Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Otewe Khilaf


__ADS_3

"Julia, kurasa kau-- hmmppp--"


Maxilian sangat terkejut saat Julia tiba-tiba mencium bibirnya. Ciuman itu sangat tak beraturan hingga dia hampir tertawa. Dia melepaskan ciuman mereka dan terpejam lalu tersenyum.


"Ingat ini. Saat kau berciuman, kau harus lakukan dengan lembut. Buka mulutmu perlahan, lalu kaitkan lidah kita. Jangan menggigit lidahku, karena itu akan sangat sakit. Hisap bibirku dan nikmati semuanya dengan tenang. Seperti ini..."


Perlahan Maxilian mencium bibir Julia lembut. Mencari lidah Julia dan menghisapnya pelan. Dia mengajari Julia dengan sangat baik. Dengan sangat lembut dan penuh dengan kehati-hatian. Mereka seolah saling mengisi dahaga satu sama lain. Dan hal itu membuat Julia mengerang tanpa sadar. Jiwanya melayang saat rasa nikmat memuncak hanya dengan satu ciuman.


Melihat hal itu Maxilian terkejut. "Kau klim**s?" namun saat melihat Julia masih memejamkan matanya dengan nafas terengah engah, dia tersenyum tipis. Ada rasa bahagia yang tak dapat ia gambarkan, dan sesuatu yang liar dalam dirinya kembali bangkit.


Namun meski begitu, dia sadar bahwa Julia tengah dalam pengaruh obat. Semua hal yang dia lakukan, dan pencapaian Julia, entah kenapa dia merasa itu tak memuaskan. Menggeserkan tubuhnya, dia mencoba bangkit, dan jari-jarinya yang kokoh melewati kulit pinggang Julia yang lembut. Kulit putih halus itu terlihat sangat rapuh dan sentuhan tangannya yang ringan membuat gadis itu kembali menegang tanpa sadar. Dan saat Maxilian memindahkan kakinya, Julia tiba-tiba kembali meraih tengkuk kepalanya. Mencium bibirnya dengan sangat liar.


Mata Maxilian terbelalak saat tiba-tiba Julia mencium bibirnya kembali. Dia masih terkejut karena tiba-tiba Julia terlihat sangat liar. Menghisap bibir dan lidahnya dalam sekali lahap. Tanpa sadar, dia membalas ciuman itu hingga tautan bibir mereka saling terjalin. Nafas keduanya sangat memburu dan saat ini, Maxilian mulai merasa kehilangan kendali dirinya.


Dia merasa seluruh tubuhnya menginginkan lebih dari ini. Lebih dari bibir Julia dan dia ingin menuntaskan keinginannya. Meski begitu, satu kenyataan bahwa mereka hanyalah menikah secara kontrak membuat sedikit kesadarannya melonjak. Dia mencoba menyudahi ciuman ini. Dia menarik dirinya dan menahan tubuh Julia yang dingin.

__ADS_1


"Cukup Julia, kita harus berhenti." nafasnya terasa memburu dengan kilatan mata yang tajam. Saat ini dia harus menguatkan diri agar tak membuat Julia menyesal.


"Lian,, Maxilian.." panggil Julia lirih. Wajahnya memerah dengan tatapan sayu penuh gairah. Jari lentiknya yang awalnya diam, kini menyentuh bibir Maxilian yang baru saja ia cium. Seperti seakan akan ia tak dapat menerima kenyataan maxilian yang menyudahi semuanya. Namun saat ia melihat lagi, bahwa pria tampan itu kini berada tepat dalam jangkauannya, dia merasa lega.


Julia tersenyum dan entah kenapa di hadapan matanya, saat ini Maxilian terlihat sangat tampan. Sangat menggairahkan dan dia merasa seluruh tubuhnya bisa mencair kapan saja hanya dengan satu ciuman. Mata coklat yang dingin itu terasa sangat indah dan penuh dengan cinta. Bibir tipis itu nampak sangat menggoda. Lalu leher indah dan pada akhirnya tatapan matanya turun melewati leher. Melihat kemeja Maxilian yang masih terpasang rapi, tangannya terulur. Menyentuh dada Maxilian pelan.


Maxilian memejamkan matanya, saat tangan lentik itu menyentuh tubuhnya dengan sangat hati-hati. Sentuhan lembut jemari Julia terasa penuh godaan. Pertahanannya akhirnya runtuh. Dia merasa bagian inti tubuhnya telah menegang dan tak bisa ditenangkan. Membuka matanya, dia melihat wajah cantik Julia tengah menatap tubuhnya yang masih terbungkus dengan kemeja kerjanya. Gadis cantik yang ketus itu mendadak berubah sangat cantik dan menggoda. Dan dia, dia telah terpesona!


