Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Melawan Dua Sekaligus


__ADS_3

Trouble jaringan dua hari. Harap dimaklumi kalau nunggu lama.


**


Dengan tatapan dingin Julia berbalik dengan anggun dan melangkah meninggalkan Aaron . Tanpa sadar mengepalkan genggaman tangannya dengan erat. Tubuhnya bergetar pelan mengetahui rahasia besar kehidupan keluarga Maxilian. Kenyataan besar ini, kenapa baru ia ketahui sekarang?


"Angel, apa yang kau tahu tentang Aaron di masa lalu? Kenapa aku baru tahu bahwa Aaron memiliki saudara tiri? Itulah sebabnya Maxilian sangat membenci Aaron? Sampai ia tak mau menggunakan nama belakang ayahnya? Jadi karena itu sepupu Maxilian berusaha menyingkirkan Maxilian dari kursi kepemimpinan."


Julia kembali mengingat masa kehidupannya saat menjadi Angel. Langkahnya terhenti saat mengingat nama lengkap Aaron. "Aaron Jade levis," ucapnya pelan dan seketika ia menutup mulutnya tak percaya. Mereka berdua memiliki nama yang hampir sama!


Emosi di hati kian bergejolak saat ia makin mengingat masa lalu. Tidak sekalipun Aaron membahas tentang keluarganya. Ia hanya tahu kalau Aaron mempunyai satu adik perempuan yang... oh tidak, wajah perempuan itu sama sekali tidak mirip dengannya. Namun bila dibandingkan dengan cermat wajah Maxilian dan Aaron memang memiliki sedikit kemiripan walaupun Maxilian terlihat jauh lebih tampan. Kini ia tahu, ternyata Aaron sudah menipunya sejak awal.


Julia tersadar. Bagaimana dengan mudah ia percaya sebelum mencari tahu kebenarannya lebih dulu. Ia mengakui kebodohan tubuh yang ia tempati saat ini, namun ternyata ia sendiri tidak berbeda jauh. Ia pun telah dibodohi seorang pria hanya karena sebuah kata-kata cinta. Tidak, ia tidak bisa membiarkan hidup pria itu tenang.


Belum lama ia kembali melangkah, Tomas datang menghadangnya. Pria itu membungkuk sopan dan mengulurkan botol dan sebuah cincin bermata satu yang berkilauan.


"Apa ini," tanya Julia hati-hati.


"Nona, ini adalah racun yang anda minta. Dan cincin ini dari tuan muda. Tuan sendiri yang menyiapkannya. Untuk keadaan darurat, cincin ini bisa nona gunakan untuk perlindungan diri."


"Perlindungan diri?"


Tomas mengangguk. "Benar, cincin ini terdapat racun di dalamnya. Nona tekan saja tombolnya, maka cincin ini akan menyemprotkan racun. Tuan tahu kalau anda tidak begitu menyukai cin.."


"Aku akan memakainya." potong Julia sambil meraih cincin itu dan memakainya. Sedangkan botol yang berisi racun, ia letakkan di saku celananya.


Tomas undur diri dan Julia kembali melangkahkan kakinya menuju hotel. Saat baru akan melangkah masuk pintu hotel, sebuah suara membuat matanya terpejam lelah dan hembusan nafas berat dikeluarkannya.


"Julia,"


Jika tadi Aaron, kali ini Rose. Sepertinya ia tak bisa beristirahat dengan tenang kali ini. Berbalik, ia mendapati Rose yang berjalan dengan anggun menghampirinya.


"Dari mana kau sepagi ini?"


Julia tersenyum tipis seperti tak ada yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Ia melirik mengitari ke sekeliling dan mendapati cctv di beberapa sudut. Seketika perasaannya menjadi lega.


"Mencari kon*om." jawab Julia dengan wajah merona untuk menunjukkan rasa malu.


"Apa?" tanya Rose terkejut.


Julia mengangguk, dia tak akan segan pada wanita di hadapannya ini. "Ada apa kau mencariku?"

__ADS_1


"Nenek memanggilmu, ikutlah denganku."


"Tidak sekarang. Maxilian masih tidur. Aku harus segera kembali secepatnya. Karena dia pasti akan marah kalau tahu aku tak ada di sisinya saat dia bangun tidur nanti."


Nada manja penuh cinta yang terpancar di matanya, terlihat di mata Rose. Dan itu membuat perasaan Rose makin remuk. Ia menjadi makin membenci Julia. Tanpa aba-aba, ia menarik tangan Julia dengan paksa.


"Kau harus mengikutiku. Nanti aku yang akan mengirimkan kabar kepada kakak sepupu. Jadi kau tak perlu khawatir."


