Kau Akan Menyesal

Kau Akan Menyesal
Kau bisa bersama mereka .


__ADS_3

"Mamah, ayo kita pergi," kata Arsalan.


"Pergi kemana?" tanya Aira.


"Ayo, aku dan Ade mau ketaman bermain," kata Arslan.


"tapi sayang mamah mau bicara sama nenek dulu," kata Aira.


"Nanti aja kita datang kerumahnya Nenek," kata Arslan.


"Arslan adik mu mana?" tanya Aira.


"Di parkiran," kata Arslan .


"Sama siapa ?" tanya Aira yang tangan nya di tarik Arsalan.


"Sama Deddy, mamah," kata Arslan.


"Deddy, siapa?" tanya Aira.


"Deddy lah, mah," kata Aira.


Aira pun berhenti ketika mendekat parkiran, dia melihat anak gadisnya dekat seorang lelaki yang sangat dia kenal.


"Arslan, masuk mobil," kata Aira.


"Tapi mah," kata Arslan.


"Masuk mobil, dan kau Arsila turun dan masuk mobil mamah mau bicara dengan dia," kata Aira.


"Mamah dia Deddy kami," kata Arsila.


"Ded, kamu bilang dia bukan Ayah kalian, asal kalian tau dia tak menginginkan kalian dulu," kata Aira.


"Ar, biar kan aku menebus kesalahan ku di masa lalu," kata Devano.


"Boleh kau bersama mereka hari ini, tapi kali ini aja, dan untuk nanti jangan temui merek lagi dan menjauh lah, karena mereka ada punya aku yang bisa jadi Ayah sekali Ibu," kata Aira tegas.


"Aira aku mohon mereka anak ku juga," kata Devano.


"Anak, apakah kau lupa atau apa ?" tanya Aira.


"Aku tak pernah lupa, tapi aku juga berhak atas mereka," kata Devano.


Devano benar-benar menyesal atas perlakuan nya dulu yang tak mengangap anaknya malah menyuruh Aira mengugur kandungannya.


"Aku mohon Ai, biar aku menebus kesalahan ku," kata Devano.


" Aku memang tak berhak memisah mu, tapi dulu kau tak mau menerima mereka," kata Aira.


" Itu dulu, sekarang aku menyesal," kata Devano.


" Memaaf tak semudah membalik telapak tangan mas, ingat dulu perlakuan mu, bukan kah Sekarang kau sudah bahagia dengan keluarga kecil mu," kata Aira.


"Kebahagia ku, bersama kalian," kata Devano.


"Kami bahagia tanpa kamu mas," kata Aira.


" Tapi kau butuh ayah buat mereka," kata Devano.


"Mereka tak butuh Ayah atau apa," kata Aira.


"Ingat aku berhak juga bersama mereka dan mereka berhak berbahagia," kata Devano.


"Itu dulu tapi sekarang gak ," kata Aira.


"Terserah," kata Devano.

__ADS_1


Devano pun pergi dan tak menghiraukan anaknya yang memanggil nya.


Aira sedih melihat keadaan anaknya.


"Sudah kalian jangan mennaggis lagi," kata Aira.


"Aku mau Ded," kata Arsila, Arslan diam dia sedih tapi tak menetes kan airmata.


"Dia bukan Des, kalian ," kata Aira.


"Gak aku gak mau sama mah, mamah jahat," kata Arsila.


"De, udah gak baik bentak mamah," kata Arslan.


"Bang aku mau Ded," kata Arslan.


"Iya berdoa aja ," kata Arslan.


" Deddy," teriak Arsila.


"Ayo kita pulang," kata Aira.


"Aku gak mau, aku mau datangin nenek aja," kata Arsila.


"Arsila udah cukup," kata Aira.


Arsila tak perduli dan lari datangin neneknya di ruang pemimpin.


"Ternyata anak ku gak main-main, maaf kan aku nak aku tau aku salah tapi aku butuh waktu, karena kecewa dan luka di masalalu belum sembuh ," batin Aira.


"Mah, Ayo pulang," kata Arslan.


Aira tau anak nya kecewa tapi dia pandai menutup kecewaannya.


"Ayo," kata Aira.