Awalnya sentuhan Julia hanya lurus dan mengelus, tapi kini ujung-ujung jarinya mulai bergerak membentuk garis abstrak. Membuat tubuh Maxilian menegang, Dia sama sekali tak menyadari bahwa gerakannya telah membuat pikiran Maxilian kacau. Dan saat tangannya menyentuh kancing-kancing baju Maxilian, Matanya berkilat penuh keinginan. Dia mendongak dan melihat Maxilian yang menatapnya dalam. Dan jari-jarinya mulai mencoba melepaskan kancing-kancing kemeja Maxilian pelan.


Namun tiba-tiba Maxilian menahan tangannya. Membuat kancing-kancing kemeja hanya terlepas satu dari sekian banyak. Julia terdiam, dia menanti hal yang akan Maxilian ucapkan. Tapi nyatanya tangan Maxilian kini menyentuh wajahnya, yang membuatnya terpejam. Meresapi setiap gerakan tangan Maxilian yang mulai turun ke leher dan tulang selangka. Dia mengerang. Merasa hampir gila saat tubuhnya menginginkan lebih dari ini. Lebih dari ciuman dan sentuhan.


"Lian," kali ini Julia benar-benar kalah dengan reaksi tubuhnya terhadap sentuhan maxilian. Nafasnya sangat berat dan seluruh urat nadinya tampak menonjol. Ada rasa sakit dalam tubuhnya tapi rasa panas lebih dominan. Dia merasa hampir gila karena tak segera mendapatkan kepuasan. Rasa malu tak lagi dihiraukannya. Dia hanya ingin dipuaskan.


Maxilian mematung saat Julia memanggil namanya dengan nada lirih sarat akan ketergantungan. Saat ini tubuhnya sudah sangat menegang atas keintiman yang Julia suguhkan pada dirinya, Di tambah dengan nada panggilan yang sangat menggoda. Dia merasa tak harus menahan semuanya. Sesuatu yang liar dalam tubuhnya telah terlepas untuk kedua kalinya setelah kejadian di rumah sakit.

__ADS_1


Namun saat ini mereka berdua sudah berada di atas tempat tidur. Gadis ini berada di bawah tubuhnya, dan sangat menginginkan dirinya. Lalu hal apa lagi yang ia tunggu? Bukankah gadis ini menginginkan dirinya?


Maxilian memejamkan matanya saat merasakan ngilu di bagian inti tubuhnya karena tak segera dilepaskan. Dan tangannya yang menelusuri kulit halus itu semakin liar tanpa bisa ditahan. Bahkan satu tangannya yang lain mulai meraba paha putih Julia dengan gerakan menggoda.


Mengeratkan giginya, dia menatap Julia yang wajahnya nampak memerah, entah kenapa itu berubah menjadi erotis di matanya. Seakan memberikan persetujuan apa saja untuk mencapai kepuasan bersama.


"Julia, kuharap kau tahu apa yang kau lakukan."


Suara serak nan parau menyapa pendengaran Julia yang sudah mulai hilang akal sehatnya. Sentuhan lembut di pahanya membuat tubuhnya bagai tersengat. Dia mengangguk dengan gelisah menatap Maxilian penuh pemujaan dan hasrat membara karena sekarang yang ada di kepalanya hanya ada kata 'Sentuhan maxilian yang memabukkan.'


Suara erangan tertahan di sertai des**an pelan, Julia sudah tidak sanggup menahan semuanya, mengambil inisiatif membenamkan wajahnya di leher Maxilian dan menghisapnya dengan semangat. Maxilian merasa dirinya terbakar namun sekuat tenaga dia berusaha menyisakan kesadarannya untuk bertanya sekali lagi.


"Julia, apa kau tahu apa yang kau lakukan? Apa kau ingat, bahwa kau pernah berkata tak akan hidup selamanya bersama pria sepertiku, bahkan melahirkan anak dari pria sepertiku?"


Meski pandangan Julia hampir terasa kabur namun dia sangat jelas bahwa orang yang ada di atas tubuhnya adalah Maxilian. Namun karena sesuatu di dalam tubuhnya membuat dia melupakan segalanya. Dia rela menyerahkan segalanya untuk mendapatkan kepuasannya. Dengan mata sayu dia menatap kembali wajah Maxilian, dengan suara serak namun penuh makna dia berkata, "Maxilian Jade Lunox, aku menginginkanmu."

__ADS_1


*******************************


Eak eak!! kalian nunggu ya


__ADS_2