Kini jelas semuanya. Mery tak pernah benar-benar mencari keberadaan Julia. Ini hanya sebagai alasan agar Rose dapat membawa Julia tanpa sepengetahuan Maxilian. Julia tersenyum penuh arti dan tanpa penolakan, ia mengikuti langkah ringan Rose. Ia ingin tahu kejutan macam apa yang telah Rose persiapkan untuknya.


Mobil itu melaju melewati keramaian. Julia duduk manis dengan sudut bibir yang tertarik tipis. Dia hanya melirik Rose yang mengemudi dalam diam.


"Kemana kau akan membawaku?"


Rose menoleh. "Ke tempat semestinya kau berada."


Julia menahan senyum. Matanya berkilat penuh prasangka. "Kau tahu Janet bukan? Bukankah kau sering menemuinya? Kenapa kau tak memeriksa keadaannya saat ini?" tanyanya tanpa menoleh. "Saat ini Janet sedang mengalami gangguan jiwa dan.." ucapnya tertahan.


"Itu sama sekali tak membuatku takut. Julia, aku tak akan mengikuti rencanamu."


"Lalu, apakah menculikku adalah rencanamu?"


Rose terdiam. Ia tetap fokus ke depan. Mobil itu memasuki wilayah sepi. Bangunan-bangunan tua dan usang dengan rerumputan tinggi tampak memenuhi sekitarnya. Meski begitu, kota kecil itu masih nampak berpenghuni. Jadi Julia masih bisa tenang. Namun Julia kembali berpikir ulang saat tahu mobil itu terus melajukan jalannya. Dan pada akhirnya, berhenti pada sebuah bangunan rumah minimalis yang sederhana.


"Sudahlah, jangan banyak bicara. Kau akan mengetahuinya nanti. Ikuti saja aku."


Julia menurut. Ia turun dan mengikuti langkah Rose. Matanya menatap waspada, mengedarkan pandangannya di setiap sudut. Nampak rumah itu dikelilingi perbukitan yang sangat asri. Sejenak ia mencium udara yang sejuk dan alami. Namun tatapan matanya terpaku pada beberapa boneka tua yang masih baik keadaannya, namun memiliki aroma yang anyir menusuk indera penciumannya.


Lindsey, batin Julia mulai waspada. Dia tak menyangka hari ini adalah hari ia melawan dua sepupu Maxilian sekaligus. Tanpa sadar tangannya memutar mutar cincin di jari manis tangan kanannya. "Apakah ini waktu yang tepat untuk menguji coba racun yang kumiliki? Aku menjadi tidak sabar melihat reaksi orang yang terkena racun ini. Kira-kira siapa yang akan menjadi kelinci percobaanku hari ini? Ataukah harus keduanya? tanyanya dalam hati


Halaman luas membuat langkah Julia menuju rumah itu, makin panjang. Ia hanya perlu bersikap waspada. Ia harus bisa memainkan peran dengan baik untuk dapat mengulur waktu sampai bantuan Maxilian datang.


"Apa kau selalu berjalan lambat seperti ini?" tegur Rose tak sabar. Ia menoleh, tak bergerak karena menunggu Julia berjalan.


Julia tersenyum hangat. Dengan sengaja ia memegang perut bagian bawahnya dengan tenang. "maaf, tapi rasanya sangat tidak nyaman. Sepertinya bagian intimku sedikit lecet." terangnya sambil sedikit mendesis kesakitan untuk memperkuat alasannya. Dan ia dapat melihat ekspresi Rose yang makin geram setelah ia mengemukakan hal pribadi itu.


Dengan kesal Rose melangkah mendur menuju Julia. Menarik tangan Julia dengan tidak sabar. Bagaimana bisa sepupunya tergila-gila dengan wanita seperti dia. Hanya wanita sepertinya lah yang pantas bersanding menjadi istri Maxilian. Semakin ia memikirkan ini, makin membuncah kebenciannya terhadap Julia.


Pintu rumah kayu itu terbuka dengan sekali dorong. Mata Julia bergerak mengelilingi ruang dengan waspada. Dia menahan langkahnya, menarik tangannya dari Rose dan sedikit mundur.


Byur! seember air tumpah dari atas pintu.

__ADS_1


"Lindsey! apa yang kau lakukan?"


"Ups." ungkap Julia dengan senyum tipis. Selanjutnya ia melihat Lindsey datang dengan kalut.


"Rose, aku pikir yang pertama masuk bukanlah dirimu. Kupikir, kupikir.." ucapnya terjeda saat melihat Julia menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menahan tawanya.


"Lindsey, dari nada bicaramu, seharusnya targetmu adalah aku."


