
"Apa yang kau lakukan?"
Julia menoleh saat suara itu menyadarkannya. Dia melihat Maxilian keluar kamar mandi dengan berbalut handuk yang hanya sebatas pinggang. Menampakkan perut sixpack nya yang menjadikan awal permasalahannya. Julia menjadi makin berpikir, kenapa Maxilian sangat mempermasalahkan bentuk perutnya. Dia merasa Maxilian naik pitam saat bentuk perutnya dihina olehnya. Julia melakukan itu karena jengkel dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi atas bentuk fisiknya. Sedangkan Julia terlihat biasa saja dengan fisik pria itu karena sudah terbiasa melihat bentuk tubuh berbagai macam pria. Sekarang dia harus menanggung konsekuensi dari akibat menghina perut Maxilian. Dia harus hidup bersama pria yang paling menyebalkan dan berhati dingin.
"Bukan urusanmu!" Jawab Julia ketus. Dia kemudian melangkah masuk ke arah kamar mandi dengan cepat. Membersihkan diri dengan air hangat untuk mengusir lelahnya. Namun kemudian dia tersadar kalau dia tidak membawa baju ganti. Lalu apa yang harus ia lakukan kini? "Julia, ceroboh sekali dirimu." rujuknya kesal.
Dia mengedarkan penglihatannya ke seluruh ruangan kamar mandi, namun tak menemukan sesuatu untuk membalut tubuhnya. Membuatnya ingin menangis. Satu-satunya yang harus ia lakukan adalah meminta bantuan. Dia membuka sedikit pintu, membuka mulutnya ragu, dan akhirnya terdiam.
"Tidak, tidak, dia pasti akan mengira kalau aku mencoba menggodanya lagi. Apa dia masih di dalam kamar? Ah,,,Julia.. kenapa kau bodoh sekali!"
Pada akhirnya Julia berdiam diri di dalam kamar mandi selama satu jam. Membuat Maxilian mengerutkan keningnya karena tak kunjung melihat Julia keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri pintu kamar mandi lalu mengetuknya.
"Julia, Julia apa kau baik-baik saja?" Ada rasa cemas dalam nada suaranya.
"Hmm..aku..itu." Jawab Julia ragu. "Aku tak membawa baju ganti atapun handuk. Bisakah aku minta tolong, ambilkan baju gantiku?" Akhirnya kata-kata itu lolos dari mulutnya.
Maxilian mencibir setelah mendengar alasan Julia begitu lama di dalam kamar mandi. Dia berjalan mengambil sebuah handuk yang telah siap di nakas lengkap dengan baju ganti. Meraih handuk tanpa membawa baju ganti, dia menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya.
Pintu kamar mandi itu perlahan terbuka sedikit, lalu sebuah tangan putih terulur menunggu handuk pemberian Maxilian. Maxilian tersenyum tipis tanpa sadar kemudian memberikan handuk yang dibawanya ke tangan Julia.
"Di mana baju gantinya? tanya Julia jengkel setelah membalut tubuhnya dengan handuk.
"Aku bukan pembantumu. Ambil saja sendiri."
"Maxilian, kau--"
__ADS_1
"Jangan membentakku!"
Julia pun terdiam. Dia mengelus dadanya pelan. Pria ini selalu membawanya pada batas kesabaran. Namun dia tak bisa terus berdiri di dalam kamar mandi selamanya. Akhirnya dengan pelan ia membuka pintu kamar mandi dan keluar. Dan tatapan matanya jatuh pada Maxilian yang tengah duduk di atas tempat tidur sambil menatap tubuhnya.
"Apa yang kau lihat!"
"Aku punya mata!" Jawab Maxilian sambil melihat Julia yang terbalut handuk dengan tangan mencoba menutupi tubuh bagian atasnya.
"Tutup matamu!" Perintah Julia dengan jengkel. Kemudian ia mendekati dan meraih baju gantinya.
"Baik..baik."
Setelah Julia memastikan Maxilian menutup matanya, dia segera berlari kembali masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa sadar Maxilian terkikik geli saat membuka matanya dan tak melihat Julia lagi. Dia menahan tawanya hingga wajahnya sedikit memerah
"Dia lucu juga."
"Sial, siapa yang menyiapkan baju seperti ini untukku? Sudah dibilang wanita murahan, sekarang aku harus tampil seperti mereka. Benar-benar sial."
