Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Pesta pernikahan yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Maxilian menjadi sebuah pesta pernikahan yang tak akan mudah terlupakan untuk semua orang. Karena pesta ini adalah pesta pernikahan terbesar selama beberapa tahun terakhir. Keduanya menampakkan raut wajah berseri yang menggambarkan penuh kebahagiaan.


Maxilian selalu menggenggam tangan Julia dan selalu menjaga istrinya. Entah sejak kapan dia selalu berusaha meningkatkan kepekaannya bila itu menyangkut istrinya. Hingga bagi setiap orang sikap Maxilian sangat berlebihan dalam memanjakan istrinya. Namun bagi beberapa orang, sikap Maxilian adalah curahan kasih sayang yang begitu besar. Dan Julia adalah wanita yang sangat beruntung karena mendapatkannya.


Beberapa bulan kemudian, saat usia kehamilan Julia yang telah beranjak lima bulan. Semua kebutuhan yang tak pernah terpikirkan olehnya, kini bahkan sudah tersedia lengkap di tempat tinggalnya. Kota cina ini, adalah kota kematiannya, namun juga kota yang mengawali hidup barunya. Dia tersenyum puas hingga sebuah ketukan pintu terdengar lalu wajah Maxilian terlihat setelahnya.


"Kau sudah bangun sayang?" tanya Maxilian lembut. Dia meletakkan baskom berisi air hangat di dekat tempat tidur dan menunggu Julia menurunkan kedua kakinya. "Kemarikan kakimu. Ini akan membantu mengurangi bengkakmu."


Julia mengangguk pelan. Dia duduk di sisi tempat tidur, lalu memasukkan kedua kakinya ke dalam baskom yang suaminya bawa. "Lian, kau tak perlu melakukan ini."


"Tidak, ini memang sudah tugasku. Kau harus nyaman mengandung anak-anakku." jawabnya dengan tersenyum tulus. Dia berjongkok dan memeluk pinggang Julia pelan sambil menempelkan telinganya pada perut Julia. "Selamat pagi jagoan ayah. Apa kau sudah bangun juga? Sehat-sehat di dalam sana. Jangan nakal dan jangan buat ibumu susah. Kau mengerti?"


Julia tersenyum memeluk kepala Maxilian. Ada rasa hangat yang menyebar di hatinya. Rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Lihatlah, dia bergerak. Putraku bergerak." ucap Maxilian pelan namun penuh haru. "Kau tahu sayang, sepertinya keinginan kakek dan nenek memiliki cicit perempuan belum terpenuhi. Sepertinya setelah putra kita lahir, kita tidak perlu menunda lagi untuk memberikannya adik yang cantik."


Julia tertawa dan mengangguk pelan. Dia menatap wajah suaminya dengan sayang. Sedangkan Maxilian beralih ke perut Julia dan menjatuhkan ciuman bertubi tubi di sana. Mendongak, dia pun mengecup bibir Julia sekilas. "Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?"


Julia menggeleng lemah. Dia mengangkat kaki yang direndam air hangat oleh suaminya. Lalu Maxilian mengusap lembut dengan handuk untuk mengeringkannya.


"Aku akan menyiapkan air mandi untukmu. Tunggu di sini, karena sebentar lagi pelayan akan membawakan su-su pagimu."


Julia mengangguk. Dia melihat maxilian membawa baskom itu untuk membuang airnya ke kamar mandi. Entah mengapa maxilian selalu memperlakukannya bagai seorang putri raja. Pria ini begitu memanjakannya dengan limpahan kasih sayang. Hingga ada rasa asing yang menyebar begitu saja di dalam sanubarinya. Apakah ini rasa cinta? Cinta untuk pria yang begitu besar mencintainya.


Seorang pelayan masuk dan membawakan su-su untuk kehamilan Julia. Julia meminumnya dan berjalan menuju kamar mandi. Dia mendapati Maxilian yang tengah mengukur suhu air mandinya dengan cermat. Pria itu berbalik dan menuntutnya sebelum akhirnya membiarkan pelayan yang menangani sisanya.


Di lantai bawah, Hanna dan Ben terlihat duduk santai sambil menunggu waktu sarapan pagi. Keduanya menoleh saat mendengar suara langkah kaki Maxilian menuruni tangga. Keduanya berdiri tanpa sadar lalu duduk kembali saat melihat maxilian duduk di bangkunya.