Lindsey menggeleng cepat. "Kakak ipar, apa maksudmu? Aku tak bermaksud begitu. Aku hanya sedang bermain main dengan salah satu pengawalku. Aku tak tahu kalau kalian akan datang."


"Aaarrgghhh Lindsey, Kau ini keterlaluan." Rose melangkah memasuki rumah untuk mengganti pakaiannya.


Selama menunggu, Julia duduk dengan sangat hati-hati di ruang utama. Mengitari seluruh ruangan dengan cermat. Dapat ia lihat secangkir teh yang masih mengepul mengeluarkan panas. Dari pengamatannya teh itu terlihat biasa, namun keadaan seperti ini membuat itu menjadi tak biasa. Dia tak akan lengah.


"kakak sepupu, bisakah kau katakan dimana salon langgananmu? kulihat kulitmu sangat halus, dan bentuk tubuhmu sangat indah."


"Kenapa? Apa saat ini kau menginginkan tubuhku juga?" ungkap Julia langsung. Dia sedikit mendongak memperhatikan wajah Lindsey yang saat ini sangat mengamatinya.


"Apa maksudmu?" tanya Lindsey terkejut.


Julia tertawa kecil. Dia letakkan kedua tangannya ke sisi kursi yang ia tempati, dan duduk dengan santai. "Lindsey, kau jelas tahu apa maksudku. Awalnya hanya tangan, lalu kaki, kini kau bahkan menginginkan tubuhku?" ucapnya dingin. Nada bicara lugas dengan tatapan tajam menantang sedang ia tunjukkan di hadapan Lindsey.


"Apa kau berpikir menjadikanku boneka koleksimu juga?"


"Ka-kau." Lindsey terkejut dan tergagap. "Ba-bagaimana kau..." Bagaimana Julia tahu tentang semua rahasia hidupnya? Bagaimana Julia tahu tentang kelainan yang ada di dalam jiwanya? Julia mengatakan semua dengan lugas dan tanpa rasa takut seolah olah kekejaman yang ia lakukan adalah hal yang biasa dan bukan masalah besar.


Julia berdiri dari duduknya berjalan mendekati Lindsey. Berhadapan dengannya sambil mengatakan,"Tidakkah kau memikirkan kosekuensi yang akan kau dapat andai Maxilian tahu? Jika aku menjadi salah satu koleksi bonekamu, aku akan membuka mataku, berjalan mencarimu, dan... membunuhmu." ucap Julia lirih sambil berjalan mengitari tubuh Lindsey dan menyentuh lembut pundak Lindsey. "Mau tahu bagaimana caraku membunuhmu? Aku akan menusuk perutmu beberapa kali sampai ususmu terurai, dan menyiramnya dengan air keras, hingga seluruh luka itu membusuk dengan sendirinya." bisik Julia lirih di telinga Lindsey.


Tubuh Lindsey menegang. Ia membayangkan segala yang Julia ucapkan. Wanita ini, bagaimana ia tahu tentang caranya bermain-main dengan koleksinya? Namun sebelum ia menjawab, Julia sudah lebih dulu menendang sesuatu di sudut kursi.


Prang!


"Apa yang kau lakukan!" teriak Lindsey.


Julia mudur menjauh melihat cairan yang tumpah dari tempatnya itu berasap dan membakar lantai. Membuat jejak kehitaman di lantai itu, hingga membuat tubuhnya kaku.


Si*al! itu adalah air keras!


"Kau! kenapa kau.." Lindsey tak melanjutkan kata-katanya. Kedua tangannya mengepal erat dengan amarah yang memuncak. Bagaimana Julia tahu kalau itu adalah air keras?


"jadi kau benar-benar akan melakukan itu padaku?" tegur Julia dingin. Lalu ia mengelilingi pandangannya ke segala arah. "Lindsey, koleksimu di rumah ini masih mengeluarkan bau anyir. Apa kau tak merasakan mual? Oh, kurasa kau terbiasa bermain dengan benda-benda yang menjijikkan dari kecil, jadi bagimu itu adalah hal biasa."

__ADS_1


"Julia!!" Lindsey berteriak dengan menghentakkan kakinya, hingga air keras yang belum mengering terpercik sedikit ke atas kaki Lindsey. Hingga membuat Lindsey berteriak kesakitan saat air keras itu menyentuh kulit kakinya.


Julia hanya menatap datar, hingga pandangan matanya teralihkan saat suara ketukan lantai terdengar dan Rose muncul. Namun sebelum Rose sampai, Julia sudah mengambil langkah. Ia sudah menekan tombol di cincinnya dan menyemprotkan racun ke dalam cangkir teh. Lindsey tak mengetahui karena ia sedang sibuk dengan air kerasnya.


__ADS_2