
Seharian kemarin jaringan sedang tidak bagus, jadi baru bisa up hari ini. Terimakasih bagi yang setia menunggu.
**************
Di apartemen itu, Maxilian dan Julia terlihat duduk berhadapan untuk menikmati sarapan pagi. Keduanya terlihat saling melempar pandang satu sama lain. Tak ada suara lain yang terdengar selain dentingan sendok dengan piring.
“Apa yang Hanna katakan?” tanya Maxilian tiba-tiba.
Julia tampak tenang seperti biasa. Dia sudah sembuh saat ini. “Daripada itu, ada hal lebih penting. Nenek memberikanku saham dan pin keluarga Lunox.” Ucap Julia sambil meletakkan pin tersebut di atas meja.
Maxilian menatap sekilas lalu kembali menatap wajah Julia. “Kau bisa menggunakan itu semaumu.”
“Apakah ini sebagai kompensasi atas kejadian yang menimpa diriku?”
“Itu,” jawab Maxilian menggantung.
“Keluargamu tidak mudah dihadapi. Aku tadinya tidak mempedulikan masalah keluargamu, tapi sepertinya mereka tidak akan semudah itu melepaskanku.”
“Maaf,”
“Lagi?” Julia menghembuskan nafas malas, “Pernikahan ini hanya tiga bulan bukan?”
“Kenapa? Kau ingin memperpanjangnya?” tebak Maxilian.
Saat ini rasa gelisah menelisik pikirannya. Dia tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Gadis ini, kurang dari satu bulan sudah mendapatkan saham. Bagaimana jika pernikahan ini diperpanjang? Berapa banyak yang Julia akan dapatkan? Seberapa banyak yang Julia inginkan dari keluarga Lunox? Seketika perasaan jijik terlintas di benaknya.
Mendengar ucapan itu, membuat hati Julia tersentil. Sebegitu buruk dirinya di mata Maxilian. Hingga pria ini memberikan tatapan remeh padanya. “Memperpanjangnya?” tawa sinis melintas kemudian. Dia menatap Maxilian tak berminat. “Aku tak tahan untuk segera pergi dari keluarga yang menjijikkan ini.”
__ADS_1
“Apa kau bilang?”
“Kenapa? Apakah belum cukup semua yang sudah kualami? Tak hanya hampir mati, tapi juga dituduh menginginkan hartamu. Tak hanya itu. Kau menuntut pertanggung jawabanku atas hilangnya kesucianku? Maxilian, apakah kau tak bisa berpikir? Jika aku mengembalikan semua ini, bisakah kau juga mengembalikan kesucianku? Kehidupanku bukanlah barang yang bisa ditukar dengan saham atau pin keluargamu!”
Ada luka di hatinya, tak peduli anggapan Maxilian dan seluruh keluarganya, tapi kehidupannya bukanlah hal yang bisa dipertaruhkan. Dia saat ini berjuang keras untuk memperbaiki kehidupan keduanya, dan Maxilian bukanlah bagian dalam rencananya.
Kembali dengan permasalahan itu, Maxilian menatap Julia dengan lembut. “Julia, soal itu,,,”
“Aku ingin segera mengakhiri pernikahan ini.”
Maxilian membeku, tatapanya berkabut. Dia berdiri dan melangkah lebar, kemudian merengkuh kepala Julia dan mencium kasar bibir Julia. Membuat mata Julia terbelalak lebar. Gadis ini berani sekali mengatakan itu semua tepat di hadapannya.
“Apakah kau lupa? Aku sudah mengatakan sejak awal kita berhubungan, tak ada jalan bagimu untuk kembali. Tak peduli apa yang kau pikirkan, kau akan selalu menjadi wanitaku!Kau..”
“Aku tak sudi!” potong Julia dingin. “Duniamu tak cocok untukku.”
“Pesta pernikahan ini akan menjadi akhir penantian. Pernikahan kita telah sah di mata hukum. Hal apa yang akan kau lakukan jika aku benar-benar mengurungmu dalam genggamanku? Julia, sejak malam yang telah kita lewati bersama, saat itu juga kau telah menjadi milikku. Kau sudah masuk dalam kehidupan pria yang tak kau inginkan. Dan kau akan berakhir menjadi istri dari pria sepertiku, selamanya.”
Wajah Julia memerah. Semua ucapan Maxilian mengingatkan tentang hal yang pernah ia ucapkan saat malam panjang mereka. Harusnya ini tidak pernah terjadi. Dia tak pernah bermimpi menyerahkan seluruh hidupnya pada pria seperti Maxilian.Tapi sejak mengenal pria ini, semua masalah dalam hidupnya seolah tak ada solusi. Hidupnya telah terpenjara.
“Apakah kau selalu seperti ini? Kau adalah pria kaya, sudah pasti kau selalu berakhir dengan wanita manapun di setiap malammu. “tawa miris dari bibir Julia tersemat.