"Untuk apa kalian datang sepagi ini?" tanya Maxilian menatap keduanya.


"Apa ini caramu memperlakukan kakak sepupumu?" jawab Ben sambil menyesap kopi di hadapannya.


Tatapan Maxilian menajam saat melihat Hanna yang begitu gugup. Lalu beralih pada Ben yang masih menempelkan bibirnya di gelas. "Apa kalian menginap berdua?"


Pffhh byur...


Semburan air kopi dari bibir Ben membuat mata maxilian menajam. Hanna langsung berdiri dan menatap maxilian dengan sengit,


"Lian, apa kau menganggapmu serendah itu?" tanya Hanan kesal. "Bukankah kau sendiri yang tak mengijinkan Jack pulang!"


Maxilian menatap kepergian Hanna yang berjalan menuju lantai atas. Lalu pandangannya beralih pada Ben. "Apa kau mendekati sepupuku?" tanyanya dingin.

__ADS_1


"Apa?"


"Kau berani mendekati sepupuku? Apa kau pikir ini pertukaran saudara?"


"Ish, kau ini salah paham. Kami memang datang di waktu yang sama, namun kami tak memiliki hubungan apapun. AKu tak berminat dengan adikmu."


"Apa? apa kau pikir adikku tidak layak?"


Ben menghela nafas lalu menatap ke lantai atas di mana sosok Hanna baru saja pergi. "DIa sangat cantik. Karirnya bagus dan sangat berbakat. Tapi apa salah kalau aku punya selera lain? Jeni terlihat lebih seksi dari pada Hanna. Apalagi saat dia menatapku tajam dan memukul perutku dengan tinjunya. Dia sangat garang. Dan aku bisa membayangkan seberapa tangguhnya dia di atas ranjang. Aku suka..."


"Dasar g*la!" maki Maxilian cepat. Dan Ben langsung tertawa.


Tak lama Julia turun di dampingi oleh Hanna dengan raut wajah yang kesal. Dia menuntun Julia duduk di damping Maxilian sambil berbisik pelan.


"Kau harus berhasil membujuknya."


Julia tersenyum tipis dan mengangguk. Membuat Maxilian menatap curiga.


"Apapun yang dikatakan Hanna padamu kuharap tidak perlu menjadi beban pikiranmu. Anggap saja dia tamu yang tak diundang."


Julia, Hanna dan Ben tertawa setelah mendengar ucapan Maxilian.


"Lian, kau terlalu kasar pada mereka." bujuk Julia lembut.


"Mereka hanya berkunjung untuk menengok keadaan kita. Apa yang salah?"


"Itu hanyalah kedok. Mereka pasti memiliki maksud terselubung."


Julia tertawa kecil melihat Maxilian yang menggerutu. "Bagaimana kalau kita kembali ke Las Vgas minggu depan?"


Maxilian terhenyak dan menatap ragu Julia. "Kau ingin kembali ke sana?"


Julia mengangguk pelan. "Kurasa lebih baik kita kembali ke sana. Nenek dan kakek pasti sangat bahagia bila kita menemani mereka. Aku tahu mereka kesepian di sana. Lagipula, usia kehamilanku ini sudah aman untuk melakukan perjalanan udara."


Maxilian tersenyum, mengecup pipi Julia ringan. "Seperti yang kau harapkan. Kita akan segera pindah ke sana."


Hanna dan Ben mendengus sebal menatap kemesraan mereka. Kemudian mereka beralih menikmati sarapan mereka dengan rasa kesal. Di tengah sarapan yang tengah berlangsung, terdengar suara ponsel berdering dan Maxilian mengangkatnya segera.


"Lian, kapan kau membiarkan aku pulang ke Las Vgas?"


Maxilian menjauhkan ponselnya dari telinganya saat suara nyaring Jack terdengar. Dia menatap Hanna yang juga menatapnya penuh harap. Dan Ben tertawa kecil saat mendengar rengekan Jack dari teleponnya.

__ADS_1


"Bukankah kau ingin liburan ke Indonesia? Aku sudah memberimu ijin di sana selamanya." jawab Maxilian tegas.


"Kenapa kau sekejam ini padaku!" tanya Jack sambil berteriak.


