itu milik ku dan itu atas nama ku," kata Dahlia.
"Siapa bilang, mobil itu kami beli Cash dan atas nama ku," kata Ali.
"Dasar perebut harta orang," kata Denia.
Permisi ," kata Orang yang bertubuh gempal dan kuat ada 3 orang.
"Bapak sudah datang," kata Aira.
"Iya non," kata Budigad itu .
__ADS_1
"Tolong bapa beres semua baju-baju mereka," kata Aira tegas.
"Gak mau ini rumah kami," kata Dahlia dan Denia.
"Ai, kamu tega sama Ayah , mana Ayah tak di perbolehkan kan pulang lagi," kata Rian.
Aira pun masuk ke kamar Ayah dan Dahlia, memang ini tak sopan, bundanya akan marah jika tau dia masuk kamar orang tanpa persetujuan orang , tapi sekarang dia tak perduli, Lisa masuk ke kamar Denia, orang tua itu marah-marah kepada Denia.
"Eh kamu cacuguk , kenapa kamu masuk kamar ku," kata Denia.
"Terserah aku kan rumah ini milik keponakan ku," kata Lisa.
"Jangan dekat-dekat lemari ku," kata Denia.
Lisa tak perduli dia pun membuka laci dan melihat banyak perhiasan, dia pun mengambil semuanya.
"Kembali kan pencuri itu milik ku, dari menantu ku," kata Denia.
"Menantu mu adalah kakak ku, jadi perhiasan ini milik kakak ipar ku," kata Lisa tegas.
"Kembali kan perhiasan ku," kata Denia.
" Tak akan ," kata Lisa.
"Aira pun mengakut semua perhiasan milik Dahlia.
"Mas, itu perhiasan ku di bawah kemana?" tanya Dahlia.
"Mamah mu, sejak kapan aku punya mamah, selain mamah Tania dan Bunda Mita," kata Aira.
"Apakah ini ajaran Bunda mu, melawan perkataan orang tua dan merampas harta milik orang lain," kata Rian sengit.
"Bunda tak pernah mengajar kan aku seperti ini, tapi Ayah lah mengajar kan Kami seperti ini," kata Aira.
"Dasar anak tak tau di untung, pakkk ," kata Rian dan menampar pipi Aira.
"Terimakasih Ayah dua kali sudah kau menampar pipi ku, dan ingat sampai mati pun tak akan aku lupakan kalau ini adalah sakit yang kau toreh kah ke luka yang paling dalam," kata Aira.
"Aku membesar kan kalian akan jadi anak yang berguna bukan seperti ini," kata Rian.
" Kami anak yang berguna buat bunda bukan buat Ayah," kata Ali tegas.
"Tapi aku Ayah kalian, dia cuma bunda sambung kalian ," kata Rian sengit.
"Memang tapi dia penuh kasih sayang kepada kami, bukan dengan seperti ini," kata Aira.
"Alah paling kalau sudah pisah, pasti juga kalian di telantar kan, harta di rebut dari kalian," kata Dahlia.
"Bunda tak sepicik itu, bukan seperti kau wanita murah yang rela menjaja tubuh anda ke suami orang," kata Aira.
"Aira jaga mulut mu," kata Rian.
__ADS_1
"Akan aku jaga jika dia tak menghina bunda ku," kata Aira.
"Non, semua beres," kata Budigad .
"Kalian cepat tinggal kan rumah ini sekarang," kata Ali tegas.
Hati Aira memang sakit, mengusir Ayah kandungnya dari rumah, tapi ini semua pelajaran agar Ayah nya menyesal kemudian hari, andai bunda mereka mau menerima Ayah mereka di kemudian hari mereka pun menerima nya.
"Ali jangan, kasian mamah mu, masih hamil muda," kata Rian.
"Aku tak perduli ," kata Ali.
" kasihani lah Mamah mu," kata Rian memelas.
" Iya kalian tetap tinggal di sini," kata Aira .
"Terimakasih kasih Ai, papah tau hati mu Lembut seperti bunda mu," kata Rian.
"Tapi ada syaratnya nya," kata Aira.
"Apa pun Syarat nya , Ayah setuju, asalkan kami ada tempat berteduh," kata Rian.
"Giamana kalian berdua pun setuju dengan syarat ku," kata Aira.
"Setuju," kata Dahlia dan Denia cepat, mereka kira Aira akan mengembalikan rumah mereka.
"Baik lah dengarkan baik -baik syarat ku karena ini rumah ku, jadi aku yang menentu semua nya," kata Aira.
"Ai, tunggu pikiran matang-matang mereka sudah menyakiti kan bunda dan kita, mereka tak pantas di kasih rumah ini," kata Ali.
"Siit, diam," kata Aira. Dengarkan baik-baik, Ayah kau jadi paman membersihkan halaman dan kebun, dan siapa siaga buka pagar, kalaian berdua jadi pembantu di rumah ini," kata Aira.
"Aira kamu keterlaluan masa Ayah kau jadi orang kebersihan," kata Rian.
"Setuju atau tidak terserah kalian, jika tak setuju maka kalian angkat kaki dari rumah ini," kata Aira.
"Baik , Ayah setuju ," kata Rian terpaksa dari pada tidur di jalan karena uang tak ada.
"Mas, aku tak mau jadi pembantu," kata Dahlia.
"Ibu juga Rian," kata Denia.
"Diam, kalian mau jadi gembel, Rian tak punya apa-apa lagi yang habis, buat biaya Dahlia, yang tinggi," kata Rian.
"Kasian kau Ayah, membuang berlian demi batu kerikil," kata Aira.
"Apa kalian setuju dengan syarat Mbak Aira, atau angkat kaki," akta Ali.
"Kami setuju," kata mereka semua terpaksa.
Jadi jangan main-main dengan keluarga Wijaya . nanti tersiksa.
__ADS_1