"Maafkan mamah nak," batin Aira dan pergi memasuki mobil nya bersama Arsan.


"Mah, apa mamah benar membenci papah?" tanya Arslan.


"Mamah tak membenci tapi mamah masih sakit hati," kata Aira.


"Oh, maaf kalau Arsalan bertanya," kata Arslan.


"Tak apa-apa ," kata Aira.


Aira dan Arslan pun sama-sama diam.


30 menit mengendara mobilnya Aira pun sampai di rumahnya.


Arslan pun masuk kamar ganti baju dan mandi, itu kebiasaan nya dia seperti Dednya gak bisa gerah.


Di dalam kamar dia terdiam dia cuma bisa melihat Dednya dalam foto di gagedt nya.


"Ded, aku yakin suatu saat kita akan bersama," batin Arslan.


Aira pun di dalam kamarnya berlinang air mata nya.


"Aku tau kamu kecewa nak, tapi kamu menutupi nya," batin Aira.


Di lain tempat Devano merasa kecewa dan sedih.


"Ini kesalahan ku, seandai dari dulu aku menerima mereka maka tak akan seperti ini," teriak Devano.


Semua orang melihat Devano yang berteriak.


Devano tak perduli karena dia merasa kecewa dan menyesal dengan kenyataan .

__ADS_1


" Kenapa penyesal haru datang terlambat," teriak Devano.


Airmata Devano turun, hari dia kehilang harga dirinya, airmata jatuh dia tak seperti Devano yang biasanya penuh keangkuhan dan sombong, tak mengenal belas kasihan.


Sekarang wajah nya penuh dengan kasihan, penuh dengan airmata dan tak ada wajah seperti Devano yang biasanya.


"Tuhan aku adalah Ayah yang paling hina dan tak punya hati," teriak Devano dia tak perduli pandangan orang lain.


Devano terus menangis dan dia pun pergi ke mobil nya dan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi dia tak perduli dengan nyawanya.


*****


Di lain tempat Arsila bersama nenek dan keluarga nya jalan-jalan tapi tak bahagia, ada perasaan cemas di hatinya.


"Nenek , aku merasa cemas ya, apa jangan-jangan ada yang terjadi pada mamah dan Abang," kata Arsila.


"Sabar semoga aja tak ada terjadi apa-apa ," kata Bunda Mita.


"Arslan pun merasa cemas.


"Perasan apa kah ini apakan ada yang terjadi pada Arsila batin Arslan.


*** ****


Di bawah Aira menyiap makan malam buat dia dan Arsalan, mungkin Arsila tak mau pulang, tapi tiba-tiba Gelas di atas meja jatuh .


"Astaga kok bisa jatuh ," batin Aira.


Di pun jongkok dan memungut serpihan kaca yang pecah tapi tangan nya tertusuk beling kaca.


"Awww sakit," teriak Aira.


"Ada apa Bu," tanya Bi Tuti.


"Dak apa-apa , tolong panggil Arsalan," kata Aira.


"Baik Bu," kata Tuti.


Aira pun mencuci tangan nya dan mulai menyapu beling biar tak terinjak oleh anak nya.


"Mamah ,Arsila pulang," teriak Arsila.


"Anak mamah pulang juga", kata Aira.


"Dia merengek minta di antar mbak ," kata Ali.


"Iya udah makan dulu de," kata Aira.


"Kebetulan aku belum makan, mana udah lama gak makan masakan mbak Aira," kata Ali.


Ali, Aira, Arslan dan Arsila makan dengan diam, selesai makan mereka pindah keruang tamu .


"Mbak apa gak mengurus hotel lagi, aku cape banyak pekerjaan yang aku urus, untung restoran ada Septi yang urus ," kata Ali.


"Tapi mbak gak lama mengurus itu semua," kata Aira.


"Jiwa mbak kan berbisnis," kata Ali.


"Iya tapi mbak kan malu," kata Aira.


"Malu sama siapa?" tanya Ali.


" Sama istri mu," kata Aira.


"Tenang dai tak akan ikut campur ka," kata Ali.


"Baik lah mulai besok aku ke restoran dan Hotel," kata Aira.

__ADS_1


__ADS_2