Dia mengangkat lingerie merah itu sekali lagi dan menurunkannya. Tangannya meremas kain tipis itu hingga tangannya memerah. "Apa yang harus kulakukan? Mana mungkin aku memakai pakaian seperti ini di depannya. Angel, sepertinya kau akan mendapatkan predikat wanita murahan lagi darinya."
tubuhnya mulai bergetar karena kedinginan. Matanya mulai sayu seiring rasa dingin yang kian merasuk. Mendesah sekali lagi, menatap lingerie di tangannya dan akhirnya dia memakainya juga. Tidak ada pilihan lain.
"Jika ini pernikahan impianku, maka dengan senang hati aku memakainya. Tapi pernikahan ini... sial, benar-benar sial."
Dia menghentakkan kakinya berkali-kali karena merasa sangat tidak nyaman dengan pakaian yang dipakainya. Kain tipis itu membalut tubuh mungilnya dengan sempurna. Menampakkan perut ratanya, pinggang kecilnya, dan kaki jengjangnya yang putih mulus. Meski dadanya tak begitu besar, namun pakaian itu membuat dirinya benar-benar mempesona.
__ADS_1
"Ya tuhan apa yang sudah dilakukan leluhurku di masa lalu? Kenapa aku harus menerima karma seperti ini? Baju ini, seharusnya kupakai di hadapan suamiku yang sebenarnya, bukan suami kontrakku."
Sekali lagi keluhan itu keluar dari mulutnya. Dia menatap tubuhnya dari cermin kamar mandi. Dia mencoba menutupi beberapa bagian tubuh atasnya. Kenapa tidak, lingerie ini membuat tubuhnya tercetak jelas bahkan membuat dadanya yang putih itu terlihat sebagian.
"Sial. Ini pasti neneknya Maxilian. Kenapa seleranya sangat buruk?"
Ini jelas sangat buruk karena kalau itu dia, dia tak akan memilih lingerie seperti ini. Dia tampak telanjang. Julia menghembuskan nafasnya berkali-kali sebelum memutuskan keluar dari kamar mandi. Dia menyiapkan mentalnya untuk menerima hinaan pria itu lagi. Bulu kuduknya merinding membayangkan harus berbagi tempat tidur dengan pria itu dalam pakaian seperti ini.
Ceklek, bunyi suara pintu kamar mandi terdengar. Maxilian mengalihkan pandangannya sekilas, lalu beralih ke ponselnya. Banyak pekerjaan terbengkalai selama dia di Las Vgas. Jadi ia tak melihat Julia yang terlihat sangat enggan keluar.
"Kenapa kau sangat lama hanya untuk berganti baju, apa kau--"
Ucapan Maxilian tertahan saat ia mendongak dan melihat Julia yang berjalan pelan mendekatinya. Matanya memindai tubuh Julia dari atas kepala sampai ujung kaki. Itu terlihat sangat putih, mulus, dan.. ah entahlah. Namun wanita ini terlihat sangat cantik di hadapannya. Membuat wajahnya merona. Meski sedikit terganggu, dia berusaha menutupi semua dengan menundukkan kepalanya.
"Baju apa yang kau pakai? Apa kau sekarang ingin menggodaku lagi?"
Julia berjalan kaku mendekati tempat tidur yang sudah ada Maxilian di sana. Dia melihat kepala Maxilian yang menunduk dan segera berlari ke tempat tidur dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Aku tidak tau. Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa maksudmu mempersiapkan baju seperti ini untukku? kau pikir aku senang memakainya?"
Maxilian menoleh pelan sambil memastikan tubuh Julia sudah tertutupi selimut. Dia lega dan dapat sedikit mengangkat kepalanya. "Kalau bukan dirimu sendiri lalu siapa lagi? Apa kau berubah pikiran sekarang? Kau memutuskan untuk merayuku agar selamanya hidup bersamaku?"
Julia menarik ujung selimut dan mengeratkan tangannya. Pria ini selalu saja bicara seenaknya. Terlalu percaya diri dan selalu menghinanya. "Apa kau pikir aku jatuh cinta padamu? Cih mimpi." ucapnya lantang dengan perasaan yang kian memburuk.
Julia mengangkat jarinya menunjuk wajah Maxilian dengan semangat sampai lupa bahwa selimut yang seharusnya menutupi tubuhnya telah turun. "Kuberi tahu kau, bahwa kau memiliki penyakit jiwa. Kau selalu menganggap dirimu begitu sempurna. Merayumu? Hidup denganmu? Cih, kau terlalu percaya diri!"
__ADS_1
"Julia," peringat Maxilian pelan. Kepalanya menoleh ke setiap sisi ruangan dan dia baru ingat bahwa mereka di awasi kamera cctv. Ini benar-benar tak aman sama sekali. Kakek neneknya itu sungguh merepotkan. Dan dia tak mengira kalau Julia akan meledak sampai mengeluarkan suara yang begitu keras.