Ucapan Julia bagaikan bom waktu yang akan meletus. Maxilian meletakkan tangannya tepat di leher Julia dan menekannya. Mulutnya terkatup rapat dengan tatapan dingin. “Apakah karena aku terlalu lembut padamu, hingga
kau lupa meletakkan di mana tata kramamu? Apa kau lupa orang seperti apa diriku? Julia, camkan kata-kataku. Hanya namakulah yang akan selalu kau sebut di sepanjang hidupmu.”
Julia menahan nafasnya yang seakan tercekat di tenggorokan. Dua sudut matanya berair dengan getaran pelan.
__ADS_1
Perlahan tangan maxilian bergerak mengunci geraham Julia. Menekannya agar wajah cantik itu mendongak menatap wajahnya. “Ingatlah, setiap inci tubuhmu adalah milikku. Jika aku mendapati pria lain menjamahmu, maka aku pastikan kepala pria itu lepas dari tubuhnya tepat di hadapanmu.”
Perlahan air mata Julia mengalir. Kini berakhir sudah. Benar-benar berakhir. Pria ini sangat mengerikan. Tidak berbeda dengan keluarganya yang lain. Dan parahnya, dia terseret ke dalam pusaran masalah keluarganya. Lalu apa yang harus ia lakukan saat ini? Tak ada! Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah menurut. Cukup menurut dan berusaha menghindar dari masalah agar nyawanya terselamatkan.
“Jadilah istri yang baik. Aku tahu bahwa kau adalah gadis yang baik sejak aku menjadi yang pertama bagimu. Tak peduli bagaimana caramu memainkan drama hidup, kau adalah nyonya Lunox sekarang. Dan nyonya muda keluargaku, tidak boleh lemah dan mudah ditindas. Karena itu aku memilihmu. Karena kau memiliki cara pandang yang sama denganku, maka kau bebas melakukan apa saja yang kau mau. Aku akan selalu di belakangmu. Meski kau membunuh orang, aku tetap berdiri di belakangmu. Mendukung dan mencarikan jalan terbaik dari setiap masalah yang kau hadapi. Dan itu adalah salah satu keuntungan menjadi istriku.”
“Apa kau sudah selesai?” tanya Julia lirih. “Lepaskan, ini sakit.”
Maxilian menarik bibirnya sedikit. Melepaskan tangannya dari geraham Julia. Satu tangannya mengelus pipi Julia dan mendekatkan bibirnya ke telinga Julia. Dia berbisik pelan, “Jadilah baik dan bersikap layaknya nyonya muda keluarga Lunox. Kau tahu, kau tak memiliki jalan lain kecuali menerima pernikahan ini dan tetap hidup bersamaku.”
Julia menegang, dia tak tahu bahwa Maxilian akan memasungnya sedemikian rupa. Kata-kata lembut penuh ancaman itu terdengar menyakitkan.
“Aku belum mendengar jawabanmu. Apakah aku harus melenyapkan pamanmu, Sam? Kulihat ia beberapa kali mencarimu. Semua pria di sekelilingmu, sangat menyebalkan di mataku.”
Maxilian mendengar dari Tomas menyebutkan nama-nama pria yang datang untuk menemui Julia. Di antaranya adalah Sam, orang yang mengaku sebagai pamannya. Meski begitu ia tak akan membiarkan siapapun menemui istrinya.
Wajah Julia memucat saat nama pamannya disebut. Ia menepis tangan Maxilian keras. “Jangan menyentuhnya!”
Nada peringatan terdengar. Membuat Maxilian menaikkan satu alisnya. Dia melihat tangannya yang ditepis. Ini baru beberapa saat setelah peringatan pertamanya terucap. Tapi sekarang wanitanya ini kembali membuat ulah dengan
bersikap kasar. Ini benar-benar melukai harga dirinya.
Julia melihat arah pandang Maxilian yang jatuh pada tangan yang baru ia tepis. Walaupun ancaman Maxilian begitu menakutkan, tetapi gerak refleksnya tak dapat ditahan. Akhirnya ia menyahut kembali tangan Maxilian yang baru saja ia tepis. Mengelusnya pelan seolah itu adalah selembar roti yang belum lima detik terjatuh ke tanah.
"Aku refleks. Kumohon jangan sentuh mereka." pinta Julia lirih. "Dia benar-benar pamanku, saudara ibuku."
Saat ini bersikap manis dan mengalah adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan. Maxilian sama sekali tak memberinya pilihan selain menjadi nyonya Lunox yang baik.
__ADS_1
Maxilian tersenyum, ia tak sadar bahwa akhir-akhir ini ia sudah lebih sering tersenyum. "Gadis yang baik." ujarnya dengan tangan mengelus puncak kepala Julia.