"Kenapa? Bukankah kau kaya? Kau bahkan memberikan kartumu pada istriku. Jadi kau pasti hidup enak di sana."


"Ya tuhan.. aku ini membantu istrimu oke? Lian, kau.."


"Nikmati waktumu menjadi dokter berbakat di sana." putus maxilian menutup teleponnya lalu tatapan kecewa Hanna pun terlihat.


Julia menyentuh lengan Maxilian lembut. "Lian, dia hanya membantuku. Kau tak perlu sekeras itu."


Lian tersenyum dan menyentuh tangan Julia. "Kau tak perlu khawatir. Aku akan memulangkannya nanti. Mungkin satu atau dua tahun lagi."


"Kakak, kau sudah berjanji!" sahut Hanna dengan semangat. Dia menatap Julia lembut . "Terima kasih Julia, Kau benar-benar hebat. Aku akan pulang sekarang."


Hanna mengecup pipi Julia sekilas lalu meraih tas jinjingnya dan melangkah pergi. Kekasihnya akan segera pulang, dan dia bisa tenang saat bekerja. Kini yang harus dilakukannya hanyalah fokus bekerja untuk mencapai target sebelum akhirnya Jack pulang dan mereka akan menikah.


Sedangkan Ben, dia meletakkan sendok lalu mengeluarkan sebuah undangan di atas meja. Matanya menatap Julia lembut. "Julia, kau harus pulang. AKu akan tunggu kedatangan kalian minggu depan. Ayah dan ibuku sangat merindukanmu. Dan kalian memiliki tugas untuk menjadi pendamping pengantin dalam pernikahanku dengan jeni."


Maxilian diam saat melihat dua tamunya pergi begitu saja. Sedangkan Julia tertawa melihat wajah kesal suaminya.


"Sudah kukatakan, mereka sangat menyebalkan."


Julia tersenyum dan mengelus pundak suaminya lembut. Dia telah memutuskan untuk kembali ke Las Vgas sebagai Julia Brasco. Dia sudah mengikhlaskan hidupnya sebagai Angel dan melupakan rasa sakit di kehidupannya terdahulu. Dia pikir keputusan Maxilian untuk tak mengambil tindakan yang lebih pada Aaron dan Lusi adalah benar. Semua tak salah, hanya saja saat itu ego dan dendam begitu menguasai jiwanya.


"Aku tak menghukum mereka terlalu dalam karena aku tak ingin anak kita memiliki kenangan yang menyakitkan. Julia, kau sekarang telah menjadi seorang ibu. AKu tak ingin anak kita tahu bahwa orang tuanya sangat kejam. Aku ingin anak kita tahu bahwa dia memiliki seorang ibu yang baik dan hebat. Aku ingin kau hidup tanpa terbebani dendam dan rasa sakit. Apa kau mengerti sekarang?"


Itu adalah penjelasan yang Maxilian berikan saat itu. Pria itu menceritakan bagaimana akibat dari rasa sakit karena cinta. Membuat pemikirannya lebih terbuka. Dia sekarang adalah Julia Brasco. Seorang wanita dengan dua ingatan yang berbeda. Namun hidup barunya dengan Maxilian akan membentuk ingatan baru di kehidupan mendatang. Pria yang dipilihnya untuk menua bersama. Saling melengkapi dan saling menjaga.


"Lian, aku mencintaimu." ucap Julia lirih tanpa sadar.


Maxilian terhenyak. DIa terpaku pada ucapan istrinya. "Apa? bisa katakan sekali lagi?"


Julia tersenyum lembut. "Aku mencintaimu sepenuh hati."


"Aku juga!" sahut Maxilian cepat. "Aku juga sangat mencintaimu! Amat sangat mencintaimu." lanjut Maxilian sambil meraih tubuh Julia untuk dipeluknya.


Air mata Julia tanpa sadar menetes. Ah, indahnya dicintai. Sangat menakjubkan dan sangat menyenangkan. Lalu terbesit di pikirannya, kini dia sebagai Julia juga Angel telah sama-sama memperbaiki takdir hidupnya di masa depan. Mereka sama-sama menemukan cinta dan kebahagiaan. Namun yang terpenting, mereka mendapatkan keluarga baru yang begitu mencintai mereka sepenuh hati.


**

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini. Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya.


__ADS_2